Rumor (Takedown)

Rumor (Takedown)
Pesta


Gisel masih menunggu Kelvin sadar tapi bahkan sampai jam 9 malam Kelvin belum bangun juga dan membuat Gisel ingin pulang saja.


Gisel masih ada beberapa urusan sehingga memutuskan untuk pamit pulang dan diantarkan oleh pak Yudi.


Sesampainya di apartemennya, Gisel langsung membersihkan diri lalu makan malam. Gisel melihat tumpukan berkas di meja ruang tamu yang berhamburan.


Gisel lupa untuk menyelesaikan desain pakaiannya yang akan dipakai oleh beberapa aktris ternama di Jepang.


Segera Gisel melanjutkan pekerjaannya hingga jam 2 subuh. Gisel memutuskan untuk tidur sejenak sebelum melanjutkan pekerjaannya lagi.


🏵


Kelvin membuka matanya perlahan untuk menyesuaikan cahaya ruang inapnya yang lumayan terang. Kelvin melihat ke sekitarnya dan mendapati jika ada orangtua serta kakak laki-lakinya.


"Ma.."


Kelvin memanggil mamanya dengan suara serak. Kelvin memegangi pundaknya dan meringis. Pundaknya sakit dan Kelvin ingat karena kecelakaan itulah penyebabnya.


"Kak."


Hans (Kakak Kelvin) bangun ketika mendengar suara Kelvin memanggil namanya.


"Hmm.. udah bangun ternyata."


Hans memberikan adiknya segelas air dan membantunya untuk duduk.


"Berapa lama aku tidur kak?."


Hans melihat jam dan mengerutkan alisnya.


"Hanya 9 jam."


"...."


Hans memencet tombol di atas tempat tidur Kelvin dan tak lama kemudian dokter datang bersama suster untuk memeriksa keadaan Kelvin.


Kelvin melihat ke kanan dan ke kiri untuk mencari keberadaan Gisel jika memang masih disini. Hans melihat adiknya yang celingukan kemudian tersenyum.


"Mencari siapa?."


Hans tersenyum menggoda melihat muka adiknya yang mulai memerah karena ketahuan.


"Bukan apa-apa."


Dokter dan suster segera meninggalkan mereka setelah mengecek keadaan Kelvin yang sudah membaik.


"Mencari Gisel?."


Kelvin memalingkan wajahnya ketika tau jika kakaknya mulai menggodanya.


"Bukan urusanmu."


"Dasar anak muda. Tidurlah. Ini baru jam 3. Aku ngantuk."


Hans kembali ke tempat tidurnya dan tak lama kemudian terdengar suara dengkuran halus. Kelvin menggelengkan kepalanya karena melihat tingkah ajaib kakaknya.


Kelvin menatap langit-langit kamar inapnya sambil memikirkan keadaan Gisel. Apakah gadis itu trauma atau tidak? Kelvin butuh jawaban. Tapi sebelum itu Kelvin harus tidur lagi karena mengantuk.


🏵


Pagi yang cerah menyambut Gisel yang sudah berada di depan gedung rumah sakit. Gisel menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal karena merasa sedikit aneh pada dirinya sendiri.


Ini belum pukul 9 dan dia kenapa sudah ada di depan rumah sakit? Gisel juga tidak tau kenapa bisa sepagi ini.


Gisel membawa bunga mawar putih dan sekeranjang buah untuk Kelvin. Gisel akhirnya memutuskan untuk segera menjenguk Kelvin lalu pulang.


Dalam perjalanan menuju ruang inap Kelvin, Gisel memikirkan berbagai cara untuk meloloskan diri dari jeratan pertanyaan yang akan sulit ia jawab.


Gisel sampai di ruang inap Kelvin dan dilihatnya dari kaca kecil di pintu jika keluarga Kelvin masih di dalam. Niat untuk masukpun hilang. Gisel akan datang nanti lagi tetapi tidak jadi setelah melihat pak Yudi tersenyum melihatnya.


"Pagi non Gisel."


"Pagi juga pak Yudi."


"Non gak masuk?."


Gisel menatap pintu sejenak lalu tersenyum tipis.


"Nanti saja pak."


"Ayo non masuk aja. Tuan muda udah nungguin non loh dari tadi."


"Hah? Apa? Gimana?."


Pak Yudi tidak memberikan jawaban tapi langsung masuk ke dalam ruang inap Kelvin. Gisel tersenyum canggung ketika seluruh penghuni ruang inap ini menatapnya.


"Ayo masuk neng."


Gisel masuk dan menghampiri Kelvin dengan senyum canggung.


"Ini untukmu."


Gisel memberikan bunga dan buah yang ia bawa tadi. Bunga diterima oleh Kelvin sedangkan buahnya diterima oleh pak Yudi.


Gisel menatap keluarga Kelvin dan menunduk hormat. Sudah menjadi kebiasaannya ketika tinggal di Jepang sehingga terbawa sampai sekarang.


"Maaf mengganggu pagi kalian semua."


Mama Kelvin yang tersenyum pertama kali melihat Gisel sejak masuk tadi. Mama Kelvin menghampirinya dan memegang tanganya.


"Aiya.. nak Gisel jangan sungkan begitu. Kami tidak menggigit."


"Iya tante."


"Jangan panggil tante. Panggil mama aja biar akrab. Ah iya.. ini papa Kelvin.. "


Papa Kelvin tersenyum dan Gisel membungkukkan tubuhnya lagi.


"Saya Gisel, om."


".. dan ini kakaknya Kelvin, Hans."


"Halo Gisel."


Gisel juga membungkukkan badannya dan dibalas oleh Hans dengan membungkukkan badan juga.


"Halo kak Hans."


Gisel tersenyum hangat ketika merasakan jika ia disambut baik oleh keluarga Kelvin. Gisel segera menatap Kelvin yang juga menatapnya.


Gisel mengangkat sebelah alisnya dan dibalas oleh tepukan lembut di sebelah tubuh Kelvin.


"Duduklah. Saya ingin bicara."


Entah sejak kapan tapi keluarga Kelvin sudah pergi dan hanya menyisakan mereka berdua.


"Apa?."


Gisel duduk di tempat yang Kelvin tepuk tadi sambil melihat Kelvin yang sedari tadi berwajah datar.


"Kau tidak terkejut akan kejadian kemarin?."


"Tidak."


"Kau tidak merasakan takut?."


"Tidak."


"Tidak sama sekali. Kenapa?."


Kelvin menghembuskan nafas lega.


"Saya kita kau akan trauma karena berurusan dengan hal seperti itu."


"Aku sudah terbiasa."


Gisel menggaruk belakang kepalanya dan tersenyum jenaka.


".."


"Kenapa melihatku dengan seperti itu? Kau tidak percaya dengan ku?."


"Percaya."


"Lalu kenapa menatapku? Apa aku melakukan kesalahan dengan datang menjengukmu sepagi ini? Aku tau kita baru saja kenal tapi kau sudah menyelamatkan hidupku dua kali. Aku perlu membalas budimu."


Kelvin tersenyum tipis dan memegang tangan Gisel yang berada di dekatnya.


"Siapa sebenarnya dirimu, Gisel? Kau membuat ku penasaran dengan siapa dirimu sebenarnya. Jika kau memang seorang warga biasa, kau pasti akan berteriak histeris lalu trauma. Tapi setelah aku melihatmu yang baik-baik saja setelah kejadian kemarin membuat ku penasaran dengan dirimu."


Gisel tersenyum lalu menepuk tangan Kelvin yang memegangnya.


"Aku Gisella. Kau bisa memanggilku Gisel. Senang berkenalan dengan tuan Kelvin."


"Kelvin."


"Baiklah.. Kelvin. Bisa kau lepaskan tanganku?."


Kelvin melepaskan tangannya dengan tak rela. Telapak tangan Gisel sangatlah hangat. Berbanding terbalik dengan tangannya yang dingin.


"Maafkan aku."


"It's Okay."


"Bisakah kau menolongku?."


"Hmm.. apa?."


"Tolong kupaskan aku buah apel."


"Baiklah."


Gisel duduk di sebelah Kelvin dan mengupas apel. Keheningan menyelimuti mereka selama beberapa saat dan tak berapa lama kemudian keluarga Kelvin masuk. Hanya ada mama dan kakak Kelvin saja yang masuk.


"Papa kemana, ma?."


"Tentu saja papamu bekerja. Dia tidak semalas dirimu."


Mama Kelvin duduk di sofa lalu merapikan barang-barangnya.


Hans duduk di sofa dan tersenyum menggoda Kelvin. Gisel menyuapi Kelvin dan hal itu tidak lupit dari wajah berbinar mama dan kakak Kelvin. Sudah lama mereka tidak melihat Kelvin akrab dengan wanita manapun.


Sudah tujuh tahun berlalu sejak kematian mendiang kekasih Kelvin dan setelah itu Kelvin tidak berkencan dengan siapapun.


"Kenapa kalian menatapku seperti itu?."


"Tidak ada. Kakak akan pulang. Ada rapat. Berkat seseorang aku tambah sibuk."


"Aku mengandalkanmu."


"Gisel.. saya pulang dulu ya. Tolong rawat bocah ini."


Gisel membalas lambaian tangan Hans.


"Hati-hati kak Hans."


"Siap."


Setelah Hans pergi, Mama Kelvin juga pamit pergi karena ingin bersiap-siap untuk menghadiri suatu acara.


Jadi tinggalah Gisel untuk merawat Kelvin yang semakin kesini semakin manja. Gisel menyadari akan sesuatu tentang Kelvin.


Dia menyebalkan.


"Apa kau sibuk?."


"Tidak."


Gisel masih duduk di dekat Kelvin sambil mengupas buah apel. Lagi.


"Temani aku malam ini ke acara perayaan perusahaan ku."


"Bukankah kau masih sakit? Juga kita baru kenal. Bagaimana kalau aku adalah mata-mata yang dikirim oleh musuhmu?."


"Aku baik-baik saja. Mereka saja yang terlalu melebih-lebihkan. Ini bukan apa-apa untukku."


Kelvin duduk dengan santai dan menatap Gisel.


"Aku tau kau bukan mata-mata."


"Kau menyelidiki latar belakang ku?."


"Aku tak bisa mencegah keingintahuan ku tentang dirimu."


Gisel hanya menghembuskan nafas malas.


"Jadi? Kau setuju untuk pergi?."


"Kita bukan teman juga bukan kekasih."


"Sekarang kau teman ku."


Gisel menatap Kelvin dengan datar.


"Baiklah. Kapan acaranya?."


"Nanti malam jam 8. Aku akan menjemputmu. Dimana rumahmu?."


"Bukankah kau sudah menyelidiki latarbelakangku? Kenapa masih bertanya?."


Kelvin terkekeh pelan.


"Aku tau tapi kau tinggal dimana? Rumah atau apartemen?."


"Apartemen."


"Baiklah. Pakailah baju warna biru tua."


"Kenapa memangnya?."


Kelvin mengelus rambut Gisel dengan pelan.


"Itu adalah aturannya nona Gisel."


"Baiklah."


🏵


TBC


🏵