Rumor (Takedown)

Rumor (Takedown)
Pesta 2


Gisel sudah bersiap sejak jam 7 tadi. Gisel tak suka dengan riasan tebal dan yang paling utama adalah kesederhanaan.



Sumber : Pinterest


Ini adalah satu-satunya gaun yang Gisel bawa jaga-jaga jika ada event yang harus dia hadiri. Dengan rambut disanggul membuat kesan sederhana pada penampulan Gisel.


Gisel melihat waktu masih tersisa 15 menit lagi sebelum janji mereka. Gisel memutuskan untuk memperbaiki desain yang tadi dia kerjakan.


Ting Tong


Gisel meletakkan sketsanya dan segera beranjak dari kursi untuk membuka pintu.


Setelah pintu terbuka, wajah datar dan menawan Kelvin menjadi pemandangan pertamanya.



Sumber : Pinterest


"Masuklah."


Gisel sempat memperhatikan jas yang sedang dipakai oleh Kelvin. Itu adalah buatannya.


"Maaf berantakan."


Gisel menyusun kembali semua desain pakiannya dan memasukannya ke dalam map.


"Mau minum apa?."


"Tidak perlu. Aku kesini untuk menjemputmu."


"Baiklah. Tunggu sebentar. Aku akan mengambil tas ku."


Kelvin memandang dalam apartemen Gisel. Tidak ada yang istimewa tapi rasanya nyaman.


Gisel datang membawa tas kecil berwarna silver dan tersenyum.


"Apa penampilanku aneh?."


"Tidak. Kau cantik."


Setelah mengatakan pujiannya Kelvin segera pergi dan disusul oleh Gisel.


"Kau memujiku atau menghinaku sebenarnya?."


"Pujian."


"Tapi wajah datarmu mengatakan tidak."


Mereka diam ketika didalam mobil menuju ke perusahaan Kelvin. Saat mereka sampai di area perusahaan Kelvin, Gisel berdecak sebal.


"Kenapa kau tidak bilang jika akan ada wartawan disini?."


"Memangnya kenapa?."


"Lupakan."


Wajah datar Kelvin membutnya ingin menjambak rambutnya. Gisel menatap horor para wartawan yang mengerubungi jalan masuk ke perusahaan.


Kelvin turun duluan untuk membukakan pintu Gisel dan itu membuat Gisel ingin sekali menjambak rambutnya. Rumor akan mulai beredar setelah mereka mendapatkan fotonya.


Persetan dengan wartawan. Gisel merapikan dresnya dan segera keluar dari mobil. Kilatan cahaya dari kamera membuat Gisel tidak bisa melihat hal lain. Uluran tangan Kelvin menjadi satu-satunya yang bisa ia lihat lalu menggapai tangannya.


Kelvin tetap berwajah datar dan Gisel tidak ambil pusing. Gisel tersenyum tipis menyapa beberapa wartawan yang menanyainya.


"Jangan takut. Ada aku."


"Aku tau."


Setelah melewati wartawan yang sangat ingin tau tentang siapa dirinya, Gisel bernafas lega.


"Bersiaplah."


"Bersiap? Untuk apa?."


Setelah pintu aula perusahaan dibuka, semua tatapan mata tertuju padanya. Gisel mengeratkan pegangan tangannya pada lengan kiri Kelvin dan tersenyum kikuk.


Gisel tau akan jadi seperti ini tapi tidak tau jika tamu yang hadir hampir memenuhi aula ini.


Mereka berjalan pelan dan menyapa keluarga Kelvin. Gisel canggung duduk dengan mereka karena baru kenal sehari dan sudah datang ke dalam acara mereka.


"Nak Gisel.. apakah ada sesuatu yang tidak nyaman?."


Gisel menyentuh tangan mama Kelvin yang berada ditangannya dengan lembut.


"Bukan seperti itu tante."


"Mama."


"Ah.. iya ma. Gisel hanya jarang menghadiri pesta perusahaan saja."


"Begitu rupanya."


Gisel tau mamanya Kelvin khawatir melihatnya yang tampak gelisah lalu menenangkannya. Tapi sebenarnya yang membuat Gisel tidak nyaman adalah keluarga Kelvin hanyalah yang memakai setelan warna biru. Sedangkan warna pakaian para tamu adalah putih.


Gisel menyenggol pelan tangan Kelvin. Kelvin menoleh padanya dan mencondongkan tubuhnya ke Gisel yang lebih pendek darinya.


"Kau menipuku."


"Menipu apa?."


Mereka berbicara sambil berbisik-bisik sehingga menyita perhatian para tamu.


"Hanya keluargamu saja yang memakai warna biru. Sisanya putih. Kau membuatku jadi pusat perhatian."


"Lalu?."


Gisel yang kesal langsung mencubit punggung Kelvin dan tidak ada reaksi apapun dari yang dicubit.


"Kenapa kau tidak kesakitan?."


"Memangnya kenapa aku harus kesakitan?."


"Aku mencubitmu."


"Kau menyebut itu cubitan? Bagiku itu seperti digigit semut."


Gisel menyerah untuk berdebat dan memilih untuk duduk dengan benar sambil menunggu acara dimulai.


Acara dimulai dari MC yang membuka acara lalu dilanjutkan dengan pidato dari papa Kelvin lalu Hans lalu Kelvin dan dilanjutkan oleh MC lagi. Gisel malas melihatnya.


Gisel iseng melihat sekitar dan matanya tak sengaja menatap keluarganya yang juga hadir dalam acara ini. Gisel lalu mengedarkan pandangannya ke arah samping kiri dan terkejut saat melihat kehadiran keluarga Respaty.


Gisel menajamkan penglihatannya dan disana ada mantan tunangannya. Darwin Respaty bersama kekasihnya atau bahkan istrinya. Ia tidak peduli.


Gisel kembali fokus melihat MC yang mulai memanggil keluarga Kelvin untuk maju dan memotong kue ulang tahun perusahaan mereka.


Mereka semua maju ke depan dan Kelvin menariknya untuk ikut. Gisel menolak dengan gelengan kecil tapi kekuatan tarikan Kelvin tidak bisa ia tahan lebih lama lagi.


Dengan terpaksa Gisel ikut ke atas panggung dan tersenyum paksa. Tangan Kelvin yang menggenggam tangannya tak luput dari pandangan semua orang.


Acara potong leher Gisel maksudnya potong kue ulang tahun perusahaan selesai. Waktunya pidato untuk sang pemilik perusahaan.


"Halo semuanya. Saya tidak akan berbasa-basi lagi. Harapan saya untuk ulang tahun perusahaan ke 67 tahun ini adalah terus berkembang dan menjadikan perusahaan kita sebagai perusahaan perhotelan, perkapalan, dan batu bara nomor 1 di Asia. Sekian."


Gisel ikut bertepuk tangan untuk pidato singkat Kelvin. Kelvin kembali kesisinya dan tersenyum tipis padanya.


"Berhentilah mengejek ku."


"Tidak bisa."


Gisel ingin sekali memukul wajah laki-laki disampingnya dengan piring atau kursi. Supaya senyum mengejek dan kedipan mata genitnya berhenti.


Gisel sibuk dengan fikirannya dan tak sadar ketika MC bertanya tentang statusnya dengan Kelvin.


Gisel berkedip beberapa kali lalu menatap Kelvin yang berwajah poker juga menatapnya. Seakan dalam tatapan itu tersimpan rencana jahat. Gisel langsung tau akan tatapan Kelvin padanya dan menggeleng kecil.


*Jangan lakukan itu.


Lakukan apa?.


Pokoknya jangan*!.


"Ekhem.. maaf mengganggu acara pandang cinta kalian. Tapi kami butuh jawaban segera."


MC mengingatkan mereka akan kenyataan. Kelvin tersenyum lalu meraih tangan Gisel.


"Jangan.."


Dengan suara kecil Gisel berbisik penuh ancaman kepada Kelvin.


"Dia adalah.. ke.."


"TEMAN!."


Sebelum bencana besar menghampiri Gisel, sebaiknya Gisel menghentikannya. Gisel tersenyum kikuk setelah berteriak menghentikan ucapan Kelvin.


"Benarkah hanya sekedar teman? Kami semua disini tau jika Tuan CEO Kelvin tidak pernah membawa teman wanitanya ke acara apapun."


"Hahaha.. ha.."


Hans menahan tawanya dan terbatuk pelan. Sedangkan kedua orang tua Kelvin hanya tersenyum. Mereka tidak berharap lebih terhadap hubungan asmara Kelvin tapi juga tidak menutupi kebahagiaan mereka saat tau jika Gisel adalah gadis pertama yang diperkenalkan putra mereka setelah 7 tahun lamanya.


Gisel memberi tatapan "minta tolong" kepada Kelvin untuk menghentikan pertanyaan laknat itu.


Kelvin tersenyum tipis sambil menatap Gisel. Kau yang memintanya.


Kelvin maju mendekati MC dan meminta micnya. Kelvin berlutut dihadapan Gisel.


"Jadilah kekasih ku?."


"APA!?."


*Aku akan membunuhmu, Kelvin!


🏵*


TBC


🏵