My Brother My Husband??

My Brother My Husband??
MMH 8


"Lo merasa ada yang aneh ga sih Ne?" Tanyaku setelah beberapa kali berhenti dan menoleh kebelakang.


Nesya melihat kebelakang sejenak kemudian mengerutkan kening bingung "Maksud lo?"


"Kok gue merasa ada yang ngikutin kita dari tadi ya?" Kataku kemudian. Kami sedang di Mall sekarang. Nesya mengajakku kesini sepulang sekolah, katanya ada sesuatu yang ingin dibeli untuk Nyokapnya.


"Halu kali lo" Nesya berujar kemudian menarik tanganku untuk lanjut mengitari deretan pakaian wanita.


Aku menghela nafas pelan menoleh kebelakang untuk memastikan sebelum mengikuti langkah Nesya.


"Ini cocok ga sih Ze buat Nyokap gue?" Nesya mengambil sebuah terusan panjang berwarna putih tulang dengan krah dan tali pinggang bermotif kotak-kotak.


Aku mengangguk saja tanda setuju. Perasaanku masih belum tenang. Kutolehkan lagi kepalaku kebelakang. Seperti ada yang terus mengintai dan memperhatikan gerak-gerik ku.


"Ze ini gimana?"


Aku berbalik setelah mendengar suara Nesya.


"Hah? Apa gimana?" Tanyaku acuh tak acuh.


"Lo kenapa sih Ze?" Nesya bertanya merapatkan alisnya.


"Gak. Gak pa-pa kok" jawabku seadanya. Takut jika jujur dikatain halu lagi.


"Ini gimana bagus ga?" Nesya memperlihatkan terusan lain ditangannya.


Aku mengangguk lagi. Jika biasanya aku sangat cerewet dalam memilih-milih pakaian tapi kali ini tidak. Fokusku hilang entah kemana.


Nesya terlihat kesal dengan jawabanku. Aku sadar tentang itu. Tapi aku juga kesal karna dia meragukan feelingku.


Kami pulang setelah Nesya menemukan baju yang cocok walau sempat terjadi sedikit drama denganku di Mall tadi.


"Ne lo ingat gak lo pernah bilang kalo kita di incar?" Aku bersuara setelah menjalankan mobil.


"Ingat kenapa?"


"Gue ngerasain itu tadi" ujarku serius.


"Baru nyadar?"


Aku mengerutkan kening bingung.


Nesya tertawa.


"Gue juga nyadar Ze. Cuman ga mau peduli. Sama kayak lo yang ga mau ambil pusing waktu gue ingetin kemaren" jelas Nesya membuat ku semakin pusing.


"Jadi sebenarnya lo sadar?"


Nesya mengangguk. "Gue bahkan sempet liat orang nya"


Aku membuka mulut tidak percaya.


"Dia pake jaket kulit coklat, topi hitam, kacamata sama masker juga"


Aku menghela nafas kasar tidak tau bagaimana harus menanggapinya. Aku tidak berbohong jika selama hidup aku memang tidak punya masalah dengan orang lain. Kurasa Nesya juga begitu. Jika sudah begini kejadiannya, aku jadi takut keluar rumah.


"Kita harus cari tau orang nya Ne" Ucapku setelah terdiam beberapa saat.


Nesya mengangguk "Gue setuju"


"Kita harus pastiin dulu sekarang siapa diantara kita yang jadi inceran dia" Usulku yang langsung di angguki Nesya


"Kita coba jalan sendiri-sendiri besok. Siapa yang merasa terincar langsung kabari" lanjutku kemudian.


Aku menghentikan mobil tepat didepan rumah Nesya. Nesya turun setelah berpamitan dan mengucapkan hati-hati kepadaku.


Aku duduk diam sambil menerawang setelah bayangan Nesya lenyap dibalik pagar besi berwarna hitam itu. Aku coba mengingat-ingat dengan baik siapa orang yang pernah kusakiti hingga ada yang terus menguntit ku seperti ini. Meski aku dan Nesya belum punya kepastian siapa yang sebenarnya di incar, tapi firasat ku kali ini punya dugaan yang aneh.


Ponselku berdering saat aku telah menjalankan mobil ku kembali. Aku menghela nafas malas setelah membaca nama yang tertera disana sebelum menempelnya ditelinga.


"Adek dimana?" Tanya suara diseberang. Kumat apa nih anak? Tumben perhatian.


"Kenapa?" Balasku ketus.


"Jemput Abang di kantor bisa gak?"


"Dipinjem kak Rayya"


Aku tersenyum kecut. Selalu wanita itu. Bukankah beruntung sekali menjadi seorang Rayya yang sangat dicintai oleh laki-laki seperti Wildan? Jujur saja aku iri dengan posisimu Rayya.


"Dek? Bisa?" Suara itu menegurku dari suara hati yang terus menggema menuntut posisi yang sama seperti wanitanya.


"Tunggu gue di lobby" ujarku kemudian sebelum memutuskan sambungan.


Aku melajukan mobilku ke jalan kantor bang Wildan. Ada-ada saja tingkah wanitanya Wildan. Menyusahkan orang saja.


Aku turun setelah memarkirkan mobil ditempanya. Kantor tempat bang Wildan bekerja termasuk Firma Hukum terbesar di Jakarta. Jadi tidak sulit bagiku untuk mengenalinya meski baru tiga kali menginjakkan kaki kesini.


"Gue udah di Lobby" Kataku setelah panggilan dengannnya tersambung. Aku sengaja langsung memutuskan sambungan agar dia tau jika aku marah. Bagaimana tidak? Aku sudah menyuruhnya untuk menunggu ku di Loby kenapa dia tidak menurutinya Hah? Menyebalkan sekali.


Aku duduk disalah satu kursi tunggu dengan wajah yang sama sekali tidak bersahabat. Seorang satpam yang duduk didekat pintu pun ku abaikan saat bertanya 'ada keperluan apa?'


"Mbak Zalfana Zeya Izora?"


Aku memalingkan wajah memenuhi panggilan saat nama lengkap ku disebut.


"Pak Wildan menyuruh saya untuk mengantarkan mbak ke ruangannya"


"Dia dimana?" Tanyaku tidak sabar.


"Masih di ruangan"


Aku menghela nafas lagi. Kali ini lebih pelan dari sebelumnya. Berharap bakat tersembunyi ku yang bisa menjelma menjadi siluman Harimau tidak keluar untuk saat ini.


Aku berjalan mengikuti wanita yang diutusnya sebagai pengarahku hingga dia mempersilahkan aku masuk ke dalam ruangan bang Wildan.


Tak dapat kupungkiri aku merasa kesal sekaligus bahagia juga. Entah mengapa datang ke kantornya dan diperlakukan seperti ini aku merasa seolah sudah menjadi istrinya. Aku merasa seperti dia merindukanku hingga aku harus datang ke ruangannya dan kami melepaskan rindu disana.


Heh Zeya dia tunangan orang! Suara-suara setan penyadar tiba-tiba saja mengingatkan posisi ku lagi.


"Lo niat pulang ga sih?" Itu adalah kalimat terbaik yang spontan saja terlontar saat aku telah berada dalam ruangannya.


Pria dibalik komputer itu tersenyum, melepaskan mouse yang sedang dipegangnya kemudian bangkit dan menghampiri ku. Aku melipat tangan di dada berusaha sekuat mungkin agar tidak goyah dengan senyumannya.


Ya Allah aku berasa sedang menjadi peran utama dalam drama Korea saat melihat tubuh tegapnya yang terbalut dengan kemeja berwarna marun itu mendekat. Kedua lengan bajunya dilipat sampai siku dengan jam tangan yang terlihat pas di pergelangan tangannya.


"Bentar lagi bisa ya?" Tanyanya tau-tau sudah berdiri didekatku. Aku mundur beberapa langkah untuk menyeimbangi detak jantung ku. Dia pake parfume apa sih? Kenapa wanginya sampe nembus jantung?


"Tapi tadi lo nyuruh gue jemput, bukan nungguin lo" Balasku sesewot mungkin.


Dia terkekeh kemudian tersenyum "Bentar doang Dek. Ya?"


"Awas lo lama gue tinggalin. Minggir! Gue mau duduk" aku berjalan melewatinya dan menghempaskan diri di sofa dekat jendela.


Bang Wildan sudah kembali ke mejanya dan mulai berkutat dengan benda segi empat yang berdiri didepannya. Wajahnya terlihat serius menatap layar kaca itu, sesekali ia mengetik sesuatu kemudian kembali menggeser-geser mouse yang ada di tangan kanannya.


Aku memanfaatkan suasana itu untukย  menatap wajahnya dengan leluasa. Wajah itulah yang berhasil membuatku jatuh dan lupa cara berdiri. Karna bola mata yang sedang fokus itulah membuatku lupa posisi, hingga akhirnya terseret hingga kesini.


"Sayang aku pulang" lamunan ku buyar saat mendengar suara seseorang yang tiba-tiba muncul. Bahkan suara pintu yang terbuka pun tidak kusadari sangking serius menjelajahi wajahnya.


Bang Wildan kelihatan terkejut namun kemudian tersenyum juga kearah wanita itu "Tapi katanya kelar sore" Jawabnya tanpa bangkit dari posisi. Kupikir dia akan berdiri juga untuk memberi sambutan kepada kekasihnya.


Aku berdecak kecil sambil memutar bola mata saat wanita itu mendekat dan berdiri didekat meja bang Wildan. Kurasa dia belum menyadari keberadaan ku.


"Tau tuh gaje banget" jawabnya dengan suara yang terdengar seperti dilembut-lembutkan.


Reflek aku segera menutup mata namun kalah cepat saat sebuah adegan yang sama sekali tidak terpikir untuk kulihat hari ini tersaji didepan mata.


Kejadiannya terjadi begitu cepat saat kak Rayya mengecup bibirnya.


Bang Wildan terlihat menahan bahu wanita itu sambil menghapus sesuatu dibibirnya sebelum aku membelakangi mereka "Ada Adek Ray"ย  Dadaku sesak saat mendengar suaranya. Jadi jika aku tidak ada mereka bisa lebih bebas? . Aku menelan ludah susah. Ada sesuatu yang sengaja mengirisnya dengan kasar. Jadi adegan ini yang ingin dipertontonkannya kepadaku?


"Owh Sory. I dont know"ย 


Aku bangkit berdiri mengambil tas kemudian keluar secepat mungkin dari ruangannya. Aku tidak ingin merusak moment mereka. Aku tidak ingin menjadi penghalang untuk mereka melakukan lebih.


Lakukanlah sesuka hatimu Wildan! Buat aku segera membencimu dan melupakan mu!


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ