My Brother My Husband??

My Brother My Husband??
MMH 14


Hari yang paling mengesalkan bagiku adalah saat mapel olahraga. Aku tidak suka saat di paksa berlari keliling lapangan seperti ini. Pasalnya lapangan yang kami kelilingi ini hampir sebesar stadion Internasional Jakarta. Jadi wajar saja bila wajahku tak pernah tersenyum saat melakukan kegiatan bodoh ini.


"Satu putaran lagi" Teriak seorang laki-laki yang biasa kami panggil  Pak Rey. Tampangnya saja yang tampan tapi akhlaknya minus double plus. Dikira kami onta apa? Ga punya rasa lelah. Dia mah enak aja ngontrol di pinggiran, dibawah pohon sambil liatin kami yang udah kayak kulit kerang disini.


"Oke Cukup!" Teriaknya kemudian. Nah liatkan ga jelas! Tadi katanya satu putaran lagi trus ini kenapa baru setengah jalan udah nyuruh stop-stop aja. Rumit memang. Kami sekelas berhenti sambil mencari tempat duduk dibawah-bawah pohon rindang. Meski aku bernafas lega dengan ke tidak jelasan Pak Rey tapi tetap saja perilakunya itu semena-mena.


Nesya mengambil sebotol air mineral kemudian menyodorkan nya ke arahku. Aku menyambut dan mulai membuka segel plastik yang masih membaluti tutupnya.


"Kenapa gak jadi satu putaran lagi Pak?" Tanya Nesya saat Pak Rey berjalan mendekat ke arah kumpulan kami.


"Gara-gara teman kamu itu, saya lihat wajahnya makin mirip jeruk purut saat putaran terakhir"


"Ukhuk huk khuk"


"Zeya!" Nesya mendekat "Makanya doa dulu sebelum minum!" Katanya seraya mengurut pelan punggung ku.


Aku memegang dadaku yang sakit. Bukan karna minuman aku tersedak, tapi karna pernyataan Pak Rey yang jelas-jelas menyalahkanku.


"Kenapa jadi salah saya Pak?" Tanyaku setelah rasa nyeri di dadaku mulai menghilang.


Pak Rey terkekeh ''Ya karna kamu lah"


"Cieee Zeyaaa" beberapa temanku yang lain bersorak menggodaku. Nesya mesem-mesem sambil menyikut bahuku. Ini pada kenapa sih? Cia cie ga jelas.


"Iya emang saya kenapa? Saya kan ga bilang apa-apa dari tadi" kataku tak terima. Enak banget nyalahin orang. Padahal dia sendiri yang gaje dari tadi.


"Gak ada" jawabnya menggeleng sambil tertawa. Tuh kan makin ga jelas. Ditanyain malah ketawa. Kasian, masih muda lho padahal, mana belum nikah lagi.


"Baik semua, untuk kelas olah raga hari ini telah berakhir. Silahkan kembali ke kelas masing-masing. Saya Pamit dan sampai jumpa pekan depan" Pamit Pak Rey sebelum melangkah pergi meninggalkan kami di lapangan.


Beberapa temanku yang lain mulai berhamburan meninggalkan lapangan termasuk aku. Kami berjalan ke ruang ganti untuk mengganti baju olah raga dengan seragam seperti biasa.


"Ga kerasa kan 3 bulan lagi kita disini" celetuk Feby salah satu temanku saat kami sudah berada di dalam ruang ganti.


"UN udah ga ada. Santai aja kali" Sahut yang lain


"Hikmah dibalik Corona" Sambungku sambil merapikan rambut didepan cermin.


"Anjay! Korban sinetron Azab si Zeya"


"Zeya mah diam menjadi siluman Naga bergerak menjadi pawang guru Olahraga" Ujar Hanna yang langsung disambut gelak tawa oleh yang lain.


Aku mengerutkan kening "Kenapa gue njir?"


"Lo peka dikit dong Ze! Itu Pak Rey udah dari dulu kali nyari perhatian lo. Kasian Buk Aiva di kacangin mulu" Jelas Feby yang membuat ku semakin sulit mencerna.


"Gak mempan Zeya mah! Seleranya pengacara yang lagi naik daun itu" Pungkas Nesya yang langsung mendapat pelototan tajam dariku


"Siapa? Alarix ya?" Tanya Feby antusias.


Nesya hanya tersenyum menanggapi, membuatku semakin ingin menjahit mulut bocornya itu. 


Aku memutar bola mata malas. Aku bukannya tidak tau jika nama Bang Wildan memang sedang menggemparkan dunia maya atas keberhasilannya memenangkan kasus korupsi di persidangan dua hari yang lalu. Bang Wildan berhasil menguak fakta dan membungkam mulut lawannya. Hal itu sempat disorot dan disebar luaskan oleh media, membuat Bang Wildan kini kebanjiran Job dan Followers di Twitter dan Instagram. Padahal jika mereka melihat sidang-sidang Bang Wildan sebelumnya, aku yakin mereka akan terus menganga takjub melihat ketegasan dan keberanian Bang Wildan disana.


Teman-teman ku memang tidak mengetahui perihal Bang Wildan yang sebenarnya sepupu ku, dan kurasa mereka juga tidak perlu tau.


"Saingan gue bertambah terus njir. Mana Zeya lagi" keluh Feby kemudian.


"Mau saingan lo bertambah atau enggak Alarix juga ga tau kali lo ada atau enggak didunia ini" Ledek Juwita temanku yang lain


"Anjir berasa ngegapai Taehyung aja gue" Kekeh Feby "Alarix itu masih satu negara ama kita. Gue denger dia juga asli Jakarta. jadi pasti banyak peluang buat ketemu. Gue yakin setidaknya sebelum mati pasti akan ada sesuatu yang buat gue ketemu sama dia" ujar Feby percaya diri


"Iya ketemu di persidangan atas kasus perceraian hahaha"


Aku pun ikut tertawa saat mendengar


jawaban  Hanna. Kurang asem memang dia, kasihan Feby yang kini hanya terlihat kesal karna ledekan Hanna.


"Udah udah ngantin kuy" Ajak Nesya setelah kami puas tertawa. Aku memegang perutku yang mulai keroncongan. Mie ayam komplit bik Ayu adalah pilihan utama yang langsung terbayang di kepalaku. Tidak buruk kan memakan mie ayam setelah olahraga?


🍁🍁🍁


"Pulang sama siapa?" Seseorang mengagetkanku yang sedang berdiri mencari Taksi Online di HP. Aku berbalik, Adrian ternyata.


''Taksi Online"


"Sahabat lo mana?"


"Ada rapat sanggar jadi dia pulang sore" Jawabku tanpa menoleh. Tanganku masih sibuk menggeser-geser layar ponsel, mencari transportasi yang menurutku cocok


"Nih" Rian menyodorkan sebuah helm kepadaku "Bareng gue ayok"


"Kayak sama siapa aja lo. Buruan! Rumah kita juga searah kok. Jadi gak merepotkan sama sekali" ujarnya memaksaku untuk menerima helm dari tangannya


Aku menimbang sesaat sebelum mengangguk "Oke! Kalo lo maksa" putusku seraya memasang helm di kepala.


"Rian?" Panggilku sedikit berteriak saat kami sudah berada ditengah-tengah kendaraan lain di jalan.


"Iya"


"Gue nanyak sesuatu boleh gak?"


"Apa?"


Aku sedikit mendekat agar tidak perlu berteriak saat mengatakannya "Lo kenapa jarang pulang bareng geng lo?"


"Ha? Apa? Gak denger" Katanya membuatku sedikit berdecak. Padahal udah teriak juga lho tadi.


"Lo kena-"


"Gak denger" potongnya "Deket lagi cobak"


Aku menggeser sedikit namun tetap menjaga jarak "Gini udah?" Tanyaku


Rian mengangguk "Lumayan"


"Lo kenapa jarang pulang bareng geng lo?"


Rian memelankan laju sepeda motornya dan berhenti saat lampu di simpang jalan berwarna merah.


"Gue ga searah sama anak-anak"


"Biasanya kan anak geng Motor punya jadwal nongki-nongki sepulang sekolah"


"Ga berlaku buat geng kita" Jawabnya mulai mengopor gigi lagi saat lampu sudah berwarna hijau.


"Jadi kalian ga pernah nongkrong?"


"Sering. Cuman ga sepulang sekolah. Biasanya malam atau hari libur" jelasnya membuatku mengangguk-


angguk mengerti.


"Kenapa tiba-tiba lo nanyain geng gue? Ada yang lo suka disana?"


Aku menggeleng cepat "Enggak! Sok tau lo" Jawabku tidak terima


Rian tertawa sambil menggelengkan kepalanya "Ya mana tau mungkin lo kepincut ama salah satu dari anggota gue"


"Enggak akan" Tekanku kemudian. Bagaimana aku bisa jatuh kepada orang lain jika jatuhku sebelumnya saja belum memperlihatkan tanda-tanda bangkit.


"Tapi btw anggota gue cakep-cakep semua lho Ze" Pamer Rian yang hanya ku tanggapi dengan gedikan bahu dan Rian sempat menangkap pergerakan ku dari spion yang ada didepannya.


"Hahahah gue serius Zeya" ujarnya seraya menghentikan motor tepat didepan pagar rumahku.


Aku melepaskan helm dan menyodorkan benda itu ke arahnya setelah turun dari motor "Iya. Tapi gue ga minat"


"Kalo sama ketuanya gimana?"


"Siapa? Elo?"


Rian mengangguk. Tersenyum sok keren.


"Mantan buaya lo! Takut gue"


"Udah tobat gue Ze" bantahnya


Aku membuka mulut lebar. Seorang Adrian mantan playboy tobat? Aku tidak salah dengar kan?


"Sejak kapan?"


"Sejak kenal lo!"Jawabnya hampir tidak terdengar  "Gue pamit ya Bye" Rian menjalankan motornya cepat tanpa menunggu tanggapan dariku.


"Gue?" Aku menunjuk diriku bingung. Aku menggeleng tidak percaya. Aku pasti salah dengar atau Rian memang salah bicara. Aku pusing, terlalu banyak cerita untukku hari ini.


🍁🍁🍁



Kalo pengacaranya ganteng gini, gue ga bosan nyari kasus mulu😅