
"Adek sini dulu ih" Mami menarik tanganku yang ingin kabur ke luar "Di coba dulu ini bajunya, kalo ga cocok kita cari yang lain" ujar Mami terlihat sedikit kesal dengan tingkahku. Aku juga kesal, kenapa sih Mami harus bersemangat sekali mencari baju samaan untuk resepsi acara sialan itu. Jika diberi izin aku ingin pergi saja untuk dua Minggu ke depan, agar tidak ikut acara mereka. Balik-balik bawa pacar baru yang lebih keren dari bang Wildan.
"Ck udah pas itu Mi" Decakku malas.
"Gimana pas cobak kalo belom di pake?" Tanya Mami sudah membawaku ke ruang ganti.
"Nih cobain dulu! Nanti kalo agak sempit atau ga cocok kita cari lain" Mami memberiku sebuah terusan selutut berwarna dusty pink.
Malas-malas akhirnya aku masuk dan memakai juga kebaya itu. Warnanya kalem dan terlihat cocok dengan warna kulitku, bagian bawahnya merupakan kain brokat dengan atasan yang polos. Bahunya yang terbuka, jelas lebih membuat sisi feminimku menonjol.
Aku keluar setelah beberapa kali agak ragu. Pasalnya aku tak pernah memakai kebaya apapun selama hidup. Dalam lemariku hanya ada baju-baju kaos dan jeans-jeans panjang yang biasa aku pakai sehari-hari.
"Gimana? Pas gak? Ada yang sempit?" Mami langsung menghujamiku dengan berbagai macam pertanyaan saat aku keluar. Wajahnya terlihat begitu senang hingga bangkit dan menghampiriku.
"Putar cobak putar, Mami mau lihat bagian belakang" perintah Mami sambil memutar tubuhku. Aku berdecak kemudian ikut saja kemauan Mami, aku sedang malas membantah. Lagipun aku tak ingin membuat drama anak durhaka di butik orang.
"Ampun deh Adek cantik banget" Puji Mami yang langsung membuatku jijik. Apanya yang cantik Mi? Ini brokatnya berasa banget lagi di kaki. Aku sampe gatel-gatel pengen ngegaruk.
"Coba deh poto dulu poto" kata Mami lagi.
"Poto apa lagi sih Mi? Acara juga belum" protes ku sewot. Ini kenapa Mami heboh banget sih? Berasa aku saja yang ingin menikah minggu depan.
"Ya poto aja dong. Adek kan jarang-jarang pake kebaya" Jawab Mami semangat "Sini-sini" Mami menarikku lagi "Nah sini nih cantik background nya" ujar Mami setelah berhasil membawaku ke spot foto yang memang disediakan di butik ini.
Aku menghela nafas pelan. Untung deh ya ni butik orangnya kagak rame, cobak kalo penuh kabur gue kabur, aku berseru didalam hati.
"Eh tolong dong potoin anak saya" Pinta Mami pada seorang pria yang baru lewat. Aku menutup wajah malu. Mami kenapa sih?
"Miring dikit dek" instruksi laki-laki itu. Aku memiringkan sedikit badanku. Heleh sok-sokan jadi potografer beneran nih orang, pake segala nyuruh-nyuruh miring, padahal cara moto yang bener aja lo ga tau. Ngaku deh lo ngaku!
"Kepalanya diangkat dikit" katanya lagi. "Oke senyum"
Cekrek!!
Pria itu tersenyum puas "Bagus banget Buk. Anaknya juga pinter bergaya" Kata laki-laki itu seraya menunjukkan hasil potonya pada Mami.
Aku hanya mampu memutar bola mata malas melihat interaksi keduanya.
"Eh satu lagi dong" pinta Mami yang langsung membuat kakiku lemas. Ampun deh ini kapan kelarnya Mii??
"Mami udah deh" keluhku memohon
"Satu lagi aja. Buat kenang-kenangan" Mami berusaha merayu
Aku menghembuskan nafas pasrah. Baiklah. Demi Mami tercinta.
"Eh tunggu-tunggu" kata Mami tiba-tiba "Abang ikutan juga dong! Kebetulan sama tuh warna bajunya" lanjut Mami yang membuatku mengerutkan kening. Aku melirik dan spontan membulatkan mata saat sadar siapa yang diminta Mami. Sejak kapan pria itu ada disini? Bukankah kata Mami tadi dia ikut bersama tunangannya yang ingin mencari heels?
Pria itu berjalan mendekat dan berdiri dibelakang ku. Ini kenapa bang Wildan mau-mau aja sih? Bantah kek bilang capek atau pura-pura ke toilet.
Aku menahan nafas lebih kuat saat pria didepanku mulai memberi aba-aba. Fokusku hilang karna bang Wildan. Jauh-jauh dikit bisa ga sih? Ga usah deket banget diri nya. Kalo diaΒ bisa dengar detak jantung ku gimana?
"Jangan tegang Dek, senyum" Pria didepanku menegur. Aku memaksakan diri tersenyum. Keliatan banget ya gue kaku?
"Oke!" Pria itu mengakhiri "Yang ini feel nya lebih dapet Buk. Kalo gini bisa jadi model buat majalah kita juga nih" Kata pria itu tersenyum.
Aku berlari cepat ke ruang ganti, mengganti kebaya itu dengan baju yang kupakai tadi. Gara-gara kebaya ini nih gue sampe coupelan sama bang Wildan. Coba aja tadi warnanya bukan ini pasti Mami ga akan nyuruh dia poto bareng. Mana jantung gue ga normal lagi, repetku dalam hati.
"Udah cocok kan Dek kebayanya?" Tanya Mami saat aku telah selesai dengan urusanku.
Aku mengangguk singkat dan mengembalikan kebaya itu pada Mami.
"Mami mau cuci potonya, nanti Mami pakein bingkai besar trus Mami pajang deh di dinding ruang keluarga" pupilku membesar mendengar rencana Mami. Apa lagi ini?
"Ih apaan sih Mi. Jangan!" Protesku cepat
"Loh kenapa emangnya?"
"Apaan cobak? Jelek!"
"Jelek dimananya? Malah yang tukang potoin tadi bilangnya aja bagus banget"
"Pokoknya jangan deh Mi"
"Kenapa sih Dek? Gak pa-pa dong. Biar orang tau kalo anak Mami itu ada dua"
Aku mengalah dan memilih diam saja. Gimana konsepnya ini? Berasa aku saja yang tunangan sama Bang Wildan. Poto tunangan kak Rayya dan bang Wildan saja tidak sampai dicuci dan dipajang, kenapa poto dadakanku malah ingin diperbesar dan dipajang. Yang ingin menikah sebenarnya siapa sih?
Kalo begini caranya sadar diriku makin menipis, haluku semakin meningkat. Tiap melihat pajangan poto itu nanti, harapan ku pasti bertambah. Aku akan terus merasa mampu menggapainya. Bagaimana aku ingin move on??
Kenapa saat aku sendiri yang ingin bangkit, semesta malah mendukungku untuk tetap jatuh dan sakit!
Mami kapan sih ga aneh-aneh lagi?
πππ
"Mamiii Papiii" aku berteriak seraya mengetuk pintu kamar mereka. Di luar hujan, sesekali kilat terlihat menantang disertai suara petir yang membuatku gelisah. Aku tidak pernah bisa tidur sendiri saat hujan dan petir begini. Aku takut.
"Gak bisa tidur ya?" Suara Papi dari dalam.
"Iyaaaa" jawabku cepat
"Masuk aja Dek,,,pintunya ga terkunci" Titah Papi kemudian.
Aku membuka pintu dan segera melompat ke tengah-tengah Mami dan Papi setelah menutup pintu.
Papi tertawa "Kapan gedenya sih kalo gini" Ujar Papi setelah mengecup puncak kepalaku.
"Gak mau gede-gede" jawabku mengeratkan pelukan "Mami tidur ya?" Tanyaku beralih menghadap Mami.
"Iya" Jawab Papi singkat "Jangan di ganggu Dek" larang Papi saat aku memainkan bulu mata Mami. Aku terkekeh geli. Posesif banget jadi suami, kataku dalam hati.
Aku kembali berbalik ke arah Papi dan memeluk lengannya "Papi kenapa belum tidur?" Tanyaku mengerjap-ngerjap
"Baru siap solat Isya tadi, trus sekalian nungguin Adek ke sini"
"Papi tau Adek mau kesini?" Tanyaku pura-pura bodoh.
"Ya taulah! Emang Adek mau tidur sama Abang?" Tanya Papi menggoda
Aku membuat wajah jijik "Iiii ga mauu" jawabku seraya mengangkat bahu "Bukan Mahrom!" Tegasku lagi
Papi tersenyum seraya mengacak-
ngacak rambutku. Kemudian kami terdiam saat merasakan pergerakan dari sebelah Mami. Kami mengangkat kepala dan menoleh, ternyata Mami hanya ingin menukar posisi tidurnya dengan mata yang tetap terpejam.
"Sssuuutt" Papi meletakkan telunjuk di bibirnya "Jangan kencang-kencang ngomongnya, tar Mami kebangun" Bisik Papi pelan.
Aku kembali tertawa dengan suara yang tertahan "Papi kenapa sayang banget sama Mami?" Tanyaku juga ikut berbisik, tidak mau Mami terjaga karna ulahku.
"Ha?"
"Papi kenapa sayang banget sama Mami" ulangku sedikit lebih besar. Mungkin tadinya suaraku terlalu kecil hingga tak dapat di tangkap Papi.
"Ya sayanglah! Mami kan istri Papi" Jawab Papi polos
Aku mendengus kecewa "Yang lain Pi" desakku "Kalo itu mah semua suami yang ditanyain gitu pasti jawabnya sama"
"Karna Mami hebat" jawab Papi setelah terdiam beberapa saat. "Mami itu wanita terkuat yang Papi kenal" Papi mengubah posisinya menjadi terlentang dan menatap langit-langit kamar. Seperti mengingat-ingat sesuatu mungkin
"Jauh sebelum Adek ada, sebenarnya ada sekitar delapan atau sembilan kali Mami udah keguguran" pupilku membulat seketika. Eh kenapa aku baru tau? Mami Papi tidak pernah membahas ini sebelumnya.
"Dokter bilang rahim Mami itu lemah, jadi dikit Mami kecapekan atau tertekan langsung ngefek ke janin"
"...Mami sampe mau nyerah Dek, Mami sampe ngomong kalo Papi udah capek Papi boleh pergi, dengan kata lain menceraikan Mami dan menikah lagi" Ujar Papi menerawang. Papi tersenyum pahit. Seolah ada sakit yang telah lama disimpan.
"Tapi Papi ga mau. Papi tau Allah pasti cuman mau nguji kita, dan Papi ga mau ninggalin Mami cuman karna hal ini, meski ga munafik, Papi juga pengen punya keturunan"
"... Perjuangan Mami itu udah cukup buat Papi buka mata. Andai diberi pilihan tentu Mami juga ga mau punya rahim yang lemah. Belum lagi gunjingan dari keluarga yang terus-terusan ngebandingin Mami sama yang lain. Papi tau itu pasti berat banget buat Mami"
"...Tengah malam ga jarang Papi liat Mami ketiduran di atas sajadah dengan mata yang sembab dan hidung yang merah. Nafasnya sesenggukan dek, kadang-kadang Mami ngigo sendiri, kata-katanya itu gak jauh dari permintaan maaf karna ga bisa kasih Papi keturunan. Semenyakitkan itu yang Mami rasain. Papi bakal jadi bajingan terbodoh di dunia kalo sempat ninggalin wanita sebaik Mami" Papi menyeka sudut matanya. Aku tau ada air yang sempat mengembun disana namun segera ditepis dengan senyuman.
"Sampe akhirnya Allah jawab doa-doa Mami dan Papi di akhir tahun ke 10 pernikahan, Mami berhasil mempertahankan janinnya dan melahirkan seorang gadis cantik yang ada didepan Papi sekarang" Papi kembali menghadap ke arahku.
Seketika itu air mataku tumpah. Aku sesenggukan. Aku memeluk Papi erat. Wanita yang kini tengah tidur pulas di belakang kami ternyata punya masa lalu yang cukup berat. Wanita kebanggaan ku sudah pernah melalui kehidupan sepahit itu demi mendapatkan aku.
"Udah ih jangan nangis. Nanti Mami kebangun lagi" Papi menyeka air mataku dan mengecup keningku lama setelah pelukan kami terlepas. Pantas saja aku selalu diperlakukan selayaknya ratu, ternyata sesulit itu dahulu Mami dan Papi mempertahankan aku.
Aku mengangguk. Papi benar, jangankan manusia yang akan mengusik Mami, nyamuk pun akan ku pastikan mati terlebih dahulu sebelum menyentuh tubuhnya.
"Jadi ga ada alasan buat ninggalin Mami" kata Papi tersenyum "Dia sehebat itu Dek" puji Papi lagi.
Mataku kembali berkaca-kaca. Namun suara tangis kutahan sekuat mungkin. Dibalik semua kekuatan Mami, pasti ada Papi yang selalu mendukung dan memberi semangat. Menurutku Papi juga tak kalah hebat. Lihatlah sebetapa inginnya Papi untuk mendapatkan anak, Papi tidak akan meninggalkan Mami. Mamiku juga sosok yang sangat beruntung. Beruntung karna memiliki seorang laki-laki yang seperti Papi.
"Adek juga pengen punya suami yang kayak Papi" ujarku pelan
"Jangan!"
Aku mengerutkan kening "Kenapa?"
"Adek harus dapat yang lebih baik dari Papi"
"Tapi Papi udah baik kok"
Papi menggeleng "Belum dek. Masih banyak banget kurangnya"
"Masak?" Aku tak percaya. Yang seperti Papi saja masih belum dikategorikan baik lalu apa kabar yang setiap waktu hobi nyakitin? Seperti bang Wildan contohnya. Zeya ih! Aku menggigit bibir. Jangan bawa-bawa dia! Move on! Suara didalam hatiku mengingatkan.
"Iya" Papi mengangguk "kadang ada hal yang gak Papi sadari ternyata buat Mami sedih"
"Misalnya?"
Papi tertawa "Papi pernah lupa hari ulang tahun Mami. Mami ngambek sampe ga mau ngomong sebelum Papi bujuk-bujuk"
Persis sama sepertiku. Jadi inilah alasan Mami dan Papi tidak pernah melewatkan hari kelahiran ku?
"Udah ih tidur. Udah jam 11 ini" Kata Papi setelah melihat jam.
"Adek mau peluk Mami" aku berbalik dan ganti kini memeluk Mami dari belakang. Ku kecup bagian belakang kepala Mami. Tak akan ada yang boleh memisahkan wanita ini dari ku.
"Papi peluk kita dong" pintaku melongok ke belakang tanpa melepaskan pelukan.
"Ada-ada aja" kata Papi namun tetap juga menuruti keinginanku. Kemudian kurasakan tangan Papi melingkar memeluk kami.
Tuhan aku tak ingin ini semua berakhir begitu saja. Aku sayang mereka. Biarkan mereka hidup lebih lama lagi denganku. Karna bagiku merekalah semestaku.
πππ