
Aku berjalan menyusuri koridor sekolah yang mulai dipenuhi banyak manusia. Nesya belum kelihatan batang hidungnya sama sekali. Entah dimana sekarang gadis itu berada.
"Zeyaa" Seseorang menyeru namaku. Aku berbalik.
"Hey" Aku membalas. Rian tersenyum menghampiriku.
"Sendirian aja?"
Aku melihat kesamping "Ya menurut lo?"
Rian mengangguk tertawa "Iya iya susah basa basi ama cewek cuek"
"Bukan susah ya, tapi memang basa basi lo udah basi" Aku tidak terima dengan gelar yang diberinya barusan.
"Iya iya" Rian tertawa lagi. Aku baru tau jika Rian itu tipe laki-laki yang mudah tertawa. "Eum by the way yang kemarin itu Abang lo?"
Aku berpikir sejenak sebelum mengangguk ragu.
Rian tersenyum. "Bagus dong!"
Aku mengerutkan kening. Apanya yang bagus?
"Abang lo itu ga mau adeknya jalan sama sembarang orang. Makanya dia segalak itu" Seolah tau kebingungan ku Rian menjelaskan maksudnya.
Aku menghela nafas. Seandainya bang Wildan memang sedarah denganku mungkin aku masih bisa menerima pendapat itu. Tapi kali ini konsepnya berbeda. Kami tidak memiliki hubungan darah apapun kecuali hanya saudara dekat yang sah bila menikah.
"Mungkin" Jawabku sekenanya. "Oh ya untuk kejadian kemaren gue harap lo ga ambil hati"
"Of course. Gue ga sebaper itu kali"
Aku tersenyum lega. Bel berbunyi membuat kami harus berpisah menuju ke kelas masing-masing. Adrian Javas Kovindra aku bahkan baru kenal nama aslinya kemarin. Dia laki-laki yang humoris dan cukup menyenangkan menurut ku. Kami seangkatan meski beda jurusan. Dia anak IPA sementara di IPS.
"Bengong aja lo napa?" Aku tersadar setelah Nesya menepuk lenganku.
"Lo kenal Adrian gak?"
"Adrian anak IPA kapten basket ketua geng Samudera?" Nesya bertanya antusias.
Aku mengangguk. "Kenal dong. Kenapa emangnya?"
"Ga pa-pa sih. Nanya aja" Aku membuka buku catatan saat pak Deny sudah mulai menulis di papan.
"Jangan-jangan lo kepincut ama dia ya?" Nesya menebak.
"Isss hati gue ga semurah itu kali"
"Ouh ya bang Wildan masih menempati posisi teratas dong dihati orang yang cuma di anggap adeknya" Nesya menyindir. Aku diam saja, toh kata-kata Nesya tepat sasaran.
"Move on dong Ze! Lo mau gini terus?" Nesya berbisik.
Aku pura-pura fokus menyalin catatan yang sedang ditulis pak Deny.
"Terjebak dalam kisah Familyzone itu nyesek banget kan?" Nesya masih mengoceh. Sepertinya diamku tidak cukup mengodenya untuk berhenti.
"Udah berapa banyak cowok yang lo tolak karna alasan gak suka? Lo belum nyoba tapi udah mundur aja Ze! Coba deh sekali-kali lo buka mata buka telinga buka hati jan buka ginjal aja. Liat dunia. Cowok tu bukan Wildan aj-"
"Adinda Nesya Dewi"
"Ya saya pak" Nesya menunjuk tangan.
"Ikut ke ruangan saya nanti" Tegas pak Deny menaikkan kacamatanya yang sudah melorot.
"S-saya pak?" Nesya ragu.
"Iya kamu. Memangnya ada nama yang sama seperti kamu disini?"
Aku menahan tawa setengah mati. Mampus kan! Sok bijak sih.
"Ck! Gara-gara lo nih"
"Lah kok?" Aku tidak terima
"Ya andai lo ga mancing gue untuk jadi motivator biar lo move on.."
"Gue ga minta" potongku sebelum Nesya menghabiskan kalimatnya kemudian tertawa melihat wajah memelas Nesya.
🍁🍁🍁
"Pelan-pelan aja makannya Dek!" Sebuah suara menginterupsi ku yang sedang lahapnya mengunyah basreng yang kuambil saat di Indomaret tadi. Kami, yah maksudku aku dengan bang Wildan sekarang tengah berada di mobil, berjalan pulang setelah memenuhi titipan belanjaan Mami untuk arisan besok.
"Ya suka-suka gue lah" Aku menjawab sewot. Kemudian lanjut melahapnya, kali ini malah lebih brutal dari sebelumnya.
"Kita jemput kak Rayya dulu..."
"What the uh uhuk ukhuk" aku memegang dadaku yang terasa perih.
"Dek?" Bang Wildan terlihat buru-buru menepikan mobil. Ia mengambil sebotol air mineral membuka dan menyodorkan nya ke arahku. Aku mengambil dengan cepat dan meminumnya.
"Makanya kalo dibilangin tuh dengerin. Keselek kan jadinya" kurasakan elusan tangannya dibelakang punggungku.
Aku menutup botol itu kemudian meletakkannya disampingku.
"Paan sih. Bukan gara-gara ngomong jugak" gerutuku.
Bang Wildan menjalankan kembali mobilnya setelah memastikan jika aku benar-benar aman. Lebay!! Hardik ku dalam hati.
Mobil berhenti tepat di luar gerbang kampus. Aku melihat keluar dan menghela nafas kasar saat melihat seorang wanita berjalan mendekati mobil kami. Aku merogoh tasku, mengambil hp dan mulai berkutat dengan benda itu. Ku rasakan kaca di sampingku diturunkan. Bang Wildan pelakunya dia menoleh dan tersenyum menyambut perempuan itu.
"Hai Adek" Aku diam tidak merespon meski ku tau sapaan itu ditujukannya untuk ku.
"Dibelakang aja ga pa-pa kan?" Bang Wildan bertanya berusaha mencairkan suasana.
"Iya ga pa-pa kok. Adek lagi ngambek ya?"
"Iya. Biasalah!" Bang Wildan menjawab tanpa rasa berdosa. Jelas-jelas dia sedang menggibahi orang didepannya.
Aku mengangkat kepala dan menaikkan kembali kaca yang ada disampingku setelah wanita itu pergi dan membuka pintu tengah.
"Sealbet nya dipake Ray"
Aku merotasikan bola mata saat mendengar suara bang Wildan. Kata-kata yang jelas ditujukannya pada wanita yang ada dibelakang.
"Iya Wil. Aku bukan anak kecil kali" jawab kak Rayya yang membuat bang Wildan terkekeh disampingku. "Wil lusa Kanya pesta, dia ngundang kita, kamu sibuk gak?"
Bang Wildan terlihat berpikir sejenak.
"Kanya temen kamu yang kuliah di kedokteran itu?"
Aku menghela nafas. Aku benar-benar seperti tak kasat mata berada ditengah-tengah mereka. Entah siapa dan apa yang mereka bicarakan aku tidak mengerti.
"Ingat-ingat. Ga nyangka ya dia secepat itu"
"Bukan cepat Wil. Kita aja yang kelamaan. Usia aku sama Kanya kan emang lagi cocok-cocoknya buat nikah"
Aku berdecih dalam hati. Bilang aja lo emang udah kebelet. Nikah tuh bukan di usia, tapi di kitanya, ngapain di cocok-cocokin di usia tapi di hatinya belum siap? Mau jadi janda muda lu? Repetku dalam hati.
"Iya iya. Tapi aku ga bisa janji ya"
"Kenapa? Kamu tuh selalu sibuk kalo aku yang ngajak"
Kulihat bang Wildan melirik kak Rayya yang sepertinya mulai kesal dari spion tengah "Aku emang lagi sibuk Ray dalam beberapa hari ini. Kamu tau kan kasus koruptor yang lagi booming sekarang?"
Aku menghela nafas kasar pura-pura saja tidak mendengar perdebatan kecil mereka. Aku kembali berkutat dengan ponsel ditanganku.
Nesya : Yeuu jadi nyamuk dong lo Ze😝
Me : Kayaknya😏
Nesya : Hahaha. Spill rasanya dong bestie.
Me : Bacot!!
Nesya : Hahah. Jadi gimana say?
Aku baru ingin mengetik balasan saat bang Wildan memanggilku.
"Apaan?" Tanyaku malas.
"Kak Rayya dari tadi ngomong Dek" Katanya melihat ku sekilas.
"Ya udah kalo ngomong ya ngomong aja. Kan dengernya tuh pake kuping bukan mata" Jawabku ketus.
"Udah ga pa-pa kok Wil. Adek emang lagi gak mau diganggu mungkin" Wanita dibelakang ku bersuara terlihat menenangkan bang Wildan. Sepertinya mereka sudah mengakhiri perdebatan tidak bermanfaat itu. Aku tidak tau bagaimana endingnya, tapi yang jelas kak Rayya sudah berbicara lembut kembali dengannya.
"Ya beb. Tungguin depan Cafe Mentari. Gue berenti disana" Aku bersuara setelah menempelkan ponsel di telinga.
"Heh Zeya gue udah pulang anjir" suara Nesya terdengar panik di seberang. Aku memang menelponnya tiba-tiba agar menungguku disana. Dan aku tidak tau jika wanita itu ternyata sudah pulang.
"Balik lagi dong. Lo mah gitu amat sama bestie sendiri"
"Ya tapi gue udah setengah di jalan ******"
"Ga mau tau. Tungguin gue disana!" Aku mematikan sambungan dan mengembalikan ponselku ke dalam tas.
Aku sadar bang Wildan memang menyimak pembicaraan ku dari tadi. Namun aku tetap berusaha tidak peduli.
"Turunin gue depan Cafe Mentari" Kataku sambil memperbaiki letak rambut.
"Kenapa disana Dek?"
"Temen gue udah nungguin disana" Jawabku tanpa menoleh.
"Siapa? Cewek? Cowok?"
"Bencong! Buruan. Jangan kelewat" Aku menurunkan kaca disampingku.
"Iya tapi kenapa Dek?" Bang Wildan belum juga melambatkan kecepatan mobilnya padahal Cafe yang ku maksud sudah tidak jauh lagi.
"Di sini panas. Gue ga tahan"
"Mau abang naikin suhu AC nya lagi?" Bang Wildan sudah mau menyetel suhu namun segera kucegah.
"Ga usah. Gue mau turun" Aku tetap bersikeras.
"Ya udah Abang tunggu sampe selesai ya"
"No no no. Ga usah! Gue bisa jaga diri sendiri" kataku tersenyum memastikan.
"Ya udah lah Wil. Biarin aja. Mungkin adek mau nugas sama temen-
temennya" Kak Rayya bersuara ikut mendukung ku.
Aku mengangguk cepat tanda setuju. Oh ternyata bisa diajak kerja sama juga maduku ini. Bang Wildan tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya memberhentikan mobilnya tepat di depan Cafe Mentari.
Dia kelihatan tidak rela saat aku ingin keluar. Entah ini memang benar adanya atau perasaanku saja.
"Mau abang jemput nantik Dek?" Dia menahan bahuku sebelum keluar.
"Ga perlu. Makasih!" Ucapku cepat.
"Aku kedepan bisa kan Wil?" Kudengar suara kak Rayya saat ingin menutup pintu. Kemudian pintu belakang terbuka, kak Rayya keluar dan dia masuk untuk menggantikan tempat ku didekat bang Wildan tadi.
Aku memegang dadaku sesaat sebelum melangkah. Seolah ada belati yang sengaja ditusuk ke dalamnya. Sakit! Namun tidak berdarah. Terkadang dalam hati aku bertanya kenapa harus Wildan? Kenapa harus dia yang sudah ku anggap Abangku. Andai bukan dia mungkin ini akan lebih mudah, karna aku tak perlu melihatnya tiap hari.
Aku berlari menghampiri mobil Nesya setelah bunyi klakson mengagetkanku. Aku masuk dan langsung berhambur ke dalam pelukannya.
"Kenapa sih Ze? Lo buat gue khawatir tau ga?" Nesya mengelus punggung ku lembut.
Aku tidak menjawab. Malah semakin terisak dalam pelukan Zeya.
"Gue harus ke dukun mana biar bisa lupain dia?" Tanya ku setelah menarik diri.
Nesya mengerutkan kening bingung.
"Gue capek jatuh sama dia. Gue mau berenti tapi gimana Ne?" Jelasku mulai terisak lagi.
Nesya terlihat menghela nafasnya pelan. "Lo harus bisa buka hati untuk orang lain Ze" Jawabnya setelah memperbaiki posisi duduknya ke depan. "Gue jalan nih ya?" Nesya bertanya sebelum menjalankan mobilnya.
Aku mengangguk mengizinkan.
"Mau gue anter pulang?"
Aku langsung menggeleng. Pulang sekarang sama saja menambah lobangnya lebih besar. "Gue nginep sama lo ya?" Pintaku memelas.
"Mami gimana?"
"Gue telpon aja nantik" jawabku meyakinkan. Mami pasti mengizinkan aku nginap. Toh sebelumnya aku juga pernah tidur di rumah Nesya.
Jadi kurasa ini bukan hal yang berat.
🍁🍁🍁