My Brother My Husband??

My Brother My Husband??
MMH 13


"Mau dikepang atau di kucir kuda?" Tanya Papi setelah menyisir rapi rambutku.


"Kepang dua" Jawabku riang.


"Yang dikasih pilihan apa yang dipilih apa" Komentar Papi tertawa geli.


"Papi kenapa si masih suka banget ngucirin rambut Adek?" Tanyaku seraya memainkan beberapa karet yang berserakan didepanku.


"Menurut Adek kenapa?" Papi balas bertanya. Tangannya masih sangat cekatan mengaitkan satu bagian rambutku dengan bagian yang lain.


Aku menggedikkan bahu "Gak tau" jawabku polos. Papi mengambil karet yang kuberikan kemudian mengikatnya di ujung setelah sebelah rambutku terkepang rapi.


"Adek sering gak bener kalo ngikat rambut" jawab Papi beralih ke bagian rambutku yang lain


Aku terkekeh"Ouh ya?" Tanyaku tak percaya "Papi sadar ya?"


"Ya sadarlah. Wong tiap hari juga di perhatiin"


"Ciee Papi perhatian..." Godaku melirik Papi dari samping.


Papi tertawa setelah menarik kecil hidungku "Emang ada ya orang tua yang gak perhatian sama anaknya?"


Aku berpikir sejenak "Banyak"


"Mana contoh nya?"


"Sebenarnya bukan ga perhatian sih Pi, tapi.."


"Tapi apa?" Papi bergeser ke depanku dan merapikan bagian poni kemudian tersenyum senang menatap hasil karyanya yang telah selesai


"Tapi gengsi"


Papi menautkan alisnya terlihat bingung "Gengsi Pi. Masa Papi ga tau gengsi sih" Tanyaku sedikit kesal


"Iya Papi tau gengsi. Tapi gengsi dalam konsep apa?"


"Ya karna anaknya udah besar mungkin" Jawabku sedikit ragu. Aku tidak yakin juga dengan jawaban ku, tapi beberapa temanku pernah bercerita tentang ayahnya yang berubah sejak mereka dewasa. Ini cukup menjadi bukti pendapatku.


"Baru mungkin lho Dek, belum pasti" Papi membereskan sisir dan karet-karet yang berserakan di lantai kemudian memasukkannya ke dalam tas kecil khusus penyimpanan aksesoris rambut.


"Papi ga percaya ih"


"Bukan ga percaya Dek. Tapi kayak ga mungkin aja. Masa sih ada orang tua yang gengsi-gengsian sama anaknya" Papi bangkit dan meletakkan tas kecil itu dibawah laci TV.


"Tapi buktinya ada Pi" aku tetap bersikeras


"Siapa?" Papi telah kembali duduk didekatku


"Temen-temen Adek banyak tuh. Papi tau gak? Ada satu temen Adek namanya Diana. Orangnya humoooris buaangett" Aku mengambil nafas setelah merasa kehabisan karna terlalu excited bercerita.


Papi tergelak kemudian menepuk bahuku pelan


"Trus dia cerita Pi. Dia bilang sebenarnya dia punya masalah yang besar banget dalam hidupnya. Tapi dia ga pernah bilang ke siapa-siapa"


Papi menyimak dengan baik sambil mengangguk. Inilah hal yang paling ku sukai jika sedang bercerita dengan Papi. Papi tidak akan bertanya atau menyela sebelum cerita ku habis


"Nah kemarin dia curhat sama Adek. Papi tau gak kenapa diantara banyaknya temen, dia malah milih Adek sebagai tempat curhatnya?"


Papi mengangkat alis kemudian menggeleng "Sama dong! Adek juga gak tau" Jawabku sambil tertawa


Papi mengacak puncak kepalaku gemas "Papi ihh kan berantakan lagiii" keluh ku sambil memegang rambut.


"Iya iya maaf. Lanjut-lanjut"


"Ternyata dia anak broken home Pi. Papanya nikah lagi setelah tau kalo Mamanya Diana ini ga bisa punya anak lagi. Diana bilang, dia juga sering lihat Mamanya dipukulin sama Papanya. Miris kan Pi? Adek jadi takut" ujarku mengakhiri cerita. Membayangkannya saja aku tidak sanggup apalagi harus melewatinya. Bagaimana mental seorang anak saat orang tuanyalah yang lebih dulu mengajarkannya tentang luka.


Papi mendekat kemudian mengelus puncak kepalaku "Dek, pada dasarnya hidup ini gak selalu tentang senyuman, yang berarti ga selalu bahagia. Adek pernah lihat roda sepeda kan?"


Aku mengangguk


"Nah ibarat roda sepeda Dek. Selalu berputar. Adakalanya di atas ada kalanya dibawah"


Aku mendengarnya dengan baik. Aku selalu suka saat Papi mulai mengajarkan aku sesuatu yang baru


"Begitulah juga kehidupan, dia selalu berputar. Gak setiap saat orang yang di atas itu selalu diatas dan gak setiap saat yang dibawah selalu dibawah. Mungkin dengan begitu secara tidak langsung Allah ingin mengajarkan Diana betapa kerasnya dunia ini. Allah pengen Diana segera didewasakan sebelum waktunya agar nanti setelah dewasa dia gak terlalu berat untuk menghadapi kehidupan"


Papi membalasnya. "Makasih Pi. Adek sayang Papi"


Andai diizinkan ku hanya ingin minta satu hal. Jangan ambil mereka saat aku masih didunia. Aku tidak ingin merasakan sakitnya ditinggal pergi. Karna bagiku mereka lah duniaku.


🍁🍁🍁


Aku kembali menghapus beberapa garis yang sejak tadi selalu salah kubuat. Padahal sudah menggunakan rol lurus tapi tetap saja garisnya jadi mereng saat selesai. Benar-benar payah.


Aku bangkit kemudian mengambil ponsel diatas meja dekat tempat tidur. Kubuka aplikasi bantuan sejuta umat yaitu Google dan mulai mencari 'cara membuat garis lurus dengan rol'. Gara-gara Pak Yardi nih! guru PPL belagu. Masak kami disuruh gambar tiang listrik. Kayak anak kecil aja.


"Dek?" Seseorang mengetuk pintu kamarku


"Apaaaa" balasku berteriak. Aku tau itu suara Bang Wildan. Makanya sengaja ku kasar-kasarkan. Sebenarnya perihal malam itu aku sudah tidak marah lagi dengannya. Aku sadar, aku juga salah dan egois. Aku terburu-buru sekali dalam mengambil keputusan. Dan untuk pria pengincar itu sudah satu Minggu sejak kejadian malam itu aku tidak merasakan keberadaannya lagi, dia juga tidak pernah menelepon atau mengirimkan pesan-pesan misterius seperti sebelumnya.


"Makan dulu"


"Nantiii" tolakku dengan suara yang sama


"Sekarang Dek! Buruan" perintahnya. Aku berdecak kesal kemudian berjalan ke arah pintu dan membukanya.


"Ayok" dia sudah berjalan didepan ku dan aku pasrah saja mengikutinya.


"Lah?" Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling meja makan setelah menarik satu kursi dan duduk


"Kenapa?" Tanyanya seraya mengambil piring didepanku


"Mami sama Papi mana?" Tanyaku bingung. Biasanya untuk makan malam dan sarapan pagi Mami dan Papi tidak pernah melewatkannya. Kemana dua permataku malam ini?


"Itu tadi.. Papi bilang ada undangan temen kantor malam ini"


"Undangan temen kantor?"


Bang Wildan mengangguk "Adek mau apa?" Tanyanya seraya memegang piring ku.


Aku merampas piring yang dipegangnya "Gue bisa sendiri kali" Kataku kemudian. Kenapa pula dia sampai harus menggantikan peran Mami menaruh nasi dan laukku. Aku bukan anak kecil! Untuk hal-hal begini aku bisa sendiri. Beda cerita jika Mami yang melakukannya.


Aku mengambil sepotong bebek yang dimasak dengan bumbu khas Madura. Jadilah warnanya agak kehitaman dan bertekstur.



"Lo belum jawab pertanyaan gue" Peringatku saat Bang Wildan duduk setelah melengkapi piringnya dengan beberapa lauk.


"Apa?"


"Temen kantor yang mana? Biasanya ga pernah tuh ada acara malam-malam gini"


Bang Wildan menyelesaikan kunyahan dimulutnya sebelum menjawab "Ada anak temen Papi tunangan"


"Tumben" kataku pelan masih tak mengerti. Aku menyuapi makanan ke mulut dan tidak mengomentari apa-apa lagi. Hanya aku sedikit bingung biasanya Mami Papi pasti akan bertanya aku ikut atau tidak jika ada acara-acara seperti ini.


"Emang orang-orang napa pada buat acara tunangan malam ya?" Tanyaku tak habis pikir.


"Orang kantor kan gitu Dek, kalo siang mereka kerja. Jadi waktu yang luangnya ya malam" Bang Wildan menambah sesendok sambal hitam itu kepiringnya "Mau lagi?" Tawarnya.


Aku mengangguk "Sayapnya juga dong" pintaku saat menyadari bebek dipiringku sudah tinggal tulangnya.


"Tadi ditawarin ga mau" Ejeknya setelah meletakkan satu ekor sayap dipiringku


"Kalo ga ikhlas bilang!" Kesalku kemudian. Aku menyesal telah menerima penawarannya.


Bang Wildan tertawa sambil geleng-geleng "Ga pernah berubah" ujarnya pelan


"Gue denger" peringat ku mendelik tajam dan pria itu semakin tergelak saat mendengar peringatan ku.


Aku melipat bibir menahan senyum. Jangan goyah Zeya! Aku menguatkan hati. Kenapa saat tertawa lepas begini tampannya berlipat-lipat. Aku yakin pasti banyak wanita yang tertarik padanya di kantor. Apalagi bawaannya yang berwibawa dan santai jadi double handsome deh.


Kak Rayya beruntung banget kan? Dapat pacar sebaik dia.



Lagi! Rasa iri dan cemburu dengan posisi kak Rayya kembali muncul. Andaiku untuk menggapainya semakin tinggi. Padahal aku tau andai ku sangat mustahil untuk dicapai.


🍁🍁🍁