
Aku memainkan ponsel seraya menunggu Mami mengolesi rotiku dengan selai kacang. Mami tidak sempat membuat nasi goreng pagi ini karna buru-buru. Mami bilang hari ini Mami ingin menemani Papi ke Bogor. Ada urusan dengan kebun teh, begitu kata Mami.
"Adek inget tuh jangan sering minum air dingin" Peringat Mami seraya meletakkan sepotong roti diatas piringku
"Iyaa" Jawabku pendek
"Abang tolong ya jagain Adek, mungkin agak telat Mami sama Papi baliknya" Pinta Mami setelah menuang segelas susu hangat ke gelas bang Wildan.
"Siap Mami" Jawabnya cepat
"Apanya sih yang mau dijagain? Adek bisa jaga diri sendiri kali. Emang seberapa lama Mami sama Papi disana?"
"Sore kita udah balik kok" Jawab Papi
"Nah kan apanya yang mau dijaga Mi? Tar sore Mami sama Papi juga udah di rumah lagi" ketusku tidak terima. Aku tidak ingin merepotkan pria itu. Aku bisa menjaga diriku sendiri.
"Emang kenapa sih Dek, seanti itu kalo Abang jagain?" Tanya bang Wildan kepadaku.
Aku memutar bola mata jengah. Ga usah banyak bacot deh Wildan! Diem aja udah!
"Ya gue bukan anak kecil kali"
"Adek yang sopan cobak ngomong nya" tegur Mami "Masak sama yang lebih tua gue gue lo?"
Bang Wildan menaikkan alis seolah juga tak paham kenapa aku bisa begitu. Heh pake ngejek-ngejek segala nih orang.
"Aw sakit Dek" bang Wildan menoleh ke arahku dengan alis yang menyatu.
"Enakkan? Mau lagi?" bisikku tajam. Huh Rasain! Sakitkan? Cubitanku memang tak pernah salah. Apalagi jika sasarannya adalah paha bang Wildan.
"Buruan Dek. Udah mau jam tujuh lho ini" suara Mami menegurku kembali.
Aku segera menyelesaikan sarapanku dan meneguk habis susu yang ada didepanku.
"Mami pulang bawain jajan yang banyak ya" Pintaku setelah membersihkan bibirku dengan tissue.
"Mau di bawain apa?" Tanya Papi
Aku berpikir sejenak. Kurang tau juga apa saja yang terkenal disana "Makanan deh pokoknya. Apa aja boleh" aku melirik ke arah bang Wildan "Lo ga boleh makan!" Kataku sinis
"Yang beliin Mami kok bukan Adek" Jawabnya santai
"Terserah" Aku bangkit mengambil tangan Mami dan Papi kemudian menciumnya.
"Hati-hati di jalan. Jangan ngebut-ngebut" pesan Mami saat aku telah sampai di ambang pintu
"Laksanakan komandan!" Jawabku seraya keluar.
πππ
"Lo udah kelar PR Ekonomi belom?" Tanya Nesya yang tengah sibuk menulis sesuatu di bukunya. Kulihat teman-teman yang belum siap juga sangat sibuk mondar-mandir meminta jawaban pada yang sudah siap.
"Udah" Jawabku singkat seraya mengeluarkan ponsel. Aku terbiasa menyelesaikan PR sepulang sekolah. Agar aman saja dan tidak terburu-buru seperti sekarang.
"Lo mah enak nakal-nakal otak encer. Lah gua? Udah nakal, otak kental, minus akhlak, muka pas pasan lagi" Ujar Nesya tanpa menghentikan aktivitasnya.
Aku tertawa mendengarnya "Ga asik lo. Insecure sama bestot sendiri. Jangan iri jangan iri jangan iri dengki"
"Ya lah apa artinya gue kalo udah jalan sama lo"
"Lo muji sekali lagi gue ulek nih mulut lo" ancamku kemudian.
Nesya tertawa "Iya iya. Kita akan cantik di mata orang yang tepat ya kan?"
Aku mengangguk "Tapi di mata bang Wildan gue tetep kalah cantik sama Kak Rayya"
"Ya iyalah. Lo kurang genit aja sama bang Wildan. Coba deh sesekali lo make hotpants sama tank top doang depan dia. Gue jamin langsung tunduk tuh laki" Usul Nesya yang langsung ku tolak dengan gelengan.
"Paha gue ga semurah paha ayam bestiehh" jawabku geli
Nesya tertawa terbahak " Yah kan coba aja"
"Itu mah cosplay jadi ****** namanya" sahutku tetap tak setuju. Meskipun aku belum bisa menutup aurat seperti yang dianjurkan oleh agama, tapi aku tetap tidak sudi bagian tubuhku jadi tontonan orang-orang.
"Iya iya buk Ustajah. Saya juga sedang mencoba untuk hijrah"
Aku tergelak. Lupa jika Nesya sesekali masih sering memakai hotpants saat keluar rumah.
"Buk Winda ouy buk Winda" Billy teman sekelasku yang sejak tadi berdiri di ambang pintu langsung masuk setelah memberi informasi. Kelas yang awalnya memang sedikit kacau kini sudah tertib karna kedatangan guru terkiller itu.
"Selamat pagi anak-anak" Sapa buk Winda dengan raut wajah datar. Dengan kacamata dan cepulan rambut yang di ikat satu, guru yang sebenarnya baru memiliki anak satu itu terlihat lebih tua dari usianya.
Diantara semua guru, buk Winda adalah guru yang paling di takuti di sekolah. Sekali saja tidak patuh atau tidak membuat PR maka nilai langsung terancam, ditambah lagi dengan hukuman berdiri di tiang bendera dan membersihkan WC sekolah selama seminggu berturut-turut.
"Pagi bukkkk" Jawab kami serentak.
"Kumpulkan tugas kalian sekarang!!" Perintahnya seraya duduk.
Aku membuka tas dan mengambil buku Ekonomi. Namun raut wajahku berubah jadi panik saat buku pr ku tidak ada didalam tas. Yang ada hanya buku catatannya saja. Aku mengeluarkan semua buku-buku yang ada didalam tas dan mulai mencari lebih teliti, mungkin terselip atau masuk ke dalam buku-buku yang lain.
"Buku lo mana? Mau sekalian gue kumpulin?" Tawar Nesya yang ingin mengantar bukunya ke depan.
"Luan aja ga pa-pa. Gue antar sendiri aja" Jawabku masih sibuk mencari-cari buku itu didalam tas dan dibawah laci.
"Kenapa sih Ze? Buku lo mana?" Nesya sudah kembali dan terlihat bingung dengan kepanikan ku yang mencari sesuatu.
"Serius Ze?" Nesya ikut panik seraya membantuku mencari buku itu.
"Ketinggalan pasti" kataku seraya meraup wajah frustasi. Yah aku ingat buku itu ketinggalan di atas buffet TV saat aku mengerjakan PR di ruang keluarga kemarin sore.
"Zalfana Zeya Izora?" Suara buk Winda menambah jantung ku berdetak lima kali lebih cepat. Aku menelan ludah susah. Semua mata kini menuju ke arahku. Pasti buk Winda sudah menghitung dan memeriksa siapa saja uang yang belum mengumpulkan PR.
"Keluar kamu dari kelas saya sekarang!!" Perintahnya yang langsung membuat mentalku menyusut.
"Jangan lagi berkeliaran di sekolah! Langsung pulang saja kamu" aku diam seribu bahasa. Ingin meminta keringanan pun tidak mungkin. Buk Winda tak pernah pandang bulu dalam hal ini.
"Zeee" Nesya memegang tanganku iba.
"Ga pa-pa. Jan gitu anjir!" Kata ku mencoba membuat lelucon. Ini hal memalukan dalam hidupku.
Aku memasukkan semua buku ku ke dalam tas dan berdiri dengan tatapan teman-teman ku yang masih memperhatikan gerakku. Aku benci sekali menjadi pusat perhatian seperti ini. Untung lah tidak ada Mami Papi di rumah jadi andai aku pulang awal pun tidak ada yang merepeti.
"Saya pulang buk" Pamit ku seraya berjalan ke luar kelas.
"Langsung pulang! Jangan berkeliaran di sekolah!!" peringat nya lagi.
Aku mengangguk patuh dan keluar dari kelas. Bahkan aku tidak di izinkan untuk berkeliaran di sekolah lagi.
"Neng Zeya hati-hati di jalan" begitu pesan satpam yang biasa berjaga di gerbang sekolah. Bahkan dia langsung membuka pintu tanpa ku mintai. Biasanya dia akan bertanya dan mengintrogasi terlebih dahulu siapa yang keluar dari sekolah sebelum jam pulang. Jadi sepertinya satu sekolah tau jika aku tidak membuat PR.
Ku lajukan sepeda motor ku keluar dari gerbang. Hatiku mencelos begitu saja.Β Tiba-tiba saja perasaan ku tidak enak. Aku berdecak malas. Sebelumya tidak pernah ada adegan ketinggalan buku atau semacamnya, kenapa hari ini begitu sial?
Aku membelokkan motorku ke dalam rumah. Kulihat ada mobil bang Wildan di sana. Bang Wildan ada di teras bolak-balik terlihat cemas tidak menetu. Kenapa tuh anak? Masyruq?
"Adek" serunya saat aku sudah memarkirkan motorku ke dalam garasi. Aku tidak menjawab dan langsung menghampirinya.
"Ikut Abang sekarang" katanya menarik tanganku.
"Kemana?" Tanyaku belum mau beranjak dari tempat.
"Ada pokoknya ayo" jawabnya seraya menarik tanganku.
"Bilang dulu kemana?" Aku masih bersikeras
Bang Wildan tidak menjawab. Ia menarik paksa tanganku membuka pintu mobil dan membawaku masuk ke dalamnya.
"Lo gaje tau gak? Gue tanya kemana ga jawab-jawab" ujarku saat dia sudah masuk ke dalam.
Bang Wildan diam dan mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Merasa di kacangin aku memilih melihat ke luar jendela. Dasar ga jelas!!
Aku terkejut saat merasakan tanganku di genggam. Ku tolehkan kepalaku ke arah Bang Wildan yang menjadi pelakunya. Wajahnya terlihat takut, tangannya juga ikut gemetaran, ku rasakan ada keringat juga yang membanjiri telapak tangannya.
"Lo kenapa sih?" Tanyaku tidak mengerti
Bang Wildan melirikku sekilas kemudian kembali melihat ke depan
"Abang ga akan kemana-mana Dek" ujarnya membuatku semakin bingung. Ga akan kemana-mana gimana sih? Jangan bilang dia tau perasaanku.
Genggaman tangannya baru terlepas saat dia memarkirkan mobilnya di sebuah gedung besar.
"Ayo" dia menggenggam tanganku dan membawanya masuk.
"Rumah sakit?" Tanyaku saat sadar
Bang Wildan mengangguk dan segera berlari meninggalkanku saat melihat seorang laki-laki paruh baya berbaju hijau lengkap dengan masker dan penutup kepala berwarna biru keluar dari sebuah ruangan. Dia terlihat sedang berbincang dengan laki-laki itu. Kemudian raut wajahnya berubah saat kembali kepadaku.
"Ayo masuk" dia menarik tanganku untuk masuk ke ruangan tempat laki-laki berbaju hijau itu keluar.
Perasaanku langsung tidak enak saat mencium aroma obat-obatan disini. Siapa yang sakit?
Kami berhenti pada dua ranjang yang sudah tertutupi kain putih. Ku yakin ada jenazah dibaliknya. Aku menoleh ke arah bang Wildan yang menatap waspada ke arahku. Jantungku berdegup kencang. Aku menelan ludah susah.
Ku buka kain penutup itu pelan dan segera melepasnya cepat. Nafasku tersengal. Siapa didepanku? dua orang manusia dengan wajah pucat pasi dan penuh darah. Yang satunya memang sudah tidak bisa dikenali lagi. Kenapa mereka sangat mirip dengan Mami dan Papi?
"Ini siapa?" Tanyaku pelan. Irama nafasku sudah tidak beraturan. Wildan gila! Mami dan Papi sedang dalam perjalanan ke Bogor kenapa dia malah membawaku ke rumah sakit ini?
"Mami sama Papi mana?" Ku hampiri bang Wildan lalu kutarik kemejanya "MAMI SAMA PAPI MANA WILDAN??!" Tanyaku setengah berteriak.
Beberapa suster memegang tanganku. Aku memberontak. Bang Wildan menutup wajahnya dengan tangan. Kulihat bahunya terguncang
"WILDAN JAWAB!! MAMI SAMA PAPI DALAMΒ PERJALANAN KE BOGOR KAN?" Aku semakin brutal. Ku pukul dadanya keras. "JAWAB MAMI SAMA PAPI MANA???" aku meraung, dua orang suster sudah memegang tanganku agar tidak lagi memukuli bang Wildan.
"Dek?" Serunya menarik dan memelukku erat.
"LEPAS WILDAN!!! MAMI SAMA PAPI MANA???!!" Teriakku tetap tak terima. Bang Wildan menguatkan pelukannya hingga aku terhimpit dan tak bisa melawan.
Ini mimpi kan? Mami dan Papi pasti ga akan mau tidur di rumah sakit? Mami dan Papi mau lihat Adek besar dan kuliah kan?
"Adek istighfar dek, istighfar" peringatnya berbisik.
"Mami sama Papi mana Wildan?" Tanyaku melemah. Seketika kurasa tungkai ku kehilangan fungsi. Nafasku juga ikut melemah.
"Mami dan Papi masih di Bogorkan?" Tanyaku lembut berharap bang Wildan mengangguk dan mengiyakan pertanyaanku. Tapi Wildan diam! Dia hanya menatap ku penuh kasihan. Wildan JAWAB!!!
"Innalilahi wa inna ilai hi raji'un. Ucapin itu dek" katanya lagi.
Aku menggeleng, kemudian mengangguk tidak jelas. Kepalaku terkulai lemas dan tiba-tiba semuanya gelap.
πππ