My Brother My Husband??

My Brother My Husband??
MMH 6


"Adek tau gak Mami sama Papi hampir gila nyariin Adek dari semalam?" Suara Papi meninggi sambil terus menatapku tajam.


Aku menunduk sambil memainkan kesepuluh jemariku. Aku baru pulang pukul delapan tadi dan hari ini terpaksa harus bolos sekolah. Baterai hp ku habis dan aku tidak sempat mengabari Mami kemarin. Aku juga tidak ingat untuk mengabarinya lewat hp Nesya, kupikir mami tidak akan seheboh ini. Tapi ternyata perkiraan ku salah, Mami Papi jelas terlihat murka saat menyambut ku di pintu tadi.


"Adek ga ingat untuk ngabarin Papi sama Mami?" Papi bersuara lagi membuat aku semakin bungkam. Sebelumya Papi tidak pernah meninggikan suara saat berbicara denganku. Hatiku kebas. Kenapa Papi harus marah-marah?


Aku menelan ludah susah. Kerongkongan ku terasa sakit. Mami terlihat mengelus lengan Papi berusaha meredakan amarahnya.


"Adek jawab! Adek dengar gak Papi ngomong?" Suara Papi semakin keras. Aku memejamkan mata. Aku tau aku salah. Tapi tolong jangan membentak ku seperti ini.


"Nah gitu selalu. Manja! Tiap dibilangin, diomelin, dimarahin ujung-ujungnya pasti nangis. Seakan-akan memang Adek yang jadi korban disini!" Papi bersuara lagi membuatku mendongak tidak percaya.


Papi kah ini yang berbicara? Kulihat wajah Papi memerah, bahunya bergetar. Sebelah sudut bibirku tertarik tak menyangka. Hari ini Papi berhasil menambah lobang yang kemarin sudah cukup terbuka.


"Udah?" Tanyaku bangkit seraya menatap Papi.


Papi diam. Mulutnya terkatup rapat seolah tidak berniat menjawab. Pandangan ku kabur. Disakiti oleh Papi berlipat-lipat perihnya dari yang kemarin.


"Udah ngebentaknya Pi?" Tanyaku sekali lagi.


"Mau marah lagi silahkan sebelum Adek masok kamar. Mau ngatain Adek manja nakal keras kepala cengeng egois gak bisa di atur ayok Pi. Lanjutin lagi. Telinga Adek masih kebuka nih" Nafasku tertahan. Kenapa rasanya sakit?


"Udah puas Papi ngatain Adek manja? Ada lagi? Buruan dong Pi Adek mau istirahat. Capek!" Lanjutku tanpa mengalihkan perhatian dari Papi. Kulihat Mami sudah terisak dibelakang Papi. Sesekali masih mengelus lengan Papi seolah menyuruh Papi untuk tetap diam.


"Ga ada niatan ngatain Adek anak gak berguna? Atau mau ngatain kalo Adek kurang ajar? Cepetan kalo ada sebelum Adek berubah pikiran"


"Adek, Nak?" Suara Mami terdengar menegurku. "Udah ya masuk kamar. Istirahat"


Aku menggeleng. "Adek rasa ada lagi yang mau Papi lanjutin. Iya kan Pi?" Tanyaku melihat Papi.


"Papi hebat. Makasih untuk bentakannya ya. Kalo mau lanjut ntar malam aja. Adek udah ga kuat kalo sekarang" Aku melangkah setelah kalimat itu keluar dengan lancar.


Kubanting pintu kamar sebelum melempar diri di atas kasur. Dibentak oleh orang yang paling kusayang jauh lebih menyakitkan dari apapun.


Luka kemarin saja belum sempurna sembuh dan hari ini Papi menambahnya lagi. Aku tersenyum kecut.


Laki-laki memang paling pandai dalam membuat luka. Termasuk Papi.


🍁🍁🍁


Aku terjaga saat merasakan bahuku terguncang pelan. Aku membuka mata dan berusaha duduk meski setengah kesadaranku belum utuh kembali.


"Heh ngapain lo disini?" Aku reflek menjauh saat menyadari siapa kini yang ada didepanku. Ya Allah kenapa harus dia lagi? Wildan!


"Makan dulu ya. Kata Mami dari pagi Adek belom makan" Dia mengangkat sepiring nasi yang sudah lengkap dengan lauknya kedepanku.


"Lo ngapain disini? DI-KA-MAR GU-E?" Ulangku lagi penuh penekanan.


"Di suruh Mami. Mami bilang Adek belom makan" Jawabnya tenang.


"Kenapa ga Mami sendiri kesini? Kenapa harus lo?"


"Mami takut Adek juga marah sama Mami"


Aku menghela nafas pelan. Mengalihkan pandangan kearah lain. Perutku lapar tapi makanan didepan ku terlihat tidak menggiurkan sama sekali.


"Mami bilang tadi pagi Adek berantem sama Papi. Emang bener?" Aku tersenyum sinis sebelum kembali menatap lawan bicara. Wajah polosnya terlihat tenang menanti jawaban dariku.


"Kalo iya kenapa?" Tanyaku mengangkat alis.


Aku mengerutkan kening bingung.


"Maaf untuk apa?" Tanyaku tak mengerti. Atau jangan-jangan dia sudah paham dengan perasaanku. Gawat kalo iya. Bisa mampus aku.


"Maaf gara-gara Abang, tadi pagi Adek harus nanggung resiko nya"


Aku bernafas lega. Ternyata bukan karna perasaanku dia minta maaf.


"Kenapa jadi gara-gara lo?"


"Kalo Abang keras buat nahan Adek kemaren kejadian ini pasti ga kan terjadi"


"Hahah gue ga nyalahin lo kok. Santai aja kali. Toh kemarin gue juga yang ngotot pengen turun"


Bang Wildan membuang nafas pelan.


"Adek makan ya" Ujarnya pelan. Ia sudah menyendoki nasi dan udang balado siap untuk menyuapiku.


Aku menggeleng. Bukan sengaja. Udang balado itupun kini terasa hambar sebelum masuk ke mulutku.


"Kamu punya mag Dek. Nantik kambuh gimana?" Bang Wildan memperingati.


"Ya kalo kambuh biarin aja. Toh di rumah ini kaga ada yang pe-mpph" Aku melototkan mata saat bang Wildan berhasil memasukkan sesendok nasi kedalam mulutku yang terbuka karna sibuk mengomel tadi.


"Tuh mulut kalo dipake buat ngomel ga akan abis-abis" ujarnya setelah berhasil membuatku mengunyah dan menelan makanan itu.


"Lagi" katanya sudah mendekatkan sesendok nasi lain didepan mulutku.


Aku membuang nafas kasar "Gue bisa sendiri" Ketusku merampas sendok yang dipegangnya. Bang Wildan tersenyum tetap memegang piring nasi dan aku yang menyendoki nya dari sana.


"Udah" kataku meletakkan sendok diatas piring yang masih setia dipegangnya. Lima sendok. Kurasa ini sudah cukup untuk mengganjal perutku.


"Minum dulu" Bang Wildan mengambil segelas air putih dari atas nakas dan memberikannya kepadaku.


"Udah" ujarku mengembalikan gelas kosong itu padanya. "Lo ga kerja?" Tanyaku menyenderkan diri di headbord.


"Kerja" Jawabnya seraya membereskan peralatan makanku.


"Terus ngapa disini?"


"Pulang bentar"


"Buat?" Tanyaku penasaran.


"Nyuruh Adek makan"


"Di suruh Mami?"


"Eng- eh iya iya Ada berkas yang ketinggalan jugak, jadi sekalian aja"


"Owh" balasku singkat "Gue mau tidur. Lo keluar jangan lupa tutup pintu" peringatku kepadanya. Aku membaringkan diri, menarik selimut sebatas dada dan mulai memejamkan mata.


Suara pintu tertutup membuatku kembali membuka mata. Aku memegang dadaku yang bergemuruh. Ada rasa kehilangan saat dia pergi. Aku tersenyum kecut. Munafik!!


Bagaimana bisa aku berhasil memainkan peran ku seolah memang tidak menginginkan nya sama sekali?


🍁🍁🍁