
Aku menaiki tangga sekolahku yang kini sudah sepenuhnya sunyi dan sepi. Jam menunjukkan pukul 08.02 malam. Aku menepati janjiku untuk menemui pria bajingan itu meski harus mati-matian meyakinkan Mami jika aku ada kerja kelompok mendadak malam ini. Dia benar-benar sudah gila, rooftop sekolah ku adalah tempat yang dipilihnya untuk kami bertemu.
Aku melewati koridor sekolah yang gelap, syukurnya masih ada penerangan dari lampu-lampu taman yang memantulkan cahaya hingga aku masih bisa memilah jalan. Pintu-pintu kelas tertutup rapat dengan kegelapan didalamnya. Aku pasrah. Apapun yang terjadi aku sudah menyiapkan diri. Aku sudah menempelkan cctv kecil yang langsung terhubung dengan HP Nesya dibagian saku bajuku. Nesya tetap memantauku dari dalam mobil di Parkiran. Aku tidak segila itu untuk datang sendiri ke tempat ini tanpa ada yang menemani. Setidaknya bila malam ini aku mati, ada yang mengetahui dan mengabari keluargaku nanti.
Tiba-tiba saja hawa dingin menyergap bahu dibalik jaket yang ku kenakan. Aku merinding saat kakiku sudah tiba dipuncak tangga lantai ke dua. Ada satu lantai lagi yang harus ku lewati untuk tiba ke tempat yang dimintanya.
Dari banyaknya tempat yang menjadi alternatif sebagai tempat pertemuan, pria gila itu malah memilih rooftop sekolah ku sebagai pilihan. Ku rasa memang otaknya sudah tidak mampu untuk berpikir baik atau memang dia tidak memiliki otak. Dia lupa atau memang tidak tau jika sekolah ku ini sudah dilengkapi Cctv di setiap sudutnya termasuk rooftop. Inilah alasan ku menyetujui tempat ini sebagai pilihan karna ini akan menjadi bukti kuatku untuk melemparnya kedalam penjara.
Aku menoleh ke kiri dan ke kanan setelah kakiku berhasil menapak di puncak teratas sekolah ini. Untung nya selama aku sekolah, belum pernah terdengar berita angker apapun seperti disekolah lainnya. Jadi aku tidak perlu menambah rasa takutku terhadap hal-hal yang berbau mistis. Atau mungkin nanti akulah yang menjadi penyebab angkernya sekolah ini? Bagaimana jika tiba-tiba pria gila itu mencekik atau melemparku ke bawah?
Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling, keadaan remang-remang yang hanya disinari lampu dari pantulan gedung-gedung tinggi dikota ini paling kurang dapat mengurangi rasa takutku. Ku langkahkan kakiku lebih maju hingga berhenti pada tembok setengah pinggang yang dibangun disekeliling rooftop sebagai pelindung puncak ini.

Aku merasakan gemuruh yang berlebihan dari dalam dadaku. Bulu kudukku berdiri. Malam-malam begini aku hanya sendiri disekolah ini, mustahil aku bilang jika aku tidak takut. Tiba-tiba saja aku teringat cerita-cerita dalam film horor, kita akan merasa merinding jika ada makhluk ghaib disekitar kita. Aku bergidik ngeri membayangkannya.
Bumm!!!!
Kudengar sesuatu jatuh didekatku. Aku menegang. Nafasku tercekat. Aku menutup mata kuat. Keringat dingin membanjiri pelipisku. Aku pasrah.
Lama aku menutup mata namun aku tak merasakan apa-apa. Mungkin hanya kucing atau angin yang menyebabkan benda itu jatuh. Ku beranikan diri untuk berbalik. Kusapu pandangan ke sekitar rooftop, kulihat ada salah satu pot bunga yang jatuh dan pecah. Tanahnya sudah berserakan dan bunga yang ditanam disana telah terkulai dibawahnya.
Aku kembali berbalik setelah memastikan tidak ada yang perlu ditakutkan. Kupikir ini hanya ulah angin. Tapi sejak aku berdiri, aku berani bertaruh belum ada angin kencang yang mampu untuk menggeser pot bunga itu kecuali memang ada binatang atau.....
"Aaaaaaaa" Aku berteriak kencang saat kurasa sesuatu mencengkeram bahuku. Aku memejamkan mata lagi untuk kedua kali, kali ini lebih kuat. Aku tak hanya merasa bahuku dicengkeram, tapi seperti ada seseorang yang sengaja berdiri dibelakangku.
Bahuku naik turun, nafasku tersengal. Mungkin inilah akhirku.
"Balik!" Suara itu menginterupsi dan bodohnya aku mengikuti dengan patuh. Kepalaku masih terus kutundukkan, tidak berani menatap lawan bicara. Aku bimbang. Siapapun yang ada didepanku sekarang, baik setan jin makhluk halus siluman atau manusia tolong aku belum mau mati.
Angin berhembus membelai lembut wajahku. Beberapa helai rambutku jatuh dan berserakan didepan wajah tapi tidak kuhiraukan. Siapa lagi yang sibuk mempercantik diri saat malaikat maut telah memperlihatkan diri didepan?
Aku mengepalkan tangan berusaha mengusir rasa dingin, bahuku bergetar. Nesya ya Allah lo dimana? Ku beranikan diri untuk mengangkat wajah saat sosok didepanku hanya diam. Jangan-jangan ini hanya halusinasi ku. Jangan-jangan sekolahku memang ada penghuninya, tapi para guru dan petugas tidak pernah meributkannya. Bagaimana jika iya?
Sambil terus melafalkan berbagai doa didalam hati, perlahan kuangkat kepalaku dan refleks mataku langsung membulat dengan tubuhku yang spontan menjauh
"Ngapain disini?" Tanyanya dengan suara dingin
Lututku lemas seketika, aku berpegangan pada atasan tembok pembatas dibelakangku. Aku bisa mati berdiri jika begini caranya.
"Ngapain Adek disini?" Ulangnya dengan tatapan yang sama.
Aku menelan ludah susah. Bang Wildan. Bagaimana bisa dia ada disini? Mana laki-laki pengincar itu? Gawat!! Bagaimana jika dia melaporkan hal ini pada Mami dan Papi?
"L-lo ngapa disi-?"
"Adek kenapa disini?" Potongnya yang langsung membuat nyaliku ciut "Jangan terbelit-belit Dek! Jawab ngapain Adek malam-malam sendiri disini?" Suara bang Wildan meninggi.
Aku melipat bibir kedalam. Beginilah jika aku yang terciduk berbuat salah. Aku tidak akan berani membantah.
"Ini yang namanya kerja kelompok? Di Rooftop malam-malam sendiri? Kira-kira kalo Mami tau Adek boong gimana?" Bang Wildan menyudutkan ku membuat ku tidak memiliki celah untuk bisa membantahnya
"Kamu tau bahaya ga sih Dek?" Suara bang Wildan bergetar. Wajahnya memerah dengan bahu yang ikut naik turun. Aku mengangkat alis, kenapa dia harus semarah ini?
"Pulang sekarang! Nantik cerita ke Abang!" Pria itu menarik tanganku menggenggam dan membawaku mengikuti langkahnya turun.
Akh Bang Wildan! Dia hanya menambah beban ku!
🍁🍁🍁
"Lah bukannya tadi Adek jalan sama Nesya ya? Kenapa baliknya bisa bareng Bang Wildan?" Suara Mami yang sedang menonton TV bersama Papi menyapa saat aku melewati ruang keluarga.
"Tadi ga sengaja ketemu di Indomaret Mi. Uda kelar juga kerja kelompok nya, ya udah Abang ajak pulang bareng. Kasian juga Nesya kalo harus bolak-balik nganterin Adek" Bang Wildan yang menjawab. Good Job. Aku tersenyum mengangguk. Bisa diandalkan juga pria ini.
Mami mengangguk "Ya udah istirahat sana. Lain kali kalo ada tugas kelompok, diskusi lebih dulu ama temen-temen Adek, jangan sampe kemalaman lagi kayak gini"
Aku mengangguk seraya mengangkat jempol, berusaha paling terlihat setuju dengan usulan Mami. Andai Mami tau jika sekarang putrinya sedang memainkan drama, bagaimana reaksinya? Aku berhasil membuat Mami kecewa dengan tingkahku.
"Adek pamit ya Mi, Pi, Good Night" Aku pamit sebelum beranjak pergi dan menuju kamarku. Bang Wildan masih mengekoriku bahkan ikut masuk ke dalam kamar.
"Cerita!" Perintahnya setelah menutup pintu dan duduk di salah satu sisi tempat tidur
"Kenapa harus?"
"Demi keselamatan kamu, Dek!"
"Peduli apa lo sama hidup gue?"
"Jangan keras kepala Dek! Atau.."
"Atau apa?" Potong ku cepat "Lo mau bocorin ke Mami?" Tanyaku sedikit meninggi. Dia mengancamku berlagak seolah-olah dia memang mengkhawatirkanku. Aku tidak butuh perhatiannya, aku tidak perlu rasa kasihannya, aku tidak mau dia peduli.
"Kenapa kalo Abang peduli?" Tantangnya "Kamu pikir gak berbahaya disana? Kamu perempuan! Apa pantas seorang perempuan malam-malam sendiri di Rooftop sekolah yang gelap dan gak ada orang?" Bang Wildan tak mau kalah. Bahkan dia sudah tidak memanggilku dengan sebutan 'Adek' lagi menandakan jika dia sudah sampai pada puncak kemarahannya.
"Ya kenapa lo harus peduli? Lo bisa aja kan pura-pura gak tau gue ada disana! Selesai. Toh gue ada disana dan disini juga gak membawa pengaruh apa-apa buat hidup lo! Jadi berhenti bersikap seolah lo peduli sama gue!" Jawab ku tak kalah keras
Bang Wildan menggeleng dengan raut wajah yang meremehkan "Berhenti bersikap gak peduli?" Dia mengulang kata-kata ku. Aku mengangguk. "Apakah sebuah kepedulian ini terasa mengganggu?" Aku mengangguk lagi
"Kenapa?"
"YA KARNA GUE PUNYA RASA SAMA LO BANGSAT!!!" Teriakku sekuatnya didalam hati. Aku menunduk. Bahuku terkulai lemas, air mataku merembes perlahan membasahi parit-parit dipipiku. Andai itu bukan lo! Andai Wildan itu bukan Abang gue! Mungkin semua ini lebih mudah. Perhatian dan kepeduliannya hanya akan membuatku semakin terpuruk dan tidak bisa bangkit. Selama ini aku sudah cukup tenggelam, aku ingin keluar! Aku lelah!
"Dek?" Bang Wildan kembali bersuara. Suaranya sudah tidak setinggi tadi. Aku menghapus air mata kasar. Jangan bersikap lembut Wildan.
"Dek maaf, Abang kelepa-"
Aku mengangkat tangan sebagai isyarat cukup. Jangan terlalu banyak bicara Wildan! Lo ga pernah tau gimana rasanya gue mati-matian buat ngebunuh lo dalam pikiran.
"Gue Capek!" Ujarku pelan
"Dek Ab-"
"Lo bisa keluar sekarang!" Ku beranikan diri untuk menatap matanya. Kali ini aku memohon dengan sangat. Jika aku terus merasa nyaman dengannya, akan sulit untuk ku melepaskannya. Aku sudah cukup sakit Wildan!
Bang Wildan mengangguk "Oke!" Putusnya seraya bangkit "Abang akan tetap nagih cerita ini di lain waktu" dia mendekat memberikan sebuah kecupan singkat pada puncak kepalaku sebelum berlalu.
Aku mematung hingga bayangannya hilang di balik pintu. Kugigit kuat guling yang kupeluk sambil berteriak keras agar tak ada yang bisa mendengar. Sesakit ini jatuh pada orang yang salah. Andai aku telah lebih dulu mengetahuinya, tak akan ku biarkan rasa ini terlepas. Karna mencintai dia, adalah sakit yang belum kutemukan penawarnya.
🍁🍁🍁