My Brother My Husband??

My Brother My Husband??
MMH 10


Aku sudah mengabari Nesya perihal kejadian siang tadi. Bagaimana pria itu mengatakan bahwa dia memiliki tujuan khusus untukku. Dugaanku benar. Akulah yang menjadi sasarannya.


"Adek?" Suara Mami membuyarkan lamunanku.


"Kenapa sih Dek? Dari tadi lho Mami manggilin Adek" Tanya Papi menatap curiga ke arahku.


"Gak pa-pa kok Pi" aku menggeleng kemudian tersenyum memperlihat-


kan barisan gigiku.


"Galau kali Pi" celetuk bang Wildan yang langsung kena serangan lima jari dariku. Apaan sih? Ga nyambung!


"Adek mau makan pake apa?" Tanya Mami setelah menyendoki nasi kedalam piringku.


Aku mengabsent semua menu yang ada dimeja makan. "Itu Mi. Tapi sayapnya" tunjukku pada sepiring ayam sambal ijo.


"Sup Cumi mau?" Tawar Mami


Aku mengangguk "Tapi jangan pake cuminya" aku menerima piring yang diberikan Mami dan mulai menyendoki makanan yang ada didepanku.


Pikiranku belum bisa pulih dari suara misterius pria itu. Berbagai kemungkinan yang tak pernah terpikirkan kali ini seperti menghantuiku. Akankah nyawaku yang menjadi incaran pria itu? Aku bergidik ngeri membayangkan nya. Siapa pria itu? Dimana dia mengenalku?


Aku menoleh dan memberi pelototan kepada bang Wildan yang tiba-tiba saja menyikut lenganku.


"Papi ngomong dari tadi" jelasnya memberi isyarat dengan kepala.


Aku berpaling ke arah Papi "kenapa Pi?" Tanyaku ragu. Ya Allah kenapa susah sekali untuk fokus dan menghilangkan pikiran tentang sosok itu.


"Adek ada masalah?"


Aku membulatkan mata pura-pura bingung "Masalah?" Tanyaku seolah bertanya pada diri sendiri "Emang sejak kapan Adek punya masalah Pi?" Aku balas bertanya dan tertawa saat mengatakannya.


Papi menggeleng, mungkin tidak mau memperpanjangnya lagi. Aku bisa bernafas lega, semoga Papi melupakannya.


Aku menyiapkan makan malamku sebelum pamit dan masuk ke kamar lebih dulu dengan alasan tugas yang belum kukerjakan. Berlama-lama di meja makan hanya akan terus membuat seisi rumah curiga padaku. Aku bodoh dalam hal menyembunyikan raut wajah. Aku tidak bisa berpura-pura baik-baik saja jika keadaan hatiku sedang berantakan.


Aku menutup pintu sebelum menelungkupkan diri dan membenamkan wajah diatas kasur. Air mataku jatuh tanpa ku minta. Kapan aku pernah menyakiti orang lain hingga ada yang memiliki dendam semengerikan ini untuk ku. Aku tidak tau kesalahanku apa tapi kenapa aku dipaksa untuk menerima balasan ini?


Aku memang berniat akan terus menyembunyikan masalah ini dari Mami dan Papi. Aku tidak mau membuat mereka gundah. Aku yakin aku bisa mengatasinya.


"Dek?" Reflek aku membulatkan mata kaget. Aku merasakan seseorang mengambil tempat di satu sisi tempat tidur ku. Untung saja posisiku membelakanginya jadi aku bisa leluasa menghapus air mataku sebelum berbalik menghadapnya.


"Ha? Apa?" Tanyaku tersenyum seraya menaik turunkan alis. Wildan ternyata. Huh lancang sekali dia masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Aktingnya ga berlaku kalo didepan Abang" Ujarnya menatap serius ke arahku.


Aku membuka mulut pura-pura bego. Aku paham maksudnya. "Apaan sih lo? Ga nyambung!" Kilahku coba mengalihkan.


Bang Wildan menghela nafas pelan "Ceritain ke Abang, atau Mami sama Papi akan segera tau kalo Adek lagi punya masalah"


Pupilku membesar tidak terima "lo kenapa sih? Siapa yang punya masalah? Wong gue baik-baik aja nih" balasku seraya merentangkan tangan berusaha memperlihatkan padanya jika aku baik-baik saja.


"Dramanya terlalu pasaran Dek"


Aku mengerutkan alis "Sumpah deh gue ga ngerti maksud lo"


"Ya udah deh. Adek drama aja dulu sepuasnya, Abang tetap disini nunggu sampe Adek mau cerita" kali ini pria itu malah dengan santainya menyenderkan punggung di kepala ranjangku.


Hadeuh. Jika posisinya sudah pewe begini mana mungkin dia mau berpindah lagi.


"Gimana gue bisa percaya kalo lo ga akan bocor?" Tanyaku mencari kepastian.


"Emang selama ini apa yang udah Abang bocorin?" Dia balik bertanya kepadaku.


"Gue ga pernah curhat sama lo" Seingatku aku memang tidak pernah bercerita apapun padanya. Kenapa dia bertanya seolah mengetahui semua rahasia ku?


"Ya. Termasuk surat pernyataan orang tua gara-gara Adek bolos selama satu minggu atau adek yang pernah iseng main ke klub dan hampir aja mabok dan ngerokok"


"Anjir lo-" aku kehabisan kata-kata untuk menanggapi. Gila! Tidak mungkin!


Bang Wildan menaikkan alisnya tersenyum "Kejadiannya udah hampir empat taun Dek. Tapi liat! sampe sekarang Mami sama Papi ga tau apa-apa soal itu"


Aku melongo tidak percaya. Bagaimana mungkin dia masih mengingatnya? Itu sudah terlalu lama.


"Gimana hm?" Dia memintaku mempertimbangkannya baik-baik.


Ini tidak adil! Dia mengancamku!


Aku menarik nafas dalam "oke!" Putusku kemudian "Puas?"


Bang Wildan tersenyum. Dia menegakkan punggung dan kini sudah duduk menghadapku.


Aku menatap matanya sebelum memulai. Jujur saja aku tidak tau harus mengawalinya dari mana. Ini terlalu rumit untukku.


"Gue lagi di incar orang sekarang"


Kulihat mata bang Wildan sedikit membesar, mungkin dia terkejut dengan pernyataanku.


"Gue ga tau si apa yang mau di incar dari gue? Gue ga cantik, ga pinter, kaya juga enggak, malah masih jadi beban orang tua" aku mengalihkan perhatian darinya yang masih terus menatapku.


Aku memainkan bibirku kedalam "Gue baru nyadar kemaren, waktu nemenin Nesya ke Mall. Gue merasa ada yang terus ngikutin gue dan ternyata Nesya sempat ngeliat juga" pandangan ku lurus kedepan tapi dari sudut mata aku bisa melihat bang Wildan yang tidak pernah mengalihkan perhatian dariku. Ia masih setia mendengar sambil sesekali mengangguk ikut terbawa suasana dengan ceritaku.


"Dan tadi siang dia nelpon gue" aku memalingkan wajah pada bang Wildan "Lo tau dia bilang apa?"


Bang Wildan menggeleng. Aku tertawa sinis "Katanya dia punya misi yang mau diselesain sama gue. Aneh kan? Padahal gue ga kenal dia siapa, maksa banget" aku menelan ludah susah, bibirku bergetar. Mataku mulai berkaca-kaca. Siapa yang tidak gelisah saat nyawa menjadi incaran?


"Udah?" Bang Wildan bertanya pelan


Aku mengangguk


"Sini" Bang Wildan merentangkan kedua tangannya.


Aku menautkan alis bingung antara paham dan tidak paham dengan maksudnya.


"Ck Siniii" Bang Wildan memangkas jarak, menarikku sebelum melingkari kedua tangannya memelukku.


"Nangis disini" Bang Wildan mengelus  kepalaku pelan "Ga usah pura-pura kuat Dek! Abang kenal kamu" Ujarnya membuatku semakin kuat untuk menahan suara dari mulut, akibatnya tubuhku semakin bergetar dan air yang sejak tadi ku tahan meluncur tanpa aba-aba.


Aku menggigit bibir agar tidak bersuara. Aku tidak ingin menjadi perempuan cengeng, tapi sepertinya air mata yang terus mengalir dan membasahi bajunya sukses menggagalkan rencanaku.


"Nangis yang ditahan itu lebih sakit Dek. Keluarin aja"


Aku menggeleng. Kepalaku aku tempelkan dibahunya. Aku tau ini sangat tidak baik untuk pertahanan batinku, tapi aku membutuhkannya. Sebentar saja, sebelum nanti gengsi ku kambuh lagi.


Aku menarik nafas sebelum ikut melingkari tanganku padanya. Seperti ini lebih nyaman. Setidaknya malam ini aku punya bahu untuk menampung air mata dan ingusku.


🍁🍁🍁