I Love You With My Heart

I Love You With My Heart
Kondisi pasien


Setelah mereka berlalu, kini hanya tinggal aku dan dokter niko yang berada di dalam ruangan itu.


seketika suasananya berubah menjadi canggung. aku bingung harus memulai percakapan ini dari mana, karna memang aku baru mengenal dokter niko.


"apa yang kamu bawa", suara dokter niko tiba-tiba memecah keheningan.


" oh..ini, laporan baru data pasien dok", sambil menyerahkan berkas itu ke tangan dokter niko. dia menerimanya, lalu membuka berkas itu. " apa saja jadwal kita hari ini". tanya dokter niko kembali.


"untuk hari ini, kita ada kunjungan pasien yang kemarin baru saja selesai di oprasi dok, setelah itu ada beberapa jadwal oprasi yang harus kita tangani", jelasku dengan nada yang sedikit pelan. "baik lah,kita akan memeriksa keadaan mereka sekarang", sambil berjalan keluar ruangan, aku mengerutkan kening, "hah.. ini kan masih pagi" gumamku dalam hati, lalu mengikutinya dari belakang.


kami berjalan menyusuri lorong rumah sakit ini, untuk menuju ruangan pasien.


tiba di depan lif, aku segera memencet tombol, dan pintu lif pun terbuka. kami masuk, aku menghela napas pelan "huff... syukur lah ada orang lain di dalam lif ini". jadi kami tidak hanya berdua saja di dalam sini. beberapa menit kemudian pintu lif pun terbuka, aku dan dokter niko segera keluar menuju ruangan pasien.


setelah memeriksa keadaan pasien ahirnya kami kembali, namun seorang suster berlari kecil ke arah kami, dengan napas tersengal sengal, dia menyampaikan sesuatu, " maaf dokter niko, pasien kamar no 108, kondisinya semakin memburuk dan sepertinya harus segera di oprasi"


"baik lah segera siapkan ruang oprasinya, saya akan segera kesana"


"dokter nadira, tolong siapkan anestesinya..!", seru dokter niko kemudian.


"baik dok ", jawabku singkat.


sembari memakai perlengkapan oprasi, aku menyaipkan anestesinya.


oprasi akan segera di mulai, semua yang ada di dalam ruangan membacakan do'a agar oprasinya berjalan dengan lancar.


setelah dua jam bergulat di ruang oprasi, ahirnya selesai juga.


aku kembali keruangan ku, duduk di bangku,menyandarkan kepalaku di atas meja.


rasanya hari ini benar-benar membuatku sedikit kewalahan. ternyata benar kata dinda kalau dokter niko memang terlalu manghargai waktu untuk pasiennya.


°°°°°°°°°°°°°°°


Jarum jam menunjukan pukul dua belas tepat, waktunya untuk menunaikan sholat zuhur, aku berjalan kearah masjid yang tak jauh dari rumah sakit ini.


sampai di depan masjid, aku tak sengaja melihat dokter niko yang keluar dari tempat berwudhu, seketika aku menyapanya " siang dok", dia hanya tersenyum melihatku tanpa membalasnya.


di ruangan ku, ada dinda yang sejak tadi menungguku.


"hai...kenapa kamu di ruangan ku"?, tanyaku kepada dinda.


"ini, mau kasih laporan tentang hasil pemeriksaan pasien" jelas dinda.


"kenapa mendadak, biasanya kan besok baru keluar?, tanyaku sedikit heran.


" itu dokter niko yang minta" tukasnya.


" apa, kenapa secepat ini"?.protesku, dinda menghela napas berat, "aku sudah pernah bilang kan nad, kalua dokter niko itu terlalu ketat apalagi menyangkut pasienya, yah.. walaupun itu memang baik sih, tapikan tetep aja kita yang harus rela kehilangan waktu dengan pekerjaan yang menumpuk", dengan wajah sedikit kesal.


"utung aja dia ganteng, kalau nggak---!!


tiba-tiba suara dokter niko menghentikan dinda berbicara. mata dinda membulat melihat ke arah pintu, seketika aku memutar kepalaku dan ternyata dokter niko sudah berdiri disana sejak kapan kami tidak menyadarinya.


"kalau nggak kenapa", sela dokter niko seketika membuat dinda terdiam.


"nge...nggak kenapa-napa dok, maaf saya permisi dulu". sembari berlari kecil dinda meninggalkan ruangan ku. aku gugup, jantung ku rasanya berdetak lebih cepat ketika dokter niko mengalihkan pandanganya ke arah ku setelah melihat dinda berlalu.


"kenapa diam", celetuknya tiba-tiba.


"eh.. maaf dok, silahkan duduk". sahutku mengalihkan pembicaraan.


tanpa pikir panjang dokter niko pun segera duduk.


"saya kesini hanya ingin meminta laporan pasien tadi pagi"


"baik dok, ini laporanya" aku menyerahkan map berisi berkas-berkas penting tentang pasien yang aku tangani hari ini.


"baik lah saya permisi" sambil berdiri ahirnya dokter niko pamit, namun belum sepenuhnya keluar dari pintu tiba-tiba dokter niko berbalik, "lain kali, kalau ingin bergosip cari tempat lain, jangan di rumah sakit ini", katanya ketus.


aku hanya mengangukan kepala pelan, tidak berani menatapnya.


rasanya lega melihat dokter niko berlalu dari ruangan ku, "hah..ada ya orang seperti itu".gumam ku pelan, agar tidak ada yang mendengarnya.