
Pagi ini pukul 05.00 Naya sudah terjaga, namun sepertinya tubuhnya masih enggan meninggalkan kasur nya yang masih terasa nyaman pagi itu.
"tok..tok..tok...."
"mbak, sudah subuh." panggil Arya dari balik pintu kamar Naya setelah mengetuk benda persegi itu. "mbak..." teriaknya lagi sambil menempelkan telinga kanannya ke pintu berharap mendengarkan sautan dari dalam.
"dia ini tidur apa pingsan sih ? tumben sekali belum bangun." gumam Arya karena tak mendengar suara sautan dari dalam kamar Naya. "mb___?"
"ceklek"
pintu kamar pun terbuka saat Arya akan memangilnya lagi. "ada apa ?" ucapnya saat melihat sang adik didepan pintu kamarnya.
"ya..kali satpam nungguin pintu terbuka, bangunin Lo lah mbak, tidur udah kayak kebo aja." jawab Arya sewot dan berlalu kedapur melanjutkan kegiatannya.
Setelah itu Naya pun bergegas mandi dan berpakaian rapi siap akan pergi mengajar. Ia Menteng tas sandangnya keluar dari kamarnya dan meletakan tasnya di meja ruang tamu dan berjalan menuju dapur.
"kamu udah buat sarapan dek ?" tanya Naya pada Arya sambil membawa gelas berisi teh dan segera menuangkan air panas kedalam gelas tersebut.
"udah mbak, telur ceplok balado ala chef Arya." jawabnya sambil menunjuk meja makan dengan dagunya, ia pun tersenyum bangga pada dirinya. Dengan tangan yang masih sibuk memasukan dan menghitung bakpao kedalam kotak babwarenya siap untuk diantar kewarung-warung langganannya.
"kamu udah sarapan dek ?" tanya Naya lagi, memasukan gula beberapa sendok kedalam minuman nya, kemudian menarik salah satu kursi meja makan dan mendudukan tubuhnya di sana. Diseduhnya teh hangat buatannya, "manis" gumamnya sendiri. Kemudian meraih piring dan sendok untuk sarapannya.
"Mbak..." panggil Arya. Menoleh pada adiknya yang sudah duduk didepannya.
"hmm, mau ngantar bakpao ?" saut Naya, menoleh pada hidangan di atas meja dengan tangan meraih lauk telur ceplok balado keatas piringnya yang sudah berisi nasi putih.
"aku dapet pesanan tiga ribu bakpao, buat menu penutup di sebuah restoran," menjedah sebentar menatap Naya menunggu respon dari kakaknya itu.
"wow, bagus dong, berarti bakpao buatan kamu emang endoes.." responya tersenyum semangat sambil menaikan satu ibu jarinya ke udara.
menundukkan kepalanya, menatap pada jari-jari tangannya yang memainkan kukunya. Menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan, kemudian mendongakkan kepalanya melihat Naya, " restoran itu baru akan dibuka, rencananya Minggu ini akan diresmikan," menjedah, membuang pandangannya kesegala arah. "sebenarnya dulu restoran ini pernah beroperasi dan sangat diminati banyak masyarakat, namun karena sesuatu yang terjadi restoran itu menjadi sepi, rumor masyarakat tentang restoran itu pun tidak baik, akhirnya lama kelamaan restoran itu mengalami bangkrut, dan selang dua hari dari kejadian itu, pemiliknya mengalami kecelakaan dan meninggal dunia." jelasnya panjang lebar.
"innalilahi... kasihan sekali." respon Naya dengan wajah sedihnya. kemudian memasukan suapan terakhirnya kedalam mulutnya dan mengunyahnya hingga lembut dan menelannya.
" Nama restoran itu 'Bram's Restoran'," lanjutnya lagi, menatap kalanya yang masih antusias mendengarkan ceritanya.
"seperti nama om Bram ya dek." saut Naya beranjak berdiri mengangkat piring kotornya "mungkin ini Bram yang lain, nama Bram kan sangat pasaran." lanjutnya lagi berjalan memunggungi Arya membawa piring kotornya ke wastafel.
"yaa kan udah ganti pemilik kali, makanya namanya juga diganti." saut Naya sambil mencuci dan membilas piring bekas makannya.
"kalau Arya tidak salah...., dulu namanya Winata's Restoran mbak." ucap ya saat ingat nama restoran yang dulu.
Naya menghentikan kegiatannya, sedikit terkejut dengan nama restoran yang dulu, seperti mengingat sesuatu. Ia meletakan piringnya ke atas rak-rak dan mengelap tangannya dengan serbet hingga kering. Membalikan badan menghadap sang adik yang tampak seperti mengingat-ingat sesuatu.
"sudah siang, mbak mau berangkat kerja." ucap Naya menyudahi obrolannya tentang restoran. "mau berangkat bareng nggak ?" tanya nya lagi, saat melihat adiknya itu masih tampak memikirkan sesuatu.
Arya menoleh pada sang kakak dan kemudian menganggukkan kepalanya, pertanda menyetujui berangkat bareng sang kakak mengantarkan bakpao buatannya. Arya berdiri dan berjalan menuju kotak-kotak berisi bakpao itu kemudian mengikatnya menjadi dua bagian.
"mba tunggu didepan ya dek ..." teriak Naya yang sudah berjalan ke ruang tamu dan mengambil tas nya kemudian melenggang menuju pintu depan. Saat membuka pintu Naya dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang sudah berdiri memunggunginya.
"astagfirullah...." teriak Naya terkejut, dan sangking terkejutnya ia sampai memegangi dadanya dengan kedua telapak tangan nya.
"ada apa sih mba....?" saut Arya yang mendengar teriakan mbaknya dan berjalan mendekat disebelah kakaknya itu.
"lho....?"
.
.
..
.
.
Thor : hei wan kawan, kalo baca novel akoh nih ninggalin jejak kek, like atau komen gitu sukur-sukur bisa kasih vote,, biar akoh nya makin cemangat buat nulisnya..
mikirkan juga butuh dukungan gitu...
Netz: ngarep yaa Thor..?
Thor: ya iyalah nab...😒