Good'S Love

Good'S Love
lima...


Pagi itu Naya berlari tergesa-gesa dengan air mata yang masih terus mengalir membanjiri wajahnya. Hatinya yang kacau membuatnya tak bisa lagi berfikir, ia terus berlari menuju rumah Agung yang berjarak kurang lebih lima ratus kilometer dari rumah tantenya itu. sesampainya didepan pintu ia menggedor benda itu dengan keras. cukup lama ia menunggu dan mengulang memukul benda itu hingga benda itu terbuka dan muncul lah Agung dari balik pintu itu yang masih terlihat kacau karena baru bangun tidur. seperti sedang terpergok oleh warga, sepagi ini bahkan matahari pun masih malu-malu untuk terbit, tapi rumah Agung sudah seperti akan di hakimin oleh masa.


" lo...? ada apa sih Nay, ini masih gelap, kampus juga blom buka." tanyanya sambil mengusap-usap kedua matanya.


"tolongin gue Gung..." rengek Naya


"tolongin apa sih Nay ?, mending Lo pulang aja dulu, ntar gue jemput Lo kayak biasa." jawab agung yang terlihat masih mengantuk karena beberapa kali menguap.


"Gung, tolongin gue, adik gue Gung, Arya..."


Agung langsung membulatkan matanya dan menatap wajah Naya, rasa kantuknya membuatnya tak begitu memperhatikan wajah Naya yang sembab dan masih basah dengan air mata. Mendengar sebutan nama Arya adik Naya, seketika kantuknya pun minggat, ditatapnya wajah sahabat yang ia sanyangi dan bahkan mulai ia cintai itu seperti nya terjadi sesuatu pada nya hingga membuat gadis dihadapannya itu yang biasanya terlihat tegar walau sebenarnya rapuh, namun pagi ini seperti nya ia benar-benar rapuh. terlihat jelas wajah pucatnya dengan air mata yang masih terus mengalir seperti enggan untuk berhenti.


*


"kriiing... kriiing... kriiing...."


suara ponsel milik Naya bergema keseluruh kamarnya. "siapa sih sepagi ini sudah menelpon?" gumam Naya yang masih memejamkan matanya yang serasa enggan untuk dibuka. Namun ponsel nya yang terus berdering membuat nya menggeser kan tubuhnya mendekat narkas tempat tidur dilirik nya jam Beker masih menjunjukan pukul 05.30 dan tangannya yang terus meraih mencari benda berbunyi itu, berulang kali ia mengerjap ngerjapkan matanya untuk memastikan siapa yang menelponnya sepagi ini. "nomor tidak dikenal, siapa?" fikirnya sedikit bingung, ragu akan mengangkat nya namun jarinya menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya hingga terdengar suara asing dari ponsel nya itu.


"hallo..., benar ini dengan saudara Anaya Winata?"


"ya saya sendiri, maaf dengan siapa ya?" jawabnya dengan suara parau khas bangun tidur.


" kami dari rumah sakit X mau mengabarkan kalau adik anda atas nama Arya Winata dan seorang wanita tua sedang dalam keadaan kritis akibat luka bakar ditubuhnya."


"Apaaa....." Seketika tubuhnya merosot, tubuhnya melemas, fikirannya kacau, kacau sekacau nya, ponsel yang ia genggam pun terjatuh. Arya, adik ku, nenek.. apa yang sudah terjadi? kenapa kalian bisa....


Naya bergegas lari keluar kamar dengan tergesa-gesa, difikiran nya Agung, ya hanya Agung yang bisa mengantar nya ke rumah sakit dimana adik dan neneknya itu dirawat. Ia membuka pintu depan dan berlari menuju rumah Agung.


***


Dua jam setengah perjalanan yang mereka tempuh, perjalanan yang biasa ditempuh tiga sampai empat jam itupun bisa ditempuh dengan waktu yang singkat, karena masih terlalu pagi, jadi jalanan pun masih terlihat sepi, hingga Agung mengendarai motor nya dengan kecepatan tinggi, sesekali Naya memukul-mukul pundak Agung untuk lebih mempercepat motornya agar segera sampai.


bayangkan lah sendiri gimana cepatnya si Agung mengendarai motornya, sampai-sampai keselamatannya pun terancam. Namun mereka seakan tidak lagi perduli dengan keselamatannya, yang ada dalam fikirannya adalah Arya dan nenek, bagaimana keadaannya? apa mereka bisa terselamatkan kan? oh Tuhan... selamatkan mereka, beri kan kekuatan-Mu pada Arya dan nenek, sembuhkan mereka ya Allah...


Tak henti-hentinya Naya berdoa untuk keselamatan sang adik dan nenek nya itu.


setelah beberapa detik pandangannya mengarah pada benda persegi itu pun terbuka, muncullah seseorang berjas putih dan berdiri tepat didepan pintu ruangan itu, pandangannya mengarah ke Naya dan Agung.


"keluarga pasien atas nama Arya Winata dan ibu Sukmajaya ?" panggil an dari dokter tersebut.


Naya dan Agung menghampiri dokter tersebut dengan tergesa-gesa, "saya dok, saya kakak Arya dan cucu nenek Sukmajaya." jawab Naya memperkenalkan. " bagaimana keadaan adik dan nenek saya dok ?" tanya nya lagi.


Dokter mengusap-usap pundak kiri Naya sambil tersenyum tipis, ia menatap wajah sayu Naya. "Alhamdulillah, pasien atas nama Arya Winata bisa melewati masa kritis nya." jawab dokter tersebut sambil tersenyum tipis, " luka bakar ditubuhnya cukup parah," memberi Jedah "dan di wajahnya, kemungkinan harus dilakukan operasi, mengingat lukanya yang begitu serius dibagikan wajah." lanjut nya hati-hati kemudian menatap Agung bergantian.


mendengar penuturan dokter tersebut, seketika air mata Naya kembali membanjiri wajah nya, entah apa lah ada difikiran nya saat itu, ia benar-benar terpukul dengan kondisi adiknya itu. Terbayang bayang kejadian empat belas tahun yang lalu, saat itu ayah dan ibunya mengalami kecelakaan hingga menewaskan mereka. Begitu kekacauan ini terulang kembali menimpanya, dan kini adik sekaligus satu-satunya saudara kandung yang ia miliki harus berjuang melawan kritis akibat luka bakar ditubuhnya.


"Naya..." teriak seseorang disana yang terlihat berjalan tergesa-gesa menghampiri Naya. ya, itu adalah suara Tante Marni yang dari belakang tantenya itu terlihat juga Tiana dan om Bram.


"Dokter, gimna keadaan ibu dan keponakan saya ?" tanya nya dengan raut wajah yang khawatir.


"iya, nenek, nenek saya gimana dok?" lanjut Naya yang sadar sedari tadi belum mendengar kabar tentang nenek nya itu.


dokter itupun menegang...


.


.


.


.


hai hai... wan-kawan... maaf kalau masih banyak typo di setiap bab novel karya saya,.maklum saya masih amatir..😁


saya butuh dukungan like komentar kawan kawan buat nambah keseruhan tulisan saya...


terimakasih 🤗🤗