
"Lo nggak capek, kerja siang malem ?" tanya Agung memulai percakapannya, saat mereka sudah duduk berhadapan disalah satu warung bakso bertenda Oren dipinggir jalan.
Saat di minimarket tadi Naya meminta ijin pada temannya untuk tidak bekerja dan menggantikannya malam ini karena akan menemani Agung, jadi disinilah mereka, warung bakso bertenda Oren langganan mereka saat kuliah dulu menjadi menu makan andalan mereka dulu, dan kini menjadi menu makan malam mereka setelah sekian lama tidak berjumpa, sepertinya mereka bernostalgia. Tidak ada yang berubah dari warung ini, hanya saja sepertinya terpal orennya baru saja diganti, terlihat warnanya yang masih seperti baru, namun untuk tatahan kursi nya masih sama. Akh sudah lama sekali mereka tidak ketempat ini, mang Udin penjual bakso sangat kegirangan saat melihat kami masuk kewarung nya, terlihat jelas saat ia menyambut kedatangan kami, sudah seperti kedatangan tamu terhormat saja pake di sambut, ucap Naya saat itu, mang Udin hanya tersenyum bahagia melihat kami.
"untuk orang kayak gue mana ada sih kata capek didalam kamus." jawab nya, kemudian menoleh pada mang udin yang membawa dua mangkok bakso ukuran jumbo.
"wow...sepertinya ada menu baru ini.."ucap Naya tak sabar ingin segera menikmati saat satu mangkok di sodorkan didepannya. Asap panas kuah bakso yang mengepul dengan tambahan tahu berisi bakso dan taburan bawang dan daun seledri membuat siapapun yang melihatnya tak sabar untuk segera melahapnya.
"menu baru di warung ini, non." saut mang Udin saat melihat antusiasnya Naya ingin segera melahapnya. " hati-hati non masih panas." cicitnya kemudian sambil tersenyum menggelengkan kepala melihat tingkah Naya yang seperti anak kecil yang baru mendapatkan makanan kesukaannya. Agung pun terkekeh melihat tingkah sahabatnya itu, memang seperti bocah kecil, menggemaskan.
masih dengan tingkah bocah nya, Naya membubuhi saus dan kecap pada mangkok baksonya, kemudian mengaduk-aduk hingga berubah warna kemudian segera melahapnya. Menikmati makannya tanpa suara, hanya terdengar suara sendok yang saling bertempur dengan mangkok,. dan suara bising kendaraan yang berlalu lalang dijalan. Naya dan Agung menikmati setiap gigitan bakso yang dikunyahnya. tanpa ada suara, sepertinya mereka ingin benar-benar menikmati bakso tanpa mencampurnya dengan obrolan.
"mungkin ini makan malam terakhir kita," ucap Agung meletakan sendok dan garpu itu di atas mangkok dan sedikit menjauhkan mangkok ke depan, pertanda ia sudah selesai makan. Ditariknya tissue didepannya dan melapkan pada mulutnya.
"ukhuuk... ukhuuk... ukhuuk...."
Spontan Naya terbatuk mendengar tuturan Agung saat itu. Agung segera menyodorkan gelas berisi air putih itu pada Naya, ia sambar gelas berisi air putih itu dan meminumnya hingga setengah.
"pelan-pelan aja makannya, kali ini nggak akan gue rebut bakso Lo", ucap Agung sedikit bercanda. Jelas aja dulu saat mereka kuliah Agung selalu saja membohongi Naya, berpura- pura ngobrol atau minta sesuatu agar Naya meninggalkan baksonya dan kemudian agung dengan cepat menghabiskan bakso beserta kuah dan pengikutnya, mungkin kalau mangkok nya terbuat dari bakso ia juga akan menghabiskan hingga tak tersisa. Begitu lah agung dulu, dia selalu kurang jika hanya makan satu mangkok bakso, dan Naya selalu jadi korbannya Agung. meski kesal, namun kini mereka rindu dengan suasana saat itu. Saat itu seperti tidak ada beban yang harus mereka pikul, tertawa lepas, bercanda gurau, menangis, marah meluapkan kekesalan, namun itu yang menjadikan persahabatan mereka seperti tak terpisahkan.
Dan mendengar Agung mengucapkan terakhir makan malamnya, spontan membuat Naya tersendat hingga batuk-batuk.
"Lo udah nggk mau temenan sama gue ?" pertanyaan Naya yang tiba-tiba membuat agung membulatkan bola matanya.
"kalau gue mau, udah dari dulu kaleee.." ucap agung jengah, "gue mau ngelanjutin S2 di luar negeri, bokap gue maksa gue harus lanjutin sekolah kesana." jelas agung.
"yaa kita pasti nggak akan ketemu lagi dong.." ucap Naya bersedih, " kita yang cuma beda kota aja jarang ketemu, apalagi beda negara..." lanjutnya masih sedih, menundukkan kepalanya dalam. Entah lah, apa yang ada difikiran Naya saat itu, tapi ia terlihat begitu sedih.
"hei, gue cuma lanjuti sekolah di negeri orang, bukan meninggal.." ucap agung sedikit meninggikan suaranya, "kita masih bisa bertukar kabar, chatting atau Vidio call.." lanjutnya sedikit menghibur.
"selama ini selain Arya, Lo seperti keluarga buat gue Gung, cuma kalian yang selalu tulus sama gue, Lo udah gue anggap seperti kakak gue Gung, gue beneran sedih kalo jauh sama Lo." curhat Naya, sepertinya ucapan itu tulis dari dari hatinya. Dia benar-benar sedih.
" jadi gue anggap gue sebatas kakak dong ni..." ledek agung, yang tak ingin melihat Naya sedih, walau sebenarnya iapun sedih harus berpisah lama dengan Naya, tapi ia harus sembunyikan itu.l, agar tak terlihat sedih didepan Naya.
"emang Lo mau gue anggap apa ? supir gue ?" jawab Naya dengan suara sedikit meninggi.
Naya yang tiba-tiba diserang perasaan tak enak jadi salah tingkah, sorot matanya tak mampu lagi bersitatap dengan Agung, ia arahkan pandangannya keseluruh didepannya, asal jangan menatap mata agung fikirnya.
"Nay..." masih menatap Naya yang sepertinya sudah tidak nyaman. Dipanggil seperti itu membuat Naya langsung menoleh dan saling bertatapan. Grogi, sudah jelas,bingung harus apa, harus ngomong apa.
"heemm...gue mau..." ucap Naya terpotong. Terlihat jelas lengkungan bibir agung yang tersenyum bahagia mendengar kata "mau" dari mulut Naya. Sepertinya sudah mulai ada sinar terang untuk harapan yang selama ini terpendam dari lubuk hatinya paling dalam. "dia mau..." apa itu artinya dia Nerima gue sebagai kekasihnya?" fikiran agung pun melayang-layang dengan senyuman yang semakin melebar diraut wajahnya, tercetak jelas kebahagian disana. Seperti terbang seperti diatas awan bersama mengelilingi gumpalan awan putih dibawah langit biru yang cerah secerah hatinya saat itu,hingga tak sadar wajahnya menabrak gumpala awan putih, dan seketika membuyarkan lamunannya. ternya gumpalan awan putih yang ditabraknya itu adalah leparan gumpalan tissue yang dilayangkan Naya ke wajah agung. Wajah agung berubah cemberut dan seketika menatap Naya senyumnya kembali mengembang. " Lo mau...?"
"iya, gue mau pulang Gung,udah malem.."
"eh..."
.
..
.
..
.
Netz: ya.. gantung Mulu sih thor, nggk seru lu mah🙄😒😒
Thor : penasaran lu nab ?😂😂😂😂
Netz: 🙄 eh Thor si Naya beneran Nerima agung jadi pacarnya apa kagak thor ?
Thor : masih penasaran aja lu nab...😂😂😂
Netz: 😪😐😐😐
hai...hai...para readers... Jagan lupa dukung karya aku ya... like dan komen spam nya dung... biar akoh makin cemangat...🤗💪
thanks..