Good'S Love

Good'S Love
empat...


Naya berjalan gontai dengan pandangan kosong dan fikiran yang melayang layang. entah lah, entah apa yang sedang menggangu fikiran gadis itu sekarang ini. hingga kaki nya terus berjalan menelusuri koridor kampus dan terus berjalan hingga menyebrang jalan menuju cafe yang berada didepan kampus itu. Langkahnya terus melangkah memasuki gedung bewarna abu-abu itu. sesampainya di depan pintu pandangannya beredar seperti mencari keberadaannya seseorang.


jelas saja, sorot mata nya berhenti pada seseorang yang duduk di sofa dipojok kanan ruangan itu, gadis itu langsung berjalan menghampiri orang tersebut.


"sorry nunggu lama." ucap nya sesampai didepan meja orang tersebut.


Naya memang mengenal orang itu, seorang yang dikenalnya selama beberapa bulan itu bernama lengkap Abrian Pangestu yang biasa disapa Rian. Rian adalah anak dari teman tantenya yang tanpa sengaja saat itu mengantarkan mamanya berkunjung kerumah Tante Marni, tantenya Naya, dan disitulah mereka bertemu dan saling berkenalan hingga bertukar nomor hp.


Rian orang yang dewasa dan gampang bergaul pada siapapun, ia lelaki yang baik dan juga sopan, mereka terlihat akrab meski jarang bertemu, karena Rian adalah seorang pengusaha. kesibukannya mengurus usaha membuat ia tak punya banyak waktu untuk hanya sekedar nongkrong.


"akh, aku juga baru nyampe kok." jawab Rian memecah kecanggungan sambil tersenyum ramah. " duduk lah, mau pesan apa ?" lanjutnya.


Naya menarik satu kursi didepan Rian dan langsung mendaratkan bokongnya kebenda tersebut. pelayan pun datang dengan menyodorkan map bertuliskan menu makanan, mereka memesan makanan dan minuman, yang di anggukan oleh pelayan tersebut.


"jadi gimana ?" tanya Rian yang memulai percakapan setelah pelayan itu pergi.


Naya mendongakkan kepalanya memperhatikan sekilas wajah Rian dan kemudian mengalihkan pandangannya kearah yang lain. menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan, seperti berat untuk membuangnya. " aku bingung." jawabnya kemudian.


"kenapa?" tanya Rian sambil mengerutkan keningnya menatap Naya. seperti ada keraguan.


"entah lah" menjedah sebentar "sepertinya aku berat kalau harus pergi dari rumah itu." lanjutnya kemudian sambil membuang nafasnya kasar. ia pun menundukkan wajahnya.


"apa om Bram mengancam mu?" seketika itu pun obrolan mereka berhenti saat pelayan datang mengantarkan pesanan mereka.


tersenyum sekilas pada pelayan yang sudah mengantarkan pesanannya, kemudian menarik gelas berisi jus pesanannya, lalu menyeruput isinya. rasa segar ketika minuman itu sudah mengalir ke tenggorokannya. wanita itu kemudian mendongakkan wajahnya kearah Rian, "aku cuma nggak ingin lelaki tua itu menyakiti tanteku." jawab Naya sambil menggeser minumannya sedikit menjauh.


***


Dirumah


Naya memasuki kamarnya dan menjatuhkan tas ranselnya diatas kasurnya kemudian merebahkan badannya terlentang diatas kasurnya. Pandangannya mengarah ke langit-langit kamar menerawang jauh seolah bingung dengan keputusan yang harus ia ambil, fikiran nya terus melayang jauh memikirkan tawaran yang diberikan Rian saat pertemuannya tadi siang.


"ceklek"


suara pintu kamar Naya terbuka. seketika Naya yang terkejut langsung mendidikan tubuhnya dan melihat siapa seseorang yang ada dibalik pintu itu, dan sesorang muncul dari balik benda itu, menatap datar kemudian berjalan gontai mendekat Naya. Naya menyandarkan tubuhnya pada bantal yang sudah tersusun, menatap malas pada wajah seorang yang sudah berdiri didepannya.


"ada apa?" tanya Naya sambil menarik tas ransel didepannya. ia adalah Tiana sepupu Naya.


"Lo ketemu Kak Rian?" tanyanya antusias sambil mendudukan tubuhnya dipinggir tempat tidur disebelah Naya.


"heemm..." jawab Naya tanpa menoleh


"kok kak Rian selalu ada waktu sih kalau ketemu sama Lo ?, sedangkan sama gue, balas chat aja susah." jelasnya dengan nada kesal sambil membentangkan tubuhnya ke kasur dan menatap langit-langit kamar dengan fikirannya.


"kebetulan aja kok, kita ngobrol juga nggak lama." jawab Naya menenangkan.


"maksud Lo apa ?" tanya Naya yang sama sekali tak kaget dengan tuduhan Tiana.


"yaa... bisa aja kan Lo suka sama kak Rian, atau jangan-jangan kak Rian yang suka ma Lo? atau kalian emang sama-sama suka? jangan-jangan kalian....." memberikan jeda "udah jadian ?" tanya Tiana bertubi-tubi.


Naya mendongakkan wajahnya, menatap dengan kerutan di keningnya, sedikit berfikir dengan pertanyaan yang bertubi-tubi dilontarkan sepupunya itu, sebelum menjawab.


" Rian orang baik, dia juga akan bertemu dengan orang baik." jawabnya sambil tersenyum dan beranjak berdiri meletakan tas ransel nya pada tempatnya.


tampak berfikir dengan jari telunjuknya digerak-gerakkan didagunya. "mba..." panggilnya.


"heemm"


"mungkin nggk yaa kak Rian itu ...." menggantung ucapannya, tampak ragu akan meneruskan ucapannya. Naya menoleh, menatap wajah Tiana penasaran berharap ia akan melanjutkan Omongannya.


"nggak jadi." lanjut nya sambil beranjak dan berjalan menuju pintu hendak keluar. Naya terus memperhatikan punggung Tiana yang berlalu meninggalkan kamarnya, hingga tubuh itu menghilang dari balik pintu kamarnya.


"nggak jelas banget sih" gumam Naya yang masih penasaran.


.


.


.


.


.


netz: emang si Tiana itu nggak jelas ya Thor ?


Thor: lhaa emang Napa ?


netz : lha itu sukanya gantung-gantung..🤔 kira-kira dia mau ngomong apa ya Thor..?


Thor : mana gue tau soibah, Lo mah jadi orang kepo ...


net : 😲😒😒


hai hai... para readers... aku up lagi nih, Jagan lupa tinggalin jejak ya.. like komen spamnya.. 🤗🤗🤗


terimakasih