
Dokter wanita itu pun menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan, seolah berat namun harus ia sampaikan juga kabarnya, ia mengedarkan pandangannya kesemua keluarga tersebut.
"ibu Sukmajaya...," memberi Jedah pada kalimatnya, menarik nafas dalam dan membuangnya, terlihat wajah kecewanya namun menunjukan ketenangannya, "maaf, kami sudah berusaha, namun kondisi fisik beliau yang tidak memungkinkan, dan akhirnya beliau tidak tertolong." jelas dokter dengan wajah belasungkawa.
seperti tersayat, hati ini begitu perih mendengar kabar duka kembali menghampiri keluarganya. Setelah ayah dan ibu, adik yang berbaring kritis, kini nenek juga harus menyusul pergi menemui ayah dan ibu jauh disana. Naya tak lagi mampu menopang tubuh nya, kakinya gemetar hebat, pandangannya buram karena genangan air mana yang terus mengalir, tubuhnya melemas hingga ia terjatuh duduk dilantai, seakan kakinya berubah menjadi jelly yang tak sanggup lagi menopang beban berat pada tubuhnya. Seseorang yang disayangi, yang sudah saangat berjasa mengasuh adiknya setelah kepergian kedua orangtuanya, kini iapun harus pergi menyusul kedua orang tuanya.
sama halnya dengan Tante Marni dan Tiana mereka juga menangis tak percaya mendengar kabar duka ini. mereka langsung masuk keruangan untuk memastikan keadaan nenek Sukmajaya, sementara seseorang tersenyum tipis seolah menunjukan kemenangannya.
***
Agung diam tak bergeming disamping Naya yang masih saja terlihat sedih, namun kini air matanya tak lagi keluar, ia mencoba tegar menghadapi musibah ini. karma ia yakin kedua orangtuanya dan nenek sudah mendapatkan tempat yang baik di sana.
Satu Minggu setelah kejadian, membuat Naya harus berfikir keras, kemana hidupnya dan kehidupan adiknya akan ia bawa ?. Dan sekarang, kehidupan baru dimulai, dimana ia harus mulai bertanggung jawab atas dirinya dan adiknya Arya. Kini tanggung jawab sudah beralih padanya, ia tak hanya memikirkan untuk hidupnya, tapi juga hidup dan biaya perawatan adiknya. Biaya yang tak sedikit untuk pengobatan sang adik mengharuskan ia bekerja ekstra. Ia tak mungkin terus-menerus merepotkan tantenya itu, terlebih lagi harus berhutang pada omnya itu untuk pengobatan sang adik. Baginya tinggal dirumah itu saja seperti nya tak gratis, apalagi harus membawa sang adik masuk dan tinggal bersama dirumah itu, rasanya harus ada harga mahal untuk semua itu.
Untuk itu disini lah ia, disebuah gedung sekolah megah milik yayasan ini tempat ia menggantungkan harapan agar bisa melanjutkan hidup yang layak bersama adiknya. Baginya kesembuhan sang adik adalah prioritas nya. Ia harus mencari uang yang banyak untuk biaya kuliah dan operasi sang adik. Tak kenal lelah, ia selalu mencari jam tambahan untuk mengajar les anak-anak sekolah baik dari tingkat SD,SMP dan SMA . Namun sepertinya itupun belum cukup, ia kembali bekerja di sebuah minimarket setiap malamnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=
satu tahun kemudian....
Pekerjaan yang hampir menyita seluruh waktu Naya hingga terkadang ia tak lagi sempat memikirkan dirinya sendiri. baginya bekerja, bekerja dan hidup bahagia bersama adiknya. Bahkan kini sejak lulus kuliah Naya dan Agung pun sangat jarang bertemu, ditambah lagi Agung yang kini tengah sibuk dengan urusannya kantor milik papanya yang akan diwariskan olehnya membuat mereka jarang sekali bertanya kabar, apalagi untuk bertemu. Untuk itu hari ini Agung menyempatkan diri mendatangi Naya di sebuah minimarket tempat Naya bekerja dimalam hari. Sesampainya di parkiran minimarket Agung tak langsung masuk, ia sengaja menunggu Naya dengan duduk diatas motornya, ia juga tak ingin mengganggu jam kerja Naya. Naya yang kala itu keluar dari yang akan membuang sampah dikejutkan oleh Agung yang sedang berdiri bersandar di depan pintu mobilnya dengan memainkan ponselnya.
"Agung.." teriak Naya kegirangan saat melihat sosok sahabat baiknya ada didepan nya. "Lo ngapain?" tanyanya sambil menghampiri Agung dengan senyum yang terus mengembang diwajahnya. Tampak jelas kebahagian diwajah Naya saat melihat sahabat baiknya yang entah disengaja atau tidak ia berada didepan minimarket tempatnya bekerja.
menoleh pada Naya, menatap nya bingung dan menaikan sebelah alisnya, "apa kita saling kenal ?" jawaban Agung spontan membuat senyum diwajah Naya menghilang. Ia menatap Agung lebih dekat.
"deg..." bukan jawaban itu yang ku inginkan, "apa yang terjadi padanya?, apa aku salah mengenali orang ?, akh benar dia benar Agung, lalu kenapa tidak mengenali ku? apa yang sudah terjadi padanya ?" gumamnya yang masih menatap lekat wajah Agung dengan ekspresi wajah yang bingung dan Penuh tanda tanya itu.
"Lo Agung kan ?" tanyanya sekali lagi memastikan.
"hemmm" jawab agung santai yang masih melirik kearah Naya. Rasanya ia ingin sekali tertawa melihat ekspresi wajah Naya yang bingung itu,. keningnya yang berkerut kedalam dengan bibir sedikit dimajukan, seolah sedang berfikir sesuatu. " aaaaakh, rasanya aku sudah tidak tahan, ingin sekali ku gigit bibir mungilnya itu." gumam agung yang masih diam menahan gelak nya, ia tetap memainkan ponselnya agar Naya tak curiga.
"gue beneran Agung temen Lo kok," ucapnya sambil tersenyum menatap Naya. " sorry gue cuma bercanda," cicitnya. "aawww..." teriak Agung saat merasakan panas ditubuhnya saat Naya berhasil mendaratkan cubitannya dibagikan pinggangnya.
"dasar, iseng terus kerja Lo ya...?" ucap Naya dengan nada kesalnya.
.
.
.
.
.
Thor : ya begitulah hidup, terkadang lebih kejam dari ibu kota.
Netz : keras ya Thor ?
Thor : batu kale yang keras.. 😜
Netz : pala lu Thor yang keras, sini sini mendekat Thor, pengen gue jitak pala lu buat buktiin keras apa kagak..🤪
Thor : 🙄😒
hai.. hai... Jagan lupa berikan cinta untuk penulis ya, like komen spamnya buat penyemangat dan motivasi akoh..
terimakasih🤗🤗🤗