Good'S Love

Good'S Love
sepuluh...


Hai...hai...


akoh hadir lagi ni gays.. monmaaf ya kelamaan libur.. 😁😁


\=\=\=\=\=\=\=


"ada perlu apa pagi pagi sudah bertamu ?"


tanya Naya yang membuka percakapan setelah mempersilakan tamu tak di undangnya masuk.


"selama ini om mencari kalian, ternyata kalian bersembunyi di sini." jawab om Bram tanpa basa basi dengan menyunggingkan senyuman tipisnya dan tak henti-hentinya mata nya menyapu pandangan seisi rumah.


"untuk apa om mencari kami ?" kali ini Arya yang mengambil alih bicara. sepertinya remaja ini sudah jengah melihat seringai licik dari mata lelaki paru baya yang duduk didepannya itu.


"untuk apalagi...? sudah jelas untuk menagih hutang-hutang kalian lah..." jawabnya masih dengan senyuman liciknya


"kami pasti akan membayar semua hutang-hutang kami", jawab Naya.


"beri kami waktu om." lanjutnya lagi.


"apa waktu satu tahun ini belum cukup ?"


"akh, saya lupa, kalian ada lah anak-anak manja yang tak biasa bekerja keras bukan ?, memohon lah, jika kalian memang tak sanggup membayarnya." lanjutnya mengejek.


"om, kami memang belum bisa membayarnya sekarang, tapi kami bukan anak lemah seperti yang om tuduhkan pada kami.." saut Arya yang terbawa emosi karna ucapan omnya yang menurutnya merendahkan harga diri mereka.


Bram menyunggingkan senyuman liciknya, dan melirik pada Arya.


" baik, saya beri waktu satu bulan, kalian harus bisa membayar nya, yaa paling tidak setengah dari jumlah keseluruhan." ucapnya sambil beranjak berdiri.


Bram berjalan hendak keluar dan diikuti Naya yang juga berdiri. sesaat kemudian Bram menghentikan langkahnya tepat disamping Naya, sedikit membungkukkan badannya dan berbisik di telinga Naya.


"jika tidak mampu, kamu bisa membayarnya dengan diri mu .." bisiknya kemudian berjalan tegap sambil terus mengembangkan senyuman liciknya.


Wajah Naya memerah menahan amarah. tangannya menggenggam seakan-akan meluapkan emosinya. Ucapan omnya itu benar-benar menyulut emosinya. ingin rasanya ia menarik, mencakar dan menyumpal mulut omnya itu dengan kaos kaki dekil agar tak bisa lagi ia berkata seperti itu.


Namun apalah daya, Bram sepertinya sudah terlalu jauh mempermainkannya, hingga ia merasa harus bergantung dan membuat Naya berhutang pada nya.


"Om macam apa dia itu, menganggap kami seperti anak sendiri saat didepan keluarga yang lain, namun jika tidak ada maka seolah-olah dia adalah majikannya. cuiih.. seumur hidup ini aku tidak akan lagi terperday oleh nya." fikir Naya dalam hati dengan hati yang masih tersungkur emosi.


**


Disepanjang perjalanan ke gedung sekolahan Naya terus berfikir dari mana ia bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu satu bulan. Sementara ini gaji nya hanya cukup buat membiayai kebutuhan sehari-hari dan kontrak rumah.


"Selama ini Agung yang selalu bersamaku dalam menyelesaikan berbagai masalah, dia selalu ada untuk ku, baik saat aku sedih atau bahagia, termasuk membantuku saat aku terpuruk, dia yang selalu membantuku, memberiku semangat dan dia yang selalu memberiku warna di setiap hari-hari ku. meski pun aku terkadang aku selalu menolaknya dan menyakiti hatinya, namun Agung selalu punya banyak cara untuk tidak membuat ku agar merasa tidak terbebani oleh perasaannya." batin Naya saat teringat sosok sahabat yang selalu bersamanya itu.


"aaaahk.. disaat seperti ini kenapa aku sangat merindukannya, sosok nya yang selalu menyemangati ku, menjadikanku wanita yang lebih kuat dan tegar." batin Naya menerawang


"akh, tidak tidak..., aku tidak boleh terus bergantung padanya, selama ini aku selalu menyusahkan nya, ini saat nya aku tidak boleh menyusahkan nya lagi. Sudah cukup selama ini Agung selalu terlibat dengan masalah ku. aku harus mendukung pendidikannya, aku tidak boleh mengganggunya, dia harus berhasil." lanjutnya lagi. sambil menggelengkan kepalanya menepis fikiran agar tidak bergantung pada sosok sahabatnya itu.


Naya memutuskan untuk tidak lagi menyusahkan sahabatnya itu. Dia berfikir kalau itu adalah masalahnya, jadi Naya lah yang seharusnya bertanggung jawab atas masalahnya.


Naya kembali tidak fokus saat menyampaikan materi yang diajarnya. Dikiranya terus melayang kemana ia akan mencari uang sebanyak itu. Disaat fikirannya melayang suara handphone nya membuyarkan lamunannya.


"dreeeeetz....dreeeeettzzz..."


"Ryan ?" gumamnya saat melihat nama di layar handphonenya


"ada apa, tumben sekali dia meneleponku" fikir Naya.


Tanpa menunggu lama Nayapun menggeser icon hijau di layar handphonenya nya itu.


"hallo...Ryan, assalamualaikum..?" salam Naya


"ada apa Yan ?" tanya Naya saat Sipenelpon menjawab salamnya


sepulangnya jam mengajarnya Naya langsung menuju ke jus cafe tempat mereka janjian ditelpon tadi. Fikirannya pun bertanya-tanya apa sekiranya yang akan di sampaikan Ryan sampai-sampai Ryan mengajak nya bertemu.


Sesampainya di cafe, Naya tidak menemui sosok Ryan,sepertinya ia belum datang.


"mungkin Ryan masih diperjalan." gumamnya dan Naya memutuskan untuk menunggu.


Benar saja, baru lima menit Naya menunggu, sosok yang di tunggu sudah datang. Naya melambaikan tangan saat Ryan mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Naya. Melihat lambaian tangan Naya itu, akhirnya Ryan berjalan mendekati meja yang diduduki Naya.


"maaf membuat mu menunggu ." ucap Ryan tak enak hati, karna merasa ia yang berbuat janji namun membuat Naya menunggu.


"akh, jangan sungkan, aku juga baru sampai" jawab Naya. "silakan duduk" lanjutnya lagi dengan gerakan tangannya menunjuk kursi didepan Naya.


Ryan pun menarik kursi dan segera mendudukinya. tak berselang lama pelayan Cafe pun datang dengan membawa daftar menu. Mereka pun memesan minuman dan cemilan dan dianggukan oleh pelayan.


"Jadi, ada apa ini tiba-tiba pak derektur mengajak bertemu dengan ku ?" ucap Naya mengawali bicara sambil sedikit mencandai Ryan.


Ryan tersenyum tipis, "akh, kamu bisa aja, sudah lama kita tidak berjumpa, aku rasa aku sedikit merindukan mu." jawab Ryan membalas candaan Naya masih dengan mempertahankan senyumannya.


Naya terkekeh, sedikit terkejut dengan gombalan Ryan. "sejak kapan pria ini pandai menggombal ?" fikir Naya dalam hati.


"kau sedikit berisi dari yang terakhir kali ku lihat, apa kau senang bisa keluar dari rumah itu ?" lanjut Ryan masih mempertahankan senyumannya, sambil memperhatikan wajah wanita didepannya, adakah ia merasa tersipu dengan gombalannya.


"hmmm... benarkah ?, sepertinya aku harus mengurangi porsi makan ku sekarang, karna aku tak ingin terlihat gemuk oleh mu." jawab Naya masih dengan mode candanya.


alih-alih bisa menemukan wajah semu pada wanita didepannya, ia malah membalas dengan candaan. pesanan pun datang.


"hmmm... apa kau nyaman dengan pekerjaan mu sekarang ?" tanya Ryan sedikit ragu. Takut-takut akan menyinggung profesi Naya.


Naya mengerutkan alisnya, menatap Ryan. Sedikit bingung dengan ucapannya.


"memangnya ada apa dengan pekerjaan ku?" jawabnya sekaligus bertanya.


"akh, bukan apa-apa" jawab Ryan sedikit gugup. Ia langsung menyeruput minuman didepannya untuk mengalihkan sedikit rasa gugupnya. Sambil berfikir apakah dari mana ia akan memulai nya.


"hmmmm, a-apa... om Bram sudah menemukan kalian ?" tanyanya sedikit gugup.


pertanyaan Ryan berhasil menghentikan gerakan tangan Naya yang nyaris akan memasukan makanan kemulutnya. Naya mendongak, menatap wajah pria didepannya, memastikan apakah ada maksud lain tiba-tiba ia menanyakan hal ini, "apa dia tau pagi ini om Bram mendatangi ku ?, apakah dia ada hubungannya dengan om Bram ?, atau....dia juga yang sudah memberi tau om Bram keberadaannya selama ini ?" mengingat hanya pria ini dan agung lah yang mengetahui tempat tinggal mereka selama ini. Dan hanya pria ini lah yang mengetahui masalahku dengan om Bram. tapi....rasanya tidak mungkin, dia terlihat pria yang baik, dan dia juga yang selama ini membantu ku untuk bisa keluar dari rumah itu, rasanya tidak mungkin kalau dia juga yang memberitahu om Bram tentang keberadaan ku.


"Naya...?"


"eh, emmm...??" Naya terkejut seketika pria didepannya pun membuyarkan lamunannya. "ke-kenapa kamu tiba-tiba menanyakan hal ini ?" lanjut Naya sekaligus bertanya.


"akh.. tidak, ma-maksud aku... aku khawatir kalau-kalau om Bram menemukan mu dan Arya." jawab Ryan gugup. Ia pun langsung memakan cemilan yang ada didepannya untuk menghilangkan kegugupannya.


Sepertinya tidak ada pilihan lain lagi, untuk tidak memberitahu ada Ryan kalau om nya itu sudah menemukannya. Nayapun menceritakan kedatangan omnya itu secara tiba-tiba dan memintanya segera melunasi hutang-hutangnya.


"lalu.... apa yang mau kau lakukan ?" tanya Ryan sambil memperhatikan ekspresi wajah Naya yang tampak muram dan bingung.


"entah lah..." jawab Naya pasrah dengan menaikan kedua bahunya, sambil terus memakan cemilan didepannya.


.


.


.


Nez : Thor si Naya itu sebenernya hutang apa sih ?


Thor : entahlah... 🤷 itu urusan nya 😆😆


Net: 🙄😏😏


Thor : 😆😆😆😆