
Asiikk asiikk, ternyata masih pada antusias ya sama cerita ini... wkwkwk
Author seneng banget baca komenan kalian, yaaa meskipun author belum bls satu2...
Kencengin lagi doong like sama komentarnya ya, sekalian kasih ratingnya bintang 5 biar kayak yg laen gituh.. Hahaha
Hati-hati dalam memilih dan membaca cerita novel ini!! Yang masih di bawah umur harap menyingkir dari lapak ini, karena terdapat adegan kasar, kata-kata kasar, pelecehan seksual, dan masih banyak faktor lainnya yang gak cocok bagi pembaca di bawah umur !!! Harap bijak dalam membaca !!!
Happy reading, guys!!!
***
Brenda tidak menyadari jika semua yang ia ucapkan dan ia katakan saat ini, Nicolas sedang mendengarnya bahkan bisa melihat Brenda dan kekasihnya di dalam ruangan yang sama. Kedua tangan Nic terkepal erat menahan gejolak api marahnya yang ingin ia luapkan saat ini juga.
Tetapi ia tahan, ia ingin mendengar seluruh ucapan Brenda sampai selesai. Brenda terisak di dalam ruangan yang hening itu. Jari-jemarinya saling bertautan, meremas satu sama lain karena merasa resah, gelisah, gugup, serta menahan pedih di dalam hatinya.
“Anda sudah tertidur selama dua tahun, jadi kumohon. Anda harus bangun dan kembali menemui kekasih Anda, Nona. Biarkan kami berdua pergi dari mansion ini, biarkan kekasih Anda melepaskan kami berdua dan membiarkan kami untuk menjalani hidup kami sama seperti sebelumnya. Jadi kumohon, bangunlah!” Brenda tidak bisa untuk tidak menahan tangisannya. Ia menangis di dalam ruangan itu dengan tubuh yang bergetar. Tangannya meremas dadanya yang berdenyut perih dan terasa nyeri.
Setelah semuanya terasa sedikit melegakan, Brenda melangkah semakin mendekati ranjang wanita cantik itu. Brenda menggenggam salah satu tangan wanita itu yang tidak memiliki selang infus. Kepalanya tertunduk dalam, ia memanjatkan doa kepada Tuhan agar setiap ucapan yang baru saja ia keluarkan Tuhan mampu mendengar dan mengabulkannya.
Brakk!
Brenda terperanjat karena pintu ruangan itu terbuka dengan suara yang kencang. Tubuhnya beringsut mundur ketakutan saat ia melihat sosok yang tak ingin ia temui, sosok yang telah memberikan penderitaan kepada dirinya dan juga kakaknya.
“Apa yang kau lakukan di sini?” Nicolas berderap mendekati Brenda yang sedang ketakutan, Nicolas tersenyum mengejek melihat tubuh Brenda yang bergetar.
“A-aku... aku...” Brenda tak bisa menjawab pertanyaan Nic.
“Arrghh...” Brenda menahan sakit dan sesak di lehernya. Nicolas mencekik leher Brenda menggunakan tangannya yang begitu kokoh. Brenda menggenggam pergelangan tangan Nic, mencoba melepaskan cekikkan di lehernya yang terasa menyiksanya.
Wajah Brenda memucat seiring dengan pasokan udara yang berkurang ke dalam paru-parunya.
“Uhukk.. uhukk..” Brenda terbatuk saat Nicolas melepaskan dirinya. Tubuhnya merosot ke bawah dan bersimpuh di bawah kaki Nicolas dengan kedua tangan memegangi lehernya.
Napasnya masih tersengal-sengal karena ulah Nic. Sedetik lagi saja Nic tidak melepaskannya, Brenda sudah dipastikan akan meregang nyawanya saat itu juga. Untunglah Nic segera melepaskan cekikkannya, meskipun tangan kokoh itu meninggalkan bekas di sekitaran lehernya.
“LANCANGNYA KAU!” suara pria itu menggelegar hebat di ruangan itu membuat Brenda semakin beringsut ketakutan dengan kedua tangan yang masih memegangi lehernya sendiri.
Nicolas berjongkok di hadapan Brenda dengan tatapan yang menghunus tajam.
“Berani-beraninya kau masuk ke dalam ruangan ini tanpa seizin dariku. Dan kau... kau akan mendapatkan akibatnya karena telah berbuat lancang. Sepertinya aku terlalu lembut terhadapmu.”
“Ma-maaf, maafkan a-aku. Aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya... hanya...” pria itu mendesis tak suka saat Brenda menjawabi perkataannya dan terdengar sedang mencari alasan.
“JACOB, JACOB!” Nicolas berteriak dari dalam ruangan itu memanggil Jacob. Tak lama pria yang bernama Jacob itu pun muncul dengan sedikit berlari. Jacob mengkerutkan keningnya saat mendapati Brenda yang berada di dalam ruangan itu.
“Anda memanggil saya, Tuan?” tanya Jacob pada akhirnya.
“Seret wanita ini ke ruangan kakaknya!” titahnya tak ingin dibantah. Brenda memelototkan matanya tak percaya. Brenda semakin merasa ketakutan ketika membayangkan apa yang akan pria itu lakukan terhadapnya atau lebih parahnya melakukan sesuatu terhadap kakaknya.
“Lepaskan, lepaskan aku!” teriak Brenda dengan tubuhnya yang meronta-ronta meminta untuk dilepaskan tetapi tak mendapatkan respon yang baik dari Jacob maupun dari Nicolas. Tubuhnya diseret melewati lorong panjang gelap itu lagi, menuruni anak tangga yang cukup banyak.
Jacob memerintahkan beberapa penjaga di sana untuk membukakan pintu ruangan itu, kembali menyeret Brenda untuk masuk ke dalam. Di sana, Brenda melihat Brandon sedang tidur tanpa alas tidur sama sekali. Ia hanya tidur di lantai yang dingin dengan tubuh yang masih memiliki luka-luka.
“Bangun sialan!” Nicolas menendang tubuh Brandon dengan kasar membuat Brandon terbangun sekaligus.
“Bawa dia kemari!” titah Nic yang langsung dituruti oleh Jacob.
“Bear?” Brandon kebingungan saat Brenda ada di dalam ruang tahanannya.
Dengan tidak berperasaannya, Nicolas melayangkan tamparan kerasnya di atas pipi Brenda menyisakan bekas merah di kulit pipi yang putih. Sudut bibir Brenda mengeluarkan darah karena robek yang disebabkan tamparan keras yang ia terima dari Nicolas.
Sekali, dua kali, tiga kali, Nicolas terus melayangkan tamparannya di pipi putih Brenda. Brenda terbatuk-batuk dengan sedikit mengeluarkan darah dari mulutnya, bekas tamparan itu memberikan efek sakit yang tak terperi dengan rasa panas yang menjalar di area pipi Brenda.
Matanya menatap buram ke depan, kesadarannya hampir hilang karena terus menerus menerima tamparan keras dari Nic. Dibandingkan dengan tamparan, itu bisa dikatakan sebuah pukulan layaknya Nic sedang memukul pria. Brenda yakin, setelah ini ia tak akan bisa menelan makanan ataupun minuman. Pipi bagian dalamnya terasa perih dan berdenyut.
Jacob masih setia memegangi tubuh Brenda meskipun pada awalnya ia terkejut melihat dengan mata kepalanya sendiri Nicolas melayangkan tamparan keras serupa dengan pukulan ke pipi Brenda berulang kali.
Brandon tentu saja tak terima melihat adik kesayangannya diperlakukan seperti itu membuatnya berontak dan mencoba untuk menjangkau Nicolas. Ia ingin memukul Nic habis-habisan dan memberikan pukulan yang sama kerasnya menggantikan rasa sakit yang dirasakan oleh Brenda.
Sialnya. Nicolas lebih cepat membalikkan badannya dan malah Brandon-lah yang dipukul habis-habisan oleh Nic. Brenda masih mendapatkan kesadarannya, matanya dengan jelas bisa melihat bagaimana Brandon dipukuli dan dihajar oleh Nic. Brenda meronta meminta dilepaskan oleh Jacob sekali lagi. Berhasil, ia berhasil terlepas dari Jacob.
Pukulan mematikan siap dilayangkan oleh Nicolas saat ini, tetapi gerakannya terhenti saat Brenda tiba-tiba muncul di tengah-tengah antara tubuh Nicolas dan tubuh Brandon dengan kedua tangan yang direntangkan.
Dengan cepat Nicolas langsung menahan tangannya yang siap memberikan pukulan mematikan itu. Brenda menahan napasnya saat ia menyadari bahwa bisa saja pukulan mematikan malah menghantam dirinya.
“Apa yang kau lakukan ******?” Nicolas mencengkeram pakaian Brenda dengan wajahnya yang terlihat murka.
“Ku-kumohon, lepaskan kakakku. A-aku akan menggantikannya asalkan kau melepaskan kakakku dan membiarkannya pergi dari sini.”
Mendengar ucapan Brenda, untuk sesaat Nicolas terdiam tak bersuara. Tetapi di detik berikunya ia terkekeh
dengan menatap Brenda penuh dengan cemoohan dan rasa jijik tak terperi.
“Kau? Kau apa? Kau ingin menggantikan kakakmu ini? Kau meminta aku melepaskan pria busuk itu dan
menggantikannya dengan dirimu, begitu?” Nicolas tak bisa menutup-nutupi nada penghinaannya di depan Brenda.
“A-aku bersedia menggantikannya.” Lagi. Brenda mencoba sekali lagi agar Nic mau melepaskan Brandon dan menggantikan semua hukuman Brandon untuknya.
“Hh...” Nicolas mendengus geli mendengarnya. Tubuh Brenda dihempaskan begitu saja yang langsung beralih memeluk tubuh Brandon. Luka-luka yang didapat membuat luka lama mengeluarkan darah kembali, dan itu rasanya menyakitkan saat Brenda melihatnya.
Air matanya kembali membasahi pipinya melihat kondisi Brandon. Dengan segera Brenda beralih bersimpuh di bawah kaki Nicolas dengan kedua tangan yang saling menyatu, memohon agar Brandon bisa dibebaskan.
“Kumohon lepaskan kakakku! Aku berjanji, aku akan menerima semua hukuman yang kau berikan padaku, asalkan kau melepaskan kakakku dan membiarkannya hidup seperti sebelumnya. Aku berjanji, aku tidak akan lari darimu jika bukan kau yang melepaskanku.” Kedua telapak tangan Brenda yang menyatu ia gosokkan tanda memohon dengan amat sangat tulus dan pasrah.
Brenda tak bisa lagi memikirkan hukuman apa yang akan Nicolas berikan kepadanya saat ini, yang terpenting ia harus bisa menyelamatkan Brandon dan membiarkannya menjalani kehidupan yang normal sama seperti sebelumnya. Tentu saja permohonan berdasarkan karena keputusasaan Brenda membuat hati Nicolas begitu senang dan bahagia.
“Lepaskan pria itu, dan lemparkan dia ke jalanan dekat dengan area tempat tinggalnya agar seseorang dapat menemukannya dengan mudah!” setelahnya Nic tampak tak peduli sama sekali dan berlalu meninggalkan ruangan itu tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya lagi.
***
Visual Cast
Brenda Heather
Nicolas Phyllis
Brandon Heather