BRENDA HEATHER

BRENDA HEATHER
Part 4


            Brenda terbangun dengan seluruh sel di dalam tubuhnya terasa kaku dan sakit, bagian pangkal pahanya masih merasakan denyutan sakit dan perih. Kembali mengingatkan akan dirinya yang baru saja mengalami mimpi paling buruk dan menyeramkan selama masa hidupnya.


            “Brandon...” Brenda teringat dengan nasib kakaknya. Apa pria itu baik-baik saja saat ini? Brenda mencoba bangkit dari ranjang sempit dan kecilnya itu, dan memaksakan kakinya untuk melangkah menuju pintu ruangan itu.


            Ternyata pintu itu terkunci dari luar, berulang kali Brenda mencoba membuka pintu itu dengan menggerak-gerakkan gagang pintu. Menggedor-gedornya, siapa tahu ada orang di luar yang kebetulan lewat dan berbaik hati untuk membukakan pintu itu untuknya yang terkunci di dalam.


            Brenda mengeluh karena tak ada seorang pun yang mau membukakan pintu itu untuknya. Brenda berbalik, ia baru sadar bahwa saat ini ia berada di ruangan yang bukan seperti kamar sebelumnya. Ruangan itu sama seperti dengan ruangan yang Brandon tempati waktu itu.


            Bedanya, ruangan itu memiliki ranjang kecil dan sempit meskipun masih layak untuk ia pakai. Tetap saja,


apartemen sederhananya lebih baik dari ruangan itu. Tak ada perabotan lain di dalam ruangan itu, selain sebuah lemari pakaian kecil yang terlihat sudah usang, ranjang kecil nan sempit, nakas kecil yang hampir bobrok. Dan satu buah lampu tidur yang bahkan lampunya saja sudah tidak terang selayaknya.


            Brenda kembali ke atas ranjang itu dan mengedarkan pandangannya. Ia terbiasa hidup dengan menerima kasih sayang dari keluarganya, dan perlakuan ini. Perlakuan ini membuat Brenda kembali menangis, meminta perlindungan kepada Tuhan agar terus melindunginya. Meminta pertolongan agar Tuhan membiarkan ia dan Brandon keluar hidup-hidup dalam keadaan utuh dari mansion terkutuk itu.


            Kedua tangan Brenda menyatu, kedua matanya terpejam memanjatkan do’a dengan khusyuk. Tak lama suara pintu yang dibuka dengan keras membuat Brenda terperanjat, matanya berkilat ketakutan akan sosok di balik pintu yang dibuka itu.


            “Rupanya ****** kecilku sudah sadar.” Nic terkekeh melihat Brenda yang menatapnya ketakutan dengan tubuh yang segera beringsut mundur ke pojokkan ranjangnya.


            Nicolas melemparkan beberapa pasang pakaian untuk Brenda, meskipun pakaian itu terlihat masih baru tetap saja Brenda tak bisa menerimanya begitu saja setelah apa yang pria itu lakukan terhadapnya dan juga Brandon. Brenda menatap tumpukan pakaian baru itu kemudian menatap Nic bergantian.


            “Itu pakaian untukmu, mulai saat ini kau akan menjadi ****** untuk memuaskan hasratku dan sahabatku. Bersikaplah baik jika kau menginginkan Brandon selamat dan baik-baik saja tanpa harus melewati siksaan para anak buahku!” ucapan Nicolas membuat Brenda menurunkan bahunya dengan lemah. Ia ingin sekali menolak dan membantah, tetapi ia jadi teringat dengan kondisi Brandon yang disiksa habis-habisan oleh anak buah Nic.


            Demi keselamatan Brandon, dia rela melakukan apa pun asalkan Nicolas tidak menyiksa kakaknya lagi. Selama Brenda bersikap patuh dan baik, maka Nic akan berbuat baik terhadap Brandon.


            “A-apakah aku bisa menemui Brandon?” tanyanya hati-hati.


            Tanpa mengeluarkan suara, Nicolas mengangguk dengan mata yang menatap tubuh Brenda dengan kilatan penuh nafsu dan gairah yang membuncah. Setiap kali mengingat pelecehannya terhadap Brenda, gairahnya seolah ingin mendesak dan ingin segera mereguk kenikmatan dunia tanpa cela sedikit pun.


            Menyadari tatapan tak senonoh dari Nicolas, Brenda mencoba untuk menutupi dadanya dengan kedua tangan yang menyilang. Nicolas sadar jika Brenda membuat kembali pertahanan dirinya, lalu ia terkekeh.


            “Percuma kau menutupi tubuhmu dengan tangan mungilmu itu, aku sudah melihat semuanya bahkan MENIKMATI TUBUHMU.” Tukas Nicolas dengan dua kata terakhir yang ia tekankan membuat Brenda kembali merasakan denyut kesakitan disetiap sel-sel yang ada di dalam tubuhnya.


            “Mandilah! Setelah itu aku akan membiarkan kau bertemu dengan kakakmu itu.” tanpa memberikan kesempatan Brenda untuk berbicara, Nicolas lantas meninggalkan Brenda kembali sendirian di ruangan kecil itu.


            Sepeninggalnya Nic, Brenda kembali menatap tumpukkan pakaian yang dibawa Nicolas ke ruangan itu sekali lagi. Di sana Nicolas juga menyiapkan alat mandi untuknya dengan layak. Karena ia ingat akan ucapan terakhir Nic yang akan membawanya bertemu dengan Brandon, Brenda segera melesat lari ke dalam kamar mandi yang sama kecilnya itu.


            Ia mengabaikan rasa sakit di pangkal pahanya karena keinginannya yang kuat untuk bertemu dengan Brandon. Setelah beberapa menit Brenda keluar dari dalam kamar mandi dengan pakaian yang barunya. Sebelum ia keluar mencari Nicolas, ia memasukkan seluruh pakaian pemberian Nic ke dalam lemari.


            Brenda keluar dari kamarnya dan berniat untuk mencari Nicolas. Brenda terkesiap saat tubuhnya berbalik setelah menutup pintu kamarnya, menemukan orang yang ingin dicarinya sudah berada tepat di belakang tubuhnya dengan kedua tangan yang bersidekap di dada. Pria itu menatapnya dengan tajam, memperhatikan dari atas sampai bawah.


            Brenda menautkan jari-jarinya dengan gelisah, tak berani untuk menatap Nicolas sama sekali.


            “Ayo!” ajaknya setelah berhenti memperhatikan tubuh mungil Brenda.


            Di dalam hati, Nicolas memuji kecantikan wajah Brenda meskipun tubuhnya terbilang sangat mungil untuknya. Tetapi Nicolas tidak menutupi rasa sukanya terhadap tubuh mungil Brenda. Nicolas menepis seluruh kelebatan bayangan tentang tubuh Brenda yang polos tanpa sehelai pakaian pun yang menempel di tubuh mungilnya itu.


            Nicolas merindukan kekasihnya, merindukan senyuman kekasihnya yang manis. Perancang busana terkenal di Manhattan dengan karir yang bagus, terpaksa harus meredup dengan paksa akibat kecelakaan yang melibatkan kedua orang tua Brenda dan Brandon. Karena itulah, Nicolas berniat untuk menuntut balas terhadap sepasang kakak beradik itu menggantikan kedua orang tuanya yang telah meninggal.


            Tiba di ruangan yang pernah Brenda datangi, Nicolas memberikan isyarat kepada anak buahnya yang berjaga untuk pergi meninggalkan Brenda dan Brandon. Nicolas akan berjaga di depan pintu, berjaga-jaga jika Brenda berniat kabur.


            Meskipun Brenda memiliki pemikiran untuk kabur, akan sangat sulit untuk meloloskan diri dari cengkeraman Nicolas. Mansion itu terletak di tengah-tengah hutan yang tak terlalu lebat dan menyeramkan, hanya saja akan mempersulit tawanannya untuk kabur dan meloloskan dirinya.


            Biasanya Nic akan tinggal di penthouse miliknya, tetapi setelah kekasihnya jatuh koma. Ia mengisi mansionnya kembali dengan beberapa tenaga medis pilihannya yang sudah teruji kemampuannya untuk merawat kekasihnya sampai wanita itu kembali membuka matanya.


            “Manfaatkan waktu yang kuberikan sebaik-baiknya sebelum aku menarik kembali kata-kataku! Aku akan berjaga-jaga di depan, jadi kau dan kakak malangmu tidak bisa kabur.” Nicolas meninggalkan Brenda sendirian di dalam ruangan itu.


            Brenda menatap pintu ruangan yang telah ditutup oleh Nicolas, ia berbalik. Matanya mencari keberadaan Brandon, kemudian ia berlari ke sudut ruangan dengan langkah cepat.


            “Brandon? Brandon? Wake up!” Brenda mengguncangkan tubuh kakaknya yang teronggok di pojokkan ruangan itu dengan luka-luka yang sudah tak mengeluarkan darah lagi. Sebagian lukanya sudah diobati meskipun masih menyisakan darah kering yang menutupi sebagian luka di tubuhnya.


            Mata Brandon mengerjap beberapa kali, memaksakan matanya untuk terbuka dan menatap orang yang memanggil namanya.


            “Bear?” ucapnya lirih setelah matanya berhasil terbuka sempurna. Tangannya meraih pipi Brenda dan mengusapnya pelan dengan seluruh tenaga yang tersisa.


            Brenda kembali terisak di hadapan Brandon, memaksakan bibirnya untuk mengulas senyuman manis untuk Brandon.


            Brenda tentu saja membantu Brandon agar terduduk dengan nyaman, Brenda duduk di hadapan Brandon dengan mata yang mengucurkan air matanya.


            “Jangan menangis, bear! Aku baik-baik saja, kau jangan khawatir.”


            “Bagaimana aku bisa tidak menangis saat melihat kau terluka karena disiksa.” Brenda mengusap air matanya dengan punggung tangannya.


            Brandon tersenyum dengan tangannya yang kembali menangkup pipi Brenda dan mengusapnya kembali.


            “Kau memang beruang polosku.”


            “Bagaimana kau bisa berada di tempat seperti ini? Seharusnya kau ada di rumah menungguku pulang.” Brenda tak bisa lagi untuk tak menangis dan meraung sepuasnya, suara tangisannya yang semakin kencang membuat Brandon semakin merasa bersalah.


            “Maafkan aku, bear. Mereka datang menemuiku di apartemen, mereka bilang kau mengalami kecelakaan dan seseorang menyelamatkanmu. Tanpa pikir panjang, aku langsung menyetujui ajakan mereka agar aku bisa kembali bertemu denganmu. Maafkan aku?!”


            Ternyata Nicolas adalah pria terjahanam yang pernah Brenda kenali. Ah tidak, Brenda sama sekali tidak


mengenali pria itu. Bahkan nama pria itu saja Brenda tidak tahu sama sekali, sejak kedatangannya ke mansion itu. Semua orang memanggil pria itu hanya dengan sebutan tuan.


            “Dia membodohimu! Bagaimana bisa kau sebodoh itu untuk mempercayai mereka?” Brenda tidak menyalahkan Brandon, hanya saja ia merasa sesak dengan kenyataan Brandon telah disiksa karena berhasil


ditipu oleh pria terlicik itu.


            “Tidak masalah aku menerima siksaan ini selama mereka tidak melukaimu.” Ucap Brandon dengan senyum tipisnya.


            Brenda menundukkan kepalanya dalam-dalam membuat Brandon menatapnya dengan khawatir.


            “Me-mereka, tidak melukaimu ‘kan? Mereka tidak berbuat sesuatu terhadapmu ‘kan?”


            Tentu saja mereka telah melakukan pelecehan terhadap Brenda dan mempermalukannya di hadapan seluruh bawahan Nicolas. Ingin sekali Brenda mengatakannya pada Brandon, tetapi ia akan membuat Brandon semakin merasa berdosa. Ia akan menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga Brenda dengan baik, tidak bisa melakukan apa pun untuk adiknya.


            Brenda menggeleng dengan memaksakan senyumannya.


            “Ti-tidak. Mereka tidak melakukan apa pun kepadaku, aku baik-baik saja.” Brandon bernapas lega setelah mendengar kejujuran dari Brenda.


            “Waktumu sudah habis!” seru Nicolas yang kembali merangsek masuk mengganggu sepasang kakak beradik itu.


            Nicolas mencengkeram lengan Brenda membuatnya meringis. Brandon berusaha untuk membantu Brenda melepaskan diri dari Nicolas, tetapi yang ada. Nicolas menendang perut Brandon sampai ia harus tersungkur


dengan ringisan kesakitan. Brenda memekik melihat kelakuan Nic terhadap kakaknya.


            Anak buah Nicolas merangsek masuk ke dalam melihat apa yang terjadi setelah mendengar pekikkan dari Brenda.


            “Beri dia pelajaran lagi! Berani-beraninya dia ingin merebut tawananku.” Nicolas kembali memerintahkan


anak buahnya untuk menyiksa Brandon lagi. Brenda segera meronta-ronta meminta dilepaskan agar bisa melindungi kakaknya.


            “Ku-kumohon lepaskan kakakku! Kau berjanji, jika aku berbuat baik dan patuh kau akan melepaskan kakakku.” Brenda memohon pada Nicolas yang malah memberikan tatapan yang menghujam.


            “Jika kau ingin kakakmu selamat, sekarang lakukan tugasmu!”


            Brenda terdiam, tidak mungkin pria itu memintanya sekarang ‘kan? Tetapi, jika ia tak menuruti keinginan pria itu maka kakaknya lah yang menjadi taruhan.


            “Berhenti!” seru Nicolas.


            Anak buah yang menyiksa kembali Brandon menghentikan kegiatannya dan berbalik menghadap Nicolas. Brandon terengah-engah dengan ringisan kesakitan, mencoba menatap Brenda yang masih berada di dalam cengkeraman kejam Nicolas.


            “Seret dia kemari! Aku ingin menunjukkan sesuatu kepadanya.”


            Anak buah Nic langsung menyeret Brandon dan memeganginya dari kedua sisi agar tak bisa memberontak. Tanpa aba-aba. Nicolas ******* bibir Brenda dengan rakus dan buasnya, ciuman itu terasa kasar dan menyakitkan. Nicolas mendorong tubuh Brenda ke dinding, melepaskan pakaian yang Brenda kenakan secara paksa.


            Brandon berteriak dan memaki Nicolas yang saat ini sedang melakukan hal bejad terhadap adik kesayangannya, beruang polosnya. Berulang kali Brandon mendapatkan pukulan dari anak buah Nic karena mencoba memberontak.


            Nicolas tak segan-segan menjamah tubuh Brenda di depan kakaknya sendiri. Untuk apa ia malu? Bahkan ia sudah melecehkan wanita itu diseluruh hadapan anak buahnya sebelumnya. Jadi mempertontonkan aksinya kali ini di depan Brandon, bukanlah masalah yang besar. Justru ini adalah yang ia inginkan, membuat sepasang kakak beradik itu tersiksa secara fisik dan batin.