
Updateeee !!!
Yuk langsung tambahin ke favorit, follow, like, komentar terus rating bintang 5 nya ya !!
Happy reading, guys !!!
***
Sesuai dengan perkataannya, Nicolas benar-benar melakukan hal yang lebih buruk pada wanita mungil bernama Brenda. Segala macam kekesalan, kemarahan, rasa muak, kebencian yang entah itu memiliki sangkut pautnya dengan Brenda atau tidak dilampiaskan kepada wanita bertubuh mungil. Hari demi hari Brenda lewati dengan deraian air mata, rasa sakit, rasa pedih, luka pukulan, cambukkan, dan masih banyak macam siksaan lainnya yang ia terima menjadi makanan sehari-harinya.
Tubuh mungil itu lebih terlihat kurus setelah beberapa hari menerima berbagai macam siksaan tak terperi.
Menjadi lubang hitam yang menganga lebar di dalam benak Brenda. Ia ingin menyerah, sekali saja ia ingin mengatakan menyerah kepada Nicolas jika saja nyawa sang kakak bukanlah taruhannya. Ia tak masalah jika ia harus kehilangan nyawa pada saat itu juga dibanding ia harus menerima siksaan yang ternyata tak mampu diterima oleh Brenda.
Brenda pikir, Nicolas akan sedikit lebih berbaik hati terhadap Brenda tentang memberikannya sebuah siksaan. Rupanya segala macam pemikiran baiknya tentang Nicolas harus pupus begitu saja. Nyatanya pria itu sama saja memperlakukan Brenda seperti saat pria itu memperlakukan Brandon, menyiksanya tanpa ampun saat pria itu merasakan kekesalan yang mendalam.
Adapun Jack yang berdiri di dalam ruangan yang sama, hanya mampu melihat dan menjadi pemerhati yang baik saat Nicolas melampiaskannya kepada wanita bertubuh mungil itu. Lalu, setelah Nicolas selesai dengan segala macam siksaannya terhadap wanita itu. Jack hanya memerintahkan seorang pelayanan wanita untuk mengobati luka Brenda yang belum sempat mengering di tubuhnya tetapi sudah kembali terbuka lebar karena menerima siksaan kembali dari seorang Nicolas.
Pria yang bernama Jack itu seolah enggan untuk mengulurkan tangannya dan memberikan bantuan kepada Brenda. Dikurung di dalam ruangan kecil nan sempit, tidak ada ventilasi udara sama sekali, jendela yang bahkan sama sekali tidak bisa dikatakan sebagai layaknya jendela, ruangan yang begitu kotor dan menjijikkan bagi seorang manusia tinggali di dalamnya. Menerima siksaan tak terperi adalah sebuah mimpi buruk yang akan selalu melekat di dalam otak Brenda, tidak akan mudah hilang walau Brenda mati sekalipun.
Hanya dalam hitungan hari Brenda menerima siksaan itu, tetapi ia merasa sudah berbulan-bulan lamanya ia menerima siksaan itu. Seolah hati Nicolas terbuat dari ribuan bahkan berton-ton batu utuh yang sulit dikikis oleh air yang mengalir. Pria itu benar-benar tidak memiliki rasa kemanusiaan sama sekali, ia benar-benar menepati janjinya menjadikan nyawa Brenda sebagai penukar kebebasan Brandon.
Makanan lezat yang biasanya menjadi makanan yang mampu menggugah selera makan Brenda kini tak lagi ia dapatkan, terakhir ia mendapatkan makanan lezat yaitu saat ia menemui kekasih Nicolas di dalam ruangan perawatannya. Pelayan yang ditugaskan untuk mengantarkan makanan ke ruangan penyiksaan Brenda, hanya menyediakan sepotong roti yang sudah mengeras bahkan hampir berjamur. Segelas air minum tak mampu membuat tenggorokan Brenda mendesahkan rasa lega.
Sore tadi, Nicolas datang dengan kemurkaan yang menguarkan aura gelap yang menyesakkan. Ia hampir kehilangan uang senilai milyaran karena kebodohan bawahannya. Meskipun ia memiliki usaha legal dan secara hukum yang berlaku dan sudah pasti seluruh orang tahu perusahaan apa saja yang dimiliki oleh Nicolas, tetapi di sisi lain Nicolas juga menjalankan usaha ilegalnya yang menentang hukum. Seperti penjualan senjata, obat-obatan terlarang, minuman keras dan lain sebagainya. Anggap saja ia memiliki kekuasaan di dunia bawah tanah.
Kemarin malam saat beberapa orang bawahan Nicolas sedang melakukan transaksi penjualan senjata api, beberapa mobil polisi hampir saja mengepung orang-orang yang sedang bertransaksi tersebut. Polisi-polisi itu sudah sejak lama mengincar kegiatan dunia bawah tanah yang melibatkan Nicolas, sehingga mereka melakukan pengintaian tiada henti dan mengawasi anak buah Nicolas.
Sialnya, saat itu seorang anak buah Nicolas yang bertugas mengatur rencana transaksi diketahui oleh polisi dan malah mengantarkan polisi-polisi itu ke tempat di mana mereka melakukan transaksi. Beruntungnya, mereka langsung menyelesaikan transaksi itu dan berhasil mendapatkan uang hasil dari penjualan senjata api itu. Namun, baku tembak dengan polisi-polisi itu tak bisa lagi dihindari. Beberapa polisi yang berhasil ditembus dengan timah panas langsung meregang nyawa di tempat. Sementara yang lainnya berusaha mengejar mobil-mobil yang berhasil kabur.
Hal itulah yang memancing kemurkaan Nicolas. Ia pulang dari perusahaannya dengan keadaan sedang murka, ia langsung menuju ke ruangan di mana Brenda dikurung. Kedua tangan Brenda diikat oleh untaian besi yang saling terjalin satu sama lain dan melingkar di pergelangan tangan Brenda. Ditariknya untaian besi itu ke atas membuat tubuh Brenda seolah melayang di atas permukaan tanah. Cambukan demi cambukan dihantamkan ke tubuh Brenda meninggalkan jejak-jejak berdarah di sekujur tubuh Brenda.
Kulit putih susu Brenda terlihat semakin memucat seiring banyaknya luka siksaan yang ia terima. Tubuhnya kian hari kian melemah, belum lagi Nicolas yang selalu memaksakan kehendaknya demi mendapatkan kepuasan tak terperi setelah menyalurkan hasratnya.
Kadang pria itu akan memaksakan kehendaknya sebelum menyiksa Brenda, atau pria itu akan mengubah urutannya tergantung suasana hati pria itu saat itu. Jeritan kesakitan selalu berhasil menembus melewati lorong panjang gelap nan sepi itu, bahkan bisa ditebak. Seluruh penghuni mansion itu dapat mendengar jeritan kesakitan yang lolos dari mulut Brenda.
Selesai melakukan penyiksaan terhadap wanita itu, tak bisa dipungkiri bahwa Nicolas merasakan kelegaan yang selama ini tak pernah ia dapatkan dari siapa pun. Bahkan saat turun tangan sendiri untuk menyiksa orang-orang yang berhasil ditangkap oleh anak buahnya, ia tak pernah merasa selega itu dan sesenang itu. Selain rasa puas dan nikmat mamaksakan kehendaknya terhadap Brenda, pria itu juga menyukai saat tangannya tergerak untuk menghantamkan alat cambuk ke tubuh Brenda.
***
“Bagaimana kondisinya hari ini?” Nicolas bertanya pada seorang dokter yang telah dipilih untuk merawat
kekasihnya dua tahun terakhir ini.
“Kondisinya masih sama, setidaknya ia masih bertahan sampai sekarang.” Jelas dokter itu tanpa memandang lawan bicaranya.
Nicolas hanya mampu mendesah berat, ia menginginkan kekasihnya terbangun dari tidur panjangnya. Nicolas berjanji, jika kekasihnya terbangun maka ia akan langsung melamar dan menikahi kekasihnya itu. Mengikatnya dengan ikatan suci untuk selamanya, menghabiskan waktu selamanya bersama dirinya. Setetes air mata lolos dari sudut mata Nicolas yang sedang memandangi tubuh kekasihnya yang terlihat menyedihkan karena terpasang alat-alat medis penunjang kehidupannya.
“Saya yakin, jika Nona Cheryl akan segera bangun. Anda jangan pernah berhenti berdoa dan berharap kepada Sang Pencipta!”
“Aku tak pernah berhenti berharap.” Tukas Nicolas tajam seolah tak suka akan ucapan dokter itu yang seakan menuduhnya putus asa.
Suara ketukan di pintu membawa langkah Nicolas untuk segera membuka dan mencari tahu siapa orang di balik pintu itu. Jack berdiri di sana dengan tatapan tak terbacanya, memberi kode kepada Nicolas agar mereka menjauh dari ruangan Cheryl berada.
Tanpa ingin berdebat Nicolas hanya mengangguk dan menutup pintu di belakangnya kemudian mengikuti Jack yang melangkah ke ruangan kerja pribadi Nicolas. Mereka duduk saling berhadap-hadapan dengan Jack yang sedang menuangkan segelas vodka ke dalam gelas milik Nic.
“Kudengar transaksi semalam hampir digagalkan oleh pihak polisi?” Jack membuka obrolan setelah ia menyodorkan segelas vodka ke depan Nic.
“Aku mendengarnya dari Jacob. Apa yang terjadi?” dengan santainya Jack menjawab.
“Polisi sialan itu sudah mengintai pekerjaan dunia bawah tanahku, dan bodohnya seorang anak buahku yang ditugaskan untuk pengaturan rencana transaksi senjata tak menyadari bahwa dia sudah diintai sejak beberapa hari. Anak buahku yang bodoh itu tanpa sengaja membawa polisi-polisi sialan itu ke lokasi transaksi. Untungnya, saat polisi-polisi datang transaksi sudah selesai.” Nicolas tampak berapi-api saat menjelaskan kronologinya.
“Dan kudengar terjadi baku tembak yang menyebabkan beberapa polisi meregang nyawa di tempat.”
Nicolas mengangguk seraya menenggak kembali gelas vodkanya.
“Ya, dan sebagiannya lagi mengejar orang-orangku tapi berhasil lolos. Orang-orangku tak sebodoh itu. Dan kau pasti tahu, aku pulang melampiaskan kemarahanku terhadap ****** kecilku itu. Anehnya, aku merasakan kelegaan dan kepuasan tak terperi saat melakukannya. Seolah rasa lega dan puasku tak akan pernah habis.” Nicolas menerawang kembali dan membawanya kekilasan saat ia menyiksa Brenda. Ia terkekeh kemudian menatap Jack menyelidik.
“Kau tak berniat menceramahiku karena melampiaskan padanya, bukan?”
“Aku mengerti kenapa kau menginginkan wanita itu menderita, itu ada kaitannya dengan kondisi Cheryl.
Hanya saja jika kau melampiaskan setiap kekesalan dan kemarahan yang kau alami tanpa memiliki kaitan dengannya, kurasa itu bukanlah dirimu yang kukenal.”
“Maksudmu, tindakanku menyalahi aturan dan prinsip yang selalu kupegang teguh, begitu?”
Jack ingin sekali berteriak di depan wajah Nicolas dan berkata “Tentu saja itu salah, sialan. Kau menyiksa wanita yang bahkan kekuatannya pun tidak akan sebanding denganmu, kau menyiksanya karena kesalahan anak buahmu yang ceroboh itu dan menjadikan wanita itu seolah benda tak bernyawa!”
Sayangnya, semua itu hanya mampu Jack ucapkan di dalam hatinya dan hanya menatap Nicolas datar. Jack segera menghabiskan vodka di dalam gelasnya kemudian beranjak berdiri, menghampiri Nic yang duduk di seberangnya.
“Jangan terlalu berlebihan saat kau menyiksanya atau bahkan saat kau menyetubuhinya, bisa saja saat kau kehilangan dia. Kau akan merasakan hidupmu yang teramat hampa!”
Jelas saja Nicolas mengernyit tak mengerti ucapan Jack barusan.
“Apa maksud ucapanmu?” tanya Nic dengan nada yang sengaja ia tekankan.
“Kau tahu, jika sesuatu dilakukan secara berlebihan pasti memiliki efek tersendiri. Seperti saat ini, setiap kali kau melampiaskan kemarahanmu atau menikmati tubuhnya kau merasakan kesenangan yang tiada tara. Seharusnya kau harus berhati-hati dengan apa yang kau rasakan saat ini, bisa saja kau tanpa sadar telah terperangkap dalam pesona wanita itu.”
Nicolas terkekeh kemudian mendengus geli.
“Maksudmu aku akan jatuh cinta padanya dan akan merasakan kehampaan mendalam saat wanita itu mati di tanganku, begitu?”
Jack mengangkat bahunya acuh.
“Kau tahu sendiri, bahkan kekasihku lebih cantik dan seksi dari pada ****** kecil itu. Meskipun kuakui, saat aku menyentuhnya memang terasa berbeda dengan wanita-wanita lainnya. Tetapi jelas itu tidak akan membuatku kehilangan dan merasa hampa saat wanita itu mati di tanganku. Jatuh cinta? Itu terlalu konyol.” Nicolas kembali terkekeh dan menatap Jack dengan tatapan mengejeknya.
Seorang Nicolas tidak akan pernah jatuh cinta terhadap wanita lain selain kekasihnya, Cheryl. Baginya, Brenda hanya alat untuk pemuas hasratnya dan menjadi alat untuk menjalankan misi balas dendamnya. Bahkan jika Cheryl terbangun dan mendapati Nicolas melakukan hal itu terhadap Brenda, Cheryl pasti akan mengucapkan rasa terima kasihnya yang banyak terhadap Nicolas karena telah membantunya membalaskan dendam.
Siapa yang tahu jika Tuhan akan membalikkan perasaan Nicolas terhadap Brenda? Siapa yang tahu jika ternyata Tuhan tak pernah membangunkan kembali Cheryl dan membiarkannya tinggal di sisi Nicolas selamanya sesuai yang ia harapkan? Nicolas terlalu sombong akan ucapannya, ia seolah meremehkan campur tangan Tuhan.
***
Brenda Heather
Nicolas Phyllis
Jackie Colleen