BRENDA HEATHER

BRENDA HEATHER
Part 6


            Dokter yang diminta datang secara pribadi oleh Jack sudah tiba di mansion Nic beberapa menit yang lalu. Di sinilah Brenda saat ini, ia duduk berada di ruang kerja pribadi milik Nic dan duduk di hadapan dokter. Dokter itu sedang menyiapkan suntikan yang ia isi dengan sebuah cairan bening yang sama sekali tidak Brenda mengerti sedikit pun.


            Setelah mengisi jarum suntik itu dengan cairan bening tadi, ia beranjak dari tempat duduknya dan mengambil posisi kosong di samping Brenda. Sebelum dokter itu menyuntikkan jarum suntiknya, ia menjelaskan terlebih dahulu.


            “Ini adalah alat kontrasepsi yang harus dilakukan dalam kurun waktu tiga bulan sekali, ini merupakan salah satu alat kontrasepi hormonal yang mengandung progestin. Progestin sendiri yaitu hormon yang menyerupai hormon progesteron yang diproduksi oleh ovarium. Setelah pasien menerima suntikkan ini, progestin memiliki efek mengentalkan leher rahim sehingga sel ****** sulit bergerak ke arah rahim. Hormon ini juga mencegah ovulasi dan membuat dinding rahim tidak kondusif bagi sel telur yang telah dibuahi.”


            “A-apakah aku masih bisa mengalami menstruasi?” dengan malu dan sedikit ragu Brenda bertanya.


            Dokter itu sedikit tersenyum, ia memaklumi pasiennya yang tentu saja tidak mengerti tentang hal ini.


            “Penyuntikkan alat kontrasepsi sejenis ini menyebabkan terjadinya perubahan siklus menstruasi, baik menjadi lebih panjang atau lebih pendek. Kontrasepsi hormonal menekan penebalan dinding rahim yang biasanya luruh dalam bentuk darah menstruasi, sehingga tidak ada darah yang harus diluruhkan. Ini adalah efek samping yang tidak perlu pasien khawatirkan, ini adalah efek samping umum dan biasa.”


            Ada sedikit rasa tenang yang Brenda rasakan setelah mendengar penjelasan dari dokter itu. Setidaknya obat yang akan disuntikkan ke dalam tubuhnya tidak berbahaya.


            “Cepat lakukan tugasmu, dan lagi pula. Kau tidak perlu menjelaskan secara terperinci pada wanita itu!” sambar Nicolas dengan nada suaranya yang menajam penuh perintah.


            Dokter itu hanya terdiam membisu, ia segera mengoleskan lengan atas Brenda dan mulai menancapkan jarum suntik itu. Kulit lengan Brenda merasakan tembusan dari jarum suntik yang begitu kecil dan runcing, saat jarum itu menembus kulit lengannya Brenda sedikit meringis.


            “Kalau sudah selesai cepatlah pergi!” dengan tidak sopan dan tidak tahu dirinya, Nicolas mengusir dokter itu


setelah dokter itu mencabut jarum suntik dari lengan Brenda.


            “Baik, Tuan. Oh saya harus memberi tahu Anda, Tuan. Nona ini harus melakukan suntik ulang setiap tiga bulan sekali sesuai dengan aturan. Apakah saya perlu menjadwalkannya ulang?”


 


"Tidak perlu, lagi pula tidak akan ada yang tahu kalau wanita itu akan tetap hidup atau tidak selama tiga bulan ke depan." Nic langsung membantah saran dokter itu tanpa memikirkan ke depannya.


 


            Nicolas kemudian memberikan isyarat pada dokter itu agar segera keluar dari ruangannya. Setelah dokter itu benar-benar ditelan oleh pintu besar ruang kerja milik Nic, pria itu bangkit dari kursi kerja kesayangannya yang sedari tadi ia duduki. Ia melangkahkan kakinya ke sofa di mana Brenda sedang menundukkan kepalanya dengan jari-jemari yang memilin pakaiannya sendiri.


            “Jack jangan lupa kunci pintu itu!” titah Nic yang menjatuhkan bokongnya di hadapan Brenda dan Jack melakukannya.


            “Sekarang kau akan melakukan tugasmu untuk melayani kami berdua, dan kujamin. Brandon, pria yang menjadi kakak kandungmu itu akan baik-baik saja.”


            “Bi-bisakah aku tidak melakukannya sekarang?” tanya Brenda dengan takut-takut.


            Nicolas mendecih dan tersenyum mengejek perkataan Brenda barusan.


            “Kenapa? Kau ingin Brandon menerima siksaan lagi karena wanita pembangkang sepertimu, hm?”


            “Bu-bukan itu maksudku. A-aku akan melakukannya, tetapi jangan sekarang. A-aku merasa tubuhku masih merasakan sakit, ja-jadi aku tidak ingin melakukannya sekarang.”


            “Kau tidak dalam posisi bernegosiasi denganku, kau hanya ****** kecilku yang harus mengikuti semua keinginanku. Dan sekarang, cepat lepas semua pakaianmu dan kemarilah!”


            Brenda sungguh tidak ingin Nicolas dan Jack melakukan itu sekarang kepadanya, tubuhnya masih merasakan nyeri dan sakit karena perlakuan Nic kemarin dengan membabi buta. Dan bisa dipastikan jika saat ini ia mengiyakan keinginan Nic, pria itu akan melakukannya dengan sama membabi butanya seperti kemarin.


            “Tunggu apa lagi?!” bentak Nic.


            Brenda tersentak saat mendapatkan bentakan keras dari Nicolas, pria itu begitu tidak sabaran demi mendapatkan apa yang ia inginkan. Ini terlalu sulit untuk ia lakukan, Brenda tidak siap bila harus membuka seluruh pakaian yang menutupi tubuhnya. Demi Tuhan! Ia tidak akan pernah siap akan semua ini.


 


Geram. Nicolas langsung menarik tubuh Brenda agar mudah menjangkaunya. Jika Brenda merasa kesusahan melakukannya, maka dengan senang hati Nicolas akan membantu Brenda tanpa merasa sungkan. Sementara Jack langsung mengalihkan pandangannya ke sembarang arah, tak berniat memandangi hal seperti itu.



Jack mendekati dua manusia yang sedang mencoba mereguk kenikmatan dunia tanpa memikirkan sekelilingnya. Sama seperti Nicolas, Jack juga menyukai bagaimana rasa dari bibir Brenda. Rasanya terlalu khas dan begitu langka, sulit untuk dilupakan bagi pria yang pernah mencicipinya. Contohnya saja Jack dan Nicolas. Mereka berdua seolah kecanduan rasa yang khas dan langka itu.



Setelah bagian Nic selesai, kini giliran Jack yang memainkan permainannya sendiri. Sama seperti biasanya, Jack akan bermain sedikit lembut. Menyalurkan sedikit rasa aman bagi Brenda setiap kali ia bermain. Mengusap bulir\-bulir keringat di kening Brenda dengan sentuhan yang begitu lembut. Dan semua itu tak luput dari pandangan Nicolas, pria itu hanya bergeming tak memberikan komentar apa pun.



"Sial!" umpat Jack yang merasakan sebentar lagi akan mendapatkan puncaknya. Baiklah! Biarkan semua itu berjalan dengan cepat agar penderitaan itu segera selesai untuk saat ini.



Jack selesai.


Nicolas melemparkan lembaran kain yang tak lain adalah pakaian milik Brenda kasar sampai menimpa wajah Brenda, dan itu terasa sakit. Tapi tak sebanding dengan rasa sakit deritanya itu.



"Pakai pakaianmu kembali! Dan enyahlah dari ruangan ini!" Usir Nicolas.



Dengan susah payah, Brenda bangkit dari atas sofa dan mencoba memakai kembali pakaiannya dengan lengkap seperti semula. Meskipun kakinya terasa seperti agar\-agar, ia tetap bertahan. Ia tak ingin berlama\-lama berada dalam satu ruangan dengan dua pria terjahanam yang pernah ia temui di muka bumi ini.



Jack menuangkan alkohol ke dalam gelas bekas Nicolas. Menenggak habis alkohol itu, seolah alkohol itu adalah air minum biasa. Kerongkongannya terasa terbakar saat ia menenggak cepat alkohol itu. Seharusnya Jack menelan dan menikmati minuman beralkohol tinggi itu dengan santai, agar cita rasanya tetap terjaga.



Setelah selesai, Brenda bersiap untuk berlari menuju pintu ruangan kerja pribadi Nic. Tetapi langkah kakinya terhenti saat Nic mencekal dan menarik pergelangan tangan Brenda sehingga tubuh mereka saling membentur satu sama lainnya.



"Kembali ke tempatmu dan jangan bertingkah!" Sebagai ucapan perpisahan, Nic \*\*\*\*\*\*\* bibir Brenda sekali lagi dan menggigitnya cukup kencang membiarkan Brenda mengeluh sakit.



"Enyahlah!" sekali lagi Nicolas mengusir Brenda dan langsung disambut gerakan cepat dari Brenda. Ia berlari ke arah pintu dan menutupnya dengan tergesa\-gesa.



"Sialan! Aku tidak bisa berhenti untuk tidak menyiksanya. Kau merasakan hal yang sama?" tanya Nic pada Jack yang masih setia menenggak alkoholnya.



Jack mengangkat bahunya tak acuh.


"*I don't know*. Mungkin itu perasaanmu saja." tukas Jack kemudian menyimpan gelas kosong itu di atas meja.