BRENDA HEATHER

BRENDA HEATHER
Part 3


            Pria tampan itu menjepit dagu Brenda dan memaksanya untuk menatap wajah pria tampan itu.


            “Salahkan kedua orang tua sialanmu yang sudah mati itu! Jika saja mereka tidak melakukan kesalahan itu, kau tak akan pernah melihat pria yang tergantung itu sekarat.”


            Brenda tidak bisa menjawabi ucapan pria tampan itu. Ia hanya mampu terdiam dengan kedua mata yang masih mengucurkan air matanya turun membasahi pipinya.


            “Jawab aku, sialan!” pria tampan itu mengeratkan jepitannya di dagu Brenda membuatnya meringis.


            “Aku sungguh tidak mengerti apa yang kau ucapkan. Kesalahan apa yang telah orang tua kami lakukan terhadapmu sehingga membuatmu melakukan ini terhadap kami?” tanya Brenda pada akhirnya. Ia butuh penjelasan dari pria yang tak ia kenali sama sekali itu. Seingatnya, kedua orang tua Brenda adalah orang yang begitu baik. Tidak pernah melakukan hal-hal yang dapat membuat orang lain melakukan kejahatan seperti ini. Meskipun kedua orang tuanya adalah orang yang biasa saja, tetapi mereka begitu menghargai orang lain.


            Tidak mungkin orang tuanya berbuat yang tidak-tidak sampai membuat pria yang ada di hadapannya ini melakukan kekejaman tak terperi pada Brandon.


            “Hh...” pria itu mendengus.


            Tanpa menjawab pertanyaan dan memberikan penjelasan, pria tampan itu memaksa Brenda untuk berdiri dan menyeret Brenda keluar dari ruangan itu. Kembali menyusuri ruangan gelap, menaiki tangga yang sama gelapnya, melewati lorong yang panjang dan masih gelap.


            Tiba di sebuah pintu besar berwarna putih tulang, pria itu mendorong tubuh Brenda agar masuk ke dalam. Tubuh Brenda yang didorong dengan tenaga yang cukup kuat baginya, harus tersungkur ke lantai ruangan yang ada dibalik pintu putih tulang tadi.


            “Lihat di sana!” tunjuk pria itu. Brenda mengikuti arah telunjuk pria tampan itu.


            “Kau lihat?! Wanita yang terbaring di sana adalah kekasihku, karena kedua orang tuamu yang sudah lama mati itu menyebabkan kekasihku terbaring seperti mayat. Alat-alat medis terpasang di seluruh tubuhnya demi membantunya bertahan hidup selama dua tahun terakhir ini. Beruntungnya dua orang tuamu mati saat itu juga sehingga aku tidak bisa membunuh mereka.” Setiap kata yang tersusun menjadi kalimat-kalimat membuat Brenda membulatkan matanya tak percaya.


            Apa yang dilakukan kedua orang tuanya? Lalu, siapa wanita cantik itu? Brenda masih bisa melihat dengan jelas, wanita yang terpasang alat-alat penunjang kehidupan itu masih terlihat cantik. Saja seluruh tubuhnya yang terlihat pucat tak memiliki cahaya sedikit pun.


            “Ti-tidak. Kedua orang tuaku tidak akan pernah melakukan hal buruk pada orang lain.” Brenda membantah pernyataan dari pria tampan itu membuat pria itu tersulut emosinya.


            Pria itu menjambak rambut Brenda dan memaksanya berdiri.


            “Lihat, kau lihat dia baik-baik! Apa menurutmu orang tuamu yang sudah mati itu tidak akan pernah melakukan ini pada kekasihku, huh?” pria itu meraung membuat suaranya yang menggelegar memenuhi ruangan itu.


            “Jika saja Ayahmu mampu mengendalikan mobilnya, kekasihku tidak akan mengalami hal menyedihkan seperti ini. Jika saja kedua orang tuamu tidak pergi ke Manhattan, kekasihku tidak akan mengalami kecelakaan yang mampu merenggut kehidupannya yang sempurna. Mungkin saja kekasihku masih bisa menemaniku di sini sampai sekarang. Aku hanya bisa melihatnya terbaring seperti tak bernyawa. Kau, dan pria yang bernama Brandon


itu harus menerima apa yang seharusnya kedua orang tua kalian lakukan dulu.” Bagai sebuah janji yang harus ditepati, pria tampan itu mengucapkannya penuh dengan tekad yang kuat.


            “Lepaskan aku! Ini sakit.” Brenda meringis seiring tangan pria itu yang semakin mengeratkan jambakannya di rambut Brenda.


            “Kau sudah melihat bagian Brandon, dan sekarang. Kau yang akan menerima giliranmu.” Pria itu menyeret tubuh Brenda dengan tangan yang masih menjambak rambut gadis itu.


            “Kumpulkan semua anak buahmu, dan panggil Jack kemari!” titah pria itu saat Jacob berdiri berjaga di depan pintu kamar itu.


            “Baik, Tuan.” Jacob segera melakukan tugasnya dan memanggil Jack, asisten sekaligus sahabat pria tampan itu untuk segera datang.


***


            Tubuh Brenda dihempaskan ke atas ranjang sampai tubuh mungilnya sedikit terhenyak. Ia menyentuh kepalanya masih merasakan denyutan bekas jambakan kuat dari pria tampan itu. Brenda beringsut ke ujung sisi ranjang untuk menjauhi pria tampan itu.


            Suara pintu yang diketuk segera terbuka saat pria tampan itu menyuruh seseorang dibalik pintu itu untuk masuk.


            “Semuanya sudah siap, Tuan.” Ucap Jacob dengan tubuh yang berdiri tegap.


            “Jack?”


            “Tuan Jack sudah tiba.” Pria tampan itu hanya mengangguk kemudian mengisyaratkan agar Jacob segera pergi dari sana.


            “Nic?” sapa pria yang bernama Jack itu.


            “Kita akan melakukannya sekarang.” Ucap pria tampan yang dipanggil dengan sebutan nama Nick itu.


            “Di depan seluruh anak buahmu?!” Jack tidak yakin dengan ucapan Nic, tidak mungkin pria itu akan melakukannya di depan seluruh anak buahnya.


            “Aku mengubah rencanaku, dia harus mendapatkan yang lebih menyakitkan sampai dia menyerah untuk hidup dan menyerahkan nyawanya untukku.” Jelasnya tanpa ragu.


            “Kau gila, Nic! Kau dan aku hanya perlu menyetubuhinya, kita hanya perlu berbagi tanpa harus melakukannya di depan anak buahmu!” seru Jack. Nic memang terdengar tak masuk akal bagi Jack.


            “Permainan akan semakin menyenangkan jika ruangan ini dipenuhi dengan teriakannya dan rasa frustasinya.” Nic menyeringai kejam dengan mata yang melihat Brenda yang semakin mengerut ketakutan setelah mendengar niatan kedua pria tampan itu.


            Tanpa basa-basi lagi, Nic segera menerjang kaki Brenda dan menariknya sampai Brenda harus terjengkang ke belakang. Tubuhnya terlentang di atas lantai yang mewah.


            “A-apa yang akan kau lakukan?” Brenda meronta-ronta saat Nic mulai melancarkan aksinya. Pria itu mencengkeram kedua pergelangan tangan Brenda ke atas dan mulai mencium bibir Brenda dengan kasar. Sementara Jack hanya memandangi mereka berdua dengan mata yang menatap tak percaya.


            Sebejad-bejadnya Jack, ia tak pernah membayangkan akan menyetubuhi seorang gadis di hadapannya semua orang. Ia akan membawa ******-jalangnya ke ruangan tertutup dan mendesah nikmat demi mencapai puncak kenikmatannya tanpa ada seorang pun yang melihat adegan panasnya.


            Sama seperti Jack, Jacob baru kali ini dipaksa untuk menonton adegan live percintaan di hadapannya. Ah, ini bukan percintaan tetapi pelecehan seksual yang dilakukan oleh bosnya terhadap seorang gadis polos yang tak tahu apa-apa.


            “Tolong, lepaskan aku! Jangan lakukan ini padaku!” Brenda terisak dengan tubuhnya yang terus menerus menerima serangan dari Nic tanpa henti. Pria itu mencumbui leher Brenda dan meremas kuat dua gundukan kenyal milik Brenda.


            “Apa yang kau lakukan, Jack?! Cepat lakukan tugasmu dan kita selesaikan bersama!” seru Nic disela-sela aktivitas bercumbunya.


            Dengan ragu Jack segera melangkah, berlutut didekat tubuh Brenda yang sedang meronta-ronta. Nic kembali melancarkan aksinya, ia melepaskan pakaiannya satu persatu tanpa jeda. Membuat Brenda semakin ketakutan dengan apa yang akan ia terima saat ini. Melihat itu, Jack sedikit terenyuh untuk tak menuruti keinginan Nic.


            Sejujurnya, Jack tidak perlu mencampuri urusan Nic dan gadis itu. Tetapi, karena janjinya dari dulu untuk


mengikuti dan membantu Nic membalaskan dendamnya atas keadaan kekasihnya. Mau tidak mau Jack harus turut andil dalam adegan pelecehan seksual ini.


            Nic kali ini sudah telanjang bulat, ia tak memikirkan tanggapan dari seluruh bawahannya saat ini. Ia tidak peduli bahwa saat ini ia sedang telanjang bulat di hadapan seluruh bawahannya. Tangannya tergerak untuk melepaskan pakaian Brenda satu persatu, tetapi tangan mungil Brenda menghalaunya.


            Meskipun sudah tak ada lagi harapan untuk Brenda untuk lolos dari pria bernama Nic itu, setidaknya Brenda masih mampu berusaha untuk meloloskan diri dari cengkeraman jahanam pria itu.


            Jack mulai melepaskan seluruh pakaiannya dengan ragu, sementara Nic mulai kembali mencumbu seluruh tubuh Brenda yang sudah polos tanpa penghalang yang menutupi tubuhnya.


            “Jacob, cepat lakukan tugasmu sampai tuntas!” titah Nic setelah menjauhkan tubuhnya dari tubuh Brenda, kali ini Jack-lah yang berganti tugas dengan Nic untuk mencumbu Brenda.


            Gadis mungil itu sudah tak berdaya, seluruh tubuhnya sudah dipenuhi dengan tanda-tanda merah dari kedua pria yang sama sekali tak ia kenali. Perintah yang Nic maksud adalah untuk merekam seluruh adegan itu dari awal sampai akhir, dan menyerahkan hasilnya pada Brandon. Ia ingin membuat pria bernama Brandon itu frustasi melihat adik kandungnya diperlakukan dan dilecehkan sedemikian rupa.


            Nic-lah yang pertama kali merenggut dan merobek selaput darah milik Brenda. Saat Nic menghujam tubuh Brenda dengan buasnya layaknya binatang yang mendapatkan mangsa, Brenda hanya menjerit kesakitan dan berteriak frustasi akan nasibnya yang tak pernah terlintas sedikit pun di benaknya.


            Setelah beberapa kali mendapatkan puncak kenikmatannya, Nic segera menjauhkan tubuhnya dan kembali berpakaian. Giliran Jacklah yang menyatukan tubuhnya dengan tubuh Brenda, bahkan disaat Brenda sudah hampir kehilangan kesadaran dirinya. Nic tetap memaksa Jack untuk menyetubuhi gadis mungil yang baru saja berubah menjadi seorang wanita mungil.


            Jack melakukannya, menikmati sensai yang berbeda dari tubuh mungil milik Brenda dengan kedua matanya yang terpejam erat menikmati aksinya sendiri. Beberapa kali Jack menyemburkan benih-benih unggulnya ke dalam rahim Brenda. Setelah adegan itu selesai, Jack kembali berpakaian dan meninggalkan semua orang tanpa sepatah katapun.


            “Kalian pergilah!” Nic menyuruh seluruh anak buahnya yang baru saja selesai menonton adegan pelecehan seksual itu untuk segera pergi.


            Nic mengangkat tubuh Brenda dan memindahkannya ke ruangan lain. Ruangan itu bukanlah ruangan yang berbentuk kamar disaat Brenda pertama kali terbaring. Ruangan itu sama seperti ruangan yang Brandon tempati, tetapi ruangan itu terlihat cukup layak bagi Brenda. Nic memakaikan pakaian Brenda dengan wajah datarnya setelah ia membersihkan tubuh Brenda sebelumnya.


            Ia tak pernah menyangka jika merenggut keperawanan seseorang akan senikmat ini. Nic terbiasa bercinta dengan wanita yang sudah berpengalaman, bahkan kekasihnya pun. Saat pertama kali mengajaknya bercinta, wanita itu sudah tak lagi perawan. Nic tidak pernah mempermasalahkan kekasihnya yang sudah tak perawan itu, karena ia menyadari bahwa dirinya tak lebih baik dari kekasihnya.