BRENDA HEATHER

BRENDA HEATHER
Part 9


Gimana, masih minta lanjut apa nggak nih? Ceritanya seru gk sih? Takutnya gak seru, kan males banget updatenya... 


Happy reading, guys !!!


***


         Ada perasaan lega di dalam hati Brenda saat Nicolas bersedia melepaskan Brandon dan mengeluarkan kakaknya dari area mansion terkutuk itu. Kedua tangannya terulur merengkuh tubuh Brandon saat orang suruhan Nic membantu Brandon untuk berdiri meskipun pada kenyataannya Brandon sudah tak mampu lagi untuk berdiri dengan benar. Nyawanya hampir saja hilang jika saja Brenda tak segera membuat permohonan menyedihkan itu, dan langsung disetujui oleh Nicolas.


            Brenda memeluk kakaknya untuk sesaat dengan cukup erat sebelum melepas kepergian kakaknya atas nama kebebasan.


            “Kau akan menjalani kehidupan yang normal setelah ini, Brandon. Jika aku tak pernah kembali ke sisimu, kau harus menemukan pengganti diriku sebagai pasangan hidupmu! Aku menyayangimu, brother!” Brenda mencium pipi Brandon sekilas, dan langsung disingkirkan dengan kejam oleh orang suruhan Nic.


            Kedua matanya menatap kepergian Brandon yang diapit dari kedua sisi oleh pria-pria bertubuh kekar itu. Memasuki mobil berwarna hitam kelam dan kali ini Brenda benar-benar melepaskan kepergian kakaknya demi kebebasan yang telah ia tukar dengan nyawanya itu.


            Tubuhnya berbalik kembali melewati pintu ganda besar nan menjulang tinggi berniat untuk kembali ke kamar tidurnya. Tetapi suara mengegelegar Nicolas membuat langkah Brenda terhenti.


            “Kau mau ke mana?” spontan Brenda langsung mencari arah sumber suara, nyatanya Nicolas berdiri di antara anak-anak tangga menuju kamarnya berada.


            “A-aku ingin kembali ke kamarku.” Brenda tidak berani untuk menatap mata Nic yang terlihat menyeramkan untuknya. Katakanlah jika Brenda terlalu penakut, pengecut, tidak berani melawan walau sedikit saja. Brenda bukannya tak berani untuk melawan pria bernama Nicolas itu, ia hanya terlalu menyayangkan nyawanya jika harus direnggut secepat itu.


            Setidaknya Brenda ingin menikmati sisa umurnya yang kapan saja bisa diambil oleh Nicolas secara paksa.


Kemungkinan besar, jika Brenda melawan Nic saat ini maka pria itu akan menyeret Brandon kembali ke dalam mansion itu dan menyiksanya kembali. Menjadi penurut adalah pilihan yang tepat untuk saat ini.


            “Kamarmu? Apa aku mengatakan bahwa itu masih menjadi kamar milikmu?” sinisnya.


            Brenda barulah mendongakkan kepalanya menatap mata tajam Nic yang menakutkan itu.


            “Apa maksudmu?” tentu saja Brenda bingung dengan maksud ucapan Nic.


            Tanpa mau menjawab pertanyaan Brenda, Nicolas beranjak mendekati tubuh Brenda yang sedang mematung dengan tubuh yang bergetar ketakutan setiap Nic semakin mendekat ke arahnya. Tubuh wanita itu tersentak saat tangan berotot milik Nic mencengkeram lengannya dengan paksa. Brenda melenguh kesakitan karena cengkeraman tangan Nicolas begitu kuat menghantarkan rasa sakit ke seluruh sel tubuhnya.


            Nicolas membawa Brenda melewati beberapa lorong, berbelok ke kanan sekali, kemudian menelusuri lorong panjang lagi sampai lorong panjang itu habis. Tangan Nicolas yang bebas mengambil sebuah kunci dari dalam saku celananya dan memasukkan kunci itu ke dalam lubang kunci. Pintu berwarna coklat kusam itu terbuka, Brenda didorong ke dalam dengan sekali dorongan membuat tubuh mungilnya terjerembab tanpa perasaan.


            Hidungnya mencium aroma tak sedap dari dalam ruangan gelap itu, bau apek, udara kotor yang terasa lembab mengerikan. Nicolas turut masuk ke dalam tanpa perasaan jijik sama sekali. Tangannya mencoba mencari tombol lampu yang menempel di dinding, dan tak lama lampu itu menyala. Brenda mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan itu.


            Brenda meringis melihat kondisi ruangan itu, benar-benar tidak layak untuk seorang manusia tempati, apalagi itu seorang wanita seperti dirinya. Ruangan itu begitu sempit, lebih sempit dari kamar tidurnya yang sebelumnya diberikan oleh Nic. Lampu yang menjadi satu-satunya penerang ruangan itu bahkan nyaris tak mampu memberikan penerangan yang layak.


            Tak ada ranjang sama sekali di dalam ruangan itu, satu-satunya tempat yang akan menjadi ranjangnya adalah lantai kotor penuh dengan debu. Jelas sekali ruangan itu tidak pernah dibersihkan, jangankan untuk dibersihkan. Brenda sendiri yakin jika ruangan itu tak pernah ada yang mengisi, mungkin selain dirinya yang sebentar lagi akan jadi penghuni ruangan itu.


            Di sudut ruangan itu, ada sebuah kamar mandi yang sama parahnya dengan kondisi ruangan itu sendiri. Toilet yang sudah berkerak bahkan terdapat lumut hijau di mana-mana, jaring laba-laba bergelantungan hampir disetiap pojok kamar mandi itu. Gayung yang sudah bocor masih terpajang di sana menjadi satu-satunya alat untuk mengambil air dari dalam bak mandi yang sama kotornya.


            Apakah saat ini Brenda boleh berkata menyesal setelah ia meminta permohonan akan kebebasan kakaknya sendiri, jika tahu Nicolas akan memperlakukannya seburuk itu? Tentu saja Brenda tidak bisa menarik kembali kata-katanya itu, semua sudah terlambat untuk ia menyesal.


            “Malam ini aku akan membiarkan kau sedikit merasa bebas karena tidak perlu melayaniku. Lagi pula aku tidak berniat menyentuhmu di tempat kotor dan menjijikkan seperti ini. Setiap kali aku ingin kau melayani dan menjadi pembuangan benih-benih unggulku, Jacob atau anak buahku yang lainnya akan memanggilmu dan membawamu ke tempat yang layak. Tetapi setelahnya, kau akan dibuang kembali ke tempat jorok ini. Kau mengerti?” sekian banyak kalimat yang diucapkan oleh Nicolas tidak membuat Brenda mendengarkannya. Wanita itu terlalu sibuk meneliti setiap sudut ruangan kotor itu, dan berulang kali pula Nicolas mendengar helaan napas berat yang keluar dari mulut Brenda.


            “Apa kau mendengarku, ******?” desis Nicolas dengan tajamnya.


            Brenda menganggukkan kepalanya dengan cepat meskipun ia masih merasakan sakit di kepalanya, rambut-rambutnya hampir saja tercabut dari kulit kepalanya jika saja ia tak segera menganggukkan kepalanya.


            “Bagus.” Nicolas melepaskan jari-jemarinya dan melepaskan rambut Brenda yang terasa lembut di tangannya. Sebelum pergi, Nicolas sempat mencium Brenda dan ********** kasar.


            Suara pintu yang ditutup dengan kencang membuat Brenda terperanjat, ruangan itu terasa semakin pengap saat pintu itu ditutup oleh Nicolas dari luar. Ruangan itu tidak memiliki celah hanya untuk sekadar membiarkan udara segar atau pengap itu keluar masuk dari ruangan kecil itu. Mulai saat ini, detik ini juga, kehidupan Brenda akan semakin menyedihkan.


***


            “Kau gila? Kau membiarkan wanita itu di ruangan kotor seperti itu? Jika pun iya, seharusnya kau membiarkan dia tidur dengan alas tidur yang layak. Kau membiarkan dia tidur di lantai kotor seperti itu, bahkan kau membiarkan dia tinggal di dalam ruangan yang sudah kuduga banyak sekali hewan pengerat menjijikkan di sana.” Jack berseru tak percaya saat ia tahu bahwa Nicolas menempatkan Brenda di tempat yang tidak layak untuk wanita itu.


            “Dia sendiri yang meminta kebebasan untuk kakaknya dengan menukar kehidupannya di sini. Dan itu layak sebagai pengganti kebebasan yang aku berikan terhadap kakaknya. Seharusnya dia bersyukur aku masih membiarkannya tinggal di tempat seperti itu dan tidak mengulitinya saat ini juga.”


            Jack mengerang frustasi dan menjambak rambutnya sendiri. Ia merasa gemas mendengar setiap ucapan Nic yang tak masuk akal itu. Memang Brenda menukar kehidupannya demi kebebasan untuk kakaknya, tetapi tak seharusnya Nicolas membiarkan wanita itu tinggal di dalam ruangan yang mengerikan itu.


            “Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang?” tanya Jack setelah ia berhasil menormalkan kembali kefrustasiannya itu.


            “Memang apa yang harus aku lakukan?” tanya balik Nicolas terdengar acuh tak acuh.


            Jack menggelengkan kepalanya. “Maksudku, setelah kau membiarkan dia di sana. Apa yang selanjutnya akan kau lakukan? Kau tak mungkin memiliki pikiran untuk menyiksanya, bukan?” Jack sendiri merasa ragu dengan pertanyaannya yang ia lontarkan sendiri.


            Nicolas terkekeh geli mendengarnya, tangan kanannya menggoyangkan gelas berisi anggur merah kemudian ia tenggak isinya sampai habis.


            “Kedengarannya itu ide yang bagus.” Jack tercengang mendengar penuturan Nicolas.


***


Brenda Heather



Nicolas Phyllis


 



Jackie Colleen