BRENDA HEATHER

BRENDA HEATHER
Part 11


Yuk bantu share biar yang lain juga pada baca cerita ini !!!


Jangan lupa tambahkan ke favorit, like, komentar dan rating bintang 5 nya... 


Happy reading, guys...


***


            Jack memandangi sekujur tubuh Brenda yang sedang terkulai lemah, tubuh yang sedang bertarung memperjuangkan antara hidup dan mati. Mungkin orang-orang akan mengira Brenda sudah mati jika tak memeriksa denyut nadinya masih ada atau tidak. Suara napasnya begitu pelan nyaris tak terdengar oleh siapa pun, termasuk Jack.


            Ia berjongkok di depan tubuh Brenda yang sama sekali tak bisa menyadari ada seorang pria yang berada di dalam ruangannya. Satu tangannya bergerak menyibak rambut Brenda yang menutupi wajah wanita itu. Brenda bergumam tak jelas dengan kening yang berkerut saat tangan Jack menyibakkan rambut Brenda.


            Jack tentu saja tak akan pernah menyangka jika wanita bertubuh mungil itu akan bertahan sampai detik ini setelah segala macam penyiksaan yang diterima oleh tubuh mungilnya itu. Jack memperkirakan bahwa Brenda akan segera meregang nyawa setelah beberapa kali menerima siksaan dari Nicolas, rupanya semua perkiraannya yang salah harus ditelan kembali olehnya.


            Justru wanita bertubuh mungil itu mampu bertahan meskipun sudah hampir sekarat. Ia berharap, walau sehari saja Nicolas tidak menyentuhkan tangannya untuk memberikan siksaan tak terperi kepada Brenda dan tak memaksakan kehendaknya untuk menyetubuhi Brenda. Maka jika itu terjadi, Jack akan bersyukur dan akan mengikuti segala keinginan Nic.


            Harapan hanyalah harapan. Bahkan baru saja harapan itu mengudara untuk menggapai sang pencipta, pintu ruangan itu terbuka dan sosok pria bernama Nicolas masuk. Jack langsung berdiri dan berbalik menghadap Nic yang saat ini sedang menatapnya dengan tatapan menyelidik. Jack yakin jika saat ini Nicolas akan melakukan sesuatu yang buruk terhadap wanita itu.


            “Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Nicolas curiga.


            “Tak ada. Aku hanya memeriksa wanita itu masih hidup atau tidak.” Nicolas terkekeh.


            “Kau menyukainya?” Jack langsung melotot mendengarnya.


            “I’m not!”


            “Baguslah jika kau memang tidak menyukainya. Akan merepotkan jika kau sampai jatuh cinta pada wanita itu.” Nicolas berjalan melewati tubuh Jack yang hanya diam seperti patung.


            Nicolas berjongkok memperhatikan tubuh Brenda yang memiliki banyak luka di sekujur tubuhnya, entah itu ulahnya secara langsung atau ulah anak buah yang ia perintahkan untuk menyiksa Brenda. Wanita itu tidak akan pernah menyadari jika saat ini di dalam ruangan yang sama, ada Jack dan juga Nicolas yang sedang menatapnya. Yang satu menatap penuh prihatin, sementara yang satunya lagi menatap penuh rasa benci diselimuti rasa dendam.


            Di saat Nicolas dan Jack sedang memperhatikan tubuh Brenda, suara erangan kesakitan kembali terdengar yang berhasil lolos dari mulut Brenda. Meskipun suara erangan itu tidak terlalu keras, tetapi mereka berdua dapat mendengar jika Brenda memang baru saja mengerang kesakitan.


            Jari-jemari Brenda bergerak, tubuhnya mulai bergerak dengan susah payah tetapi kedua mata itu masih terpejam. Erangan demi erangan terus keluar dari mulut Brenda.


            “Apa yang terjadi padanya?” Jack bertanya seraya mendekati Nicolas yang masih berjongkok dan memperhatikan Brenda tanpa berniat untuk mencari tahu apa yang terjadi pada wanita itu.


            “Dia hanya sekarat.” Betapa entengnya Nic mengatakan itu. Menganggap nyawa Brenda hanyalah hal yang tidak perlu dikhawatirkan.


            Jack langsung berjongkok dan meraba kening Brenda. Panas. Kening wanita itu sangat panas, wanita itu mengalami demam. Mungkin itu efek luka-luka yang tidak diobati dengan benar, atau karena tubuhnya yang mengisi ruangan kotor. Sehingga bakteri dan kuman-kuman begitu mudah menggerogoti tubuh Brenda. Ditambah luka-luka yang menganga, otomatis memudahkan kuman dan bakteri merambat masuk ke dalam tubuhnya melalui luka-luka yang menganga itu.


            “Kita harus membawanya ke rumah sakit!” ucap Jack dengan menatap Nic penuh harap akan kemurahan hati sahabatnya itu.


            “Tidak perlu!”


            Jack langsung terperangah mendengarnya. Apa maksud ucapan Nicolas itu? Ia akan membiarkan wanita bertubuh mungil itu mati, begitu? Itu bukan hal yang patut Jack dengar sama sekali.


            “Tidak! Aku akan tetap membawanya ke rumah sakit. Dia demam, dia akan mati jika terus seperti ini.” tanpa sadar Jack menaikkan nada suaranya.


            “Itulah yang aku harapkan.” Jawab Nic santai.


            “Kalau dia mati, bukankah kau tidak akan pernah memberinya siksaan lagi? Dia akan mati dengan mudah kalau begitu.” Hanya itulah jalan satu-satunya agar Nic mengizinkan Jack membawa Brenda ke rumah sakit. Jika membuat wanita itu menderita adalah jalan yang terbaik, maka Jack akan membiarkannya dari pada wanita itu mati begitu saja.


            “Kau benar. Akan tidak seru kalau wanita itu mati lebih cepat.” Nicolas memberikan isyarat agar Jack segera menggendong tubuh Brenda dan membawanya ke rumah sakit.


***


            Setibanya di rumah sakit, Brenda langsung ditangani oleh dokter secepatnya. Sudah sekitar 30 menit dokter berada di dalam ruangan itu untuk memeriksa kondisi tubuh Brenda. Tak lama, dokter itu keluar dan langsung menghampiri Jack di sana. Tentu saja Nicolas tidak akan repot-repot mengantar Jack dan Brenda ke rumah sakit, apalagi untuk menunggui wanita itu.


            “Pasien hampir saja kehilangan nyawanya jika saja Anda tidak segera membawanya ke rumah sakit. Luka-luka yang berada di sekujur tubuhnya sudah terinfeksi karena tidak mendapatkan pengobatan yang layak. Sehingga menyebabkan bakteri serta kuman menyerang daya tahan tubuhnya. Tubuhnya lemah, Pasien harus dirawat selama beberapa hari ke depan.”


            “Apa sekarang dia sudah lebih baik?” tanya Jack setelah mendengarkan penjelasan dari dokter itu.


            “Untuk saat ini Pasien masih dalam pengaruh obat bius, dan tentu saja setelah mendapatkan perawatan yang lebih baik Pasien akan baik-baik saja.”


            Jack mengangguk, kemudian dokter itu masih menjelaskan yang lainnya yang masih memiliki sangkutannya dengan keadaan Brenda. Jack meminta dokter itu memindahkan Brenda ke ruangan VVIP agar Jack bisa lebih leluasa untuk mengawasi Brenda.


            Sesuai dengan permintaan Jack, dokter menyetujuinya dan langsung memindahkan Brenda ke ruangan VVIP. Jika Nicolas tidak ingin mengeluarkan uang sepeser pun, tak akan menjadi masalah untuk Jack. Ia yang akan menanggung seluruh biaya pengobatan Brenda.


            Brenda terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit itu, tetapi ada sedikit kelegaan saat Jack memperhatikan tubuh Brenda. Luka-luka di tubuhnya sudah ditangani dengan benar sesuai dengan prosedur rumah sakit. Tubuhnya sudah dibersihkan, sehingga wajah cantik murni Brenda yang memancarkan betapa polosnya Brenda kembali terlihat seperti semula.


            Jack duduk di kursi samping ranjang itu dengan kedua tangan yang bersidekap, mata yang tak henti-hentinya memperhatikan Brenda. Setelahnya, Jack membuang napasnya sedikit merasa lega. Kedua telapak tangannya menangkup wajahnya sendiri, mengusapnya berulang kali kemudian ia kembali menatap tubuh Brenda.


            Pintu ruangan terbuka, ia pikir perawat atau dokter yang datang. Nyatanya Nicolas-lah yang datang.


            “Kau datang?” tentu saja pertanyaan itu tidak membutuhkan jawaban, karena jawaban itu sendiri sudah jelas ada di hadapan matanya.


            “Bagaimana kondisinya?” Nicolas tak berniat menjawab, ia malah melayangkan pertanyaan pada Jack.


            “Dia sudah lebih baik sekarang, tetapi masih dalam pengaruh obat bius. Dia hampir saja mati jika aku telat


sedikit saja membawanya ke rumah sakit.” Jack sedikit memberi nada sinis dan tak sukanya terhadap Nic yang malah diabaikan begitu saja.


            Nicolas mengeluarkan tiga buah borgol, yang mana itu membuat tanda tanya besar bagi Jack.


            “Kau, apa yang akan kau lakukan?” Jack menangkap tangan Nic sebelum pria itu mendekati ranjang yang menampung tubuh Brenda itu.


            “Tentu saja membuat wanita itu tidak bisa kabur.”


            “Kau pikir dia akan kabur setelah sadar? Bahkan tubuhnya hampir saja meregang nyawa, dia tak akan memiliki pemikiran untuk kabur. Kau sudah mengancamnya dengan nyawa serta kebebasan kakaknya sendiri. Kau tak perlu melakukannya!”


            “Siapa sangka jika dia terbangun tiba-tiba pemikiran untuk kabur terlintas di pikirannya? Aku tak ingin


mengambil risiko.”


            Nicolas menghempaskan tangan Jack, ia mulai memborgol tangan Brenda yang terbebas dari selang infus. Serta memborgol kedua kaki Brenda masing-masing ke besi ranjang rumah sakit itu.


            Tentu saja apa yang diucapkan oleh Jack benar adanya. Brenda tidak akan berani melarikan diri ataupun kabur dari cengkeraman Nicolas. Wanita itu terlalu takut untuk melakukannya, ia bukan takut karena nyawanya akan lenyap. Wanita itu takut jika ia memiliki pemikiran untuk kabur, tidak menutup kemungkinan nyawa Brandon-lah yang menjadi taruhannya.


            Wanita itu hanya perlu menunggu Nicolas merasa lelah dan bosan kemudian melepaskan Brenda serta Brandon. Meskipun semua itu entah kapan akan terjadi, setidaknya Brenda harus bertahan demi Brandon. Tuhan tak akan selamanya membiarkan dirinya menerima semua penderitaan dan segala macam siksaan.


            Ia tak berharap Nicolas ataupun Jack mendapatkan karmanya, ia hanya berharap Tuhan segera menolongnya dengan cara membangunkan kembali kekasih Nicolas. Maka kemungkinan Nicolas akan melepaskannya, entah itu dengan cara membunuhnya atau membiarkannya kembali ke sisi Brandon.