
Nicolas menyatukan tubuhnya dengan tubuh Brenda secara paksa dan membabi buta di hadapan Brandon. Brandon menjerit frustasi dan menangis melihat adiknya diperlakukan seperti itu, apa pun ia akan lakukan asalkan beruang polosnya tidak diperlakukan seperti itu.
Setelah Nic mendapatkan kepuasannya, ia mendorong tubuh Brenda sampai tersungkur ke lantai dengan tubuh polosnya yang lemah. Tidak hanya sekali Nic menyemburkan benih-benihnya, tetapi berulang kali ia melakukannya dengan membabi buta. Membuat Brenda kembali kehilangan kesadarannya karena terlalu lelah dan tersiksa karena **** yang membabi buta dari Nicolas.
Nic kembali mengenakan pakaiannya, tangannya menjentikkan isyarat pada Jacob.
“Berikan pria itu hasil yang kau ambil kemarin!”
Hasil yang Nicolas maksud adalah rekaman video disaat ia dan Jack melecehkan Brenda di hadapan seluruh anak buahnya kemarin malam. Tak lama, Jacob datang dengan sebuah ponsel dan menunjukkan hasil rekamannya.
Awalnya Brandon belum bisa melihat dengan jelas isi video itu, tetapi pada menit kedua. Mata Brandon membelalak dan kembali meraung memberontak, ia melihat bagaimana Brenda diperkosa oleh dua orang lelaki dengan seluruh anak buah Nic yang menontonnya secara langsung di sana.
“Keparaaatt... aku akan membunuhmu!”
Jacob mematikan layar ponsel itu dan memasukkannya ke dalam saku celananya. Ia memberikan tamparan keras di pipi Brandon membuat Brandon menerima kesakitan lagi. Nicolas tertawa mengejek Brandon.
“Bukan kau yang akan membunuhku, tapi akulah yang akan membunuhmu secara perlahan. Menjadikan adik kesayanganmu sebagai ****** kecilku, oh jangan lupakan! Dia akan menjadi ****** milikku dan sahabatku, Jack.” Setelah Nic menggendong tubuh telanjang Brenda meninggalkan anak buahnya yang kembali menyiksa Brandon dengan kejam tak terperi.
Nicolas mendengar jeritan-jeritan Brandon yang sedang disiksa, tetapi tak mampu menghentikan langkahnya. Ia menaiki anak-anak tangga itu dan menelusuri lorong lainnya untuk kembali memasukkan Brenda ke dalam kamar kecilnya itu.
“Apa yang kau lakukan padanya?” Jack yang sedang menunggu kedatangan Nic dari tadi akhirnya menghampiri Nic yang sedang menggendong tubuh polos Brenda.
“Aku memperkosanya di hadapan kakaknya. Itu mengasyikkan sekali, membuat sepasang kakak beradik menderita bersama-sama.” Nic tak bisa menutupi niatan buruknya di depan Jack.
Jack menghela napasnya kemudian kembali berucap.
“Biarkan aku yang menggendongnya, kau tunjukkan saja di mana kamarnya!”
Nic tak mau menolak, ia menyerahkan tubuh polos Brenda ke tangan Jack dan memberi tahu letak kamarnya. Nic meninggalkan Jack dan Brenda untuk menemui kekasihnya di kamar rawat yang telah diisi oleh kekasihnya selama dua tahun terakhir ini.
Jack menaruh tubuh telanjang Brenda di atas ranjang kecil nan sempit itu. Bahkan Jack tak bisa sepenuhnya terduduk di atas ranjang itu. Jack menyelimuti tubuh polos Brenda dengan selimut yang mampu memberikan kehangatan untuk Brenda. Pria itu menatap Brenda dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Melihat tubuh polos Brenda, bukannya ia merasa bergairah. Justru Jack merasa kasihan terhadap Brenda. Gadis itu, ah tidak. Wanita itu bahkan terlalu muda untuk Jack dan Nicolas tiduri. Wanita itu baru berusia 22 tahun, sementara Brandon berusia 25 tahun. Berada 1 tahun di bawah Nic dan dirinya.
Brenda dan Brandon kehilangan orang tuanya saat Brenda baru berusia 20 tahun. Bagi Jack, Brenda masih terlalu muda untuk menerima hal sekeji ini. Tetapi Jack tak bisa melangkah mundur karena janjinya yang sudah terikat dengan Nicolas. Mulai saat ini, Brenda akan menjadi salah satu ****** miliknya dan juga Nicolas yang bertugas melayani dan menjadi tempat penyaluran hasrat mereka berdua.
“Kuharap kau bisa bertahan sampai akhir.” Setelah mengucapkan itu, Jack meninggalkan Brenda sendirian di dalam kamar tidur kecilnya itu.
***
Brenda terbangun dipagi harinya karena suara yang cukup bising di telinganya, suara itu berasal dari balik
pintu ruangan kecil yang menjadi kamar tidur untuknya. Tubuh Brenda masih telanjang bulat seperti yang terakhir kali ia ingat. Pria itu, pria jahanam yang telah memaksakan kehendaknya di hadapan Brandon.
Jadi apa yang harus ia perbuat sekarang disaat Brandon sudah melihat sendiri dengan mata kepalanya saat pria itu memaksakan kehendak terhadap dirinya? Brenda tidak tahu kalau Brandon sudah melihat pelecehan dan pemerkosaan yang direkam oleh Jacob pada saat itu. Kesadarannya sudah hilang saat Jacob menunjukkan rekaman video itu pada Brandon.
Brenda bangkit dari ranjang kecil nan sempitnya itu dengan tertaith, kakinya melangkah memaksa masuk ke dalam kamar mandi dan berniat mengguyur tubuhnya dengan air dingin, jika perlu ia akan berdiam diri di bawah pancuran air dingin sampai tubuhnya terasa membeku.
Rasa jijik menyelimuti dirinya, mengingat sentuhan pria itu masih terasa dan menempel di otaknya. Kedua tangan Brenda menggosok seluruh tubuhnya dengan kasar demi menghilangkan jejak sentuhan pria itu. Aroma tubuh pria itu masih saja menempel di tubuhnya, padahal Brenda sudah membalurkan sabun mandi yang cukup banyak ke seluruh tubuhnya sendiri.
“Kenapa aromanya tidak lekas hilang juga? Aku benci mencium aroma tubuh pria itu, aku merasa aku benar-benar menjadi pelacurnya.” Brenda kembali meneteskan air matanya.
Sosok pria lain yang Brenda kenal berdiri di ambang pintu untuk sesaat, kemudian ia masuk ke dalam kamar Brenda yang hanya menatap pria itu takut-takut. Jari-jemari saling bertautan, batinnya terus meminta perlindungan kepada Tuhan. Ia mengingat bagaimana pria itu juga turut melecehkannya di depan banyak orang.
“Aku tahu kau pasti takut dan marah kepadaku, tapi untuk saat ini hilangkan seluruh rasa takut dan marahmu kepadaku! Sekarang, kau harus keluar dan mengisi perutmu. Kau harus bertahan sampai akhir, melakukan tugasmu untuk melayaniku dan juga Nicolas!”
Brenda tahu, ia harus bertahan sampai akhir jika ia menginginkan Brandon keluar dari mansion itu dengan
selamat dan dalam keadaan utuh. Karena itu, ia harus melayani kedua manusia jahanam yang lahir di muka bumi ini dengan terpaksa. Jadi, ia akan mengikuti setiap perkataan kedua pria itu demi keselamatan Brandon.
Tetapi Brenda begitu bingung dengan nama asing yang baru saja ia dengar, tidak sepenuhnya asing. Brenda pernah mendengar kata Nic dari mulut pria itu saat mereka sedang memperdebatkan tentang tindakan pelecehan seperti apa yang akan mereka lakukan.
Seperti bisa membaca pikiran Brenda, Jack langsung memberi tahu Brenda siapa itu Nicolas.
“Pria itu, pria yang kekasihnya jatuh koma selama dua tahun karena kedua orang tuamu. Namanya Nicolas, dan perkenalkan aku. Namaku Jackie, kau bisa memanggilku Jack!”
Meskipun Jack memperkenalkan dirinya terhadap Brenda, wanita itu tidak terlalu mendengarnya dengan baik. Ia hanya mendengar bahwa kekasih Nicolas yang jatuh koma selama dua tahun itu, disebabkan oleh kedua orang tuanya. Tidak bisakah walau sekali saja, mereka tidak menyalahkan kedua orang tuanya yang sudah menghadap Tuhan?
“Karena kau sudah tahu namaku, sekarang keluarlah! Kita akan sarapan bersama, Nic sudah menunggu kita.” Mendengar kata Nic, Brenda tersadar dari lamunannya. Ia mengerjap beberapa kali kemudian menatap Jack dengan mata polosnya. Ada kelebatan ketakutan saat Jack menyebutkan nama Nic.
Pria itu, pria yang akan selalu memaksakan kehendaknya terhadap Brenda dengan membabi buta. Ia takut bertemu dengan pria bernama Nicolas itu. Jack yang mulai kehilangan kesabarannya karena Brenda yang hanya terdiam saja, menarik tangan Brenda dan membawanya ke ruang makan.
Nicolas menatap Brenda dengan tajam saat mereka berdua tiba di ruang makan. Jack melepaskan pegangan tangannya dari tangan Brenda, meninggalkan wanita itu berdiri sendirian seperti patung di sana. Jack menarik kursi di samping Nic dan segera duduk. Jack tak mungkin bersikap baik dan lembut terhadap Brenda, setidaknya disaat ada Nic di antara mereka.
Jack tak seburuk sifat Nic, tetapi karena sudah lama bersahabat dan menjadi asisten pribadi Nic sejak lama pula. Jack harus mengabaikan rasa kepeduliannya terhadap orang lain.
“Kau sedang apa di sana?” bentakkan Nic membuat Brenda terperanjat dan kakinya tanpa sadar telah mundur satu langkah. Sementara Jack, pria itu tetap duduk dengan tenang. Ia sudah terbiasa mendengar Nic yang selalu membentak orang lain jika orang itu melakukan kesalahan.
“A-aku...” Brenda bingung harus menjawab apa.
“Aku apa?” Nic meledek Brenda dengan suara yang terdengar menyebalkan.
“A-aku... a-apa yang harus aku lakukan?” cicit Brenda begitu pelan dengan kepala yang menunduk dalam.
“Duduklah dan makan!” Jack-lah yang menyuruh Brenda untuk segera duduk dan makan.
Dengan kebingungan, Brenda tetap melangkah menuju meja makan. Ia bingung harus duduk di mana. Duduk di samping Jack sama saja seperti ia mendekatkan diri kepada iblis, tetapi jika ia mengambil sisi lainnya yang sama-sama duduk di samping Nic. Ia sama saja seperti menyerahkan diri kepada malaikat pencabut nyawa.
Dengan kemantapan hatinya, Brenda memilih untuk duduk di sisi kanan Nic tetapi memiliki jarak dua kursi kosong yang menjadi penghalang antara Brenda dan Nic. Jack hanya diam tak mengomentari benteng pertahanan Brenda yang nantinya juga akan terasa percuma saja.
Nicolas tersenyum sinis melihat Brenda seolah tidak ingin berdekatan dengannya. Nic dan Jack makan dengan lahapnya seperti biasa, sementara Brenda memakan makanannya dengan nafsu yang tidak karuan. Pikirannya masih melayang terhadap kejadian-kejadian buruk yang menimpa dirinya dan Brandon belakangan ini. Nasibnya begitu buruk karena Tuhan malah membiarkan mereka bertemu dengan kedua pria jahanam itu.
Lamunan Brenda langsung buyar saat Nic menaruh garpu dan sendoknya ke atas piring dengan sedikit kasar menimbulkan bunyi dentingan yang cukup nyaring.
“Jika kau sudah selesai, sekarang saatnya kau melakukan tugasmu sebelum aku dan Jack pergi bekerja.”
Brenda sempat tercengang, ia harus kembali melayani Nic dan Jack. Ini bahkan terlalu pagi untuk melayani mereka berdua.
“Sebelum itu, kau harus bertemu terlebih dahulu dengan dokter yang sudah kupilih untuk memberikanmu suntikan pencegah kehamilan. Aku tidak ingin mengambil resiko bibit unggulku bersarang di ladang yang tidak kuinginkan.” Setelah itu Nic meninggalkan meja makan entah ke mana.
Setidak berharganya 'kah harga diri Brenda saat ini? Ia dipaksa melayani dua pria sekaligus, dan perkataan pria itu yang mengatakan dengan jelas bahwa rahim Brenda sama-sama tidak memiliki harga bagi kedua pria itu. Baiklah, ambil baiknya saja. Brenda juga tidak menginginkan semua ini, maka ia pun tidak menginginkan rahimnya menampung hasil dari bibit unggul yang kedua pria itu tanam.