
Eh, eh, eh,,, lho author malah nongol lagi di sini ya??? iseng-iseng aja sihhh... siapa tau masih ada yg mau baca cerita ini di sini...
Semoga like sama komentarnya yg antusias penuh ya di cerita ini... heheh
Happy reading, guys !!!
***
Sudah berhari-hari Brenda tinggal di kamar kecil nan sempit itu, pun dengan melayani nafsu buas Nicolas serta Jack. Nicolas tidak pernah berhenti untuk tidak menyentuh Brenda walau sedetik saja, tidak ada niatan untuk membiarkan Brenda untuk istirahat walau sejenak saja. Yang menjadi prioritas dari Nicolas adalah bagaimana caranya membuat sepasang kakak beradik itu menderita selama hidupnya, dan tidak memiliki keinginan untuk hidup lagi.
Membiarkan mereka berdua mengakhiri hidupnya sendiri tanpa Nic harus mengotori tangannya itu. Beruntung jika kekasihnya itu segera terbangun dari tidur panjangnya, maka Brenda dan Brandon akan selamat. Ah tidak, tidak sepenuhnya selamat. Brenda dan Brandon akan ia buang sebagaimana mestinya dan membuat sepanjang sisa hidup keduanya penuh dengan derita.
Nicolas memang menepati janjinya saat terakhir kali ia mengatakan bahwa Brandon akan selamat dan dalam keadaan baik-baik saja jika Brenda selalu menuruti setiap perintah dan gairah buas Nicolas tanpa perlawanan. Nicolas tidak pernah membiarkan Brenda menyentuh dirinya walaupun pada saat mereka sedang bercinta. Nicolas tak ingin tangan kotor dan rendahan milik Brenda mengotori tubuhnya.
Hanya kekasihnyalah yang boleh menyentuh tubuh Nic sepuasnya, bahkan jika perlu Nic akan meminta kekasihnya menyentuh seluruh tubuhnya sepanjang hari. Beberapa akhir ini, Brenda tidak diperbolehkan lagi oleh Nic untuk makan di dalam satu meja makan dengannya. Pelayan akan mengantarkan makanan tepat waktu ke kamar tidur Brenda. Seperti saat ini, Brenda baru saja menerima senampan penuh berisi makanan yang sehat dan bergizi.
Memang Nicolas tidak memberikan makanan yang tidak layak untuk Brenda, justru ia memberikan menu makanan yang lebih dari kata layak. Lebih tepatnya terasa mewah hanya untuk seukuran orang semacam Brenda.
“Terima kasih, Ruth! Kau sudah mengantarkan makanan ini untukku.”
Ruth adalah pelayan wanita yang dipilih oleh Nicolas untuk melayani Brenda dan mengawasi Brenda secara khusus.
“Sama-sama, Nona. Apa Anda menginginkan yang lain?” tanya Ruth seraya tersenyum ramah.
Hanya Ruth-lah yang bersikap baik terhadap Brenda dari sekian penghuni di dalam mansion itu, meskipun Brenda tahu keramahan Ruth tak lain dan tak bukan karena berdasarkan perintah Nicolas. Tetap saja Brenda merasa senang masih ada manusia yang memperlakukannya dengan baik.
“Umh, apakah kakakku mendapatkan makanan yang seperti ini juga?” tanya Brenda dengan ragu-ragu dengan suara yang merendah diakhir kalimat.
“Maaf, Nona. Saya tidak tahu mengenai itu, tetapi saya yakin jika Tuan Nicolas memperlakukannya dengan baik selama Nona tidak melawannya.”
Ah benar, Brenda harus diingatkan kembali dengan perintah Nic agar tetap menurutinya tanpa perlawanan. Lagi-lagi Brenda merasakan sesak di dadanya karena mengingat ucapan Nicolas yang menyiratkan bahwa nyawa Brandon tidak memiliki arti apa pun jika Brenda berani melakukan kesalahan.
“Kau bisa pergi!” Brenda mempersilakan Ruth untuk meninggalkannya sendirian di kamar itu. Kali ini Brenda benar-benar merasa tidak bernafsu untuk menyantap makanannya sendiri, pikirannya masih memikirkan Brandon. Benar apa yang dikatakan Ruth, Nicolas pasti memberikan makanan yang layak, memperlakukannya dengan baik selama Brenda tidak melawan.
Setelah setengan piring itu masuk ke dalam perut Brenda, gerakan tangan yang sedang menyendok makanan itu terhenti. Entah ide apa yang muncul dipikirannya, Brenda menginginkan untuk melihat wanita yang disebut-sebut sebagai kekasih Nicolas itu. Ia ingin meminta maaf atas kesalahan yang kedua orang tuanya lakukan semasa dulu, jika semua yang dikatakan Nicolas adalah kebenarannya. Maka Brenda memang harus melihat dan menemui wanita itu meskipun wanita itu belum terbangun sama sekali.
Tetapi Brenda bingung memikirkan cara untuk bertemu dengan wanita itu harus seperti apa. Sedangkan saja pintu kamarnya dikunci dari luar, dari pagi sampai bertemu pagi kembali Brenda menghabiskan waktunya di dalam kamar itu. Brenda sudah membulatkan tekadnya, ia akan bergerak nanti malam tanpa sepengetahuan Nicolas.
Pria itu akan menemuinya dan meminta jatah malamnya setiap tengah malam datang. Brenda tidak tahu menahu tentang apa yang dilakukan pria itu setiap malamnya sampai-sampai pria itu selalu datang setiap tengah malam hanya untuk menyentuh Brenda kemudian meninggalkannya setelah selesai.
Saat Ruth mengantarkan makan malamnya nanti, Brenda akan meminta Ruth untuk membiarkan dirinya bertemu dengan Brandon dengan alasan bahwa Nicolas telah memberikan izinnya. Hanya itulah alasan yang bisa Brenda pikirkan, Ruth pasti akan mempercayai ucapan Brenda jika menyangkut tentang Brandon.
Lagi pula Nicolas tak pernah berada di dalam mansion itu sebelum tengah malam datang. Jadi kemungkinan besar Brenda memiliki kesempatan yang amat sangat besar untuk menemui wanita itu.
***
“Ah aku sudah menunggumu sedari tadi.” Ucap Brenda dengan riangnya. Ruth sedikit mengerutkan keningnya saat melihat Brenda begitu riang tidak seperti sebelum-sebelumnya.
“Wah, sepertinya Nona sedang bahagia sekali malam ini. Anda begitu terlihat sangat ceria. Apa Tuan Nicolas memperlakukan Anda dengan baik, Nona?”
Brenda mengangguk seraya mengambil nampan itu dari tangan Ruth.
“Pria itu memberikanku izin untuk menemui kakakku di bawah setelah makananku habis.”
“Benarkah?” ada nada tidak percaya yang terselip dari ucapan Ruth, kemudian ia tepis begitu saja.
“Syukurlah, saya senang mendengarnya. Kalau begitu saya akan mengantar Anda ke ruangan kakak Anda, Nona.”
Brenda buru-buru mengibaskan kedua tangannya di depan wajahnya setelah nampan itu ia simpan di atas nakasnya.
“Ti-tidak perlu, Ruth. Pria itu memperbolehkanku untuk pergi sendirian, aku akan baik-baik saja. Dan lagi pula aku tidak bisa lari dari mansion ini.” Brenda bersungguh-sungguh saat ia mengatakan bahwa ia memang tak bisa lari dari mansion itu.
“Baiklah, Nona.” Ruth tidak ingin mempersulit Brenda untuk menemui kakaknya itu. Mendengar Ruth yang tidak bertanya lebih jauh lagi, Brenda menyunggingkan senyumannya yang paling menawan. Ruth bahkan sampai terpesona akan kecantikan Brenda saat tersenyum seperti itu.
Ruth jadi berandai-andai. Andai saja Tuannya itu tidak memperlakukan Brenda dengan baik, maka Ruth sangat yakin. Jika Brenda akan menyungginkan senyumannya yang seperti ini kepada Nicolas. Hanya saja masa lalu yang menjadi penghalang di antara mereka.
Brenda langsung menyantap menu makan malamnya dan segera menghabiskannya dengan cepat, ia tak benar-benar mengunyah makanannya dengan benar. Bahkan makanan yang melewati tenggorokannya saja terasa mengganjal akibat ia tak mengunyahnya dengan baik.
Brenda langsung menenggak air minum di dalam gelas itu sampai habis. Kemudian ia bangkit menjauh dari kamar tidurnya, kesempatan ini tidak akan ia sia-siakan begitu saja. Brenda mengedarkan pandangannya ke sekeliling, mematikan bahwa tidak ada satu orang pun yang berkeliaran di sekitarannya.
Setelah melihat kondisi aman, Brenda segera melangkahkan kakinya menuju ruangan wanita itu di rawat. Brenda masih mengingat letak ruangan itu dengan baik, meskipun hanya sekali Nicolas membawanya masuk saat itu. Tetapi memori itu tersimpan baik di dalam otaknya. Brenda bernapas lega saat pintu ruangan itu sudah terlihat semakin dekat, dan lebih leganya lagi ruangan itu tidak ada yang menjaganya sama sekali.
Tentu saja Brenda heran karena tidak ada seorang pun yang menjaga di depan pintu ruangan itu. Seingatnya, saat Nicolas menyeretnya ke ruangan itu ada beberapa penjaga yang berdiri tepat di depan pintu itu. Oh mungkin saja para penjaga yang sedang bertugas itu sedang pergi entah ke mana, atau bisa saja penjaga itu sedang mengambil istirahat.
Tanpa rasa curiga, Brenda semakin mempercepat langkahnya. Dan saat ia berdiri di depan pintu itu, Brenda berulang kali menarik napas kemudian membuangnya perlahan. Tangannya menjulur ke depan untuk meraih gagang pintu dan membukanya, ia dorong pintu itu ke dalam dengan perlahan.
Matanya kembali mengedar ke sekeliling ruangan itu untuk memastikan tidak ada satu orang pun yang berjaga di dalam. Lagi-lagi Brenda bernapas lega karena ruangan itu kosong, hanya wanita cantik itulah yang mengisi ruangan itu. Brenda menutup pintu itu pelan-pelan, ia kemudian melangkah masuk semakin dalam dan mendekati ranjang wanita cantik itu.
Brenda melihat keseluruhan wajah wanita itu yang menurutnya sangat begitu cantik. Bagaimana bisa wanita secantik itu bisa menjadi kekasih pria terjahanam itu? Wanita cantik itu seharusnya bisa menjadi kekasih pria lain yang lebih baik dari pada Nicolas. Brenda tidak habis pikir dengan wanita cantik itu yang memiliki status sebagai kekasih dari pria yang gemar sekali menyiksa dirinya.
“Selamat malam, Nona?” sapa Brenda seraya membungkukkan badannya memberi salam meskipun Brenda yakin, wanita cantik itu tidak akan mendengarnya.
“Perkenalkan nama saya Brenda Heather. Saya senang bisa bertemu dengan Anda. Tujuan saya datang menemui Anda adalah karena kedua orang tua saya yang telah meninggal dua tahun lalu. Saya tidak tahu apakah kecelakaan orang tua sayalah yang telah menyebabkan Anda sampai terbaring seperti saat ini. Tetapi, jika dugaan saya ternyata salah dan memang kedua orang tua sayalah yang telah menyebabkan Anda sampai seperti ini. Saya ingin meminta maaf, saya ingin Anda memaafkan atas kesalahan orang tua saya. Dan saya ingin Anda segera terbangun dari tidur panjang Anda. Apa Anda kekasih pria yang bernama Nicolas itu?” lagi-lagi hanya keheningan yang menjawab setiap perkataan Brenda.
“Pria itulah yang telah membawa saya ke sini, bahkan ia juga turut membawa kakak saya. Pria bernama Nicolas itu mengatakan bahwa kecelakaan yang Anda alami adalah karena kesalahan orang tua saya. Saya juga bisa melihat pria itu betapa mencintai Anda, sampai pria itu melakukan hal ini terhadap saya.” Brenda menarik napasnya kembali yang terasa sesak itu.
“Kumohon, kumohon Anda segera sadar, Nona! Saya ingin melihat Anda terbangun dan membuka mata indah Anda, menjalani hidup Anda dengan baik seperti sebelumnya. Saya ingin saat Anda terbangun, kekasih Anda mampu melepaskan saya dan juga kakak saya. Saya tidak membenci Anda, saya justru merasa sedih karena Anda harus seperti ini karena kedua orang tua saya.”