The Power Of Destiny

The Power Of Destiny
Mengantarkan mu


"Sama sama paman" jawab William sopan kepada Hartono.


"Nak duduklah kemari" ajak Tomo kepada Olivia yang sejak tadi masih berdiri menunduk di tempat awal. Olivia yang sadar dipanggil pun menghampiri Tomo.


"duduklah disamping paman" Olivia hanya terus menunduk sopan.


"Wajahmu sangat polos, mengingatkan ku pada mendiang istriku. Cobalah tatap aku nak" ujar Tomo sambil mengangkat dagu Olivia.


"aku ingat,aku pernah melihat paman ini di sekolah, ketika aku mengantarnya" Batin Olivia.


"Nak, apakah benar kamu mendapatkan beasiswa di Jerman?" tanya Hartono pada putrinya.


"iya ayah. Apakah aku boleh menerima beasiswa itu?" Tanya Olivia yang masih tetap menunduk.


"Tentu saja, kejarlah cita-cita mu nak, ayah akan selalu mendukungmu. Tapi sebelum itu ada yang mau ayah bicarakan...." Kini wajah Hartono berubah menjadi serius.


"Heh, begini Olivia. Kami sepakat akan menjodohkan kalian setelah kamu menyelesaikan pendidikanmu di Jerman" Sambung Tomo sambil membelai lembut rambut Olivia.


"Ta..ta...tapi kenapa ayah?" Olivia berbicara dengan gemetar.


"Ini demi kebaikanmu Olivia. Nak William anak yang baik. Lagipula ayah ingin membalas kebaikan Tomo dengan menikahkan mu dengan Nak William"


"Baiklah ayah" Olivia hanya menunduk pasrah. selama ini Olivia tidak pernah melawan siapapun. Apalagi melawan ayah dan ibunya. Sehingga ketika orangtuanya berbicara dia akan langsung melaksanakan karena dia yakin apapun yang orangtuanya lakukan adalah yang terbaik untuknya.


"kenapa gadis ini tak menolak, ia menerimanya dengan pasrah tanpa sanggahan ataupun tolakan seperti gadis pada umumnya. dan apalagi itu, sejak tadi dia hanya menunduk seperti sedang disidang saja. Aku rasa orang yang disidang pun tak selalu menunduk takut seperti dia." batin William.


"Baiklah ku anggap kalian menerima perjodohan ini. Olivia, paman akan menikahkan kalian setelah kamu datang dari Jerman nak. Selesaikan lah pendidikan mu ya. Kurasa dua bulan lagi kamu sudah akan berangkat kesana. Jadi persiapkan dirimu ya"


"Iya paman Terimakasih"


Dua bulan berlalu.


Dua bulan sudah William tidak pernah menemui Olivia. Hingga tiba hari ini, hari dimana Olivia akan berangkat ke Jerman untuk beasiswa nya.


"Nak hati hati ya disana, kamu harus ingat makan, jangan nakal ya nak.Dan cepatlah kembali" ujar ibu dengan raut wajah sedih.


"iya ibu, ibu tenang saja, aku pasti akan baik baik saja disana" Olivia sambil memeluk ibunya.


"ingat pesan ayah, kau jangan mendekati laki-laki manapun karena kau telah dijodohkan dengan tuan William."


"iya ayah, Olivia ingat"


"setidaknya dengan sekolah ke Jerman,aku masih bisa menunda pernikahan ku dengannya. Sungguh aku tak membayangkan bagaimana bisa berumahtangga dengan lelaki sombong seperti dia" batin Olivia.


"eh tuan William, sudah tuan. Ada apa tuan kemari?" tanya Hartono


"ah paman, panggil saja aku William. begini paman, ayah meminta ku untuk mengantarkan Olivia ke bandara. Jadi aku akan mengantarkannya."


"oh begitu, yasudah kami sudah selesai. Olivia angkat koper mu nak bawalah ke mobilnya tuan William" pinta Hartono pada putrinya.


"Tidak usah paman, biar anak buahku nanti yang melakukan itu. Hendrik cepat bawa koper nya!"


"Baik tuan" jawab Henry kemudian mengangkat koper milik Olivia.


"yasudah kalau begitu kami berangkat paman. Ayo Olivia"


"aku pergi dulu ayah" Olivia kemudian mencium tangan ayah dan ibunya, diikuti dengan William juga.


Diperjalanan mereka hanya diam hening tanpa suara. Dengan keadaan Olivia yang tentunya hanya menunduk.


"gadis ini selalu saja menunduk" batin William.


"ekhem" William berdehem dan berharap Olivia bisa menanggapi nya. Namun yang terjadi Olivia tetap saja menunduk.


"hey, apa ada hiburan di bawah?" kata William yang sudah mulai kesal.


"maaf?" Olivia masih tetap menunduk, sesekali dia mencuri pandang terhadap William.


"berhentilah menunduk, aku bukan seseorang yang gila hormat, dan aku adalah calon suami mu. Kau adalah calon istri ku, dan calon istriku tak pantas menunduk terus seperti itu" kata William tanpa sadar yang mengucapkan kata istri dan suami.


"maafkan aku tuan" Olivia mulai mengangkat wajahnya.


"jangan panggil aku tuan, kau adalah calon istri ku" jawab William.


"Baiklah, maafkan aku pak" kali ini Olivia berbicara sambil menatap William.


"hey,jangan panggil aku dengan sebutan pak, aku bukan bapakmu. Dan lagipula aku tidak setua itu." jawab William kesal yang tidak terima dipanggil pak.


"apa aku se tua itu sehingga dia memanggilku pak. Dasar gadis aneh"


"maafkan aku eng emm" Olivia berpikir dia harus memanggil William siapa, karena dia tau, usianya dan William terpaut lumayan jauh. Olivia baru berumur 18 tahun, sementara William sudah berumur 29 tahun. Jika dipanggil kak, akan sangat aneh rasanya bagi Olivia karena umur mereka terpaut sangat jauh.


"panggil saja aku kak atau William sajalah. kau ini begitu saja tidak tau" ujar William ketus. Hendrik yang sejak tadi menyetir di depan pun tersenyum melihat mereka berdua. Hendrik merasa bahwa bos nya telah berubah. Menurutnya William adalah orang yang jarang berbicara, namun kali ini William banyak bicara bahkan pada seorang gadis. Dia yakin bahwa Olivia pasti akan membawa dampak besar ke kehidupan William.