The Power Of Destiny

The Power Of Destiny
Senyuman


Bandara Internasional Soekarno-Hatta


Sebuah pesawat jet pribadi mendarat dengan mulus dilandasan pacu. Dari dalam pesawat keluar seorang pria tampan berperawakan tinggi menggunakan kemeja putih lengan panjang yang digulung sampai siku dengan dua kancing atas terbuka, serta short jeans yang membuat ia terlihat kasual dan elegan.Tak lupa dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya.


Beberapa orang yang merupakan anak buahnya mendekat, dan mengawalnya.Pria itu adalah Brian Chaiden, seorang pewaris tunggal kerajaan bisnis keluarga Chaiden.


Chaiden Corporation, merupakan perusahaan besar yang telah tersebar di beberapa negara di Eropa dan juga Asia.Brian di perintahkan oleh orang tuanya untuk mengembangkan perusahaan mereka yang ada di Asia, khusunya di Indonesia.


Kini dirinya telah berada didalam mobil menuju mansion milik orang tuanya yang akan ia tinggali selama beberapa saat.Selama dalam perjalanan , wajah pria ini sangat suram, mengingat bagaimana orang tua Brian memaksa dirinya untuk pergi ke Indonesia.Ya, Brian diancam oleh orang tuanya jika ia tidak mau mengembangkan bisnis yang ada di Indonesia, maka sudah pasti ia tidak akan mendapatkan bagian harta warisan. Jadi mau tak mau, ia harus melakukan apa yang diperintahkan orang tuanya itu.


Sementara itu Alodhya memberhentikan mobilnya ketika ia melihat banyak anak anak sedang mengumpulkan botol plastik dipinggir jalanan.Alodhya turun dari mobil membawa makanan makanan itu dan membagikannya.


Saat bersamaan mobil yang ditumpangi Brian melintasi tempat yang sama dengan Alodhya.Mata Brian menangkap sosok wanita cantik sedang berkumpul dengan anak anak.Ya wanita itu adalah Alodhya.Senyuman yang terpancar diwajah Alodhya membuat hati nya tenang, kini tatapan Brian menjadi teduh.Dia melupakan apa yang terjadi pada dirinya beberapa saat yang lalu.


Setelah empat puluh menit perjalanan, akhirnya Brian telah sampai di mansion mewah bergaya Eropa. Para pelayan yang bekerja disana pun telah berbaris rapi menyambut majikan mereka. Seorang pelayan membukakan pintu untuk Brian.


"Selamat datang tuan muda"ucap kepala pelayan.


Brian hanya tersenyum kecil, lalu melangkah masuk ke dalam mansion.Ia duduk merebahkan diri disebuah sofa panjang, menaikkan kedua kaki keatas meja didepannya. Sebuah senyum terukir diwajah tampannya, kala ia teringat dengan seorang wanita yang tak sengaja ia lihat dijalan tadi.


Alodhya telah kembali kerumahnya.Perasaan nya sangat senang kala ia bisa berbagi kebahagian dengan orang orang yang membutuhkan.Ia sangat bersyukur dengan apa yang ia miliki saat ini yang bisa membuat ia membantu anak anak jalanan dan melihat mereka tertawa.


Hari berlalu begitu cepat tak terasa hari sudah berganti Senin.Alodhya tengah bersiap menuju ke kantornya.Tetapi niatnya ia urungkan, karena entah kenapa Alodhya ingin sekali berkunjung ke sekolah dasar milik ibunya.Lagi pula ia sudah lama tak berkunjung kesana.


Alodhya melajukan mobilnya menuju sekolah milik ibunya.Jaraknya dari rumah menuju sekolah itu hanya memerlukan waktu tempuh kurang lebih tiga puluh lima menit.


Alodhya memarkirkan mobilnya di parkiran sekolah.Tak ada satupun yang menyambutnya, karena kedatangannya memang secara tiba tiba dan diapun tak mempersalahkan hal itu.Alodhya berjalan menuju ruang kepala sekolah.


"Bu Alodhya, kapan anda sampai disini?"ucap Dila yang merupakan kepala sekolah.Ibunya mengangkat Dila menjadi kepala sekolah karena ia sudah berada disekolah ini dari awal berdiri.


"Aku baru saja sampai"jawab Alodhya sopan.


"Kenapa tidak memberi tahu akan berkunjung, aku mungkin bisa menyambut mu"ucap Dila.


"Tak perlu repot repot Bu, aku juga hanya sebentar"jawab Alodhya seraya melihat sekitar."Bagaimana dengan sekolah, apa semuanya baik baik saja?"tanya Alodhya.


"Ya, semua nya baik baik saja Bu"Alodhya hanya mengagguk ia merasa senang akan hal ini.


Melihat Dila yang telah berhasil pun juga membuatnya senang.Mengingat bahwa dulu banyak orang yang menyayangkan atas keputusannya menikah hanya dengan seorang pria tamatan sekolah menengah pertama, termasuk orang tuanya sendiri.Sedangkan Dila adalah seorang sarjana pendidikan dan keluarganya juga tergolong orang yang mapan.


Kini ia bisa membuktikan kepada orang tuanya bahwa ia bisa berbahagia dengan kehidupannya sekarang bersama pria pilihannya.Bahkan kini suaminya juga telah memiliki beberapa toko bangunan yang sukses.


Mansion Brian


Brian baru saja menyelesaikan olahraga nya.Ia kini tengah menikmati sarapan yang telah disediakan oleh para pelayan.Tiba tiba dari arah depan datang seorang pria.


"Selamat pagi, tuan muda"ucap pria itu.


"Hu'um, ada apa Alex?"tanya Brian tanpa mengalihkan pandangan dari makanan dihadapannya.Pria itu adalah asisten pribadi Brian yang bernama Alex.


"Kerja bagus ,Alex"ucap Brian."Duduklah, mari sarapan bersamaku".


"Terimakasih tuan"ucap Alex, diapun duduk dan mereka sarapan bersama.


Setelah selesai sarapan , Brian langsung menuju ke kamarnya.Ia merobohkan diri disofa.Menatap langit langit kamar.Tiba tiba terlintas kembali di pikirannya senyuman wanita yang ia lihat kemarin.Entah kenapa bayang bayang wanita itu selalu mengganggu nya.


Jam telah menunjuk kearah pukul tujuh lewat lima belas menit. Brian memutuskan untuk membersihkan diri.Membiarkan air hangat dari shower mengalir membasahi kepala dan juga badannya.


Brian menyudahi acara mandinya, ia berjalan menuju walk in closet dengan jubah mandi yang menutupi tubuh kekar nya untuk memilih pakaian yang akan ia kenakan. Ia kebingungan mencari pakaian, menurutnya tak ada satupun dari pakaian itu yang cocok untuk dirinya.Brian membuang begitu saja pakaian pakaian itu kelantai.


Karena merasa sangat kesal ia merebahkan diri dikasur dengan hanya menggunakan jubah mandi. Tiba tiba terdengar seseorang mengetuk pintu. Namun Brian tak mengacuhkannya . Karena tak kunjung mendapat respon, Alex menerobos masuk. Alex yang melihat tuannya seperti itu panik. Tak biasanya Brian tidur menggunakan jubah mandi.


"Apa kau baik baik saja tuan muda?"tanya Alex panik.


"Hm" jawab Brian singkat. Ia tak tahu mengapa dirinya merasa sangat kesal. Apakah hanya karena tak menemukan pakaian yang cocok atau karena ayahnya menghancurkan segala rencana yang telah ia buat beberapa bulan yang lalu hanya dalam satu malam?.


"Aku akan mengambil pakaian untukmu tuan"Alex menuju ke walk in closet, mengambil pakaian lengkap untuk Brian.


"Tuan ini pakaiannya. Apa kau ingin kubantu?"tanya Alex.Brian berdiri dan memakai pakaian dibantu oleh Alex.


Setelah selesai ia bersama dengan Alex pergi ke Chaiden Corporation.Dua puluh lima menit berlalu, mereka telah sampai di perusahaan.Para karyawan yang tahu bahwa penerus perusahaan ini akan datang sudah berbaris rapi menyambut kedatangannya.


Alex membukakan pintu untuk Brian.Brian keluar berjalan dengan langkah tegak nan elegan, membuat karyawannya sangat terpesona.Sementara Alex mengikutinya dari belakang.


"Selamat datang tuan muda"karyawan memberi hormat.


Sementara Brian hanya diam menatap lurus kedepan. Ia kini sudah berada didalam lift, Alex menekan angka dua puluh satu yang merupakan lantai tertinggi di perusahaan ini.


Brian telah sampai diruangan nya.Dia duduk di kursi kebesarannya sekarang ,menaikkan kaki nya keatas meja lalu berkata, "Aku ingin kau mengubah semua dekorasi ruangan ini.Ini membuat mataku sangat sakit"


"Baik tuan"jawab Alex patuh.


"Baguslah, sekarang kau bisa keluar"titah Brian kepada Alex.Alex membungkuk lalu keluar dari sana.


Sementara Brian merogoh kantung celana untuk mencari ponsel pintarnya.Ia menelpon seseorang dengan ponsel itu, tapi orang yang ditelpon tak kunjung mengangkatnya.


"Kenapa dia tak mengangkat telpon dari ku?"gumam Brian.


.


.


.


bersambung...