The Power Of Destiny

The Power Of Destiny
Masalah


Saat ini mereka telah berkumpul di depan ruang UGD. Olivia terus saja menangis karena melihat keadaan ibunya. Beda dengan Olivia, Hartono malah hanya diam saja memikirkan keadaan istrinya.


Miarti juga turut sedih karena putrinya juga sedang ditangani di dalam. Sementara itu Tomo dan William terus saja mondar mandir menunjukkan rasa khawatirnya.


"Diamlah, ibumu pasti tidak apa apa" bujuk William.


"Hiks....hiks.....hiks.... ibu" Olivia masih terus menangis.


William kemudian menarik Olivia kepelukannya. Dan membenamkan kepala Olivia di dalam dekapannya.


"Sudah ya... aku yakin ibu pasti baik baik saja. Aku pasti akan mengusahakan yang terbaik untuk ibu. Bila perlu aku akan membawa ibu ke rumah sakit di Singapura" William berusaha menenangkan Olivia.


ceklek


Pintu terbuka. Menampilkan orang orang berseragam putih dengan wajah lelahnya.


"Dok bagaimana keadaan ibu saya dok.


Apa dia baik baik saja? Dok tolong jelaskan!" cecar Olivia.


"Ibu anda baik baik saja. Hanya saja masih perlu perawatan intensif. Setelah dirawat beberapa hari mungkin keadaannya bisa stabil"


"Huh syukurlah.... apa kami sudah bisa melihat pasien dok?" tanya Hartono.


"Bisa... setelah pasien dipindahkan ke ruang rawat"


"Terimakasih dok"


"Lalu bagaimana keadaan pasien yang satunya dok?" tanya Tomo.


"Pasien hanya syok. Dia terdapat beberapa luka namun tidak serius. Kalian juga bisa menjenguknya setelah dipindahkan keruang rawat" jelas dokter.


"Baik dok terimakasih" ucap Tomo


"Saya permisi"


**


Kali ini mereka berada di ruang rawat VVIP rumah sakit harapan sehat. Olivia sudah berhenti menangis. Namun tetap saja ia masih murung melihat keadaan ibunya.


" sudah nak.. ibu kan tidak apa apa" Jelas Hartono.


"Tapi ibu belum sadar sampai saat ini ayah" sangkal Olivia. Memang benar sudah satu jam ia menunggu ibunya. Tapi ibunya belum juga sadar. Berbeda dengan Meimei yang sudah sadar. Membuat Olivia masih merasa cemas. Walau dokter telah menjelaskan ibunya baik baik saja.


"Sudah lah, biarkan ibumu istirahat. Kalau kau terus begini yang ada ibu semakin terpuruk" ucap William.


"Sebaiknya kamu ajak Olivia pulang will. Sudah seharusnya dia istirahat. Papah akan menjaga mereka disini" Saran Tomo.


"Iya pah... Ayo" William berkata sambil merangkul Olivia yang masih menunjukkan raut wajah sedihnya.


Olivia dan William berjalan melewati lorong rumah sakit dengan langkah pelan seakan enggan untuk meninggalkan ibunya yang masih terkulai lemas di ranjang rumah sakit.


Sampai kini mereka akan keluar dari rumah sakit. Mereka menyaksikan keadaan gawat darurat. Dimana baru saja ada dua orang muda mudi yang mengalami kecelakaan mobil.


Bukan itu saja, hal yang membuat William dan Olivia terkejut adalah korbannya.


"Hendrik...Briana" teriak William dan Olivia bersamaan.


Olivia masih belum bisa mencerna semua ini. Bagaimana mungkin kejadiannya bisa seperti ini. Kesedihannya belum berakhir dengan belum ibunya yang belum sadar. Namun kini ia dihadapkan kesedihan baru perihal sahabatnya yang baru saja mengalami kecelakaan.


Olivia hanya berlari menyusuri rumah sakit itu dengan tangisannya.


**


ceklek


"hiks.... hiks.....hiks"


"Olivia kenapa kamu menangis" Tomo menghampiri Olivia yang masih menangis sesenggukan. Bagaimanapun Olivia baru pertamakali nya mengahadapi masalah seperti ini.


Selama ini, walaupun Olivia hidup sederhana. Ia tidak pernah menghadapi keadaan seperti ini.


"kak Hendrik.... hiks... Briana... me-me- mereka..."


"Kenapa nak, mereka kenapa?" kini giliran Hartono yang menghampiri anaknya yang sesenggukan itu.


"Tenang dulu. ton, ambilkan air"


Hartono kemudian bergegas mengambil air untuk anak semata wayangnya itu dan segera memberikan kepada Tomo.


"Nak ini minum dulu.Tenangkan dulu dirimu" jelas Tomo.


Olivia kemudian terlihat lebih baik. Nafasnya berangsur tenang.


"Nah sekarang ceritakan ada apa sayang?" tanya Tomo lembut.


"Kak Hendrik dan Briana kecelakaan pah.....hiksss" tangis Olivia kembali pecah setelah mengatakan hal itu.


"Apa?? dimana sekarang mereka?" Kali ini Tomo ikut panik mendengar apa yang dikatakan Olivia.


"Di UGD. Kak William sedang menemani mereka"


"Sudah sekarang kamu tenang dulu. Papah akan menyusul William.... Hartono tenangkan Olivia. Aku pergi dulu" pamit Tomo.


"Ayaahhhhh" kini Olivia kembali menangis di pelukan ayahnya.


**


"Bagaimana keadaan mereka Will?" Tanya Tomo pada William.


"Mereka masih ditangani. Aku harap mereka tidak apa apa. Kalau diliat dari lukanya seperti nya tidak parah" jelas William.


"Papah rasa ada yang tidak beres" Tomo menjelaskan apa yang mengganjal di pikirannya.


"kenapa?"


"Coba kamu pikir. Bagaimana mungkin lampu di ruang keluarga itu bisa jatuh begitu saja. Padahal lampu itu lampu yang terbilang masih baru. Ini adalah rumah keluarga Wardana. Tidak mungkin orang yang memasang itu asal asalan. Dan kenapa waktu jatuhnya sangat pas ketika kita sedang berkumpul. Belum lagi sekarang mereka kecelakaan. Papah rasa ini ulah seseorang." Terang Tomo.


"Aku juga merasa begitu. Untuk keselamatan kita. Sebaiknya papah menelepon Panji" William memberi saran.


"Tidak tidak.Papah tidak terlalu percaya kepadanya. Kamu sebaiknya menggunakan pengawal saja. Kerahkan beberapa orang untuk menjaga ruang perawatan keluarga kita. Papah akan meminta mereka dirawat dalam satu ruangan agar lebih mudah diawasi Dan sebaiknya kita selidiki ini"


"Benar benar orang tidak tahu diri yang berani mencari masalah denganku" gumam William.