The Power Of Destiny

The Power Of Destiny
Bertemu


Dua hari telah berlalu, kini ruangan yang akan ditempati Brian telah berubah sesuai keinginannya.Dia sangat puas dengan hasil pekerjaan Alex.Dia menyandarkan tubuhnya di kursi kebesaran miliknya. Memainkan ponsel pintar nya tak perduli dengan sekitar.


Sementara Alex yang sedari tadi berdiri diam dihadapannya mulai membuka pembicaraan.


"Tuan muda, hari ini kita ada janji temu dengan pimpinan Shannon Group"Alex berucap, namun tak dihiraukan oleh Brian ia sedang asyik dengan ponselnya.


"Tuan muda, hari ini..."Alex belum menyelesaikan perkataannya, namun telah dipotong oleh Brian.


"Ya aku mendengarnya, kau tak perlu mengulangi perkataanmu"jawab Brian.Alex hanya menganggukkan kepalanya dan dia permisi keluar.


"Tunggu...Shannon Group?"tanya Brian bingung.Kini dia mengalihkan pandangannya ke arah Alex.


"Ya tuan, itu adalah nama perusahaan yang sedang naik daun disini.Dan kita telah membuat kesepatan kerja sama dengan perusahaan itu"jelas Alex. Brian mengangguk mengerti.


Shannon Group


Alodhya melakukan aktivitas seperti biasanya.Tak ada hal lain selain bekerja.


Tok Tok


Tiba tiba suara ketukan terdengar, membuat Alodhya menghentikan kegiatannya.Alodhya menyuruh orang tersebut masuk.Dari balik pintu muncullah Shindi sekretarisnya.


"Bu, ini ada beberapa berkas yang harus kau tandatangani"ucap Shindi.


Alodhya pun mengambil berkas itu membaca berkas lalu menandatanginya."Apa jadwal ku hari ini?"tanya Alodhya.


"Jadwal hari ini adalah bertemu dengan pimpinan dari Chaiden Corporation"jawab Shindi.


"Hari ini, Chaiden Corporation?", Alodhya mengulang kata itu.


"Iya Bu...hari ini di Aston's Restaurant pukul sebelas siang"imbuh Shindi


"Oh...ya, aku lupa...terimakasih Shin"ucap Alodhya.


Jarum jam telah menunjuk kearah pukul setengah sebelas siang, Alodhya dan juga sekretaris nya Shindi berangkat menuju Aston's Restaurant.Jarak nya dari kantor lumayan jauh.Alodhya menyetir sendiri, sedangkan Shindi duduk disampingnya.


Kini ia telah sampai di restoran itu, Alodhya memarkirkan mobil, lalu masuk kedalam.Saat diambang pintu masuk ruang VIP, ia dicegat oleh seorang pria yang tak lain adalah asisten pribadi Brian.


"Permisi, apa kau adalah Nona Alodhya Shannon?"Alex bertanya sopan.


"Ya, benar"jawab Alodhya dengan senyuman.


"Baiklah, ikuti aku nona"Alex menuntun Alodhya menuju meja yang telah dipesan Brian.


Disana telah ada Brian yang sedang duduk disalah satu kursi yang panjang, sedangkan disamping nya ada seorang wanita cantik dengan pakaian yang lumayan terbuka.Brian merangkul pinggang ramping wanita disampingnya, sedangkan tangan wanita itu bergerilya di dada bidang Brian.Alodhya yang melihat pemandangan di depannya itu tampak sedikit terkejut.


"Tuan muda"Alex yang masih berada disamping Alodhya memanggil tuannya itu, karena Brian masih belum menyadari kehadiran mereka bertiga.


"Hem"jawab Brian tanpa mengalihkan pandangan dari wanita disebelah nya.


"Tuan, pimpinan dari Shannon Group sudah datang"ucap Alex.


Kini, ia mengalihkan pandangannya ke depan.Sudah berdiri tiga orang disana yang telah memperhatikan apa yang dirinya lakukan sedari tadi.Alangkah terkejutnya ia saat melihat salah satu dari mereka ternyata seseorang yang beberapa hari ini menghantui pikirannya.


Brian terpaku ditempat duduknya, sementara Alex meminta Alodhya dan Shindi untuk duduk. Alex juga meminta agar wanita yang disamping Brian tadi untuk pergi meninggalkan mereka semua.Ia diberi uang senilai delapan juta sesuai permintaannya tadi karena telah menemani Brian.


"Tuan, perkenalkan dia adalah Nona Alodhya Shannon, pimpinan dari Shannon Group"jelas Alex kepada Brian.


"Dan Nona, dia adalah..."belum sempat Alex menyudahi kalimatnya, Brian langsung berucap,"Brian Chaiden"mengulurkan tangan untuk mengajak berjabatan.


"Alodhya Shannon"membalas uluran tangan itu.Mata Brian sama sekali tak berkedip seakan tersihir karena melihat wajah cantik Alodhya. Dia juga sangat kagum dengan wanita di hadapannya itu.


Tiga puluh menit sudah berlalu, mereka menutup pertemuan itu dengan makan siang bersama.


"Ya, aku juga berharap seperti itu"membalas uluran tangan dan tersenyum.


Kini suasana hati Brian sedang sangat baik, ia baru saja bertemu dengan Alodhya.Jelas terlihat sejak Brian kembali dari pertemuan itu senyuman tak pernah hilang dari wajahnya. Alex yang melihat tuan mudanya seperti itu hanya bisa terdiam. Mood tuannya sering kali berubah ubah dengan cepat dan sangat sulit untuk memahaminya. Seperti wanita saja!


"Apa yang membuatmu seperti ini tuan"batin Alex.


Sementara itu Brian yang merasa ada yang aneh dalam dirinya langsung berpikir, kenapa ia sangat senang sekali?Apakah dia sudah menyukai Alodhya sejak pandangan pertama?.


Itu tidak mungkin, karena Brian tidak menganut paham jatuh cinta pada pandangan pertama.Menurutnya untuk bisa menumbuhkan cinta itu harus membutuhkan waktu yang lumayan lama.


Brian tak pernah merasakan bagaimana rasa nya jatuh cinta pada pandangan pertama itu.Dan ia juga tak mengetahui alasan mengapa seseorang bisa jatuh cinta hanya dalam sekali melihat.


Memikirkan persoalan cinta memang sangat membuat kepalanya sakit. Dia melihat kearah Alex yang sedari tadi berdiri memperhatikannya."Apa yang kau lihat?"


"Tidak ada tuan" Alex langsung menunduk .Kini Brian bangkit dari duduknya.Berjalan menuju kearah Alex lalu berkata,"Siapkan mobil, aku ingin kembali kerumah sekarang"


Alex mengangguk hormat,"Baik tuan muda".Ia menelpon seseorang untuk menyuruh menyiapkan mobil.


Selama di perjalanan Brian hanya terdiam, sesekali ia memegang kepala menjambak rambutnya. Mencoba menghilangkan bayang bayang Alodhya dari pikirannya.Alex yang melihat itu menjadi khawatir.Namun ia tetap diam saja.


Sesampainya di mansion, Brian langsung melangkah menuju kamarnya tanpa bicara sepatah katapun. Bahkan ia tak menghiraukan pelayan yang menyambutnya didepan tadi.


Brian merebahkan tubuhnya dengan kasar di kasur.


"Aku tak mungkin menyukainya.Aku tak boleh berkhianat"ucap Brian berkali kali.


Sementara itu Alodhya kini dalam perjalanan menuju rumah. Tiba tiba ponselnya berdering. Dia meminggirkan mobilnya lalu mengangkat telpon itu."Nomor tidak dikenal".


"Halo"ucap Alodhya.


"Halo Al" jawab seseorang diujung sana


"Khalisha?" tanya Alodhya yang mengetahui pasti suara siapa itu.


"Iya Al, ini aku Khalisha. Oh ya Al, aku menelpon karena ingin mengajakmu makan malam bersama. Aku juga ingin mengatakan beberapa hal padamu" ucap Khalisha mengutarakan tujuannya menelpon.


Tumben sekali Khalisha mengajaknya makan malam bersama. Apa yang ingin dia sampaikan padaku, kenapa tak sekarang saja.pikir Alodhya.


"Baiklah aku akan datang. Dimana tempatnya?" tanya Alodhya.


"Di Aston's Restaurant." jawab Khalisha.


"Ok, sampai ketemu besok malam" ucap Alodhya, lalu sambungan telpon terputus.


Alodhya kembali melajukan mobilnya kerumah. Alodhya telah sampai, ia di sambut oleh kucing peliharaannya. Alodhya menaikki satu persatu anak tangga untuk kekamar.


Dia membuka blazer dan meletakkannya diatas sofa. Merebahkan diri di kasur melepas penat. Mengecek sosial medianya, menscroll beranda, membaca dan mendengar beberapa postingan galau. Ya, semenjak hubungan percintaannya berakhir, ia selalu melakukan hal ini. Bahkan terkadang ia juga teringat dengan mantan kekasihnya itu.


Alodhya meletakkan ponsel pintarnya, berjalan menuju kamar mandi membersihkan diri. Membiarkan air shower mengalir membasahi tubuhnya.Seketika ia teringat dengan pertemuannya dengan Brian. Tiba tiba ia merasa sangat kesal dengan pria itu. Bisa bisanya dia mengajak wanita sexy itu saat akan bertemu untuk urusan pekerjaan.


Ya Alodhya mengakui pria itu memang tampan, namun apa gunanya ketampanannya itu jika ia tidak memiliki perilaku yang baik! Bahkan Alodhya tak menyukai Brian dalam kesan pertama.


Alodhya telah selesai, ia memakai baju oversize dan juga celana pendek. Membiarkan rambut indahnya yang panjang tergerai begitu saja. Tidak ada yang ia lakukan, hanya bermalas malasan dengan Skye dan mendengarkan musik lofi favoritnya.


.


.


.


bersambung...