The Power Of Destiny

The Power Of Destiny
Butik


Saat ini Olivia sudah kembali kerumah orangtuanya. Ia ingin menghabiskan banyak waktu dengan keluarganya karena lusa ia akan menjadi istri seorang William Wardana.


"nak ingat pesan ibu ya, kamu tidak boleh membangkang kepada suamimu. Kau harus menurut dan melayani suamimu seperti ibu kepada ayahmu" nasehat adinda kepada Olivia.


"Iya Bu... Ibu aku ingin sekali ikut berbelanja dengan ibu" Olivia berusaha mengalihkan topik ibunya. Sejak ia sampai dirumah ibunya terus saja memberinya nasehat seperti itu. Bahkan terhitung sudah 10 kali ibunya mengatakan itu.


"Baiklah besok pagi kamu temani ibu kepasar ya sayang" jawab adinda tulus


"Hehe makasih ibu"


"tiga hari lagi aku akan menjadi istri kak sombong, di sisa hariku aku ingin menghabiskan waktu ku untuk orang tuaku" batin Olivia.


**


Pagi pagi sekali Olivia dan ibunya sudah bersiap kepasar. Namun secara sengaja seseorang menyerempet mobil yang ditumpangi Olivia dan Ibunya.


"Pak apa yang terjadi pak?" tanya ibu adinda


"Mereka seperti sengaja ingin menyerempet kita Bu. Tapi mungkin juga mereka orang mabuk. Bagaimana keadaan ibu dan nona? Kalian baik baik saja? Saya benar-benar minta maaf Bu" sopir itu berkata. Sopir itu adalah kiriman dari Tomo untuk keluarga Hartono.


"kami baik baik saja pak. Kita lanjutkan saja pak. Mungkin memang benar mereka adalah orang mabuk. Hati hati saja pak jalannya" ujar Bu adinda.


Disisi lain di sebuah mobil.


"Ini hanya sapaanku untukmu nyonya William. Dendam ku pada William akan ku mulai darimu. Bersiaplah" ujar seseorang itu..


**


"Olivia cepat bersiap-siap sayang. Sebentar lagi nak William akan menjemputmu untuk melakukan sesi foto prewedding" Teriak adinda kepada putrinya.


"Iya Bu Olivia sudah siap" Saut Olivia dari dalam kamar.


"Sudah" Olivia berjalan ke depan cermin di kamarnya. Memandangi penampilannya yang dirasa cukup.


Kali ini Olivia menggunakan dress dibawah lutut dengan motif bunga bunga. Tak lupa Olivia memoles sedikit wajahnya. Olivia benar benar terlihat sangat cantik kala itu.


Olivia berjalan keluar dan ia tak tahu bahwa William sudah menunggunya sejak tadi.


William yang melihat Olivia terbengong dibuatnya. Bagaimana tidak, kali ini Olivia nampak sangat cantik menggunakan dress itu. Sejak berteman dengan Briana Olivia jadi mengerti fashion dan make up. Oliva benar benar glow up.



"cantik" ucap William tanpa sadar.


"maaf kak?" tanya Olivia yang seketika menunduk malu.


"bajumu cantik. besok aku akan membeli 10 baju seperti itu untuk pelayan dirumahku agar mereka juga terlihat cantik" ujar William yang tak mau ketahuan memuji Olivia.


"oh begitu" jawab Olivia . Olivia tak mau merasa terlalu percaya diri. Apalagi bila menyangkut William, Olivia selalu merasa rendah bila harus bersanding dengan William.


"Ayo cepatlah" ujar William yang tanpa sadar langsung menggenggam tangan Olivia.


Jantung Olivia berdebar kencang mendapatkan perlakuan seperti itu. Ini pertama kalinya dia menggenggam tangan seorang laki-laki.


"Tidak usah berharap banyak. Itu hanya sandiwara di depan orang tuamu" ujar William.


"Iya kak saya tahu" ujar Olivia sedih. Entah mengapa Olivia merasa nyaman jika tangannya di genggam oleh William.


**


Kali ini Olivia dan William sudah sampai di butik yang telah dipilihkan ayahnya yaitu Choo butik.


"Selamat datang nak William" sambut wanita itu dengan ramah kepada William. wanita parubaya itu juga menyentuh lengan William membuat Olivia yang berdiri di samping William seketika menghindar.


William yang melihat wanita ini dengan pandangan sinis dan jijik.


"Aku bahkan tidak tahu dia, tapi dia memanggilku nak dan bahkan menyentuh lenganku. Dasar tidak tahu malu" batin William.


Melihat Olivia tersingkir dari posisinya, William langsung menggenggam tangan Olivia.


"Kemari tidak usah jauh jauh" ujar William


"eh I iya kak"


"Kau, lepaskan tanganmu dari tubuhku. Dan cepat pilihkan gaun pernikahan yang sangat bagus untuk calon istriku" William menekankan kata calon istri.


"Baiklah kemari" Perempuan itu berkata ketus.


Olivia dan pemilik butik itu masuk ke ruangan tempat gaun gaun pengantin.


"Aku heran...." kata pemilik butik sambil menunjukkan beberapa gaun pengantin.


"maaf?" tanya Olivia.


"aku heran bagaimana mungkin perempuan kampungan seperti mu bisa menikah dengan tuan William. Aku yakin kau pasti melakukan sesuatu kan kepadanya. Dasar murahan" kata pemilik butik.


"maaf tapi saya tidak seperti itu" kata Olivia berusaha menahan tangisnya.


"Murahan tetap saja begitu. cepat pilih nanti akan ku kirimkan kerumahmu jal*ng" kata pemilik butik sinis.


Plaakkkk


"apa yang kau lakukan berani sekali dirimu. Dasar wanita murahan" baru saja perempuan itu berusaha melayangkan tangannya, William dengan cepat menahan itu.


"Nak William. Lihatlah istrimu dia telah menamparku" ucap perempuan itu dengan nada sesedih mungkin.


"Itu pantas kau dapatkan, desiana. Berani sekali kau menghina calon istri ku. Kau pikir siapa dirimu" Ujar William datar..


"Tapi nak William" bantah desiana.


"Mari kita pergi Olivia. Dan ya kau siapkan dirimu karna butikmu pasti akan aku hancurkan" ujar William sini pada desiana.


"ibu dan anak sama jahatnya" batin William.


semoga suka semua*