The Power Of Destiny

The Power Of Destiny
Malam panjang


Setelah memasuki gang gang sepi di pusat kota. Olivia merasa kepanasan.


"Bella apa kamu merasa bahwa malam ini sangat panas. Rasanya aku ingin membuka seluruh bajuku" Ujar Olivia yang kepanasan.


"Rasanya aku merasa dingin. Bagaimana mungkin kamu merasa panas. Sudah ayo jalan saja" jawab Bella yang berusaha menetralkan suasana.


"Ahh panas sekali Bella. Aku sungguh tidak kuat. Rasanya lama sekali kita berjalan. Sungguh gerah" Olivia sudah membika cardigan yang ia gunakan.


Bella yang merasa bingung pun menelpon James


'cepatlah kemari' ujar Bella


"Kamu menelpon siapa Bella?" tanya Olivia.


"A a aku hanya menelpon saudaraku untuk menjemput ku" jawab Bella gugup.


"kenapa aku seperti pernah merasakan panas ini. Panas yang berbeda. Sungguh aku sudah tidak tahan ingin membuka pakaian ku" batin Olivia.


"Aku merasa pusing Bella. Ap apa yang terjadi kenapa dunia seolah berputar Bella kamu dimana Bella" Kali ini Olivia suda mulai hilang kesadaran akibat obat perangsang yang diberikan Bella.


"Olivia maafkan aku ak...."


BRUKKKKK


Bella sudah jatuh tersungkur ke lantai.


"Dasar gadis sialan. Berani sekali kamu mencelakai nona mudaku. Sejak awal aku sudah curiga dengan gelagatmu. Dasar gadis tidak tahu balas Budi" Ujar Briana dengan nada kesal. Briana kemudian mengambil handphonenya dan menelpon seseorang.


'datanglah ke gang dibelakang apartemen nona. sepertinya ada yang berusaha memberikan nona obat perangsang. Cepatlah atau nona tidak akan selamat' ucap Briana di telepon.


'bagaimana mungkin nona bisa terluka. kamu ceroboh sekali Briana' ujar laki laki di seberang telepon


'maafkan aku Hendrik. Sungguh aku sangat ceroboh. Tapi bisakah kamu cepat menjemput nona'


'baiklah tunggu kami disana' jawab Hendrik di seberang telepon.


"huhhhh"


flashback on.


Briana terus berlari hingga tanpa ia sadar Joli sudah tidak mengejarnya.


"astaga aku meninggalkan nona. Ini semua gara gara Joli. Aku sudah meninggalkan nona. Aku harus kembali" gumam briana.


Briana terus berusaha mencari Olivia. Dan ya dia menemukan Olivia yang sedang berjalan bersama Bella. Ketika akan menghampiri mereka dari belakang, Briana tak sengaja melihat Bella mengirimkan pesan kepada seseorang. Dan hal itu sukses membuat Briana curiga.


"sejak awal aku sudah curiga padanya. Sebaiknya aku mengikutinya secara diam-diam" batin briana yang kemudian mengikuti mereka secara diam-diam


Sampai di gang sepi Briana memperhatikan bahwa Olivia merasa kepanasan. Dari sanalah Briana menyadari apa yang terjadi. Ternyata teman yang dikasihani Olivia ini sudah berkhianat kepadanya.


flashback off.


Dua orang laki laki berjas turun dari mobil mewahnya.


"Bri bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Tanya Hendrik pada Briana.


"Maafkan aku Hendrik aku akan jelaskan nanti. Tapi tuan sebaiknya anda membawa nona" jawab Briana gugup. Ia yakin setelah ini ia akan terkena Omelan dari Hendrik.


"ahh panas. sangat panas disini" Teriak Olivia.


"Gadis bodoh" umpat William kesal sambil mengangkat tubuh Olivia kedalam mobil.


"Hendrik kau pulanglah dengan dia. aku akan mengurus Olivia. Dan ya cari tahu juga gadis itu" Perintah William.


"Baik tuan"


William kemudian melakukan mobilnya menuju hotel tempatnya menginap. Didalam mobil Olivia terus berteriak kepanasan.


"Panas sekali aaahh" kali ini Olivia sudah berusaha membuka bajunya namun ditahan oleh William.


"jangan buka bajumu disini. Tidak mungkin aku melakukannya pertama kali di dalam mobil. Sungguh seperti orang susah" Kesal William namun tentu saja ocehan William tak didengar oleh Olivia yang sudah setengah sadar itu.


**


Sesampainya di hotel William kemudian merebahkan tubuh Olivia di ranjang. Baru saja William hendak duduk. William sudah lebih dulu diserang oleh Olivia.


"hey aku masih lelah setelah mengangkat tubuhmu yang berat itu. Dan kau sudah tidak sab-mmmhhh" Belum selesai William berbicara Olivia dudah mencium mulut William dengan posisi Olivia berada di atas tubuh William.


"Baiklah.Waktu itu aku masih tahan tapi kali ini tidak akan..." ujar William dengan senyum iblisya.


"Kamu sungguh luar biasa" ujar William


William terus mencumbu tubuh Olivia dengan segala lenguhan yang dikeluarkan Olivia yang semakin membuat William terpacu. Sampai saatnya dia akan menyatukan dirinya dengan Olivia.


"Awww" Olivia menjerit namun setelah itu ia kembali menjerit kan jeritan kenikmatan.


"Aku menyukaimu Olivia"


Begitulah malam yang panjang bagi dua insan yang sedang berjuang dibawah selimut.


** sementara di Indonesia**


"Panji cepat siapkah upacara yang mewah karena anak semata wayangku akan menikah" perintah Tomo pada asistennya.


"Baik tuan" jawab Panji.


"akhirnya kalian menikah juga. aku yakin Olivia adalah pasangan yang tepat untukmu William. Dia mirip sekali seperti ibumu. dia gadis yang baik. aku ingat bagaimana dia membantuku di sekolah. Disaat anak anak lain tidak peduli terhadap kehadiran ku. kau malah mau membantuku bahkan kau tidak marah ketika orang orang mengejekmu telah menjadi selingkuhan ku. Kau adalah gadis yang baik Olivia" batin Tomo.


flashback on.


Seorang laki laki parubaya turun dari sebuah mobil.


"nak apakah kamu tahu dimana ruang kepala sekolah?" tanya laki-laki itu yang tak lain adalah Tomo. Sebenarnya ia tahu letak ruang kepala sekolah hanya saja ia ingin tahu bagaimana sikap anak anak disekolahnya terhadap seorang tamu.


"maaf pak kau tanyakan saja ke front office" jawab salah satu siswa ketus.


"baiklah terimakasih nak" kata Tomo yang tak ditanggapi oleh anak anak itu.


Kemudia Tomo melihat anak perempuan yang sedang membaca buku di taman depan.


"Nak bisakah kamu mengantarkan ku ke ruang kepala sekolah?" tanya Tomo pada gadis itu.


"Bapak mau ke ruang kepala sekolah? mari ku antarkan pak" Jawab gadis itu sopan.


"Terimakasih banyak nak"


"Sama sama pak"


Selama perjalanan menuju ruang kepala sekolah. Banyak sekali anak anak yang mengejek gadis itu.


"wah siapa yang dibawa si miskin itu ya? apa jangan jangan itu sugar Daddy nya" kata salah satu siswi.


"Wah keterlaluan."


Tomo mendengar bagaimana bully an yang ditunjukkan kepada Olivia.


"Nak mereka mengatakan tentang mu?" tanya Tomo .


"Benar pak, maaf ya bila bapak merasa tidak enak karena aku. Nah itu pak ruang kepala sekolahnya"


"Tapi kenapa kamu tidak membalasnya nak? apa yang mereka katakan itu tidak benar" Ujar Tomo.


"Biarkan saja pak. Itu hak mereka..Kalau sudah saya undur diri pak. Permisi" ujar gadis itu.


Pak Tomo kemudian masuk ke ruang kepala sekolah.


"Wahidin, anak anak disini sungguh tidak tahu sopan santun. Bagaimana kamu mendidik mereka?" tanya Tomo kesal.


"Maafkan saya tuan... Susah sekali mendidik mereka. sedikit kami keras mereka selalu mengadukan kepada orang tua mereka.."


"Bagaimanapun kamu harus memberikan pelajaran Budi pekerti kepada mereka. Dan ya ada satu gadis yang sering dibully dan dia juga gadis yang baik" ujar Tomo


"Siapa gadis itu?... ah ya sebelumya saya ada beberapa siswa yang menurut nilainya pantas mendapatkan beasiswa di Jerman . Ini data dirinya tuan" ujar Wahidin sambil memberikan berkas..


"Ini anak itu din. ini dia gadis yang baik"


"Ini adalah Olivia dia gadis yang berprestasi dan memang benar sering di bully karena dia berasal dari keluarga kurang mampu" ujar Wahidin


"lalu kenapa kamu membiarkan itu terjadi. Aku tidak mau tahu kedepannya kamu harus tegas! Atau aku akan mencari orang yang lebih tegas darimu" ujar Tomo tegas.


'chorel marga ini adalah marga dari Hartono. Siapa gadis ini" batin Tomo


"oh ya kirimkan data diri gadis ini ke asisten ku!" perintah Tomo.


"Baik tuan. Maafkan saya"


Darisanalah Tomo tahu bahwa ternyata sahabatnya masih hidup. Tomo mulai membuat strategi agar dia bisa bertemu dengan Hartono termasuk lowongan pekerjaan tukang sapu. Hingga akhirnya mereka bertemu. Semuanya sudah direncanakan oleh Tomo.