
.
.
.
Rumah keluarga Chaniago.
Di meja makan,
"Riki, bagaimana sekolahmu?." tanya sang Ayah.
"Begitulah."
"Masih tidak mau pindah kesini?"
"Nggak."
"Udah mas, Riki udah besar, mungkin dia lebih nyaman di tempatnya." ucap ibu tiri nya.
"Lulus nanti kamu ikut Ayah ke jakarta, kamu bisa kuliah di sana."
"Kapan kalian balik ke jakarta?" tanya Riki.
"Mungkin tahun depan, karena Ayah ada urusan kerja di sini, kamu bisa balik ke sini kapanpun nak, dimana Ayah berada di sana rumah mu."
"Rumah?"
"Riki, kamu nggak perlu sungkan, disini adalah rumah kamu."
"Rumah ini Ayah beli untuk kamu." ucap Ayah dengan pasti sembari menunjukkan sertifikat yang mengatasnamakan Riki.
"Adik kamu pengen ketemu sama kamu, dia nungguin kamu di jakarta." ujar mama sembari memberikan beberapa lauk ke piring Riki.
"Kalian harus bertemu, adik kamu sangat cantik dan imut." ucap sang Ayah.
Riki hanya bisa melanjutkan makan dengan ekspresi kesal karena mereka lagi-lagi membahas tentang adik dirinya. Dia tidak pernah membantah kepada sang Ayah, karena ia masih perlu uangnya.
Sang Ayah membeli rumah besar nan mahal untuk mereka tinggali sementara di Palembang, dan rumah itu mereka berikan kepada Riki. Setelah acara makan selesai, dia berkeliling melihat semua ruangan rumah itu.
Ia melihat ruangan tidurnya di desain dengan rapi dan ada beberapa gambar anime yang ia sukai. Di sana juga terdapat ruang musik yang di penuhi banyak alat musik yang ia sukai. Juga perpustakaan kecil untuk dia belajar, serta kolam berenang yang luas di belakang rumah.
"Ini sih nggak seberapa, dia lebih banyak dapat uang dari ku, apanya yang adik perempuan!" gumamnya sembari berdecak kesal.
Beberapa hari itu dia tidak ke sekolah, selama di rumah ia merasa bosan, hanya melihat sepasang suami istri yang mesra itu membuatnya semakin jengkel. Akhirnya ia memutuskan pulang kerumahnya, Riki lebih nyaman tinggal di rumah lama itu, masih berharap sang Bunda akan pulang kembali.
.....
.
.
.
Langit mendung, dengan sinar yang meredup membawa ku bergegas ke sekolah lebih awal. Dingin yang ku rasakan ini semakin membeku, aku memandang keluar dari jendela tempatku berada, melihat langit yang mulai menangis.
Tatapan ku berubah menjadi matahari yang muncul dari balik awan gelap.
Ku lihat seseorang yang menyebalkan itu berlari memasuki gedung sekolah. Akhirnya ia kembali, membuat hati ini bersemangat menunggu banyak masalah yang akan dia perbuat. Aku menaruh kedua telapak tanganku tepat di hati, merasakan setiap detakan yang menggebu. Perasaan itu terulang kembali, tapi mengapa harus untuknya.
Ruang Auditorium, semua murid diharapkan berkumpul di sana karena ada pengumuman penting mengenai pelaksanaan ujian kenaikan kelas. Aku duduk di belakang sekali, di dalam ruangan sudah penuh dengan murid dari kelas 10.IPA. Aku dengan serius mendengarkan guru yang sedang berpidato di atas, namun suara berisik dari obrolan beberapa pria di depan ku membuat aku kehilangan fokus. Di samping ku ada satu kursi kosong, terlalu fokus sehingga tidak melihat ke arah lain, tanpa sadar sudah ada seseorang di sebelahku, Ya, si berandal Ampera yang kini melihatku sembari tersenyum.
"Nih." dia mengulurkan tangannya yang berisi beberapa cokelat kecil.
Aku pun menerima pemberiannya sembari tersenyum senang, lalu aku membuka bungkus cokelat itu dan memakannya. Ia membuka lebar mulutnya, berharap aku menyuapinya. Aku pun menyuapinya dengan bungkus cokelat yang tadi ku makan, ia kini terlihat kesal oleh perbuatan ku, membuat aku tertawa cukup keras.
"Ada apa di sana!" teriak guru di atas.
"Ada yang makan bu!" sahut si berandal.
Mataku membulat menatapnya penuh kebingungan.
"Yang merasa makan di dalam ruangan ini, silahkan keluar!" ujar guru dengan emosi.
Aku pun berjalan ke luar ruangan, merasa telah masuk dalam jebakan si berandal.
"Enak kan cokelat nya?"
"Kenapa kamu kesini?"
"Aku juga makan cokelat tadi, walaupun cuman bungkusnya."
"Kamu!" aku memukul pundaknya beberapa kali, ia hanya tertawa dan sedikit menghindar.
"Sudah, sakit tau!" cetusnya sembari mengelus pundaknya yang mungkin terasa sakit karena pukulan ku yang lumayan keras.
"Mereka itu ngomong panjang lebar, ujung-ujungnya minta duit, siapin aja duit buat pelaksanaan ujian bulan depan."
"Ujian?, bulan depan?"
"Iya, ujian!"
"Ya ampun, cepat banget sih udah mau ujian aja."
"Harus banyak belajar."
"Iya, jangan ganggu aku lagi, aku mau fokus belajar, kamu juga belajar jangan berantem aja kerjaannya."
"Terserah aku lah." ucapnya dengan gaya angkuh khas nya dan dia pun pergi meninggalkan aku di depan ruang Auditorium.
.....
.
.
.
Di kantin, terlihat ia sedang merangkul seorang gadis yang adalah pacar barunya saat ini. Bersama teman lelaki sekelasnya makan di meja yang sama sembari melontarkan banyak candaan.
Dia sangat populer akan sebutan cap playboy kaya, tapi masih ada banyak wanita yang menyukainya dan berharap ingin menjadi pacar berikutnya. Mereka mengharapkan sesuatu yang lain dan bukan berdasarkan cinta, itu semua karena uang yang ia berikan cukup menggiurkan mereka.
Tatapan kami tak sengaja beradu, ia mengedipkan sebelah matanya padaku.
Dan ku tanggapi dengan kepalan tangan dan mata yang melotot kejam. Ia pun tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.
.....
.
.
.
Ruang lab, aku memeriksa Beberapa bahan zat berbahaya untuk nilai paraktik kelompok. Aku dengan hati-hati memindahkan bahan itu untuk di simpan di lemari, tapi seorang pria yang sekelas denganku itu menabrak bahu ku dengan cukup keras sehingga bahan itu jatuh ke lantai dan memercik kaki ku.
"Gimana sih, pegang itu aja nggak kuat!" cetusnya sembari memegang lengan tangannya yang juga terkena percikan.
"Kamu yang nabrak!" keluh ku membela diri.
"Aduh tanganku melepuh!"
ujarnya seketika berlari keluar ruangan.
Kaki ku terasa sakit, karena bahan itu sangat berbahaya bila mengenai kulit. Tapi, aku tak bisa membiarkan semuanya berantakan di lantai. Aku pun menahan sakit itu dan bergegas membersihkan tempat itu.
Setelah selesai, aku bergegas menuju UKS, tapi salah satu teman sekelas ku mengatakan bahwa aku di panggil guru ke ruangannya, aku pun bergegas pergi ke ruang guru.
Ruang Guru,
Saat aku masuk, di sana juga ada seorang ibu dan Fano teman sekelas yang menabrak ku di ruang lab tadi. Ia dengan tangannya yang di perban itu memandang kesal diriku.
"Bisa kamu jelasin, bagaimana bisa kamu menyiram Fano pakai zat kimia berbahaya itu?" tanya guru dengan tegas.
"Aku nggak sengaja, dia yang lebih dulu menabrak aku sampai bahannya jatuh dan pecah bu."
"Kamu kurang ajar, liat lengan anakku yang tampan ini jadi rusak parah!" tuntut nya sembari menunjuk lengan anaknya.
Aku hanya terdiam, tidak tau harus berkata apa lagi karena semua perkataan ku tidak akan di percaya.
"Ibu akan manggil orang tua kamu kesini, kalau kamu masih nggak mau mengaku." ujar guru mengancam.
"Jangan bu, aku salah, aku minta maaf fano."
"Sekarang baru mau ngaku!" ibu itu langsung mendorong Amel dengan kuat.
"Aduh." rintih nya merasa kesakitan.
"Udah bu, dia udah minta maaf, mending biarkan masalah ini selesai, saya akan menyuruhnya ke ruang BK untuk mendapatkan hukumannya." jelas guru sembari menopang ku untuk berdiri.
"Ayo nak kita ke dokter kulit."
"Iya ma."
Keduanya meninggalkan ruangan guru, seakan sudah puas untuk sekedar memarahi ku.
"Maafkan ibu mel, ibu tau bukan kamu yang salah, cuman status mereka tinggi dan ibu tidak bisa membela kamu." katanya dengan penuh sesal.
"Iya nggak apa bu."
"Kamu terluka?, cepat kamu ke UKS, nanti lukamu menjadi infeksi kalau di biarkan."
"Baik bu."
Aku pun keluar dari ruangan itu dan bergegas ke UKS. Di sepanjang jalan aku berjalan dengan pelan karena kaki ini berdenyut sakit, dan mulai melepuh. Lalu ada seorang wanita yang menuju ke arahku dengan langkah kaki yang besar.
"Hei!, kamu berani ya, siram Fano pakai bahan berbahaya begitu!"
"Ada apa lagi ini?" gumam ku dari dalam hati.
Dia mencoba untuk menamparku, tapi aku menahan tangannya.
"Kamu!" dia pun menarik tangannya dan mencoba untuk mendorongku, tapi dengan sigap aku menghindar sehingga dia yang terjatuh.
"Dasar cewek gila!, awas lo!"
jerit nya sembari duduk memegang kakinya yang mungkin sakit karena tersandung kursi.
Aku pergi meninggalkan perempuan itu, dan berjalan sampai ke UKS. Aku mencari beberapa obat dan perban, mengoles luka dengan obat merah. Terasa sangat sakit sampai ingin mengeluarkan air mata.
"Aduh, sakit banget!" rutu ku sembari dengan pelan mengoles obat itu.
"Kamu kenapa?"
"Kamu!"
Aku terkejut melihat si berandal yang tiba-tiba keluar dari balik tirai.
"Woaaamm, langganan banget kamu ke UKS" dia menguam dengan mulut lebar sembari mengusap matanya.
"Bukan mau aku kesini terus."
"Kenapa kaki mu?"
"Nggak apa, luka dikit." ujar ku sembari mengoles pelan luka.
"Sini aku bantu."
"Nggak usah, tinggal dikit lagi kok."
"Dikit apanya, itu belum kamu oles sama sekali."
Dia merebut obat merah dan kapas di tanganku, secara paksa aku membiarkannya.
"Aduh, pelan-pelan dong!" jeritku merasa sakit ketika ia mulai mengoles obat itu.
"Kita ke dokter aja!" dia berdiri sembari menaruh kembali obat itu.
"Nggak usah!"
"Lukanya parah."
"Nggak parah, cuman melepuh aja, aku nggak mau ke rumah sakit lagi."
Aku mengambil kembali obat itu dan segera mengolesnya dengan banyak, aku menahan sakit sembari menggigit lengan ku. Dia segera menepis lengan ku dan mengelapnya dengan sapu tangan.
"Walau sakit, nggak boleh melukai bagian lain."
Aku hanya diam dan terus melihat semua yang ia lakukan. Dia memperban luka ku dengan hati-hati dan tersenyum bahagia ketika perban selesai ia pakaikan.
"Ternyata aku hebat juga mengobati orang." katanya dengan bangga.
"Perbannya terlalu kencang, bisa-bisa luka ku membusuk!" cetus ku sembari membenarkan kembali perbannya.
"Kenapa gak bilang dari tadi."
"Ternyata masih payah." ejek ku.
"Ini kali pertama aku mengobati orang loh, menurut aku lumayan, untung kaki mu nggak sampai putus."
"Kalau beneran putus, terpaksa kamu harus ganti, kaki dengan kaki, tangan dengan tangan."
"Kalau hati pasti juga dengan hati kan?"
Pertanyaannya membuat aku tak bisa berkata apapun. Dia hanya tersenyum lalu pergi. Aku tidak ingin mematahkan senyumnya ketika memperban kaki ku, walaupun cukup terasa sakit saat dia memperbannya terlalu kencang. Perasaan apa ini?. perasaan nyaman yang tak terduga sudah membentuk di hati ku.
.....