
ಥ⌣ಥ♥ . (✿ฺ´∀'✿ฺ)ノ . 乂❤‿❤乂
.
.
.
Seperti biasa, ketukan pintu yang keras itu adalah si berandal. Aku membuka pintu dan mendapati dirinya yang membawa dua kantong kresek besar, dia langsung masuk dan mengobrak abrik dapurku. Tidak tau apa lagi yang akan dia lakukan.
"Kamu ngapain?" tanya ku yang mengintipnya di belakang.
"Sini, bantu aku."
"Ini?"
"Aku mau masak ayam goreng crispy." katanya sembari membersihkan ayam.
"Kenapa masak disini?, kenapa nggak masak di rumah pacar kamu aja sih?"
"Nggak usah ribut, buka tepung."
"Iya,iya."
Kami memasak dengan sempurna, aku hanya melumuri ayamnya dengan tepung, dia menggorengnya dengan hati-hati seperti sudah profesional. Sampai masakan pun sudah selesai dimasak, aku menaruh ayam di meja dan dia membersihkan bekas memasak tadi.
Kini, kami menghadap ayam goreng itu, ia mengambilnya dan memberikan satu padaku.
"Makan." katanya.
Aku menikmati ayam itu, dia memandang ku tanpa memakan ayam itu.
"Kenapa nggak makan?" tanyaku.
Dia hanya menggeleng kepala, dan memberikan sepiring penuh ayam itu padaku. Dia berdiri dan hendak pergi, tapi aku mencegahnya dengan menarik bajunya.
"Aku mau pulang."
"Aku mau bicara." kataku.
"Ada apa?"
"Jangan datang kesini lagi, aku mohon."
Dia hanya menatapku dengan rasa tak percaya.
"Terima kasih untuk ayamnya, aku cuman nggak mau buat pacar kamu salah paham, lebih baik kamu jangan kesini lagi, itu melukai perasaan mereka." pinta ku.
"Oke." dia pun pergi.
"Mudah sekali?, oke aja?" pikirku yang tak percaya akan jawabannya.
Aku pun menghabiskan ayam yang ia buat sampai kekenyangan.
"Dasar, berandal!, gak punya nurani!"
Tanpa tau mengapa hati ini menjadi kesal sendiri.
.....
.
.
.
Sabtu pagi yang kelam, PR yang menunggu ku untuk mengerjakan mereka. Dengan mata lesu dan buku-buku di depanku ini membuatku merana.
Setiap hari sabtu-minggu adalah hari libur, tapi guru tak berniat memberi kami libur dengan tugas yang menumpuk dan harus di kumpulkan senin. Karena bahan tugas tidak lengkap, aku hendak pergi ke toko buku dan berniat membeli beberapa buku di sana.
Memasuki Gramedia yang sejuk dan penuh dengan buku yang berbaris di rak nya. Aku mulai mencari dari lantai bawah ke lantai atas. Beberapa buku bahan tugas sudah ku dapatkan, kini aku ingin membeli beberapa Novel yang ku suka. Setelah itu aku kembali pulang.
Saat di jalan, aku berfikir untuk mampir ke KI (Kandang Iwak). Di sana pasti ramai, banyak orang berjualan. Dan tempat pas untuk santai sembari membaca novel baru ku.
Sesampainya di sana, aku melihat-lihat dagangan orang hendak membeli beberapa liptint dan bedak. Lalu duduk di bawah pohon rindang sembari memakan cemilan dan membuka novel ku. Tak luput dari musik indah yang menambah suasana di hatiku.
Tiba-tiba seseorang menelpon ku, Vioana nama panggilan itu.
"Halo Vio?"
"Kamu dimana mel?"
"Di KI, emang kenapa?"
"Aku kesana ya?"
"Dateng aja, aku tunggu."
"Bye."
Aku kembali ke dalam suasana ku sembari menunggunya. Tak lama dia pun datang dan berhasil menemukan ku. Ternyata dia datang bersama seseorang.
"Mel, kenalin dia sepupu ku."
"Hai, Amel." kata ku sembari melambainya.
"Juga, namaku Darren."
"Dia ngotot mau ikut kesini, katanya refreshing habis diputusin cewek." jelas Vio penuh tawa.
"Apaan sih, enak juga disini ramai." kata Darren sembari melihat ke sekelilingnya.
Aku hanya bisa tersenyum ramah, tiba-tiba aku di buat terkejut oleh sosok pria yang menghampiri kami.
"Udah sampai?" tanya Darren padanya.
"Kalian?" ucapnya sembari menunjuk aku dan Vio.
"Kenapa kamu kesini?" tanya ku.
"Tunggu dulu, kalian saling kenal?" tanya Darren.
"Kami sekelas." jawab Viona.
"Oh begitu, lebih mudah dari yang ku kira." ujarnya sembari mengedipkan mata pada Riki.
"Aku mau bicara sama Darren bentar." kata Viona sembari menggandeng tangan Darren dan membawanya pergi.
Tinggallah aku dan dia, hanya bisa diam tanpa suara, keadaan menjadi sedikit canggung.
"Kenapa kesini?" tanyaku membuyarkan suasana mencekam.
"Aku di ajak Darren, katanya disini banyak cewek cantik." jelasnya.
"Oh, memang disini banyak kok cewek cantik, tuh di sana segerombolan cewek, cantik semua dan tinggal pilih yang mana kamu suka." kataku dengan sedikit nada kesal.
"Sama kayak kamu, emang kamu aja yang mau nyari pacar, aku juga lah disini mau nyari cowok." jelas ku sembari menunjuk beberapa segerombolan cowok.
"Jangan pacaran sama cowok di sana, mereka anak nakal." pinta nya.
"Sebelah sana juga ada, wah mereka tampan dan kelihatan cowok baik-baik." ujar ku menunjuk gerombolan kakak-kakak kuliahan.
"Mereka cabul, suka sewa perempuan buat tidur, nggak bagus." katanya sembari menggeleng kepala.
"Di sana tuh, pasti anak orang kaya, wajahnya bule-bule gitu kan super ganteng."
"Mereka lebih parah, suka makan obat-obatan sama mabok-mabokan."
"Stop!!!" pekik ku yang mulai kesal.
"Kenapa?" tanya nya dengan ekspresi bingung sekaligus terkejut.
"Terserah aku mau sama siapa, mungkin aja lebih baik sama mereka dari pada sama kamu kan?, playboy sejati." jelas ku yang penuh kesal.
Lalu Darren dan Viona kembali menghampiri kami.
"Ada apa dengan kalian?" tanya Darren yang bingung melihat suasana suram antara kami berdua.
"Mel, kita kasih makan ikan yuk?" ajak Viona sembari menggandeng lenganku.
"Mel, yuk kita beli makan ikan di sana." ajak Darren.
Aku pun mengikutinya dan meninggalkan Viona serta Riki. Di jalan menuju tempat jualan makanan ikan, ada juga jualan permen Lollipop. Darren berhenti dan membeli lollipop berwarna pink berbentuk hati dan memberikannya padaku.
"Makasih." ucapku sembari membuka bungkus lollipop itu dan langsung mengemutnya.
Angin sepoi menghembus rambutku dan aku tersenyum senang merasakan manisnya permen itu.
"Cantik." ucap Darren.
"Ya?"
"Kamu cantik." katanya sembari tersenyum malu.
"Terima kasih." kataku sembari tersenyum manis padanya.
Setelah membeli makanan ikan, kami bergegas kembali menghampiri Viona dan Riki.
.....
.
.
.
Riki dan Viona.
"Riki, kenapa kamu nggak bales chat aku?" tanya Viona.
"Sibuk."
"Oh, kalau nggak sibuk lagi, semoga di bales." katanya sembari melontarkan senyuman pada Riki.
Riki hanya diam dan terus memikirkan kedua orang yang sedang membeli makanan ikan.
"Lama banget sih." gumamnya sembari menyenderkan diri di kursi.
Ia memejamkan matanya dan menikmati hembusan angin yang sejuk, Viona yang disampingnya terus memandang indah lelaki itu. Semua wanita yang berlalu lalang sangat histeris melihat ketampanan Riki yang bak artis korea itu. Stylenya dan raut wajah indah nya itu membuat semua wanita meleleh.
"Viona, mau jadi pacar ku?" tanya Riki yang masih memejamkan matanya menikmati angin sepoi.
"Kamu serius?" tanya Viona kembali.
"Ya udah kalau nggak mau." jawab Riki simple yang kini sembari memainkan handphone nya.
"Mau, aku mau banget." ucapan yang penuh kebahagiaan.
"Akhirnya, hari ini datang juga." batin Viona.
.....
.
.
.
Hari memang sudah sore, cahaya matahari tak terasa hangat lagi. Darren dan Amel kembali menemui keduanya yang sedang duduk bermesraan.
"Wah, ada apa ini?, apa kalian akhirnya jadian?" tanya Darren penuh senyum mengharukan.
"Iya, kami baru aja resmi pacaran. Hari ini aku yang traktir kalian makan." ujar Viona penuh semangat.
"Oh, selamat buat kalian." ucapku.
"Makasih mel." ujar Viona.
Kini aku pergi meninggalkan kemesraan keduanya dan memberi makan ikan. Semua ikan sangat lahap saat di beri makan, sampai berebutan.
"Sejak kapan kamu kenal Riki?" tanyaku.
"Kami sudah berteman sejak SMP. Tapi, saat SMA aku pindah ke sekolah lain, walaupun gak satu sekolah lagi, kami masih sering bertemu di luar."
"Begitu, kalau Viona. Kamu sudah tau bagaimana kelakuan Riki. Nggak apa biarin mereka bersama?".
"Aku tau dia itu playboy. Sudah berapa kali aku menasehatinya, dari kelas satu SMP sampai saat ini dia masih suka padanya, aku nggak habis pikir."
"Ternyata sudah lama dia suka sama si berandal." gumam ku.
"Si berandal?"
"Ah, bukan apa-apa. Ya udah kalau memang itu buat Viona senang sih, aku juga nggak bisa ngelarang."
"Kamu kayaknya deket yah sama Riki?"
"Nggak!, kami nggak deket tuh."
"Boleh aku minta kontak kamu?" pintanya sembari memberikan handphone.
"Makasih, boleh kan aku chat kamu."
"Boleh aja."
"Hey!. Ayo makan!" ujar Riki yang entah dari mana tiba-tiba nongol seperti hantu.
"Ngagetin aja loh!" kata Darren sembari menepuk pundak temannya.
.....