
.
.
.
Amel pov
Malam tanpa bintang, hati ini semakin merasa sedih. Aku duduk di depan kosan, untuk menghilangkan rasa rindu dan kekhawatiran saat melihat bintang-bintang. Namun, tampaknya semesta menyuruh ku untuk bersedih. Aku melirik HP di tanganku ini, berharap seseorang menelpon ku dan mengabari ku tentang keadaannya. Tapi, saat ini aku hanya bisa membuka album foto ku saat bersama-sama dia, pria yang ku cinta.
"Apa dia beneran preman?, apa yang di bilang Raffi itu benar?, seharusnya aku yang lebih tau dirinya di bandingkan orang lain, walaupun hubungan kami masih baru." gumam ku sembari menatap foto nya yang sedang tersenyum manis.
.....
.
.
.
BKB
Dengan suasana yang mencengkram di antara kedua ketua.
"Haha." tawa Riki kencang.
"Kenapa lo ketawa?"
"Dunia emang sempit, orang yang melawanku ternyata masih orang yang sama!"
"Gua nggak akan pernah kalah dari lo Riki!"
"Dari awal lo udah kalah, Raffi!" bisik Riki di baling telinga nya.
"Hahaha, kalah itu wajar. Tapi, kali ini gue pasti menang!" ujarnya dengan percaya diri.
"Jauhi Amel, di milik gua. Dan jangan main-main sama Anak Rajawali, mereka nggak akan tinggal diam melihat kejahatan lu!" jelas Riki sembari menunjuk Raffi.
"Anggota gua nggak kalah banyak dari punya lo, lagian kalian itu pengecut!, geng sok suci."
"Dasar!" pekik Drill merasa tak terima.
"Kami tidak pernah melakukan hal yang negatif, Geng kalian gak berbobot, selalu gangguin ketenangan daerah ini, dan sering buat masalah dimana-mana." ungkap Rano.
"Geng kalian habisin banyak duit buat orang-orang malas di jalanan ini, kalau mau kaya yah bekerja lah. Bukannya jadi pengemis!" ucap wakil kumbang emas, gion.
"Lu penghianat Gion!" pekik Yoga.
Gion adalah sepupu Yoga, yang dulunya adalah anggota mereka.
"Kelompok kalian itu gak asyik, terlalu suci, kita masih muda kak, lebih baik bersenang-senang." ucap Gion.
Kedua Geng itu kini berdebat tanpa henti, hingga pada akhirnya terjadilah perkelahian. Riki dengan susah payah ingin menghentikan, tapi anggota Raffi terlalu banyak. Polisi biasanya mengawasi tempat ini, tapi sepertinya Raffi punya koneksi dengan aparat kepolisian di daerah ini. Riki berusaha menolong teman-temannya dan dia sudah hampir babak belur oleh beberapa orang itu. Namun, masih tidak bisa menghentikan perkelahian ini.
Riki pun menarik Raffi keluar dari kerumunan dan mencari tempat untuk mereka berdua. Keduanya saling menatap dengan emosi yang tak akan padam.
"Sudahi perkelahian ini, masalah kita berdua tidak seharusnya melibatkan mereka." ucap Riki.
"Kamu takut?"
Riki pun menarik kerah Raffi dengan kencang dan tangannya sudah tergepal ingin meninju orang yang di hadapannya itu.
"Pukul saja!, aku bisa membuat anggota mu mati di tempat loh." ujar Raffi.
"Hentikan mereka!"
"Kalau mau aku hentikan mereka, kamu harus putus dengan pacarmu sebagai gantinya."
"Brengsek!" teriak Riki sembari melayangkan tinju di wajah Raffi.
"Haha, pukul saja aku sampai babak belur, nggak masalah. Yang masalah kini anggota mu sudah nggak bisa bertahan lagi."
Semua anggota yang ikut hadir itu sudah babak belur dan ada beberapa yang sudah terbaring di tanah.
Dengan putus asa Riki mengeluarkan Handphone nya dan menghubungi sang pacar.
Tidak perlu waktu lama ia mengangkatnya,
"Hallo?"
"Sayang." ucap Riki lembut.
"Kamu dari mana aja?, aku khawatir banget sama kamu, maafin aku ya. Aku salah karena engga mikirin perasaan kamu, aku sangat merindukan kamu."
"Ayo, kita pu .. tus." ujar pria itu dengan terbata-bata.
"Apa?"
Ia pun mematikan sambungan telepon itu, tangannya melemas. Raffi pun pergi dengan senyum bahagia.
"Kawan-kawan!, sudah cukup. Ayo kita pergi." jerit Raffi kepada para anggotanya.
Geng kumbang Emas pun pergi dan menyisahkan anggota Rajawali yang sedang sekarat. Riki pun bergegas menolong mereka.
.....
.
.
.
Amel pov
Aku berbaring di atas kasur empuk ku, sembari membuka drama yang belum selesai aku tonton.
Tiba-tiba Hp ku berbunyi, tertulis nama dia yang membuat aku langsung mengangkatnya dengan semangat.
"Hallo?"
"Sayang?"
suara pria yang aku rindu kan.
"Kamu dari mana aja?, aku khawatir banget sama kamu, maafin aku ya. Aku salah karena engga mikirin perasaan kamu, aku sangat merindukan kamu." dengan perkataan ini, aku berharap dia memaafkan ku dan ia bisa kembali.
"Ayo, kita pu .. tus."
kata-kata itu seperti sebuah lelucon bagi ku saat ini.
"Apa?" tanya ku kembali, berharap itu memanglah lelucon untuk menghukum ku.
"Kita akhiri saja hubungan ini, terima kasih untuk segalanya."
Aku pun terdiam, berharap ini hanyalah sebuah mimpi. Aku mencubit pipi ku dan ternyata sakit, sangat sakit sampai menusuk di hati. Suara itu sepertinya bukanlah lelucon, bukanlah prank dan bukan asal-asalan. Itu benar adalah keinginannya, Hp ku terjatuh ke lantai dan air mata ini mulai mengalir, tangis ku semakin menjadi saat ku lihat beberapa foto kami di dinding kamar ku.
Apakah inilah akhir dari hubungan ini, dari awal aku sudah berfikir keadaan seperti ini akan terjadi. Tapi, aku sempat lupa karena buaiannya, kata-kata manisnya dan perlakuan manisnya itu. Berbeda dari sebelumnya, mengapa perpisahan kali ini lebih menyakitkan.
.....
.
.
.
Riki Pov
Rumah sakit, sekarang sudah banyak orang yang mengantri untuk di obati dan beberapa yang pingsan sudah masuk ke ruang pemeriksaan.
"Ada apa ini?" tanya pamannya Riki yang adalah seorang dokter.
"Tolong obati mereka paman." ujarnya sembari berjalan pelan dengan luka di sekujur tubuhnya.
"Kau mau kemana?, obati dulu luka mu itu!" ucap Paman merasa cemas.
Riki hanya diam dan terus berjalan pelan, hingga sampailah ia di atas atap gedung rumah sakit. Ia duduk menyender di balik pintu itu, ia menundukkan kepalanya dan mulai menangis.
Pria yang terlihat tangguh dan bersemangat itu juga bisa menangis di saat hatinya merasa sakit. Anak muda yang sangat malang,dari kecil tidak pernah mendapat kasih sayang penuh dari orang tua. Juga harus berpisah dengan wanita yang sangat ia cintai.
"Bodoh!, lo itu emang bodoh Riki!" gumamnya kesal terhadap diri sendiri.
"Semua hal lo anggap enteng, semuanya lo anggap mudah, kapan kau akan dewasa dan bahagia?" pria itu terus berkata pada dirinya sembari menepuk kepalanya sendiri merasa semua hal yang ia pikir sempurna akhirnya tidak seperti yang ia rencanakan.
Rasa sedih, kesal dan sakit di hati ini memenuhi diri yang teramat malang ini. Ia membuka Hp nya untuk mencoba menelpon gadis itu. Tapi, jarinya tertahan oleh perkataan Raffi pada saat itu.
"Jangan coba-coba kembali dengannya, atau semua anggota mu akan terkena masalah yang lebih dari ini. Ayah ku lebih kaya dari Ayah mu, jadi ingat baik-baik apa yang aku katakan!" tegasnya sembari menepuk pundak Riki.
"Apa dia akan membenci ku?, Hahaha, pada akhirnya aku tetaplah pecundang yang tidak bisa mempertahankan pacar dan teman-teman ku." gumamnya dengan ekspresi penuh kesedihan.
.....
.
.
😞😢😭💔