
...👰🏻🤵🏻...
.
.
.
Esoknya aku bangun pagi-pagi sekali, memasak nasi dan lauk untuk dijadikan sarapan pagi. Aku terbiasa makan nasi saat ingin berangkat ke sekolah. Ku lihat si berandal masih terbaring di lapisi selimut tebal itu, seakan tidurnya semalam sangat nyenyak. Sekarang sarapan sudah berjejer di meja, aku membangunkannya pelan.
"Ayo makan."
Tidak ada sahutan
"Bangun!!" pekik ku membuatnya bangun seketika.
"Kebakaran???"
"Iya matahari pagi udah mau membakar dunia, jadi bangunlah, kita sarapan."
Dia hanya mengangguk kecil dan menyipitkan matanya seakan sinar pagi menyilaukannya. Ia menggosok matanya pelan sembari melihat makanan di depannya.
"Hoam." dia menguap.
"Makanlah." pinta ku.
"Baru kali ini sarapan pagi makan nasi." katanya sembari menyuap.
"Cepetan habisin, nanti kita mau pergi."
"Kemana?"
"Mau kabur?" canda ku.
"Serius?, aku mau kabur, kita nikah yuk!." katanya dengan penuh semangat.
"Gila ya, cepetan makan!"
Setelah selesai makan, aku berganti pakaian untuk menghadiri pernikahan Viona serta mengembalikan calon suaminya itu.
Gaun yang baru ku beli ini akhirnya di pakai untuk menghadiri pernikahannya, gaun cantik berwarna putih bersih bercorak bunga. Di padu dengan Make-up sederhana ini membuat aku bagaikan putri dari suatu kerajaan. Aku keluar dari kamarku dan tersenyum padanya yang sedang berdiri memakai jaketnya.
Dia menatapku lama, membuat ku menjadi malu.
"Ngapain liat-liat!"
Dia tersenyum dan menghampiriku,
"Cantik, sangat cantik." katanya sembari memegang telapak tanganku.
Aku menatapnya sembari tersenyum,
"Terima kasih." aku sangat senang sekaligus sedih mendengar pujiannya.
"Mobil udah di depan, ayo kita berangkat." ajak ku.
"Tunggu dulu."
"Apa lagi?"
"Foto dulu." ia membuka hp nya dan mulai memotret.
Pipi kami bertemu, aku terkejut dibuatnya sehingga foto yang ia potret itu menampilkan ekspresi kejut ku.
"Hapus!"
"Pak, tolong fotoin kami." dia meminta pak supir untuk memotret kami.
Jprett ...
"Terima kasih pak."
"Ayolah naik, bapak itu nungguin."
"Oke."
.....
.
.
.
Aku mengetik pesan kepada Viona.
"Viona, suruh orang jemput suami kamu di parkiran."
"Oke." balasnya.
Di parkiran, aku membuka pintu dan hendak turun. Tangan nya lagi-lagi menggenggam tanganku, raut wajah memelas itu membuat ku hampir luluh. Aku menariknya keluar dari mobil dan memeluknya.
"Hadapilah, aku percaya padamu." bisik ku di telinganya.
Segerombolan pria bertubuh besar datang menghampiri kami.
"Tuan, ayo ikuti kami."
Aku memasuki gereja dan duduk di salah satu jejeran kursi. Tidak banyak yang hadir, hanya saudara Viona dan saudara Riki yang mengunjungi, ternyata hanya aku yang bolos sekolah demi menghadiri acara pernikahan mereka. Ada ibu kepala sekolah yang mendampingi Riki yang kini sudah berada di depan pastor. Alunan musik rohani mengiringi pengantin wanita menyusuri karpet merah dan di dampingi sang Ayah. Senyum manis dan gaun cantik yang di kenakan Viona membuatku terpukau.
Mereka bertemu di sana dan mulai menghadap pastor yang akan menyebutkan janji suci.
Hatiku tidak tahan melihat si berandal akhirnya menuju pernikahan bersama orang lain. Ternyata perasaan ini hanya sampai disini, terima kasih sudah hadir dan memberi warna pada hari-hari yang membosankan bagi ku.
Terima kasih sudah pernah hadir di hatiku sebagai orang yang ku cinta.
"Saya Viona berjanji akan hidup semati bersama pasangan ku."
"Saya.... Ber..janji..."
ia menoleh ke belakang melihat diriku yang masih duduk melihatnya sembari tersenyum untuk meyakinkan nya.
"Akan hidup .... Semati ..." kata-kata yang sangat sulit ia ucapkan saat ini.
.
"Stop!!!" pekik seseorang dari pintu masuk.
Darren berlari menghampiri keduanya yang sedang mengucapkan janji setia.
"Viona, hentikan!"
"Kamu!, kenapa kamu kesini?"
"Hentikan ku bilang!"
"Apa maksudmu?, pergi sana. Sayang ayo kita lanjuti janji setianya."
"Semua ini salah paham, Ayah dari anak itu sebenarnya adalah Aku." jelasnya dengan penuh keyakinan.
Semua orang terkejut akan pengakuannya, dia bersumpah di sana bahwa anak itu adalah anaknya.
Semua orang berbisik, membuat semua orang dalam ruangan itu menjadi riuh.
"Darren!, hentikan!, jangan ganggu pernikahan ku." pekik Viona marah.
"Jangan egois, berhenti mencintai orang yang tidak pernah menyukaimu. Aku disini, aku mencintai mu Viona."
Viona menangis tersedu, memeluk Darren sembari menangis pilu. Akhirnya calon pengantin laki-laki di gantikan, pihak keluarga Viona meminta maaf atas tuduhan salah dari anak mereka.
"Apa ini?, mukjizat kah?" batinku yang merasa lega.
Si berandal dengan senyum lebarnya menghampiri dan membawaku pergi dari ruangan itu. Di taman gereja, kami duduk di kursi panjang berwarna putih. Dia menatapku dengan penuh bahagia, aku menyambut tatapan hangat itu.
Aroma harum dari bunga-bunga yang bermekaran itu mengelilingi kami, sinar matahari pagi yang sejuk menyinari. Rasa bahagia memenuhi hatiku, ia mendekatiku dan mengelus pipi ku dengan lembut.
Dengan berani dia mendekatkan wajahnya dan mencium bibirku dengan lembut dan perlahan. Parahnya aku tak menolak ciuman itu, melainkan menyambutnya dengan penuh kebahagiaan.
Dia mengakhirinya dengan lembut dan menggoda. Tak henti-hentinya ia menatapku dengan serius, seakan ada sesuatu yang sangat ingin dia ucapkan.
"Kamu selalu mengganggu pikiranku, membuat aku merasakan hal yang tak pernah aku rasakan dalam hidupku. Kebaikan mu saat menolongku yang terluka, keanehan mu yang membuatku selalu penasaran, kepedulian mu yang membuatku merasa nyaman, rasa cemburu ketika kamu bersama pria lain. Apakah ini yang kamu sebut Cinta?, apakah aku sekarang sedang jatuh cinta?, kalau memang benar berarti sekarang aku sangat mencintai kamu."
Aku tersenyum haru mendengar setiap perkataannya, ternyata bukan hanya aku yang tanpa sadar sudah menyukainya, dia pun merasakan hal yang sama. Kini bendungan air kebahagiaan memenuhi mataku, perasaan haru dan senang ini menyatu. Membuat aku tak henti-hentinya tersenyum.
"Iya, kamu memang sedang jatuh cinta, kalau gejalanya seperti itu."
"Apa aku kalah taruhan?"
"Ya, kamu kalah."
"Dulu, aku akan memilih uang dari pada cinta. Tapi, sekarang aku rela meninggalkan uang demi cinta."
"Jangan coba-coba meninggalkan uang, mereka tidak boleh di lepas. Keduanya sangat berharga, jadi jangan pilih kasih di antara keduanya."
"Aku tau, sekarang aku sudah tercerahkan oleh bunda maria." katanya sembari meledekku.
"Jadi kamu bisa kabulin satu permintaanku kan?."
"Iya, aku kalah taruhan. Jadi, apa permintaanmu?."
"Permintaannya aku simpan dulu, aku mau mikirin baik-baik, apa yang akan aku minta darimu nanti."
"Setelah dipikir-pikir. Selama ini kita belum resmi berkenalan. Hai, namaku Riki Chaniago. Siapa nama mu cantik?"
"Haha, hai juga si berandal Ampera, nama ku Amelia. Panggil saja Amel."
"Amelia, jadian yuk?"
Pertanyaannya membuatku tak pernah berfikir akan mendapatkan pacar lagi dari sekian waktu setelah dulu putus dengan kevin.
"Ayo." jawabku.
"Wah, beneran?"
"Gak jadi."
"Jangan lah, jadi sekarang kita resmi pacaran ya."
Aku mengangguk tanda setuju, tidak menyangka akan tiba hari seperti ini. Berpacaran dengan cowok playboy yang selalu membuatku kesal. Aku akan menerima semua akhirnya, apapun akhir yang akan terjadi. Aku tidak akan pernah menyesalinya.
.....
💘💘💘