RIKI & AMEL

RIKI & AMEL
Cerita Riki


๐Ÿ–ค๐Ÿ–ค๐Ÿ–ค๐Ÿ–ค๐Ÿ–ค๐Ÿ–ค๐Ÿ–ค๐Ÿ–ค๐Ÿ–ค๐Ÿ–ค๐Ÿ–ค๐Ÿ–ค


.


.


.


Langit biru di penuhi awan yang berlalu lalang dan di bawa oleh angin yang bertiup deras. Di lantai atas rumah yang terbuka terdapat sepasang suami istri yang sedang memandang satu sama lain dengan ekspresi sayu.


"Kamu nggak harus ke jakarta mas, mending kamu jadi direktur di sekolah saja."


"Tapi aku nggak enak dengan mama kamu, aku sekarang pengangguran."


"Mama udah bilang, sekolah itu akan jadi milikku, dan kamu bisa mengurusnya mas."


"Mama kamu selalu nggak suka sama aku, kalau aku udah sukses di sana, aku nggak malu lagi buat menghadap mama kamu."


"Kalau itu keputusan kamu, aku dukung mas, tapi tunggu anak kamu lahir, kamu baru boleh berangkat."


"Iya."


Tiga bulan pun berlalu,


Rumah sakit Bunda.


"Selamat pak, anak anda laki-laki." ucap sang dokter sembari memberikan bayi mungil yang masih merah itu.


"Terima kasih dok."


"Mas, cepat beri dia nama."


"Riki Chaniago."


"Adik, lucu sekali." ucap Malik yang berumur 5 tahun.


Keluarga itu sangat senang atas kehadiran bayi laki-laki yang mungil dan tampan. Setelah sebulan berlalu, sang Ayah harus pergi ke luar kota untuk bekerja di sebuah perusahaan milik temannya, dan meninggalkan keluarga kecilnya.


"Sayang, maaf aku nggak bisa menemani kamu ngurus anak-anak kita, aku harus pergi sekarang."


"Hati-hati mas, jangan lupa sering-sering kabari kami."


Sang suami mencium kedua putranya dan juga sang istri lalu pergi meninggalkan mereka.


Enam tahun berlalu, Riki sudah masuk ke sekolah dasar, setiap hari ia pergi sekolah dengan kak malik. Sang Bunda tak bisa menemani mereka, karena sibuk mengurus urusan sekolah. Sedangkan sang Ayah tidak pernah kembali untuk sekadar menemui mereka,


hanya sekadar memberi kabar melalui telepon sesekali dan mengirim uang.


Di ruang tamu, sang bunda sedang menangis pilu. Anak-anak mendekatinya dan mencoba untuk menghibur. Tapi pertanyaan Riki kecil saat itu membuat sang Bunda kesal dan emosi.


"Bunda kenapa?" tanya Malik.


"Bunda nggak apa, hanya lagi nggak enak badan nak."


"Bunda istirahat aja di kamar." tawar Malik.


Riki kecil menghampiri sang Bunda dan memeluknya.


"Bunda, Ayah kapan pulang?" tanya Riki kecil yang mengharapkan hadirnya sang Ayah.


"Ayah mu nggak akan pulang lagi."


"Kenapa Bun?"


"Nggak usah banyak tanya, mending kamu belajar sana!"


"Kak, Bunda kenapa?" tanya Riki pada kakaknya.


"Belajar yang giat, biar Bunda nggak marah, cepetan masuk ke kamar." ujar sang kakak.


"Iya kakak." ucapnya dengan lesu sembari memasuki kamar.


Dari hari itu, ia tidak pernah menerima kasih sayang dan perhatian lagi. Setiap kali ia menemui sang bunda, selalu saja ada alasan untuk di marah dan setiap kali Riki ingin sekadar memeluk sang Bunda, ia selalu tidak menghiraukannya. Riki kecil sering menangis merasa kesepian, dan kerinduan akan kasih sayang. Sang kakak sesekali menyenanginya dengan berkata bahwa ia harus menjadi pintar agar Bunda menyayangi nya.


Riki terus berfikir apa yang kakaknya katakan, jika dia sering mendapatkan juara, maka sang Bunda akan menyayangi nya, seperti Kak Malik yang terus di perhatikan dan di sayangi Bunda.


Alasan itu yang membuat sang Bunda sangat membenci dirinya, karena dia sangat mirip dengan sang Ayah. Fakta bahwa Ayah menikah lagi dengan anak orang kaya, sehingga ia mewarisi perusahaan besarnya dan meninggalkan Bunda, kakak dan dia.


Riki memberanikan diri menemui sang Bunda yang ia sayangi, menanyakan hal yang sudah lama ia ingin ketahui, berharap bahwa Bunda akan memeluknya dan menyayangi nya seperti sang Bunda menyayangi Kak Malik.


Ia masuk ke ruang kerja sang Bunda, dan menghampiri nya.


"Kenapa kamu kesini?"


"Karena Riki kangen sama bunda."


Mendengar itu sang Bunda langsung berdiri dan menamparnya.


"Bunda?, mengapa?, mengapa harus membenci ku?"


"Karena kamu sangat mirip dengan Ayahmu!"


"Aku tidak bersalah!"


"Pergi!, lebih baik kamu tinggal dengan si brengsek itu."


"Apa sekalipun Bunda nggak pernah menyayangi aku?, aku anakmu!, anakmu!"


"Anak ku hanya satu, Malik!, hanya Malik!."


Mendengar ucapan yang menyakitkan itu, ia berlari dan terus berlari tanpa tau arah. Di sepanjang jalan ia menangis dengan air mata yang mengalir deras.


Dia tidak tau salahnya, dia hanya tau bahwa ia sangat menyayangi sang Bunda. Setelah merasa tenang dia kembali ke rumah, berharap perkataan sang Bunda tadi adalah sekadar emosi semata yang di lampiaskan untuknya karena kelakuan Ayah.


Di rumah itu tidak ada siapapun lagi, hanya tersisa Riki dan bibi yang mengasuhnya dari kecil. Bunda dan Kak Malik pergi pindah ke tempat lain dan hanya meninggalkan rekening uang yang selama ini Ayah berikan untuk kebutuhan hidup mereka. Riki hanya bisa mengurung dirinya di kamar dan menangis tiada henti, merasa dirinya telah di tinggalkan dan sangat di benci.


Selama enam tahun belakang ia adalah anak teladan yang jenius dan sopan. Tapi dirinya sangat berubah ketika berada di bangku SMP, ia selalu memberontak dengan guru, nilainya pun sudah sangat turun jauh dan lebih parahnya lagi dia suka berkelahi.


Dengan begitu sang Bunda bisa menemuinya, walaupun sekedar untuk memarahinya, Riki merasa puas, ia mulai melakukan hal-hal yang membuat sang Bunda kesal dan marah,


mencoba menarik perhatian Bunda dengan banyak bertingkah.


Sang Ayah yang tak pernah kembali itu tiba-tiba mengunjunginya. Riki hanya bisa bersikap biasa saja, dalam hatinya ia sangat membenci sang Ayah. Semua keinginannya akan di penuhi oleh sang Ayah, ia hidup dengan kekayaan yang berlimpah, tapi ia tidak memiliki Cinta.


Sang kakak sesekali menemui sang adik dan selalu menyenanginya dengan berkata bahwa Bunda menyayangi nya, namun Riki hanya menganggap itu sebagai prihatin dari sang kakak.


Kak Malik kini sudah kuliah di jakarta, dan tidak bisa mengunjunginya lagi, ia cemburu dengan Kak Malik, andai di suruh memilih, dia lebih baik hidup sederhana bersama Cinta sang Bunda.


Semua yang ia lewati membuatnya menjadi sosok yang angkuh dan nakal. Untung saja dia memiliki sang Paman yang selalu memperhatikannya, mengobatinya ketika ia terluka dan menasehatinya, sehingga dia tidak masuk terlalu dalam menuju bahaya.


Akankah hidupnya berubah?, akankah suatu saat ia bisa merasakan Cinta yang sesungguhnya?.


.................................................................


.......


.......


...Keluarga Riki....


...Ayah :ย  Rino Chaniago...


...Ibuย  ย  :ย  Kirana ...


...Kakak tiri: Malik Ahmad...


...Adikย ย  : Riki Chaniago...


...Ibu tiriย ย  : Siska Anjani...


...Adik tiri : Sintia Chaniago...


...Paman dari Ayah : ...


...Doctors Robby Chaniago....


...........