RIKI & AMEL

RIKI & AMEL
KehadiranMu


.


.


.


Di suatu tempat teraman, si berandal bersembunyi dalam kegelapan. Ku lihat ia sedang duduk sembari menyenderkan tubuhnya di tembok. Dari jauh aku sudah merasa pasti, bahwa ia sedang menahan sakit di sana, jadi aku berlari ke apotek membeli perban dan salep. Setelah itu aku menghampirinya dan memegang wajahnya yang memar akibat perkelahian tadi.


Ia lagi-lagi melihatku dengan tatapan yang berbeda, mata yang  disinari cahaya redup itu bersinar mengenai hati ku. Perasaan peduli yang selalu aku berikan kepada siapapun ini seketika menjadi berbeda. Perasaan ini lebih dari pada kasihan, melain kan kekhawatiran yang berasal dari lubuk hati ku terdalam.


Ia menyenderkan kepalanya tepat di bahu ku, herannya hal itu tidak membuatku kesal, melainkan membuat aku merasa nyaman.


"Terima kasih." ucapku dengan lembut.


"Untuk apa?" tanya dia yang kini kembali menatapku.


"Untuk yang tadi." jelas ku sembari menatap kembali tatapannya.


"Cuman kebetulan, kenapa kamu bodoh sekali!" ledeknya.


Dia kembali menjadi dirinya yang membuat orang jengkel, kelembutan itu seakan tertutup oleh tingkah angkuhnya.


"Orang-orang itu yang bodoh, buat ribut kok di tengah ramai!" balas ku yang tak mau kalah sembari menekan lukanya.


"Sakit!"


"Sini aku liat."


Memar dan sedikit goresan yang berdarah itu pun aku obati, dia menatapku tanpa henti membuat aku menjadi salah tingkah.


"Tutup mata!" pinta ku.


"Mau cium?"


"Dasar mesum!"


"Aduh sakit!" ia memegang lengannya yang ku pukul.


Melihat dia merintih sakit, segera aku membuka lengan jaketnya  dan ternyata lengan itu membiru. Langsung saja aku mengoleskan salep dengan hati-hati.


Tanpa sadar teman-teman ku datang menghampiri kami.


"Kamu disini!, kami udah muter-muter nyariin kamu loh."


terlihat Novi yang sangat kesal.


"Dia siapa mel?" tanya Tasya sembari mendekati kami.


"Dia... tema..."


"Pacar!" sela Riki.


"Bukan!" protes ku, bisa-bisanya si berandal mengaku-ngaku.


"Hai, aku Riki, pacar dia."


ujarnya sembari tersenyum manis.


Aku pun menatap tajam si berandal, dan dibalasnya dengan tatapan yang lebih mengerikan.


.....


.


.


.


Jalan sudirman, dekat IP (Internasional Plaza)


Terdapat tempat khusus nongkrong untuk semua orang.


kami duduk di kursi yang disinari beberapa lampu jalan.


"Kamu mau ngeprank kita ya!"


bisik Novi.


"Kenapa kita jadi kesini?" tanya ku.


"Ini kan malam minggu. Ya harus kesini, tadinya kita kira kamu beneran nggak punya pacar, jadi agak nggak enak minta kamu kesini." jelas Novi.


"Disini salah satu tempat enak buat pacaran, liat disekitar kamu tuh banyak kan yang datang buat pacaran." ucap Tasya sembari menyantap cemilannya.


"Selalu salut sama kamu mel." goda Novi.


"Apaan sih?"


"Kali ini gak kalah ganteng dari yang kemarin." ujar Tasya sembari mengedipkan matanya.


"Kalian ini ya!" aku bangkit hendak mengejar mereka yang pergi. Tapi lagi-lagi si berandal menahan dengan menggenggam tangan ku,


"Disini aja." katanya.


Aku pun duduk kembali sembari meneguk satu cup ice, perasaan ku sekarang sangat tidak normal karena jarak duduk kami yang sekarang cukup dekat, bisa-bisanya aku di buat grogi oleh si berandal.


"Lumayan." katanya sembari melihat sekeliling.


"Apanya?" tanya ku heran.


"Tempat pacaran."


"Kenapa bilang gitu ke mereka?"


"Emang kita pacaran kan?"


"Sejak kapan?, kamu menghayal deh kayaknya."


"Sekarang aku lagi menghayal." bisik nya pelan.


"Terserah deh."


Dari jauh aku melihat kerumunan orang yang melihat pengamen jalanan yang sedang tampil. Aku pun pergi ke arah kerumunan itu.


Hati ku sangat senang melihat pria itu memainkan gitarnya sembari bernyanyi. Suara merdu dan lagu yang keren membuat aku menikmati suasana saat ini.


Tak menyangka si brandal ternyata mengikuti ku,


"Nggak bagus!" katanya mengejek sang pengamen.


"Emang kamu bisa kayak dia, suaranya merdu dan ganteng pula." ujar ku sembari tersenyum kagum melihat sang pengamen.


Si berandal tiba-tiba menghilang, aku tak menghiraukannya dan tetap fokus mendengarkan nyanyian indah itu. Setelah nyanyian usai, ku lihat si berandal yang berbisik pada si pengamen lalu mengambil gitarnya dan berdiri sembari menghadap mic di depannya.


Petikan demi petikan nada menyelimuti malam, melody indah terdengar dari aksinya.


Semua orang membuka flash mereka dan mengayunkannya. Ia pun mulai bernyanyi, suara yang tak kalah merdunya dari si pengamen tadi membuat lebih banyak orang menghampiri, ia terlihat handal bernyanyi dengan melontarkan senyum manisnya itu yang kini membuat perasaan ku tak menentu.


"Dia sangat manis." batin ku.


...🎶...


...Hadirnya dirimu...


...berikan suasana baru,...


...kau mampu tenangkan aku disaat risau dalam hatiku......


...lembutnya sikapmu...


...meluluhkan hati ini, terbuai aku terlena oleh dirimu, oleh dirimu woo......


...Jantungku bergetar ...


...saat engkau ada di dekat ku,...


...Mungkinkah diriku ...


...telah jatuh cinta pada dirimu.....


...Namun ku tak bisa...


...kau pun slalu ada dalam hati ku....


...Dan biarkan semua...


...mengalir apa adanya,...


...Ku yakin kau pun pahami perasaanku, perasaan ku woo......


...Vagetoz-Kehadiranmu...


...Cover by Riki Chaniago....


.


.


Di tengah malam yang berbintang ini, ia membuatku terpana oleh kharismanya yang mengalir seperti air. Mata yang berbinar seperti cahaya bintang dan senyum yang indah bagaikan candu. Membuat dia menjadi sangat menarik, sejenak aku melupakan semua perilaku nakalnya.


Lamunan ku pecah akibat dua wanita ini.


"Wah, pacar kamu super tampan mel." ujar Tasya.


Entah dari mana mereka berdua kini sudah ada di sebelah ku.


"Gila, suaranya merdu!" tambah Novi sembari memeluk ku.


"Semoga langgeng ya mel, aku doain kalian berjodoh." doa Novi yang di sambut "Amin." oleh Tasya.


"Udah jam 22:00 nih, aku pulang ya mel." pamit Novi yang kini sudah menaiki motor pacarnya.


"Oke, hati-hati Nov."


"Aku juga mau pulang nih, Ki anterin Amel nya sampai rumah dengan selamat oke!" pinta Tasya yang disambut Riki dengan anggukan.


"Kamu nggak ajak aku nih?" tanyaku yang ingin nebeng karena Tasya naik mobil.


"Aku antar pulang." ucap Riki menarik tanganku.


"Rumah ku jauh, aku mau nebeng Tasya aja, soalnya rumah kami satu arah." jelas ku.


"Aku antar!" dia memberikan ku helm.


Karena dia memaksa, aku pun ikut bersamanya. Di tengah jalan yang panjang, lampu-lampu menghiasi malam. Angin bertiup deras di atas motor yang melaju kencang. Karena takut terjatuh, aku memeluk erat tubuhnya. Teringat saat dia bernyanyi, membuat jantung ku berdegup tiada henti dalam pelukannya. Tak menyangka bahwa hati ini sudah jatuh kepadanya. Di sepanjang jalan kami tak berbicara. Hingga tibalah kami di depan rumah, dengan setengah mengantuk aku turun dari motornya.


"Terima kasih." ucapku sembari memberikan helmnya.


Lampu rumah ku masih menyala dan keluarlah mama yang menghampiri ku.


"Sudah pulang."


"Iya ma."


"Ini siapa?"


"Teman ma."


"Ayo mampir nak."


"Kapan-kapan aku mampir tante, hari sudah malam, aku pulang." ujarnya dengan sopan.


"Kamu pulang kemana nak?"


"Pakjo tan."


"Wah jauh banget, ini udah hampir tengah malam loh." kata mama mencemaskan nya.


Papa pun keluar menghampiri kami,


"Pa, rumahnya di pakjo." ucap mama pada Papa.


"Mending kamu bermalam disini,  banyak bahaya di tengah malam."


"Aku jadi nggak enak."


"Nggak apa, ayo parkir di dalam motornya."


Dia pun memarkirkan motornya dan masuk ke dalam bersama. Rumah ku memiliki tiga kamar, kamar mama dan papa, kamarku dan kamar mandi tentunya.


Mama menyuruhnya berganti pakaian, piyama milik keponakan ku yang dulu sempat menginap disini mama berikan untuknya pakai. Dan mama bergegas memanaskan makanan untuk kami. Di ruang tamu mama meletakkan meja kecil yang biasa kami pakai untuk makan bersama, beberapa lauk dan nasi hangat di meja. Papa mengajak si berandal makan bersama, empat orang kini menghadap makanan di meja.


"Ayo dimakan nak." tawar mama sembari menuangkan nasi dan berbagai lauk di piring nya.


"Terima kasih." ucapnya.


"Nggak usah sungkan, anggap rumah sendiri." kata Papa sembari menyantap makanannya.


"Aku menyantap makanan ku dengan nikmat."


"Makan yang banyak ya, seorang pria harus makan banyak biar kuat." tutur mama sembari menambahkan nasi dan lauk yang banyak untuknya.


Aku sesekali melirik si berandal saat makan, dia terlihat tenang dan penurut. Diwajahnya terpancar kehangatan, ia terus tersenyum ramah seakan aku sedang melihat orang lain.


Sesudah makan, mama dan aku merapikan semuanya.


Di dapur,


"Mel, itu pacar kamu ya?"


"Bukan ma, cuman temen."


"Kenapa dengan wajahnya?"


"Dia nolong aku pas ada tauran di konser tadi, jadi babak belur deh."


"Kamu nggak apa kan?"


"Berkat dia anak mu ini selamat."


"Wah, syukurlah nak, kalian kenal dimana?"


"Dia satu sekolah dengan ku."


"Pantesan dia bilang rumahnya di pakjo, ternyata satu sekolah."


.....


Di depan tv,


"Nama kamu siapa nak?"


"Riki om."


"Jangan takut, om nggak ngigit kamu."


"Iya om."


"Udah lama kalian kenal?"


"Kami satu sekolah."


"Oh, temen sekolah toh, tolong jagain Amel di sekolah, om nggak bisa terus awasi dia terus."


"Siap om, aku akan selalu menjaganya."


"Terima kasih nak, ini kasur, selimut dan bantal."


"Iya om, makasih."


"Tidur lah, nggak baik tidur terlalu malam."


Lampu pun di matikan, Riki tidur di depan tv dengan selimut yang tebal dan kasur yang empuk, dia pun akhirnya terlelap dengan nyaman.


.....