RIKI & AMEL

RIKI & AMEL
Percayalah


ಠ_ಠ(͡° ͜ʖ ͡°)( ˘ ³˘)♥(◍•ᴗ•◍)❤(\=^・ェ・^\=)


.


.


.


Pagi yang cerah datang kembali, aku duduk di atas motor miliknya dan memeluknya dengan erat, angin sejuk mengiringi kami, cahaya yang redup nan halus ini membuat semuanya amat teramat indah hingga tanpa sadar kami sudah tiba di sekolah.


"Sayang." ucapnya sembari memeluk punggungku.


"Hei!, ini di sekolah." kata ku sembari berbalik menoleh ke arahnya.


"Kenapa?"


"Nanti semua orang lihatin." aku pun melepas pelukannya secara paksa saat seseorang tiba-tiba melewati kami.


"Gini seharusnya boleh kan?" tiba-tiba dia menggenggam tanganku dan menarik ku berjalan menuju kelas kami.


Aku memukul keningnya itu dengan jari ku, membuatnya merasa sakit dan tanpa sadar dia melepas tangan kami, aku pun berlari meninggalkannya dengan perasaan puas.


Di dalam kelas, aku mendapati Raffi yang sudah ada di bangkunya sembari melihat ke arah laptopnya dengan amat serius.


"Hai fi, lagi ngapain serius banget?"


aku menyapanya sembari menyondongkan kepala ku ke depan layar laptopnya karena penasaran apa yang sedang di kerja kan nya dengan serius.


Dia hanya diam saja membuatku bingung sampai aku langsung saja menoleh ke arahnya, dia menatap mata ku sembari tersenyum. Orang tampan memang sering membuat orang menelan ludah, aku menyadarkan diri ku hingga tanpa sengaja menyadari bahwa di keningnya kini terdapat luka goresan.


Aku menunjuk bagian lukanya itu, dia tidak berkata apapun hanya melihat laptopnya, tidak seperti dia yang biasanya sangat riang.


Untunglah aku sering membawa plaster dimana pun aku pergi, aku membuka satu plester bergambar beruang yang imut itu untuk di pakaikan di keningnya.


"Tidak boleh membiarkan luka itu membuat wajah tampan ini jadi jelek kan?" aku pun tersenyum padanya setelah selesai memakaikan plester itu dan aku segera kembali ke tempat duduk ku.


Raffi pun tersenyum senang akan perlakuan Amel yang perhatian. Pria manis itu menatap gadis yang disukainya dengan rasa senang dan berharap suatu hari nanti akan ada kesempatan untuknya memenangkan hati gadis itu.


.....


.


.


.


Saat ingin segera mengejar pacarnya, Riki di panggil oleh salah satu temannya.


"Ki?"


"Ya?"


"Lo di panggil kepala sekolah."


"kenapa?"


"Nggak tau, pergi dulu aja sana."


"Oke."


Ia mengubah arah jalannya dengan bergegas hingga sampailah dia di depan pintu masuk ruang kepala sekolah. Selama ini dia tidak pernah di panggil, membuat dirinya sedikit gugup dan gelisah.


"Ngapain di tatap aja?"


Suara pria yang ia kenal membuyarkan rasa gugupnya.


"Ngapain lo kesini?"


"Di panggil ibu kepsek lah."


Raffi tanpa ragu langsung saja mengetuk pintu itu dan membukanya.


Kini kedua orang itu masuk kedalam. Mereka berdiri di depan meja kepala sekolah, kebalikan dari yang awalnya. Kini Raffi menjadi gugup, sedangkan Riki tampak biasa saja.


"Kalian, silahkan duduk."


"Ya bu." jawab Raffi sembari duduk.


"Hei!, duduk!" pinta Raffi kepada Riki yang belum duduk.


"Nggak!" balas Riki.


"Raffi, kamu anak jenius dari sekolah mu sebelumnya. Nilai mu sangat sempurna dan sikapmu juga sangat sopan."


"Ah, ibu terlalu menyanjung. Saya tidak sehebat yang ibu pikirkan."


"Cihh, sopan dari mana!" cetus Riki.


"Riki!, kamu sangat tidak punya sopan santun, nilai kamu juga sangat buruk. Kalau kamu seperti ini terus, dipastikan kamu tidak akan naik kelas!, ini peringatan terakhir. Kali ini tidak ada bantuan."


"Jadi, cuman ini alasanmu memanggil saya?, kalau begitu sudah cukup, saya pergi!" Riki berjalan keluar dengan amarah sehingga ia menutup pintu dengan cara di hempas.


"Ckckck!. Anak itu tidak berubah." decak kesal ibu kepsek.


Raffi yang menyaksikan itu merasa sedikit heran, hanya bisa diam dan menunggu arahan ibu kepsek.


"Maaf Raffi, apa ibu bisa minta tolong?"


"Saya akan menolong dengan semampu saya."


"Bagus, kamu tolong perhatikan Riki. Kalau dia buat masalah segera lapor ke ibu. Terus tolong bantu nilai nya, dengan cara membimbingnya belajar. Ibu percaya kamu bisa, ibu sangat minta tolong."


"Iya bu, saya pastikan dia akan belajar." ucap Raffi.


Raffi pun pergi meninggalkan ruang guru.


Sedangkan Riki, dia pergi ke kamar mandi untuk meredakan amarah.


"Sial!, kenapa harus di depan si brengsek itu." gumamnya sembari memukul pintu WC beberapa kali.


Masuklah Raffi kamar mandi, ia mendapati Riki yang sedang duduk di depan pintu WC yang rusak akibat pukulannya.


"Kenapa?, ini tempat umum. Siapa aja boleh kesini."


"Kenapa?, udah merasa hebat di puji kepala sekolah itu ha?" Riki tersenyum kecil memandang Rafi dengan tatapan kesal.


"Iyalah, siapa pun kalau di puji pasti senang. Enak lah di puji sama kepala sekolah, dari ada di marah kan?" balas Raffi sembari menatap sinis Riki.


"Lo?, hahahaha" ia menunjuk Raffi sembari tertawa.


"Apa?, iri?"


"Kenapa harus iri?, gue beberapa kali lipat lebih jenius dari lo!" ungkapnya sembari mencengram bahu Raffi.


Di balas tepisan oleh Raffi, "Buktikan!, kalo emang khayalan lo benar!" pekik Raffi melihat Riki yang perlahan berjalan keluar.


.....


.


.


.


Ruang kepala sekolah.


"Ini laporan mengenai perkembangan murid di kelas saya." ucap seorang bapak guru yang menyodorkan berkas kepada Bu kepsek.


"Oh, taruh saja di sana Pak."


Tringg Tringg bunyi bel istirahat.


"Sudah jam istirahat, ayo kita keluar makan sesuatu." ajak bapak Guru itu.


"Mau banget, tapi nanti ketahuan sama semua guru dan murid gimana?" tanya bu kepsek.


"Bilang aja kita mau liat orang tua murid. Aku sudah memesan tempatnya loh. Ayolah."


"Oke."


.....


.


.


.


Di kelas, Amel merasa gelisah karena sang pacar tak kunjung kembali setelah pergi ke ruang kepsek.


Hingga bel jam istirahat berdering, ia pun masih tak kunjung datang. Ia bergegas keluar mencari sosok lelaki yang ia khawatirkan, semua ruangan telah ia jelajahi sampai ia melihat pamannya yang berjalan dengan buru-buru bersama ibu kepsek ke lapangan parkir. Tak sempat menyapa Paman, Amel terpikirkan satu tempat yang belum ia singgahi, yaitu taman sekolah.


Dengan deru nafas tak beraturan ia akhirnya sampai di sana. Rasa lelah berlari dengan cepat itu seketika menghilang saat ia menemukan sosok pria yang ia cari, sedang duduk di rerumputan.


"Ngapain kamu disini?"


Riki memandang sayu sang pacar dan langsung memeluk nya. Sejenak Amel membiarkan lelaki itu memeluknya erat tanpa ada rasa khawatir.


Saat pelukan usai, Amel melihat tangan kekasihnya yang terluka.


"Tanganmu...berdarah?"


"Sakit." rengek nya dengan manja.


"Aku ada plester, sini tangan kamu."


"Banyak banget?"


"Apa?"


"Plester nya?"


"Setiap hari aku bawa banyak, ada yang kecil,besar dan sedang. Cantik kan gambarnya?"


"Gak cantik!"


"Ya udah, sini aku lepasin lagi!"


"Jangan!, maksud aku plester nya nggak secantik kamu tau." ia mendekatkan wajahnya sembari mencubit pipi ku.


"Apaan sih kamu ini." ucapku merasa malu.


"Nih, aku habis dari market di depan sekolah."


"Wah, ada youghurt kesukaan ku. Udah kehausan nih habis lari-larian nyariin kamu."


"Maaf, habis dari market aku langsung duduk sini. Semua aku beliin untuk kamu, tadinya mau telepon kamu."


"Gak di marah pak satpam kah?"


"Nggak lah, pacar kamu ini hebat. Bosan kan makan, makanan kantin terus." ujarnya sembari membuka bungkus roti kesukaannya itu dan ia melahapnya dengan senang.


Aku bergegas makan beberapa roti dengan cepat.


"Pelan-pelan aja, nggak ada yang ngerebut." ujarnya sembari tertawa melihat tingkahku.


"Nanti...ra..mai!" kata ku sembari mengunyah makanan yang penuh di dalam mulut ku.


Dia membuka kan tutup botol air dan ia berikan padaku. Setelah selesai aku teguk dengan lega. Ia mendekatkan wajahnya padaku dengan tatapan yang mesra.


"Kamu nggak usah cemas,takut atau menghawatirkan aku. Biarpun ketahuan, aku akan selalu melindungi mu. Tidak perduli apa kata mereka, yang ku perdulikan hanya kamu sayang ku, jadi percayalah pada pacar mu ini." ia memberikan senyuman manis di akhir kalimatnya.


"Huk!" cegukan menghampiri ku akibat kata-kata manisnya. Semua kekhawatiran itu seketika melenyap bagaikan asap yang tertiup angin. Dalam hati ini seketika ingin percaya kepadanya.


"Sangat imut." kata Riki di dalam hati.


.....


.