
“ψ(`∇´)ψ(・∀・)(⌒▽⌒)└(★o★)┐( ˘ ³˘)❤~(^з^)-♡
.
.
.
Saat aku kembali ke dalam, aku menemukan tas si berandal itu masih tergeletak di atas kursi. Mungkin karena buru-buru tadi dia lupa membawanya, apakah dia mau berkelahi lagi?.
Seharian aku hanya bisa menonton di handphone ku, hanya itu yang bisa melepas semua kebosanan ku saat ini.
Karena hari sudah mau sore, aku bergegas mandi, luka ku sudah mulai mengering, dan aku bisa mandi walau masih sedikit perih, sehabis mandi aku kembali ke kamar untuk berganti pakaian dan mengoleskan salep.
Tapi saat ingin mengoleskan salep, luka ku menjadi sangat sakit, mungkin karena terkena air tadi, jadi aku mengurungkan diri untuk memakai salep. Aku berbaring di atas kasur empuk ku, karena hari sudah mulai menggelap aku semakin mengantuk.
Tok..tok..tok...
Mata ku terbuka kembali mendengar suara ketukan pintu yang keras itu. Aku membuka pintu dan mendapati si berandal yang berdiri sembari menatapku sayu.
"Kamu kenapa?"
Dia segera masuk sembari melepas jaketnya dan duduk di lantai, aku menatap wajahnya yang penuh dengan luka lebam. Aku segera mengambil kotak obat dan duduk di hadapannya.
"Berkelahi lagi?"
Dia hanya mengangguk, aku tidak banyak bertanya lagi dan segera mengobati lukanya. Kali ini di wajah hanya luka lebam, tetapi di kaki dan lengannya penuh dengan darah.
"Tahan ya."
Aku mengoleskan beberapa tetes Betadine dan memperban lukanya, walau darahnya terus mengalir tapi untungnya luka itu kecil, aku juga membawa batu es yang dilapisi kain untuk meringankan rasa sakit di wajahnya.
"Udah, nih pegang es nya."
Dia memejamkan matanya, sembari memegang kain yang berisi batu es itu. Aku kembali ke dapur dan memasak mie yang tadi pagi ku beli di warung, setelah siap
lalu aku membawanya ke depan.
"Makan!"
Dia masih memejamkan matanya, aku menghirup kuah kaldu pedas dengan nikmat.
Slurrpp...
"Enaknya, beneran nggak mau nih?, aku bisa habis dua mangkok loh."
Dia pun membuka matanya dengan ekspresi tak rela, lalu dia mengambil mangkuk mie itu dan menikmatinya.
"Enak kan?"
"Wah, mie bisa seenak ini ya?"
"Emang kamu nggak pernah makan mie?"
"Makanan murah biasanya nggak sehat."
Aku hanya bisa menggeleng, tersadar bahwa kami dari kalangan yang berbeda. Ibunya adalah seorang direktur sekolah, dan Ayahnya adalah pengusaha kaya. Siapapun tau tentangnya di sekolah, dia terkenal karena kekayaan dan kenakalannya.
Dua mangkok mie tak tersisa setetes pun, dia merasa puas dengan pengalaman pertama nya menyantap mie instan.
"Kenapa kamu kesini lagi?"
"Tas ku ketinggalan."
"Itu tas kamu, jangan lupa dibawa."
Dia pun mengambil tasnya dan memeriksa di dalamnya.
"Nih."
Dia mengulurkan sebatang cokelat padaku, dan aku mengambilnya karena aku suka sekali dengan cokelat.
"Terima kasih."
Aku tersenyum senang mendapat sebatang cokelat berisi kacang itu, dia memandang ku sembari tersenyum kecil.
"Ya dong." ucapku penuh senyuman bahagia.
Aku membuka bungkus cokelat itu dan segera memakannya.
"Hmmm, manisnya." ujarku sembari mematahkan cokelat itu.
Aku mengulurkan sepotong cokelat yang ku patahkan padanya, dia menatap cokelat di tanganku dan tersenyum mencurigakan.
"Nggak mau?" tanya ku.
"Mau lah." ucapnya yang kini mengambil cokelat itu dengan mulutnya.
"Manis." ujarnya sembari menatapku dengan senyuman playboy nya itu.
Kini aku menjadi gugup di hadapannya, dia terlihat tampan bila tersenyum sembari menguyah makanan. Ada apa denganku, pipi ku seketika memerah, aku tak percaya bisa tersipu karena si berandal.
"Amel ingat!, dia playboy!, jangan sampai termakan oleh godaan mautnya!!!" gumam ku dari dalam hati.
"Terima kasih buat ini, ini dan ini semua." ucapnya sembari menunjuk mangkuk mie, dan beberapa perban.
"Ya, sama-sama."
Dia berjalan keluar dari pintu, dan aku mengiringinya dari belakang, namun dia tiba-tiba berhenti berjalan dan menolehku.
"Jangan lupa pakai salep!"
"Iya."
Kini dia benar-benar pergi, aku kembali ke dalam dan menjatuhkan tubuhku di atas kasur yang empuk.
"Awh, ternyata masih sakit."
Aku memegang luka di bahu ku, mengingat ancaman si berandal, salep yang awalnya tak ingin aku pakai sekarang terpaksa aku oleskan. Semalaman aku berfikir, ada apa dengan si berandal, pergi dan kembali dengan luka-luka, padahal luka lamanya masih belum sembuh.
Apa yang sudah dia alami sampai menjadi seperti itu, banyak pertanyaan-pertanyaan yang terlintas di benak ku, namun aku belum memiliki keberanian untuk mengetahui semua tentang kehidupan nya. Sampai malam yang penuh bintang itu membawa ku ke dalam tidur yang lelap.
.....
.
.
.
Selama tiga hari kemarin, dia mengurus ku dengan baik, memberi ku makan tiga kali sehari dan membawa beberapa buah dan snack untukku. Para tetangga tambah yakin kalau dia adalah pacar ku akibat perlakuannya. Aku tak banyak bertanya kenapa dia melakukan itu, tapi aku rasa dia memperlakukan ku seperti itu karena merasa bersalah atas kejadian itu, jadi aku tak beranggapan yang berlebihan.
Hari ini aku bisa datang ke sekolah, karena luka ku sudah hampir sembuh dan sudah bisa berlari serta berjalan dengan baik. Senang rasanya kembali ke sekolah, karena di rumah saja membuatku mudah bosan. Sebentar lagi ujian semester dua akan datang, jadi aku tak boleh ketinggalan banyak pelajaran.
Kelas berjalan seperti biasa sampai akhir jam pelajaran, aku pulang dengan gembira, karena di rumah nanti aku akan memasak mie kesukaanku. Di tengah perjalanan, aku menoleh kesana dan kesini, entah apa yang ku cari tapi aku hanya jadi sering melakukannya semenjak si berandal yang suka tiba-tiba mengklakson motornya itu membuat aku terkejut.
Entah kenapa, hari ini dia tidak terlihat dimana pun, biasanya dia terus lewat di manapun aku berjalan. Perasaan apa ini?, kenapa aku merasa sepi?, harusnya aku senang kalau dia tidak ada, jadi beban hidupku akan berkurang. Tapi di sepanjang perjalanan aku banyak berfikir, hidupku akan terasa sepi seandainya dia tidak pernah ada.
Walau yang ku lalui adalah hal yang buruk dan kejam, tapi aku menerima semuanya dengan biasa-biasa saja, malah semua yang sudah aku lewati menambah warna di setiap waktu ku.
Dia tidak terlalu buruk, sifatnya memang kejam, angkuh dan sedingin es. Tetapi hatinya sangat baik dan penuh kehangatan, banyak hal yang tak terduga darinya.
.....
.
.
.
Beberapa hari ini aku tidak melihatnya, tapi aku banyak mendengar tentangnya dari beberapa anak yang suka bergosip.
Mereka bilang bahwa kedua orang tuanya sudah bercerai saat ia masih duduk di bangku SD. Dia memiliki seorang kakak satu ibu namun beda ayah, namanya adalah Malik, rumornya sang ibu lebih menyayangi kakaknya di banding dirinya. Tapi sang ayah sangat menyayangi nya, sampai memberikan kartu ATM yang tak ada batas untuknya.
Hanya itu yang bisa aku dengar dari mereka, tapi aku tidak tau apa semua yang mereka katakan itu benar atau salah. Intinya dalam pikiranku, dia memiliki sifat yang pemberontak itu karena kurangnya kasih sayang dari sang ibu.
Tidak tau mengapa, aku menjadi penasaran akan kehidupannya. Akan kah ini menjadi masalah untukku ke depannya?, atau membawa ku lebih jauh dari hal yang tidak akan pernah bisa aku duga.
.....