My Nerd Wife

My Nerd Wife
Ingin Memiliki Seutuhnya.


Hari Sabtu waktu untuk Anna libur kuliah. Pagi ini dia bangun lebih awal dari Ezra. Setelah mencuci mukanya, Anna bergegas turun untuk ke dapur. Dia ingin memasak sarapan. Sudah lama Anna tidak terjun ke dapur. Mengingat Ezra yang tak memperbolehkannya. Pria itu sangat egois dan posesif menurut Anna. Bukan hanya itu... Ezra juga terkena penyakit bucin akut, sepertinya. Sampai-sampai pria itu tidak bisa pisah sebentar saja dengan Anna.


Tidak hanya itu, akhir-akhir ini Ezra selalu memandangnya dengan senyuman semanis madu. Jujur, itu membuat Anna merasa aneh sekaligus geli dengan tingkah tiba-tiba suaminya. Entah, kepentok apa kepala pria itu. Anna pun tak tahu.


Seminggu terakhir pula Anna menghindar dari Arga. Tiap kali pemuda itu menemuinya hanya untuk sekedar mengobrol. Anna melontarkan berbagai alasan untuk mengelak. Bagi Anna, Arga bukan siapa-siapa lagi untuknya. Hanya sebatas sosok yang pernah begitu berarti di hidupnya... Hanya itu.


Betapa terluka, kecewa, sakit perasaannya pada saat itu.


Anna begitu senang berperang dengan alat-alat dapur. Sampai-sampai Bibi Mumun dan Dona yang ingin membantu pun tak Anna perbolehkan. Sebenarnya, Bibi Mumun tidak mengizinkan. Takut jika sang tuan akan marah. Namun, Anna bersikeras. Pada akhirnya, Bibi Mumun dan Dona pun menyerah.


"Apa sebaiknya Bibi dan Dona saja yang mengerjakannya?" Ada perasaan was-was dalam diri Bibi Mumun. Bukan apa-apa. Wanita setengah baya itu hanya takut sang Nyonya terluka. Apalagi melihat Anna yang begitu cepat memainkan pisau.


Anna menoleh dan tersenyum tulus. "Tidak apa-apa... Tidak usah khawatir. Jika aku memerlukan bantuan kalian. Aku akan memanggil... Jadi, untuk pagi ini saja biarkan aku yang mengerjakannya."


"Apa tuan tahu? Takutnya..."


"Marah?" Anna langsung memotong ucapan Bibi Mumun. Wanita itu pun mengangguk. "Jika dia berani memarahi kalian. Aku yang akan membela... Lagian ini kemauan ku. Bukan kalian yang menyuruhku... Jangan takut!"


Bibi Mumun pun hanya bisa menghela nafasnya. Jika sudah seperti itu ia tidak bisa mengatakan apa-apa lagi.


Di sela-sela kegiatannya. Sesekali Anna melayangkan pertanyaan pada keduanya. Tapi, Anna lebih tertarik mengetahui tentang Dona. Wanita bertubuh ramping dan memiliki wajah yang manis.


"Dona, berapa usiamu?"


Dona yang awalnya menunduk kini mengangkat wajahnya. "Dua puluh dua tahun, Nyonya."


"Wah, ternyata kamu lebih tua dariku dua tahun." Dona mengangguk walau Anna tak melihatnya.


"Apa kamu sudah memiliki kekasih? Aku yakin pasti sudah... Perempuan secantik kamu pasti banyak yang mau."


"Tidak juga, Nyonya... Saya belum kepikiran untuk memiliki seorang kekasih." sahut Dona kikuk.


Anna tersenyum. Dan kembali berbicara pada Dona. "Apa kamu tahu, Dona? Aku hanya beruntung menikah dengan Ezra... Selama hidupku... Aku tidak pernah berpacaran. Namun, aku pernah mencintai seseorang." terkekeh miris, sembari mengangkat ayam goreng yang sudah matang.


"Namun itu hanya sebuah harapan semu." memandang Dona yang juga menatapnya dengan tatapan sungkan.


Anna memutar bola matanya. Dan mendengus pelan. "Jangan merasa canggung padaku... Disini kalian sudah ku anggap keluarga. Ingat. Kita adalah keluarga."


Bibi Mumun dan Dona pun mengangguk dengan sopan. Menurut sudut pandang mereka. Anna perempuan yang cantik, ramah, dan baik. Namun, gadis itu menutupi kecantikannya dengan penampilannya yang sederhana. Di tambah kacamata bulat yang selalu menghiasi wajahnya.


Perbincangan mereka pun berlanjut hingga Anna selesai dengan masakannya. Aroma masakan yang harum membuat kedua wanita berbeda generasi itu kagum pada sang Nyonya. Apalagi melihat Anna yang begitu cekatan meracik bumbu. Tanpa bantuan mereka berdua.


"Nyonya sungguh luar biasa." puji Dona mengangkat dua jempolnya. Disusul juga oleh Bibi Mumun yang melakukan hal sama yang Dona lakukan.


"Kalian berdua jangan berlebihan." Anna tersipu malu dipuji demikian. "Di rumah. Dulu aku sering membantu Mama. Sebab, Jika urusan makanan Mama lebih suka membuatnya sendiri... Baginya itu bukan hal yang sulit untuk di lakukan... Sebagai seorang perempuan, kita juga harus bisa memasak dan mengurus rumah. Walaupun kita sudah memperkerjakan seorang ART."


Bertambah lah kekaguman keduanya pada sosok Anna. Terlahir dari keluarga yang berada, namun itu tidak membuat Anna menjadi manja.


...••••...


Ezra meraba-raba kesamping. Matanya pun terbuka saat tidak menampakkan sosok sang istri tidur di sampingnya. Dia buru-buru menyibak selimut dan turun dari ranjang.


"Sayang...!" teriak Ezra sembari menuruni tangga dengan muka bantalnya. Rambutnya yang sedikit berantakan menambah kesan tampan pada pria itu, bukan malah berkurang.


Anna yang mendengar suara Ezra memanggilnya langsung keluar dari dapur. Tangannya sedikit basah karena membantu Bibi Mumun dan Dona membersihkan peralatan masak.


Ezra yang melihat istrinya keluar dari arah dapur pun mengernyit. Anna yang mengerti tatapan suaminya itu langsung berkata.


"Aku barusan habis bantu Bibi sama Dona siapin sarapan. Habis itu aku juga bantu mereka bersihin dapur."


Ezra menarik pinggang Anna sembari mencibir kecil hidung gadis itu yang sedikit mancung. "Aku sudah mengatakannya padamu... Urusan rumah biarkan Bibi dan Dona yang mengurusnya."


Anna mendorong tubuh Ezra agar menjauh darinya. Lalu gadis itu menekuk wajahnya sembari berkacak pinggang.


"Apa salahnya aku membantu mereka? Ini aku yang minta kok... Lagian dulu sebelum menikah aku sering bantuin Mama. Kalau aku tidak melakukannya. Rasanya percuma aku belajar dengan Mama." ucapnya menggerutu.


Suaminya ini benar-benar menyebalkan!


Sampai kamar Anna mengecek ponselnya sebentar sebelum ia masuk ke dalam kamar mandi. Tertera nama Rea di notifikasi ponsel, mengirim pesan padanya. Dan, Anna pun segera membuka room chat.


[Anna, aku ingin bertemu. Apa kamu bisa meluangkan waktu? Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu. Ini menyangkut masa depan ku.]


Begitu membaca pesan. Kerutan tercetak jelas di keningnya, sedetik kemudian Anna geleng-geleng kepala dan tersenyum.


"Siapa yang mengirim mu pesan?" tanya Ezra dengan bola mata menajam. Hatinya sedikit bergejolak saat mendapati Anna tersenyum sembari memegang ponsel.


"Bukan siapa-siapa... Hanya Rea." jawabnya sembari tangannya sibuk mengetik di atas keyboard maya yang tercetak di layar sentuh.


Saat pesan balasan yang mengatakan Anna mengiyakan ajakan Rea itu sudah terkirim. Anna meletakkan ponsel kembali dan menatap Ezra yang sudah berdiri di sampingnya.


"Rea minta ketemuan. Katanya... katanya ada sesuatu yang mau dia tanyakan. Dia bilang... Ini menyangkut masa depannya."


Ezra mengernyit. "Menyangkut masa depan?" Anna mengangguk cepat. "Apa urusannya sama kamu? Biarin dia sendiri yang menyelesaikan... Kamu jangan ikut campur."


Anna membuang nafas kesal. "Siapa yang ikut campur? Palingan dia cuma mau minta solusi. Lagian aku kasihan sama dia, Mas... Rea itu nggak punya teman curhat selain aku... Apalagi hubungan percintaannya yang selalu kandas di tengah jalan."


Ponsel Anna berdenting. Bertanda pesan masuk di WhatsApp. Dengan cepat Anna mengambil ponselnya.


[Okey, Thanks... Jam sepuluh aku tunggu di kafe tempat biasa kita nongkrong.]


Balasan Rea masuk. Anna hanya membaca saja, tanpa mengetik balasan.


"Kamu sudah mandi?" tanya Anna pada Ezra yang menunjukkan wajah datarnya. Pria itu hanya menggeleng sebagai jawaban. "Yasudah, kalau begitu aku mau mandi dulu. Setelah aku selesai giliran kamu."


"Bagiamana kalau kita mandi bersama?" usulnya dengan kedipan mata nakal.


"No! Aku tidak mau..." melengos begitu saja meninggalkan Ezra yang terkekeh karena berhasil menggoda istri cantiknya.


Dalam hatinya Ezra ingin sekali bercinta dengan Anna. Dia adalah laki-laki yang normal. Selama ini Ezra hanya berani mencium Anna di bibir dan kening. Itu pun hanya sebatas ciuman singkat.


Malam ini Ezra berniat untuk meminta haknya sebagai seorang suami. Ia tidak bisa untuk menahannya. Selama ini Ezra hanya bisa bermain sendiri. Sebenarnya, itu sangat menyiksa. Kini Anna sudah menjadi kekasih halalnya. Untuk itu ia tidak lagi bisa menunggu untuk tidak memiliki gadis itu seutuhnya.


...••••...


Ezra begitu sangat menyukai masakan yang Anna buat. Pria itu sudah menghabiskan piring keduanya. Anna yang melihat suaminya yang sangat lahap memakan masakannya tersenyum begitu senang.


Bukanya Anna menyombongkan diri. Sejak kecil Benita memang mengajarkan putrinya itu untuk mandiri begitu juga dengan Axel. Kakak dari Anna pun tak kalah jago dengan urusan dapur. Benita mengajarkan kedua anaknya agar tidak terlalu bergantung dengan ART. Karena urusan rumah bukan sepenuhnya orang lain yang harus mengambil alih.


"Apa kamu sangat menyukainya?" tanya Anna begitu melihat Ezra memasukan suapan terakhir ke dalam mulutnya. Piring ketiga.


Ezra bersandar pada kursinya dengan perut yang sudah terisi penuh. Benar-benar penuh. Untuk pertama kali seumur hidupnya Ezra makan sampai tiga piring. Sungguh, menjadi rekor baru untuknya.


"Kalau begini terus tiap hari... Aku bisa gendut dalam waktu sebulan." ada helaan nafas keluar dari hidung mancungnya.


Anna menutup mulutnya menahan tawa.


Lalu gadis itu pun menerbitkan senyuman. "Nggak masalah..." celetuknya membuat Ezra langsung menegakkan tubuhnya kembali. "Lagian kenapa kalau memiliki tubuh gendut? Banyak orang kok yang pingin tubuhnya jadi gemuk. Bahkan mereka rela membeli suplemen penambah nafsu makan."


"Itu mereka, bukan aku! Kalau aku gendut. Aku... Aku takutnya nanti kamu pindah ke lain hati. No! Aku nggak mau itu sampai terjadi, sayang... "


Anna membulatkan mata malas. Anna tidak ingin menanggapi perkataan Ezra lagi. Gadis itu pun menghela nafas. "Kamu tenang saja. Hanya hari ini saja aku memasak." ucapnya pada akhirnya.


Ezra mengangguk setuju.


"Jam berapa kamu pergi menemui Rea?"


"Jam sepuluh." sahutnya saat sudah meneguk habis air dan Ezra hanya membuka mulutnya membentuk huruf 'o'.


Selesai sarapan Ezra pamit untuk ke kantor. Sebab, pekerjaan yang menumpuk mengharuskan ia tidak bisa libur di hari weekend ini. Setelah mobil Ezra sudah keluar dari area pekarangan rumah. Anna kembali masuk kedalam. Masih ada waktu satu jam untuk dia bertemu dengan Rea.


...••••...