My Nerd Wife

My Nerd Wife
Kecemburuan.


Anna tersentak kaget dan menelan ludah gugup, ia tak menyangka jika Ezra pulang lebih dulu daripada dirinya. Apalagi pria itu kini tengah bersedekap di depan pintu menatap Anna tajam.


Saat sampai di hadapan pria itu Anna menunduk dan menggigit bibir keras-keras. Anna tidak tahu harus berkata bagiamana. Melihat Ezra yang sepertinya sangat marah, sebab ia pulang terlambat.


Terdengar hembusan napas kasar keluar dari hidung Ezra. Lalu, pria itu menarik tangan Anna dan membawanya masuk kedalam. Mertua dari Anna sendiri tidak ada di rumah. Setelah pernikahan selesai, mendadak besoknya mertuanya pergi untuk menjenguk Nenek dari Ezra yang tiba-tiba masuk rumah sakit.


"Mata kuliah sudah bubar sejam lalu. Kenapa baru pulang?" tanya pria itu yang sudah mendudukkan Anna di sofa ruang tamu.


"Tadi hujan, Mas. Aku lupa membawa jas hujan, jadinya nunggu biar reda dulu." balas Anna menjelaskan alasan dirinya pulang terlambat.


Ezra terkekeh sinis mendengarnya. Pintar sekali istrinya ini membohongi dirinya. Bukan tanpa alasan Ezra menyuruh orang diam-diam mengawasi istrinya. Ezra hanya khawatir takut terjadi apa-apa pada Anna. Karena gadis itu sekarang adalah tanggung jawabnya.


"Bukan karena berduaan dengan laki-laki lain?" menarik sudut bibirnya keatas. Anna tercengang. Darimana suaminya tahu? Apa dia cenayang, atau... punya mata-mata?


Anna membenarkan letak kacamatanya. Kemudian menengadah menatap Ezra menantang. Anna tidak suka Ezra menuduhnya yang bukan-bukan. Itu hanya kebetulan Anna harus di pertemukan dengan Arga. Selebihnya, bukan atas kemauannya.


"Maksud kamu apa, Mas? Itu bukan urusanmu jika aku bertemu dengan siapa pun! Kamu hanya perlu mengurus dirimu sendiri. Tidak perlu peduli dengan kehidupan ku. " beringsut berdiri hendak meninggalkan ruang tamu. Dengan cepat pria itu menghentikannya. Menarik tangan Anna kasar agar gadis itu duduk kembali.


"Jelas itu menjadi urusanku! Sekarang kamu itu adalah istriku! Apapun yang kamu lakukan aku berhak tahu!" tukas Ezra penuh amarah. "Mulai besok aku akan antar jemput kamu ke kampus!" final Ezra tegas.


"Tapi, Mas, aku lebih suka naik motor sendiri. Aku tidak mau merepotkan mu. Tolong.. izinkan aku." tolaknya dengan kedua bola mata memohon.


Ezra mendecih. "Biar kamu bebas berduaan lagi dengan pemuda tadi gitu, iya?"


"Kamu kenapa, sih?" tanya Anna jengkel. "Lagian kami hanya sekedar mengobrol. Kami tidak melakukan hal yang melebihi batas kewajaran. Aku ingat status, Mas. Walaupun aku tidak mencintaimu, namun aku menghormati mu sebagai suami." cetus Anna kesal.


Ezra tersenyum miris kemudian menghela napas. Semua membutuhkan proses. Ia harus berjuang keras untuk meluluhkan hati Anna. Ia tidak boleh bertindak sesukanya harus bersabar. Karena Anna itu bukanlah gadis yang pemberontak. Namun, Ezra tetap akan memantau istrinya itu secara diam-diam.


Anna sudah muak dengan drama suaminya. Ia pun segera bangkit dari duduknya, melangkah menuju kamar. Meninggalkan Ezra yang kini menggusar kasar wajahnya.


...••••...


Anna tengah merapikan tempat tidurnya. Rasanya tubuhnya kembali bugar saat kemarin malam merapikan pakaiannya dan milik Ezra. Di sela kesibukannya, Ezra tiba-tiba saja memeluknya dari belakang. Itu membuat Anna cukup terkejut dan menimbulkan debaran aneh di dada.


"Lepasin, Mas..." ucap Anna memberontak. Berusaha melepas tangan Ezra yang melingkar di pinggangnya. "Aku nggak kelar-kelar beresinnya kalau kamu kayak gini."


"Kamu cantik kalau tanpa kacamata." bisik Ezra sambil mencium bahu Anna yang tertutup piyama tidurnya.


"Berapa minus?"


"Nggak sampai parah kok. Tapi, aku udah nyaman aja pakai kacamata." jawabnya ketus. Sembari tangannya hendak mengambil kacamata. Namun, dengan segera Ezra melarangnya.


Ezra membalikkan tubuh Anna, hingga kedua manik mata mereka saling bertemu. "Jika bersamaku jangan memakainya." tersenyum lembut. Lalu, wajahnya ia dekatkan dan langsung mencium bibir Anna. Anna terkejut ini kali pertamanya ia dicium oleh laki-laki, dan tepat di bibirnya. Ia pun mengerjapkan mata beberapa kali, tidak percaya dengan apa yang Ezra lakukan.


Saat Ezra menjauhkan sedikit wajahnya. Mata Anna melotot dengan bibir bergerak-gerak. Tidak ada kata-kata yang keluar. Anna ingin sekali menampar pria yang sudah lancang menciumnya. Namun, tangannya seperti di borgol.


"Lancang sekali kamu mencuri ciuman pertama ku, Masss!" kesal Anna. Air matanya mulai tergenang. Ezra yang melihat itu panik bukan main.


Pria itu pun kelabakan. "Hey! Jangan menangis. A-aku salah, aku minta maaf..." Membujuk Anna. Cairan bening sudah meleleh dari kelopak mata gadis itu.


"Kamu jahat!" melayangkan pukulan bertubi-tubi pada dada Ezra. Yang tanpa Anna sadari tubuh pria itu hanya berbalut handuk yang melilit di pinggang.


"Aku tahu. Maka dari itu aku meminta maaf padamu." mengatupkan kedua tangan di dada.


Anna menyedot cairan yang hampir keluar dari hidungnya, lalu menghapus air mata.


"Kamu telah menodai ku! Kata maaf tidak akan bisa mengembalikannya." menatap Ezra tajam.


Ezra mengernyit. "Menodai? Belum juga aku meminta hak ku." celetuknya.


Anna melebarkan matanya. Detik berikutnya, Anna menelan ludah susah payah. Bentuk yang seperti roti sobek yang menghiasi tubuh Ezra membuat Anna takjub. Betapa terlihat sangat sexy. Pikiran liar pun bermunculan. Dengan segera ia mengenyahkan.


Dasar Anna mesum!


Selang beberapa menit. Anna membuka pintu kamar mandi perlahan, kepalanya sedikit melongok menyapu sekitar. Takut-takut jika sosok Ezra masih berada di dalam kamar. Dirasa aman, Anna bernapas legah dan keluar.


Namun, saat mengambil pakaiannya, pintu terkuak dan sosok Ezra lah yang masuk. Anna menoleh dan terkejut. Blouse yang dipegangnya pun seketika terjatuh. Dan, Anna mengeratkan pegangan handuk yang melilit tubuhnya. Takut jika melorot.


Berbeda dengan Ezra. Pria itu tertegun melihat tubuh sang istri yang hanya terbalut handuk. Tubuhnya terlihat begitu molek, kakinya yang jenjang dan putih mulus, rambut panjang yang hitam legam tergerai indah. Apalagi Ezra menangkap kedua gundukan yang menonjol di balik handuk. Benar-benar membuat gairahnya bangkit seketika.


Anna yang menangkap tatapan nakal suaminya itu langsung berseru. "Mas, keluar sana!" Ezra tersentak dan air mukanya berubah sendu kala bayangan liarnya ketika mencumbu sang istri runtuh seketika.


Anna yang melihat Ezra masih terdiam langsung kembali berseru. Dan kini lebih tegas. "Mas, keluar! Aku mau memakai pakaian. Pagi ini aku ada kuis! Jangan memperlambat!"


"Siapa suruh lelet." guman Ezra sembari keluar kamar. Walaupun hanya sekedar gumanan, namun Anna bisa mendengarnya. Gadis itu mencibir pelan. Dirasa Ezra sudah menghilang. Dengan segera Anna memakai pakaiannya.


...••••...


Anna mengayunkan kakinya dengan malas. Ezra benar-benar tidak mengizinkan Anna untuk mengendarai motornya.


"Aku 'kan kemarin sudah mengatakan padamu. Aku..."


"Masuk, katanya ada kuis hari ini. Katanya tidak mau terlambat!" sambar Ezra. Memegang pintu untuk Anna.


Dengan wajah cemberutnya, Anna akhirnya masuk dan duduk dengan hati menyimpan luapan kekesalan. Benar-benar menyebalkan!


Ezra menyusul dan duduk di kursi kemudi. Kendaraan roda empat itu pun melaju meninggalkan pelantaran rumah kediaman orang tua Ezra. Dengan kecepatan sedang, Ezra meluncur memecah jalanan, bergabung dengan puluhan kendaraan lainnya.


"Besok Bapak sama Ibu pulang." ucap Ezra memulai percakapan.


"Terus?"


"Berhubung mereka udah balik. Nanti sepulang aku dari kantor kita beres-beres."


"Beres-beres?" ulang Anna dengan kerutan di dahi. Menoleh pada Ezra yang fokus pada arah depan.


Ezra mengangguk tanpa memandang Anna. "Kita akan pindah ke rumah yang baru ."


"Kenapa harus pindah? Siapa yang akan menjaga Bapak sama Ibu nanti? Mereka sudah tua, Mas... Lagian aku suka tinggal disana."


"Kamu tenang saja. Tante Nala sebentar lagi akan balik dari luar negeri. Mungkin aku nanti akan mencarikan mereka ART... Kamu tenang saja, dirumah yang baru nanti kita tidak hanya tinggal berdua. Aku sudah mencari dua ART untuk bantu-bantu kamu entar." jelas Ezra. Bukan malah senang. Justru Anna semakin kesal dengan keputusan Ezra, yang tanpa meminta pendapatnya.


Ya, walaupun mereka menikah tanpa saling mencintai. Namun, pendapat satu sama lain itu penting. Yang Anna tidak sukai adalah keputusan sepihak. Ketika dirumah pun Axel akan meminta pendapat Anna ketika mereka akan pergi berlibur.


"Terserah kamu sajalah! Jika aku tetap menolak pun kamu pasti akan tetap kukuh!" ucap Anna yang hanya bisa pasrah. Hampir seminggu tinggal dengan Ezra. Anna sudah cukup memahami akan sifat yang Ezra miliki. Namun, yang tidak Anna mengerti. Perlakuan Ezra terhadapnya.


Ezra tersenyum senang tanpa Anna lihat. "Hari ini aku tidak bisa jemput kamu. Mendadak ada rekan bisnis yang ingin bertemu... Tapi, aku udah nyuruh orang nanti buat jemput."


Anna mendengus. "Kalau begitu aku naik motor saja tadi. Yang seperti ini nih yang tidak aku sukai." melipat tangan di dada.


"No! Jika aku biarkan kamu mengendarai sepeda motor... Aku tidak mau hal yang kemarin terulang lagi!"


Anna tak membalas lagi. Ujung-ujungnya dia akan tetap tidak bisa menang dan membantah.


Sampai di depan kampus Anna turun, namun sebelum itu ia berpamitan kepada Ezra. Pria itu terus mengawasi sang istri. Hingga tatapan menajam saat seorang pemuda menghampiri sang istri dan berjalan di sebelahnya.


Ezra pun langsung menancap gas dan melajukan mobilnya diatas rata-rata. Rasa cemburu kini membakar hatinya. Ezra tidak suka apa yang sudah menjadi miliknya di dekati oleh laki-laki lain.


...••••...


Jangan lupa dukungan dari kalian, karena itu sangat penting untuk menambah semangat ku untuk ngeluarin ide-ide dari otakku...


Udah dulu bacotan dari ku. Semoga kalian suka.


Happy reading😘