
Jatuh cinta bukan salah dalam memilih waktu. Hanya saja terkadang kita salah tempat. Harapan yang jauh lebih tinggi ternyata tidak akan sesuai dengan kenyataan. Itu sebabnya, kita akan terpeleset menuju kekecewaan.
Seperti yang dialami Anna terdahulu. Mencintai sosok Arga, namun pada kenyataannya cintanya tak pernah terbalas. Arga menyukai Shana, adik kelas satu tingkat dibawah mereka. Setiap hari Arga tak pernah surut menceritakan sosok Shana pada Anna. Hanya Shana, Shana, dan selalu Shana. Terkadang Anna muak sebagai pendengar.
Hingga suatu ketika Anna merasakan luka yang teramat dalam. Diam-diam hubungan mereka sudah di resmikan. Tanpa Anna ketahui. Mulai dari sanalah Arga berubah. Anna seakan kehilangan sosok pemuda itu. Namun, Anna menyadari. Jika Arga tidak akan pernah dia miliki melebihi dari seorang teman. Akhirnya Anna memilih menerima itu semua walaupun hatinya terasa nyeri. Dan, mengalah adalah pilihan yang tepat untuk Anna. Memilih pergi adalah salah satunya.
Lantas? Mengapa Tuhan menghadirkan Arga kembali? Disaat rasa cintanya kepada pemuda itu sudah mulai memudar. Sekarang ada Ezra, suaminya. Walaupun Anna tidak mencintai pria itu. Namun, Anna akan membiarkan rasanya mengalir sendiri untuk Ezra.
Arga terus berjalan di samping Anna. Membujuk gadis itu agar mau berbicara dengannya. Anna yang merasa tak nyaman dengan situasi ini mencoba mempercepat langkahnya. Arga tak menyerah. Dengan kaki panjangnya ia berhasil menyamakan langkahnya kembali.
"Aku sudah putus dengan Shana." Langkah Anna terhenti. Apa dia bahagia? Tentu saja tidak! Anna bahkan selalu mendoakan hubungan mereka selalu bahagia.
Anna memejamkan matanya sejenak, mengatur nafasnya. "Apa perlu kamu mengatakannya padaku? Saat dulu resmi berpacaran dengannya saja kamu tidak memberitahuku. Mengapa ketika hubungan kalian berakhir aku harus tahu?"
Arga bungkam. Kepergian Anna membuat hubungan dengan Shana renggang. Kehilangan sosok Anna membuatnya tampak rapuh. Jiwanya seakan hilang. Arga mulai mengabaikan Shana. Dari sanalah Shana berada dalam titik jenuh. Dia tidak lagi sanggup mempertahankan hubungannya dengan Arga. Shana merasa pemuda itu sudah tak menganggap dirinya sebagai kekasih.
"Anggaplah kita adalah orang asing. Aku bukan lagi Anna yang dulu." ucapnya. Lalu, meninggalkan Arga. Tanpa terasa air matanya menetes, namun dengan buru-buru Anna segera menyekanya.
Siapa yang bisa memahami keadaan Anna? Jika Arga sempat membuatnya terpuruk dalam kepedihan. Hanya Axel yang tahu. Karena gadis itu selalu menceritakan keluh kesahnya pada sang Kakak.
Sedangan Arga hanya bisa menatap sendu punggung Anna yang semakin menjauh. Arga tidak akan menyerah. Dia harus bisa mendapatkan Anna. Mengejar cinta kembali yang tak pernah dia gapai bersama Anna.
...••••...
Di taman kampus yang sepi, Rea terisak dalam pelukan Anna. Siapa yang menyangka? Jika ada sisi rapuh dalam diri gadis itu. Di balik sikapnya yang ceria ternyata Rea menyimpan begitu banyak luka. Anna iba dengan apa yang Rea alami saat ini. Begitu menyakitkan jika berada di posisinya.
Kekurangan adalah rahmat. Segala bentuk rintangan sebenarnya tercipta agar kita lebih kokoh dalam menghadapi kenyataan. Kita harus merasakan terbentur, terbentur, baru terbentuk. Namun, apa yang Rea alami? Hidup dalam keluarga yang tidak pernah dianggap dan dihargai lebih sakit dari pada patah hati.
"Hidup ini memang tentang pilihan. Ada beberapa hal yang harus di korbankan jika kita benar-benar ingin mendapatkan sesuatu. Pengorbanan itu bisa berbentuk apa saja. Ia bisa berupa waktu, tenaga, dan yang lain..." ucap Anna menepuk-nepuk punggung Rea yang masih menangis dalam dekapannya.
Rea menarik dirinya dengan lelehan air mata. Anna terus menenangkan gadis itu. Mengelus-elus bahu Rea yang masih bergetar hebat.
"Jadi, Rea, kamu harus memberi restu Bapakmu, dan beri dia support lahir batin."
Fenomena pahit yang terjadi dalam hidup setelah serangkaian panjang usaha terbaik yang telah dilakukan itu merupakan bentuk suratan takdir yang sudah ditetapkan.
Sebenarnya, kekurangan yang ada dalam hidup masih bisa diubah. Bagiamana caranya? Dengan cara tunjukkan apa yang ada dalam dirimu yang tidak ada dalam diri mereka. Jangan pernah berhenti untuk menunjukkannya.
Seperti kepompong yang tidak dapat bertransformasi menjadi kupu-kupu tanpa rasa sakit, tanpa penderitaan mendalam. Begitu juga dengan hidup. Dimana adakalanya setiap penderitaan harus kita terima. Dan, dari sanalah kita harus kuat dan berusaha agar tak terus merasakan penderitaan.
Rea memejamkan mata sejenak, kemudian menarik nafas dalam-dalam dan di hembuskan perlahan.
"Perjalanan hidup yang selama ini Bapak ku tempuh memang menyedihkan. Kehadiran Bapakku di keluarganya tak pernah diinginkan. Hanya Kakek ku yang menyayanginya. Mungkin ini saatnya Bapak harus menunjukkan bahwa dirinya bisa sejajar dengan saudaranya yang berada diposisi tertinggi... Jika saja Kakek masih ada mungkin nasib kita tidak akan seperti ini."
Anna terunyah. Saat ini mereka saling berbagi cerita tentang kehidupan yang dialami pahlawan dalam hidup mereka.
"Diusianya yang masih dua puluh tahun. Sebagai anak tertua Papaku di tuntut untuk memimpin perusahaan... Didikan Opa begitu keras. Kerap kali Papa ingin menyerah. Namun, Opa terus menggembleng Papa agar bisa memimpin perusahaan. Hingga pada akhirnya Papa bisa mengembangkan perusahaan lebih maju lagi. Opa sangat bangga dengan pencapaian yang Papa raih. Hingga Opa memutuskan mundur sebagai pemimpin, dan Papa sebagai gantinya... Memiliki tanggung jawab besar terhadap perusahaan memang tidak mudah. Papa tidak punya waktu untuk berpacaran, dan menikmati masa indah selayaknya anak muda. Hanya kerja, kerja, dan kerja yang ada di pikirannya sampai melupakan kebahagiaannya sendiri..." Anna mengatur nafas sejenak sebelum kembali melanjutkan. "Hingga Opa menjodohkan Papa dengan Mama. Dan, sekarang itu juga masih di terapkan sampai sekarang... Hanya Kak Axel yang berani melawan Papa. Papa pernah ingin menjodohkan Kakak dengan anak rekan bisnisnya. Dengan tegas dia menolak dan mengancam."
"Aku salut sama kamu. Ya, walaupun kamu dari keluarga yang sangat berada. Namun kamu tidak mengumbar kekayaan orang tuamu... Masuk universitas ini pun kamu memakai jalur prestasi..." betapa Rea sangat mengagumi sosok Anna. Gadis itu memiliki segalanya yang bisa dia punya. Namun, Anna lebih memilih menjadi orang biasa.
"Itu semua hanya titipan, Rea. Sewaktu-waktu Tuhan bisa saja mengambilnya. Toh, kalau mati juga kita nggak akan bawa apa-apa."
Rea mengangguk membenarkan apa yang Anna katakan. Dia begitu beruntung memiliki teman seperti Anna. Gadis cupu namun memiliki pemikiran ajaib.
((Perjalanan hidup memang tidak selalu mulus. Sudah pasti banyak lubang dan tikungan yang siap mengancam keselamatan kita. Jangan takut jatuh atau terpeleset. Sekali lagi, mandataris perjalanan kehidupan sudah diberikan Tuhan ke tangan kita. Tinggal kita sendiri ingin bagaimana mengelolanya.))
...••••...
"Jadi beneran sekarang kamu nggak di izinin naik motor?" Anna mengangkat bahu pelan dan mengangguk.
"Dia itu sama kayak Papa. Apa yang dia lontarkan harus dituruti, mau membantah pun percuma." sahut Anna dibarengi hembusan nafas kasar.
Dentingan di ponsel Anna berbunyi, dengan segera gadis itu merogoh benda pipih itu dalam tasnya. Dahinya berkerut membaca pesan itu. Sedetik kemudian air mukanya berubah kesal. Dengan buru-buru Anna langsung memasukkan ponselnya kembali.
"Rea, aku duluan, ya... Bye." dengan langkah cepat Anna langsung keluar. Rea hanya bisa menatap bingung tingkah aneh temannya itu.
"Kayak liat setan aja." Gumannya. Rea pun menatap sekeliling ruangan. Terlihat sepi. Gadis itu pun bergidik ngeri dan langsung ngacir pergi.
Dengan mengerucutkan bibir Anna segera masuk kedalam mobil Rolls Royce Ghost hitam yang sudah terparkir cantik di depan kampusnya. Dalam hatinya Anna tak berhenti untuk menggerutu. Pria yang berada disampingnya yang merangkap sebagai suaminya ini benar-benar menyebalkan bagi Anna.
"Tadi katanya nggak bisa jemput. Kenapa sekarang bisa? Jangan maksain diri dan ninggalin pekerjaan." ucap Anna ketika mobil sudah melaju meninggalkan kampus. "Aku bukan lagi bocah yang harus diantar jemput."
"Ada hubungan apa kamu sama laki-laki itu?" Ezra tak menggubris omelan Anna. Pria itu malah mengganti topik pembicaraan. Hati yang kebakar api cemburu membuat Ezra memutuskan untuk membatalkan pertemuan. "Sepertinya dia gencar sekali ingin mendekati mu. Sampai rela menunggu mu datang." cibir Ezra dengan gemuruh yang timbul di dada.
"Apa urusannya dengan mu? Siapa pun yang ingin mendekati ku itu tidak akan jadi masalah. Aku tahu batasan, Mas. Jangan terlalu mengekang hidup ku. Aku juga tidak akan membatasi mu. Kamu boleh dekat dengan siapapun. Bahkan jika kamu ingin berkencan dengan kekasih mu, aku tidak akan keberatan!"
Satu hal yang baru Anna ketahui. Ternyata selama ini Ezra memiliki seseorang yang teramat pria itu cintai. Mengapa rasanya sesak saat Anna mengetahui fakta itu? Begitu sangat berarti kah perempuan itu di hidup Ezra? Hal seperti lah yang Anna takutkan.
Gembok hati yang kini masih ia kunci rapat. Anna tidak akan pernah untuk membukanya kembali. Sampai kapanpun itu. Sekarang sudah tidak ada lagi kepercayaan Anna untuk seorang laki-laki.
"Jika perjodohan ini yang membuat kalian tidak bisa bersama. Kamu bisa mengakhirinya, Mas... Aku Mengerti. Mana mungkin pria setampan dirimu menyukai perempuan cupu seperti ku, bukan?" Terkekeh getir. "Selera kamu pasti perempuan cantik, dan berkelas... Tolong ceraikan aku, Mas. Agar kamu bahagia dengan orang yang kamu cintai." lanjutnya.
Anna ingin menangis. Sebisa mungkin ia menahan benteng pertahanan itu agar tidak roboh. Air mata adalah kelemahan Anna. Saat rasa sakit ia derita terdahulu. Setiap malam yang sunyi Anna tak henti untuk kembali menangis. Meratapi dirinya yang begitu menyedihkan.
Kata cerai yang terlontar dari mulut Anna membuat Ezra marah. Pria itu pun menginjak rem dan mobil berhenti membuat Anna terkejut dan sedikit terpental kedepan.
"Brengsek!" umpatnya memukul stir kemudi dengan keras. Anna menjadi gemetar. Apalagi sorot mata Ezra yang menyeramkan kini memandang Anna seperti tatapan pembunuhan.
"Sekali lagi kamu mengatakan cerai! Jangan harap kamu bisa menghirup udara dengan bebas!" ancam Ezra. Nyali Anna pun seketika menciut. Keringat dingin sudah mulai timbul di dahinya!
'Tuhan, kenapa aku harus terjebak dalam perjodohan seperti ini? Tidak bisakah Engkau berikan sedikit kebahagiaan untukku? Hanya kepadamu aku berharap, Tuhan...'
"Sampai rumah, cepatlah beres-beres. Aku mau kita pindah hari ini! Tidak perlu menunggu Bapak sama Ibu pulang!"
Ingin rasanya Anna membantah. Namun, dia tidak memiliki keberanian untuk melakukan itu. Anna hanya bisa mengangguk dengan patuh.
Mobil pun kembali melaju. Suasana dalam perjalanan sangat mencengkram. Anna tak berani menoleh pada Ezra. Betapa menyeramkan wajah pria itu ketika marah. Kecepatan laju mobil pun tak stabil. Anna hanya memejamkan mata sambil berpegangan pada tali sealbelt.
...••••...
Kalian para reader's pernah ada di posisi mana nih? Tulis di kolom komentar, ya...
Untuk reader's yang naruh cerita ini ke rak favorit tinggalkan jejak kalian dong... Hehehe
Sekian dulu omelan di part ini.
Terimakasih and happy reading😘