My Nerd Wife

My Nerd Wife
Menghabiskan Waktu.


Anna tak bisa untuk tidak selalu menerbitkan senyuman. Seketika suasana hatinya yang semula sendu kini menjadi sedikit membaik. Bahkan sudut bibirnya ia tarik lebih lebar.


Rea mengajak Anna kesebuah desa yang memiliki pesona alami di ibu kota. Terdapat hamparan ladang bunga. Ladang bunga yang dipenuhi oleh bunga kasna. Bunga ini berwarna putih bersih yang dapat memanjakan mata. Tempat itu sangat cocok jika dikunjungi bersama pasangan untuk mencari spot foto romantis yang instagramable. Selain bunga kasna terdapat juga bunga gemitir atau marigold yang berwarna oren kekuningan.


"Aku baru tahu di ibu kota ternyata ada tempat seindah ini." ucapnya takjub. Pasalnya Anna jarang keluar rumah. Ia lebih memilih selalu menghabiskan waktunya di dalam rumah.


"Makanya sekali-kali kamu harus keluar kandang. Masih banyak tempat lain yang lebih indah dari ini."


Dengan mata berbinar. Anna menoleh dengan cepat, memandang Rea yang sibuk menggerakkan ponselnya. Mengabadikan pemandangan indah di depan mata.


"Bisakah kamu mengajak ku? Aku ingin menikmati banyak momen bahagia sebelum aku tidak bisa merasakannya."


Kontan Rea menurunkan ponselnya dan menatap Anna dengan serius. Dahinya pun membentuk beberapa gelombang kecil. Apa maksud perkataan Anna?


"Apa ada sesuatu yang terjadi padamu?"


Anna menarik nafas dalam-dalam dan di hembuskan perlahan-lahan. Sebenarnya ia tidak ingin menceritakan masalah ini pada Rea. Namun, Rea adalah sahabatnya. Anna tidak ingin nanti Rea akan kecewa padanya.


"Papa telah menjodohkan ku dengan anak temannya, Rea..." ucap Anna langsung menunduk sedih.


Rea tercengang mendengarnya, mulutnya sedikit menganga dengan segera ia menutup dengan telapak tangan.


"Dan, pernikahan akan dilaksanakan Minggu besok." tanpa terasa suasana hatinya kembali pedih. Air mata pun tak dapat terbendung. Dengan segera Rea langsung menarik Anna kedalam dekapannya.


"Aku berharap ada hidayah dan semuanya menjadi batal... A-aku masih ingin meraih mimpiku, Rea... Tapi, dengan tega Papa menghancurkannya." ucapnya sendu sedan.


Rea hanya bisa menenangkan gadis itu. Menepuk-nepuk punggung Anna dengan lembut.


"Semua orangtua menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Percayalah, Anna... Jika kamu bisa menjalaninya dengan ikhlas. Senantiasa Tuhan akan mendatangkan kebahagiaan untuk mu."


Anna menarik dirinya dari dekapan Rea. Gadis itu pun mengusap air matanya. Namun tatapannya masih menyimpan kepedihan.


"Sudah jangan menangis! Kita harus bersenang-senang. Aku akan mengajak mu kesebuah tempat. Di tempat itu nanti kita bisa menyaksikan gulungan ombak dan hembusan angin yang menyejukkan."


"Ayo kita mengambil beberapa foto dulu. Dan, kita jadikan sebagai kenangan. Bahwa kamu pernah datang ke tempat ini" ajaknya tersenyum sembari merangkul pundak Anna. Mengajak gadis itu ketengah ladang bunga untuk berfoto. Dan dengan senang hati Anna menurut.


Saatnya kini Anna akan menghabiskan banyak waktunya untuk bersenang-senang. Sebelum statusnya berubah dan dirinya tak bisa untuk bebas. Hanya tinggal menghitung detik, menit, jam, dan hari.


...••••...


Sesuai apa yang tadi dikatakan Rea. Kini Anna dan Rea sudah sampai di sebuah tempat bernama Bamboo Bar dan Longe, merupakan gabungan dari bar dan lounge yang mengusung konsep kasual yang trendi.


Di tempat itu kita dapat menyaksikan gulungan ombak dan hembusan angin yang menyejukkan. Tidak hanya itu, terdapat juga sebuah taman yang dilengkapi dengan berbagai tanaman hijau yang dapat menyejukkan mata.


Terdapat pula lampu-lampu kuning yang semakin menambah suasana romantis. Sebenarnya tempat yang terbuat dari bambu itu lebih cocok dikunjungi bersama dengan pasangan. Tempat tersebut menyediakan fasilitas berupa kursi yang menyerupai sarang burung dan dapat diayunkan mengelilingi meja bar.


"Bagiamana? Kamu suka?" tanya Rea yang melihat Anna tak hentinya berdecak dengan kagum saat melihat suasana di dalam tempat itu. Kedua bola matanya pun tak pernah absen untuk menyapu sekitar.


Dan, keduanya pun duduk di sebuah sofa empuk yang langsung mengarah ke arah taman.


"Apa kamu sering datang kesini?" Anna berpikir sepertinya sahabatnya itu sering berkunjung, sebab Rea seperti sudah sangat mengenal tempat ini.


Gadis dengan model rambut layer oval itu pun tersenyum. Kemudian menggaruk tengkuknya dan menggeleng sambil nyengir.


"Ini untuk pertama kalinya aku datang. Sebenarnya sudah lama sih tahu tempat ini. Tapi, aku malas jika harus pergi sendirian..." Anna menghela napas dan memutar matanya.


"Kamu lihat saja di sekeliling mu. Tidak ada yang datang sendirian. Rata-rata bersama pasangan semua." ucap Rea kembali dan Anna langsung mengedarkan pandangan. Dan, apa yang Rea katakan memang benar adanya. Bahkan hanya mereka saja yang datang berpasangan dengan perempuan. Membayangkan akan hal itu Anna jadi bergidik geli.


"Kamu benar, Rea." ucapnya sambil mengangguk. "Tapi itu tidak menjadi masalah.. Mau datang dengan pasangan, saudara, bahkan sahabat. Yang terpenting kita tidak sendirian.."


Rea mengangguk lemah. Wajah gadis itu kini berubah sendu.


"Tapi, Anna... Aku pingin banget ngerasain memiliki seorang kekasih. Namun, saat baru tahap pendekatan. Ujung-ujungnya mereka bakalan mundur." ujarnya menunduk sedih, sembari mengaduk-aduk jusnya. Tak berselera untuk meminumnya.


Anna membenarkan letak kacamatanya yang sedikit melorot. Lalu, tangannya ia silangkan diatas meja, kemudian menatap Rea dengan serius.


"Bagus dong mereka mundur diawal. Berarti itu bukan yang terbaik untukmu.. Daripada terus berlanjut dan kebelakang ngerasain sakit hati. Itu bakalan lebih parah. Susah untuk menyembuhkan. Apalagi sudah ngerasa nyaman dan mencintai."


Rea mendongak menatap Anna dengan mata menyipit. "Sepertinya kamu pernah merasakan hal itu..." ucap Rea menaruh curiga.


Anna langsung tertegun. Dia pun menggaruk pelipisnya. Rea pun semakin curiga dan menatap Anna penuh intimidasi. Anna yang mengerti tatapan itu berdehem untuk menormalkan situasi. Kemudian ia pun mulai membuka suara.


"Dulu sewaktu duduk di bangku SMP... Aku pernah menyukai seseorang. Namun, aku mengetahui satu fakta. Ternyata dia menyukai orang lain... Semenjak itu, hubungan kami yang awalnya menjadi teman baik, aku memutuskan untuk mengakhiri pertemanan."


Anna mengatur nafasnya. "Kenaikan kelas sembilan. Aku memutuskan untuk pindah sekolah. Itu satu-satunya cara yang aku lakukan agar bisa melupakan sosoknya... Dan, sampai sekarang pun kami tidak pernah bertemu lagi. Mungkin sekarang dia sudah bahagia bersama gadis pilihannya."


Tidak mudah bagi Anna untuk melupakan semuanya. Terkadang bayang-bayang bersama laki-laki yang pernah ia cintai masih terlintas di benaknya. Bohong jika Anna tidak merasakan rindu teramat dalam. Namun, sebisa mungkin ia mencoba untuk berdamai. Dan, itu cukup berhasil. Walau masih ada sedikit rasa yang masih terpendam.


Rea yang mendengar apa yang pernah Anna rasakan. Hatinya ikut merasakan sesak. Rea tidak pernah tahu. Ternyata dibalik penampilan Anna yang cupu menyimpan luka.


"Sekarang coba buka hatimu, Anna... Aku yakin laki-laki yang akan menikahi mu adalah orang yang tepat dan terbaik yang orangtuamu pilih." ucap Rea menepuk lembut tangan Anna yang meyilang diatas meja.


Anna mengangkat bahu dan menggeleng pelan. "Aku belum yakin, Rea. Aku tidak tahu rupa dan bagaimana sifat yang dimiliki calon suamiku. Karena aku belum pernah bertemu dengannya."


"Hm.., aku yakin dia tidak buruk rupa. Papamu mana tega mencarikan pendamping yang jelek untuk putri cantiknya." sahut Rea dengan kerlingan matanya menggoda Anna.


Anna berdecak kesal dan memutar bola matanya malas. Rea pun terkekeh tak berdosa.


Obrolan mereka terhenti kala makanan yang mereka pesan sudah datang dan dihidangkan di atas meja. Mereka pun segera menikmatinya. Sembari di temani pemandangan indah yang tersaji di depan mata.


...••••...