My Nerd Wife

My Nerd Wife
Serangga Bodoh!


Anna tengah memandang suasana langit malam di balkon kamarnya. Tidak terlihat cahaya sang bintang yang menampakkan sinarnya, bahkan sang rembulan pun cahayanya ikut tenggelam. Keindahan malam itu telah terselimuti awan tebal.


Angin malam berhembus mencengkeram. Kilat menyambar disertai gemuruh. Beberapa detik kemudian air jatuh dari langit membasahi bumi. Anna tidak beranjak sedikit pun. Walau rasa dingin masuk menusuk kedalam pori-pori kulitnya.


"Hujan, Anna! Masuklah!" sebuah suara bariton yang membuat Anna tersentak kaget.


Anna segera memutar kepalanya. Gadis itu menggeleng. Terdengar helaan nafas kasar dari orang yang kini berjalan menghampiri dirinya.


"Aku tahu, keputusan Papa membuat mu kecewa..." ucapnya sembari menyampirkan jaket di bahu Anna.


"Mau bagaimana lagi. Sebagai seorang anak aku harus patuh terhadap orang tua... Memang tidak mudah jika harus menikah dengan orang yang tidak kita cintai. Bahkan, mengenalnya pun tidak pernah." ujarnya menoleh pada pria bertubuh jangkung yang berdiri di sampingnya dengan tatapan sendu.


"Mungkin dengan menerima Perjodohan ini. Itu menjadi bentuk, bahwa aku sudah membuat Papa bahagia..." Anna memejamkan matanya sejenak, dan membuang nafas berat. Kemudian kembali berkata. "Aku pernah jatuh cinta pada seseorang, namun dengan orang yang sama aku merasakan kecewa... Aku hanya berharap. Semoga pernikahan yang ku jalani nanti, tidak berujung kekecewaan lagi yang aku dapatkan."


Axel merasakan hatinya berdenyut sakit. Apa yang dulu terjadi pada Anna, sehingga membuat sang adik menjadi seperti sekarang. Kembali Axel ingin marah, namun itu sudah menjadi masa lalu.


"Terkadang rasa rindu masih aku rasakan. Dalam benakku sekelebat masih menyimpan bayang-bayang bersama dengannya... A-aku sadar! Bahkan sangat sadar. Bahwa dia tidak akan pernah bisa aku rengkuh.." Hujan masih mengguyur kota, dinginnya udara malam itu seakan tak terasa. Hanya rasa sakit yang kembali mendera. Tanpa bisa dicegah air mata keluar dengan sendirinya.


Axel langsung menarik Anna dalam dekapannya. Kaca mata yang digunakan gadis itu pun kini sudah berembun. Tangisnya pecah dalam pelukan sang Kakak. Bahunya bergetar hebat diiringi isakan tangis gadis itu.


"Bohong jika aku mengatakan sudah melupakannya. Pada kenyataannya perasaan ini tidak semudah itu untuk memudar..." ucapnya sendu sedan. "Terlalu sulit, Kak! Sulit untuk melakukan itu semua..."


"Percayalah, Anna. Semua akan sirna ketika kamu mau membuka hati. Ezra bukan laki-laki brengsek, dan dia berasal dari keluarga baik-baik." menenangkan Anna sambil mengelus-elus lembut punggung gadis itu.


Axel melanjutkan perkataannya. "Terima semua yang ada sebagai bagian dari hidup. Kamu pernah dengar kutipan buku The Comfort Book, Albert Camus? Disana dia berkata, "Tidak ada rasa cinta terhadap hidup tanpa rasa kecewa." Dijelaskan, bahwa kenikmatan dan kekecewaan termuat dalam kesatuan yang sama. Ketika kita melihat betapa dua hal yang bertentangan terkandung di dalam yang lainnya, dan segala sesuatu yang berkaitan, kita dapat merasa lebih berdaya pada titik-titik terendah kita. Terima rasa tidak nyaman yang ada sebagian bagian dari pengalaman dan pembelajaran hidup kita. Ditinggalkan seseorang memang menyakitkan, tetapi itu bukan akhir dari segalanya." jelasnya panjang. Agar Anna tidak lagi terpuruk dalam kubangan masa lalu.


Anna menarik dirinya. Gadis itu mendongak menatap sang Kakak dengan air mata yang masih mengalir, dan dengan segera Anna menghapusnya.


"Aku paham akan hal itu. Dulu aku itu seperti serangga bodoh yang terjebak dalam bara api menginginkan rasa sakit. Aku memang harus bangkit lagi. Dan, itu membutuhkan waktu dan proses... Tapi, jika untuk membuka hati.. Apa Kak Axel yakin laki-laki itu orang yang tepat? Bisa saja nanti dia akan menorehkan luka padaku. Aku nggak pernah tahu akan berjalan seperti apa pernikahan yang aku jalani nanti... Aku tidak mau terluka untuk yang kedua kalinya jika aku membuka hati kembali." ujarnya parau, menghapus jejak air matanya.


"Jikalau memang dia yang terbaik. Biarkan hati ini yang menentukan. Apakah dia orang yang layak untuk masuk kedalam hatiku, dan orang yang tepat pula untuk aku cintai."


Axel tersenyum lembut sambil mengangguk. Memegang kedua pundak Anna, menatap gadis itu dengan sayang. "Lakukan apa yang menurut mu terbaik. Karena itu pilihan mu, maka ikutilah. Biarkan takdir yang juga akan mengikuti pilihanmu itu. Sebab, kita tak pernah tahu takdir seperti apa yang sudah Tuhan rencanakan." ucapnya bijak.


Anna mengangguk dengan kaku.


"Dan, aku orang yang akan bertindak lebih dulu jika kamu tersakiti." Axel tidak ingin sang adik yang teramat dia sayangi mengalami hal yang sama. "Semoga luka di hatimu segera sembuh. Semoga kesedihan segera tergantikan dengan kebahagian." harapan yang terlontar untuk Anna. Axel hanya berharap semoga dengan ini adiknya bisa merengkuh kebahagiaan.


Perasaan dan hati sang adik yang hancur dan terluka membawa perubahan untuk Anna. Cukup sekali saja sang adik merasakan itu semua.


"Sekarang masuk, dan tidurlah. Udara malam ini tidak baik untuk kesehatan." tersenyum lembut sembari mengelus sayang kepala Anna.


Anna mengangguk menurut, gadis itupun melangkah masuk kedalam kamar. Axel mengekor dibelakang. Kemudian pria itu menutup pintu jendela balkon.


...••••...


Dari ufuk timur, matahari sudah muncul, mulai memamerkan cahayanya. Tampak langit biru cerah menyinari semesta. Setelah kemarin hujan mengguyur begitu lamanya. Udara pagi ini begitu sejuk mengalir kedalam tubuh.


Anna mengendarai motornya dengan santai. Bergabung dengan puluhan kendaraan. Bukan tanpa alasan Anna lebih menyukai motor sebagai alat transportasi. Anna hanya tidak ingin terjebak macet. Itu akan memperlambat waktunya untuk sampai kampus dengan tepat waktu.


Seperti biasa. Di parkiran sudah terdapat Rea yang tengah menunggu kedatangannya. Lantas Rea menyambangi Anna yang masih duduk diatas motor, tengah merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.


"Anna.., kamu tahu nggak?" Anna menggeleng, turun dari motor. "Fakultas sebelah katanya mau ada mahasiswa baru." ucap Rea antusias.


Anna mengernyit heran. "Terus, kenapa kamu yang jadi excited banget?"


Rea memutar bola matanya. "Katanya orangnya ganteng banget. Mahasiswi yang aku temui, semua pada ngebahas tuh mahasiswa baru."


"Udah ah! Nggak penting juga." acuh Anna dan meninggalkan Rea. Gadis itu pun segera menyusul, kemudian mensejajarkan langkahnya dengan Anna.


"Pernikahan kamu dua hari lagi, kan?" Anna mengangguk mengiyakan. "Apa kamu udah ketemu sama calon suami?" Anna menggeleng. Rea pun mendesah kecewa. Padahal ia ingin mendengar sosok calon suami Anna dari mulut gadis itu.


Sesampainya di dalam kelas Anna dan Rea langsung duduk. Beberapa menit kemudian Dosen yang mengajar pun masuk kedalam kelas.


...••••...


Di sebuah kafe tengah duduk dua orang laki-laki yang tengah menikmati secangkir cappuccino.


Laki-laki yang diberi pertanyaan menggeleng tanpa ekspresi. "Ada saatnya dimana aku akan jujur padanya."


"Benar-benar payah! Seharusnya kamu terang-terangan jika mendekatinya. Bukan jadi penguntit! Menurutku tiga tahun sudah waktu yang lama untuk kamu mengawasinya secara diam-diam."


"Dia itu sosok yang berbeda. Cenderung tertutup. Melihatnya dari jauh itu sudah cukup. Tinggal menunggu waktu. Dan, aku akan memilikinya selamanya." ucapnya tersenyum samar. Rasanya dia tidak sabar menunggu waktu itu tiba.


"Aku kira kamu itu bukan pria yang normal." celetuknya sembari terkekeh dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari sang empunya.


"Sial! Pikiran mu itu terlalu dangkal, Hugo...!" mendengus kesal. Hugo pun tertawa kencang.


Ezra yang mendengar Hugo menertawakan dirinya langsung menatap dingin pria itu. Melihat tatapan Ezra yang menyeramkan, dengan segera Hugo menghentikan tawanya. Menghapus air mata yang sedikit keluar akibat tertawa.


"Sorry.., bukan maksud." ucapnya nyengir sambil menggaruk tengkuknya.


Ezra mendecih dan memutar bola matanya malas.


"Aku jadi penasaran, seperti apa wajah perempuan itu? Sehingga membuat mu begitu kagum padanya." ada rasa penasaran dalam diri Hugo. Pasalnya begitu banyak perempuan cantik, sexy, dan modis mengincar Ezra. Namun, pria yang sudah berkepala tiga itu hanya acuh. Sebab, Ezra sudah stuck pada satu perempuan.


"Yang jelas dia tidak bisa disandingkan dengan perempuan mana pun."


...••••...


Usai mengikuti kelas dan tidak ada kelas berikutnya. Anna dan Rea saat ini sedang berada di sebuah kafe yang berada dekat dari kampus mereka. Anna sedang membenamkan kepalanya pada kedua belah tangan. Sedetik kemudian Anna mengangkat wajah. Ia menarik napas dan mengembuskannya dengan pelan.


Rea hanya memperhatikan sembari tangannya memainkan sedotan di dalam gelas yang berisi jus alpukat kesukaannya. Sesekali gadis itu mengerutkan keningnya. Melihat kelakuan sahabatnya yang begitu gelisah. Saat dosen menjelaskan materi pun Anna tidak fokus.


"Udah deh, Anna.. Jangan membuat diri mu sendiri menjadi kacau begini. Itu nggak akan bisa merubah semuanya." tukas Rea yang gemas dengan polah Anna.


Anna mendesah, memegang kepalanya yang sedikit berdenyut. Kemudian memijitnya dengan gusar. Benar-benar kacau! Anna tidak pernah tahu, mengapa dirinya menjadi seperti ini. Terasa begitu banyak beban yang kini ada didalam otaknya.


"Aku tahu Rea... Aku hanya sedang memikirkan status ku yang sebentar lagi akan berubah! Apa kamu tahu? Aku belum paham bagaimana menjadi seorang istri yang baik. Ya, memang pernikahan ini atas dasar perjodohan. Tapi, secara rohani aku harus bisa menjadi istri yang baik dan bertanggung jawab." menghela napasnya kasar. Walau sebenarnya tidak hanya hal itu yang menyerang pikirannya.


Rea mengangguk-anggukan kepalanya. Menyedot jusnya untuk membasahi tenggorokannya, lalu menatap Anna kembali.


"Dengan cara kamu harus melayani suami dengan baik. Misalnya dengan menyiapkan segala kebutuhan yang dia perlukan. Dan, dari cerita teman-teman kita yang sudah menikah. Sebagai seorang istri juga harus siap jika suami meminta nafkah batin agar kebutuhan seksualnya terpenuhi." seketika kedua bola mata Anna melebar mendengar kalimat Rea yang terakhir. Dengan cepat gadis itu menggeleng.


"Nafkah batin? No, Rea! Soal itu aku belum siap untuk memenuhi. Itu terjadi jika kita menikah dengan saling mencintai. Ini konteksnya berbeda! Aku dan dia menikah karena perjodohan." ucapnya tegas.


Rea mengangkat bahu pelan. "Yes, i now. Siap tidak siap kamu harus mau. Suami mana yang tidak ingin menikmati momen indah bersama pasangannya? Rata-rata, walau menikah karena perjodohan. Ujung-ujungnya hal seperti itu akan tetap terjadi."


Anna menggeleng sebagi penyangkalan. Dia akan hanya memberikan mahkotanya kepada laki-laki yang dia cintai.


"Berapa umur laki-laki yang akan menjadi suami mu?"


Anna berpikir. Mengingat perkataan Papanya tempo hari. "Seumuran dengan Kak Axel." celetuk Anna membuat Rea menutup mulutnya dengan tangan.


"Wow! Usia mu dan dia terpaut begitu jauh, Anna..." kata Rea tak percaya.


"Begitulah."


"Nope! Yang terpenting dia masih tampan dan awet muda."


Anna memutar bola matanya dengan malas. Satu kriteria cowok idaman Rea, yaitu tampan. Tidak peduli miskin atau pun kaya.


...••••...


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Jangan pelit-pelit....


Sekian bacotan yang aku tulis hari ini. Semoga kalian suka....


Terimakasih.


Aku sayang kalian😘