
Anna tertidur di dalam mobil saat perjalanan menuju rumah baru. Ezra melihat wajah pujaan hatinya terlihat lelah. Ketika tadi sampai rumah Anna langsung mempaking pakaian dan barang-barang seperlunya yang mudah dibawa saat pindahan. Sambil menyetir sesekali Ezra mengelus kepala Anna lembut. Pria itu merasa bersalah karena tadi sempat membentak Anna, bahkan mengancam.
Ezra menggendong Anna masuk kedalam rumah barunya. Pria itu tak tega jika harus membangunkan gadis itu yang lelap dalam tidurnya. Dengan hati-hati Ezra meletakkan tubuh Anna di atas ranjang. Melepas flat shoes Anna dan mengecup kening istrinya sayang. Lalu Ezra keluar kamar setelah memastikan tidur Anna nyaman.
Setelah dirasa semua barang sudah masuk kedalam rumah. Ezra kembali ke kamar. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Ezra merasakan tubuhnya terasa lengket dan dia memutuskan untuk mandi.
Selesai mandi Ezra langsung bergabung dengan Anna dibawah selimut.
Pergerakan Ezra membuat Anna terbangun. "Apa aku membangunkan mu?" bisik Ezra.
Anna menggeleng cepat. "Aku mau buang air kecil." katanya ketus kemudian beringsut turun.
Anna sudah selesai menuntaskan panggilan alamnya dan keluar. Dia mengambil bantal dan selimut. Membaringkan tubuhnya di sofa yang berada di kamar tersebut. Memejamkan matanya kembali.
Ezra yang melihat itu hanya bisa menghela nafasnya kasar. Setelah kejadian itu Anna mendiamkan dirinya.
Untuk malam ini Anna tidak ingin tidur seranjang dengan Ezra. Anna terlanjur sakit hati dengan perkataan pria itu yang membentaknya.
Sebenarnya, ini untuk yang pertama bagi Anna harus tidur di sofa. Rasa tidak nyaman membuat dia terus bergerak mencari posisi paling pas.
...••••...
Pagi ini Anna tak menjamah sarapannya. Gadis itu hanya meminum susunya dan setelah itu berlalu pergi. Ezra pun mengejar Anna, saat gadis itu akan memegang tuas pintu, dengan gerakan cepat Ezra mencekal pergelangan tangan Anna. Menarik gadis itu kedalam pelukannya.
"Lepasin!" Anna mendorong Ezra menjauh, dia marah pada pria itu, dadanya sakit tiap kali mengingat ucapan Ezra kemarin.
"Darimana kamu tahu aku mencintai perempuan lain? Apa selama kita menikah aku pernah pulang terlambat dan keluar rumah?" tanya Ezra tegas.
Anna menunduk kemudian menggeleng, lalu mendongak menatap suaminya. "Memang kamu pulang kerja tepat waktu dan tak pernah keluar rumah... Bisa saja kalian meluangkan waktu bertemu di saat jam makan siang. Ahh, sudahlah, itu juga bukan urusanku."
Ezra mendesah frustasi. "Pola pikir mu itu terlalu buruk! Jangan percaya gosip atau informasi dari manapun kalau kamu nggak tahu faktanya." ucap Ezra mencibir atas apa yang Anna tuduhkan.
Anna tertawa sumbang. "Aku tahu. Bahkan aku melihatnya dengan kepala ku sendiri. Di kediaman lama saat aku merapikan pakaian mu... Disana, aku menemukan sebuah kotak yang bertuliskan 'pemilik hati'... Aku penasaran dan ingin membukanya, namun aku tersadar, tak seharusnya aku lancang mengetahui barang pribadi milik orang lain."
Kembali Ezra menarik Anna kedalam pelukannya. Melepasnya. Kemudian menangkup wajah gadis itu.
Ezra mengukir senyuman.
"Sayang, kenapa kamu tidak membukanya? Aku tidak keberatan. Karena, sang pemiliknya kini sudah ada di hadapan ku."
Anna mengerjapkan mata tidak percaya. Apa yang pria itu katakan? Dia... Pemiliknya? Ini tidak bisa di percaya!
"Apa maksudmu, Mas?"
Ezra mendaratkan ciuman penuh cinta pada kening Anna. Menatap wajah gadis itu lekat. Gadis yang membuat hatinya tertutup untuk perempuan lain. Entah sejak kapan perasaan itu tumbuh untuk seorang gadis cantik berpenampilan sederhana.
"Hatiku ini hanya kamu pemiliknya. Tidak ada wanita lain selain dirimu. Mungkin kamu tidak akan percaya... Dulu aku bertemu dengan seorang anak kecil yang cengeng. Menangis tersedu di pinggir jalan dengan lutut berdarah. Kebetulan waktu itu aku baru pulang dari kampus... Aku merasa kasihan dan membawanya ke sebuah klinik."
Anna tampak berpikir. Mencoba mengingat kejadian itu... Memorinya kembali mengingatkan dirinya saat berusia sepuluh tahun. Saat dirinya pulang sekolah dan terjatuh dari sepeda.
"Saat sudah diobati pun dia masih tetap saja menangis. Pada saat itu aku bingung bagiamana cara menenangkannya... Aku hanya bisa memeluknya agar dia bisa tenang. Entah mengapa, saat mendekapnya hatiku berdebar aneh. Ada rasa yang tak bisa aku jelaskan timbul... Mungkin karena untuk pertama kalinya aku memeluk seorang perempuan selain Ibu... Hingga Kakak dari gadis itu datang. Dan, ternyata kami saling mengenal, bahkan kedua orang tua kami berteman baik..."
Ezra menghela nafas pelan dan tersenyum. Anna hanya menunggu Ezra untuk kembali bercerita. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya saat Ezra menceritakan awal pertemuan mereka.
"Dan, dari sanalah aku tahu... bahwa ternyata gadis yang aku tolong itu adalah calon istriku... Bayi lucu yang lahir saat aku berusia dua belas tahun." mencubit pipi Anna dengan gemas. Membuat gadis itu memanyunkan bibirnya.
Ezra mencium singkat bibir Anna, sebelum kembali melanjutkan ceritanya. "Saat kamu lahir. Bapak memperkenalkan mu sebagai calon istriku. Aku yang tak tahu apa-apa pada saat itu hanya bisa mengangguk tanda mengerti... Bapak selalu melarang ku agar tidak pernah terikat hubungan dengan wanita lain... Sebagai anak yang menghormati orang tua aku menurut. Hingga kejadian itu mempertemukan ku dengan mu..."
Anna menarik dirinya dan menatap Ezra penuh selidik. "Sesuatu apa yang ada dalam kotak itu?" tanyanya sangat penasaran.
Ezra melingkarkan tangannya di pinggang Anna. Bibi Mumun, dan Dona yang mengintip kemesraan majikannya itu dari balik pintu dapur hanya senyum-senyum.
"Rahasia." mengecup kening Anna. Gadis itu berdecak sedikit kesal sembari memutar mata.
"Aku masih tidak percaya... Kamu bisa tahan selama bertahun-tahun untuk tidak berpacaran. Kamu itu tampan. Pasti banyak perempuan yang mengantri ingin di dekati oleh mu... Kamu itu bodoh! Tapi, aku bangga padamu."
Pujian dari Anna tidak bisa tak membuat Ezra tersenyum begitu sangat bahagia. Ternyata kesabaran, perjuangan, dan apa yang dilakukannya dulu membuahkan hasil yang memuaskan.
"Apa pemuda dimasa lalu masih mendekatimu?"
Anna tergelak. Ternyata Ezra tahu tentang dirinya dan Arga.
"Kamu tidak usah khawatir. Sekarang aku ini adalah istrimu... Aku tidak akan berpaling dari laki-laki lain. Dia sudah ku buang ke tempat semestinya. Dan, terimakasih! Kamu bisa menahan dirimu selama itu dan menunggu ku." Ada kebanggaan sekaligus kebahagiaan di hati Anna. Dia tidak menyangka. Ternyata ada sosok setampan Ezra yang menunggu dirinya selama bertahun-tahun.
Ezra kembali mendaratkan bibirnya di kening Anna. Ingin sekali dia mencium, dan ******* bibir Anna yang menggoda. Namun, Ezra harus menahannya. Posisi mereka sekarang berada di tempat yang terbuka.
...••••...
Saat dalam perjalanan menuju kampus. Ezra tak melepas genggaman tangannya. Sesekali pria itu mencium punggung tangan Anna sembari matanya fokus pada arah depan. Anna yang di perlakukan demikian hanya bisa terkekeh. Gadis itu hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala.
"Ternyata aku baru tahu... Ada sisi sifat kamu yang mungkin orang nggak tahu." celetuk Anna membuat lelaki tampan yang berada di sebelahnya mengalihkan pandangan sejenak.
"Apa itu, sayang?"
"Bodoh!" katanya, diselingi kekehan. "Mungkin orang-orang tahunya kamu itu adalah laki-laki dingin yang anti perempuan... Kenyataannya, kamu itu hanya berusaha untuk menjaga satu hati."
Sebuah kurva melengkung indah di bibir menawan Ezra. "Aku tidak masalah kamu mengatakan diriku bodoh, atau gila sekalipun. Yang terpenting sekarang kamu adalah milik Ezra Rivanno Saputra seorang... Penantian ku selama ini berbuah manis."
Anna mengangguk tersenyum. Dalam hatinya dia membatin. "Lebay."
"Sejak kapan kamu mengawasi ku?" Anna hanya ingin tahu. Selama ini dia memang sudah curiga jika ada yang mengikutinya. Pada saat itu, Anna hanya mencoba untuk abai, dan berpikir positif. Selagi dia baik-baik saja dan itu tidak mengganggu.
"Saat umurmu tiga tahun. Aku tidak lagi pernah berkunjung kerumah mu. Aku sibuk dengan urusan pendidikan ku. Hingga tujuh tahun kemudian aku bertemu kembali dengan mu. Dari pertemuan itu, aku mulai mengawasi mu secara diam-diam..."
"Dasar penjahat!"
"Lebih tepatnya penjahat cinta..." Anna terkekeh senang. "Aku mencintaimu..."
"Aku tidak... Lebih tepatnya belum. Tapi, aku... Aku akan belajar untuk mencintaimu."
Hati Ezra mencelos mendengar itu. Namun dia paham. Seharusnya sejak dulu dia mendekati Anna. Ketidak beranian takut Anna menjauhinya membuat Ezra urung melakukannya pada saat itu. Dan, menunggu Anna dewasa adalah pilihannya.
Anna yang melihat raut sendu suaminya itu jadi merasa bersalah dan bersedih. "Mas, jangan sedih gitu, dong... Nanti tampannya hilang, lho. Nggak apa-apa sih... Yang terpenting aku akan tetap berada di sisimu. Walau bagaimanapun keadaan mu." mencoba menghibur Ezra dengan nada gombalan. Dan itu cukup berhasil. Ekspresi wajah Ezra kembali, yang tadinya mendung kembali teduh. Lebih tepatnya, kembali ke wajah datarnya.
"Maaf, ya, Mas aku belum bisa membalas cintamu... Kamu tenang saja, hatiku masih terkunci, kok. Dan, sekarang aku akan membukanya untuk mu." Ezra hanya menanggapinya dengan anggukan.
"Sungguh, aku tidak bisa percaya. Dibalik penampilan ku yang seperti ini ternyata ada sosok laki-laki yang mencintaiku dengan tulus." Anna merasa terkejut, haru, dan bahagia secara bersamaan pada detik itu juga.
"Mau seperti apapun dirimu. Aku akan tetap memilih mu sebagai pendamping hidupku. Bagiku kamu adalah perempuan paling cantik sedunia. Selain Ibu tentunya."
"Makasih, Mas. Kamu adalah hadiah paling indah yang tuhan berikan untukku." memeluk lengan pria itu. Ezra pun mengecup puncuk kepala Anna penuh cinta, bahkan cintanya berkali-kali lipat.
...••••...