My Nerd Wife

My Nerd Wife
Perjodohan.


"Apa Papa sudah gila?! Aku masih dua puluh tahun!! Pokoknya aku tidak mau menikah dengan pria itu!" Teriakan Anna menggelegar memenuhi ruang tamu.


Nafas Anna memburu, ia pun menatap sang Papa penuh kecewa. Kedua bola matanya sudah berkaca-kaca. Air yang memenuhi pelupuk matanya siap untuk meluruh.


"Sekeras apapun kamu menolak! Pernikahan ini harus tetap terlaksana!" Putus Theo, Papanya dengan tegas tak ada yang berani membantahnya.


Sungguh! Hati Anna terasa begitu sangat sakit. Seperti ada ribuan pisau tajam menusuk jantungnya. Kenapa Papanya begitu tega? Tidakkah memikirkan bagiamana masa depannya?


"Kenapa bukan Kak Axel yang Papa jodohkan? Usianya sudah matang untuk menikah." Tanyanya dibarengi setetes air mata yang baru saja mengalir di pipinya. "Mengapa harus aku?"


Theo menghela nafasnya. "Karena Kakak mu itu bukan terlahir sebagai perempuan... Perjodohan itu sudah terlaksana saat istri kami sama-sama mengandung anak pertama. Namun, yang lahir adalah anak laki-laki. Hingga kami memutuskan, siapa pun kelak yang hamil anak kedua dan berjenis kelamin perempuan. Dia lah yang harus dinikahkan! Dan, setelah Axel berumur dua belas tahun. Mama mengandung anak kedua dan berjenis kelamin perempuan." jelas Theo, membuat lelehan air mata Anna semakin deras mengalir.


"Jadi, Papa dan Om Zyan sepakat akan menikahkan mu dengan putra sulungnya saat usia mu menginjak dua puluh tahun..."


Anna langsung tertunduk begitu dalam. Bahunya bergetar seiring isakan terdengar dari bibir mungilnya. Benita, Mamanya, hanya bisa menatap iba pada anak bungsunya. Sebenarnya dia tidak rela jika putrinya menikah di usianya yang masih terbilang belia. Namun, mau bagiamana lagi? Ini adalah sebuah kesepakatan yang harus di penuhi.


Dengan berat hati. Anna membalikkan badannya dan melangkah meninggalkan ruang tamu.


"Pernikahan akan dilangsungkan Minggu besok. Jadi persiapkan dirimu!" ucapan Theo membuat langkah Anna berhenti sejenak. Gadis itu pun menengadahkan kepalanya. Menahan gejolak amarah bercampur kecewa. Dengan berlari menaiki anak tangga. Anna terus mengeluarkan air mata. Tujuannya adalah kamar sebagai tempat penenangan diri.


'Tuhan.. mengapa ini harus terjadi padaku?' batinnya sembari memegang dadanya yang terasa sesak.


...••••...


Bias cahaya matahari menusuk kedua bola mata Anna yang masih terpejam. Hari ini langit begitu cerah. Menggerakkan semangat orang-orang untuk memulai aktivitas. Namun tidak untuk Anna.


Anna mengerjap beberapa kali. Dengan perlahan kelopak matanya terbuka. Matanya sedikit menyimpit. Entah semalam berapa jam dia menangis. Hingga rasa lelah melandanya, disaat itu ia baru berhenti.


Delam keadaan yang masih kurang sadar Anna perlahan terbangun. Kemudian Anna termenung. Perkataan sang Papa kembali terngiang di kepalanya. Gadis itu pun menarik nafasnya dalam dan di hembuskan kasar. Dengan langkah lunglai Anna pergi ke kamar mandi untuk membersihkannya diri.


Anna tengah duduk di depan meja riasnya. Lalu, dia menguncir tinggi rambutnya. Anna kemudian mengambil sebuah kaca mata bulat, dan memakainya sebagai sentuhan akhir.


Berpenampilan cupu membuat Anna merasa nyaman. Anna hanya ingin memiliki teman yang benar-benar tulus padanya. Tanpa memandang segala apa yang di milikinya. Dengan langkah malas Anna menuruni tangga, menuju lantai bawah dengan membawa tas dan juga buku yang akan ia bawa kuliah hari ini.


"Pagi Ma, Pa, Kak..." sapa Anna lesu lalu duduk. Axel yang duduk di sebelah Anna memperhatikan gadis itu. Wajah sang adik tidak terlihat ceria seperti biasanya.


"Ada apa dengan mu, Anna?" tanya Axel dengan mata memincing. Anna menoleh pada Axel dan menggeleng pelan.


Axel mendengus. Ia yakin ada sesuatu yang terjadi. Lalu, Axel beralih menatap sang Papa yang tengah menikmati sandwich. Theo yang mengerti arti tatapan anak sulungnya pun bersuara.


"Papa akan menikahkan adik mu dengan anaknya Om Zyan." kata Theo tanpa beban. Axel yang mendengar itu dari mulut sang Papa cukup terkejut. Ada raut tidak terima muncul di wajah tampannya.


"Apa Papa yakin?" Theo mengangguk. "Anna masih kecil, Pa... Usia mereka pun terpaut sangat jauh." Theo menaruh garpu dan pisau. Pria paruh baya itupun menghela nafasnya.


"Ini sudah kesepakatan dua belah pihak, Axel... Kami tidak bisa menundanya lagi! Adik mu akan menikah dengan Ezra lima hari lagi."


"Apa?" pekik Axel terkejut. "Bukankah itu terlalu cepat? Tidak bisakah menundanya beberapa bulan lagi? Biarkan mereka saling mengenal satu sama lain! Anna belum mengenal Ezra, Pa..." ucap Axel mencoba bernegosiasi. Karena ia yakin adiknya pasti kecewa dengan keputusan sang Papa.


"Tapi, Pa..."


"Cukup Axel! Papa tidak akan pernah merubah atau pun menunda keputusan yang sudah Papa dan Om Zyan tentukan! Papa dan Mama dulu juga dijodohkan, kami mulai saling mengenal satu sama lain ketika sudah tinggal satu atap.. Bahkan, kami belum saling mencintai.. Rasa cinta dan sayang akan terbentuk seiring berjalannya waktu."


Anna yang sudah muak mendengar berdebatan sang Kakak dengan Papanya pun langsung beranjak dari duduknya, melenggang pergi meninggalkan meja makan yang membuat ia merasakan kecewa yang teramat dalam. Keputusan sang Papa yang tak bisa diganggu gugat.


...••••...


"Ingat Ezra! Minggu besok kamu sudah menikah! Bapak harap kamu menghargai Anna sebagai seorang istri dan juga menyayanginya setulus hati." peringat Zyan dan diangguki Ezra dengan mantap.


"Bapak sama Ibu tidak perlu khawatir. Aku akan membuat Anna bahagia hidup bersama ku." ucap Ezra meyakinkan kedua orangtuanya. Walaupun Ezra dijuluki pria dingin dan juga sosok pria yang tak pernah dekat dengan wanita mana pun. Sehingga para sahabatnya menganggap Ezra bukan laki-laki normal. Namun, sebenarnya hati Ezra sudah menyimpan satu nama.


"Bagus, Ezra." puji Zyan merasa senang dan juga bangga pada putra satu-satunya yang dimilikinya.


Dalam hidupnya, Ezra tidak ingin membuat kedua orangtuanya kecewa. Untuk itu, apapun keputusan dari sang Ayah. Ezra tidak akan pernah membantah.


"Kalau begitu aku pamit. Ada sesuatu yang harus ku pastikan baik-baik saja." pamitnya dan tak lupa mencium kedua punggung tangan kedua orangtuanya.


Ezra melajukan mobilnya sedikit cepat. Saat sampai di tempat tujuan pertamanya. Kebetulan sekali ia melihat sebuah motor matic yang baru saja keluar dari sebuah area perumahan. Tanpa menunggu lama, Ezra membututi motor tersebut dengan jarak sedikit jauh. Ini ia lakukan sudah bertahun lamanya. Seperti seorang penguntit!


Saat memastikan motor tersebut sudah berbelok masuk kesebuah gedung. Barulah Ezra melajukan mobilnya menuju tempat dimana ia bekerja.


...••••...


Anna akhirnya sampai di kampus yang sudah terlihat ramai. Anna mengernyit bingung kala melihat seseorang yang sudah menunggu dirinya di parkiran kampus dengan wajah sendunya. Saat Anna membuka helmnya, orang itu langsung menghambur memeluk Anna.


"Kenapa, Rea? Gagal lagi?" Rea pun menarik dirinya dan mengangguk. Anna pun langsung memutar bola matanya dengan malas.


"Lagian mana ada cowok yang mau sama kamu. Udah makan banyak, jorok lagi." cibir Anna diselingi kekehan. Gadis yang di ejek Anna itu pun memberengut kesal. Anna pun memegang kedua bahu gadis itu dan kembali berkata. "Banyak cowok diluar sana yang mau nerima kita apa adanya, Rea... Umur masih panjang. Nikmati dulu masa-masa muda kita yang paling berkesan." ujarnya tersenyum lembut.


Rea adalah sahabat yang dimiliki Anna satu-satunya. Hanya Rea lah yang mau berteman dengannya. Tanpa memandang penampilan dan dari keluarga mana Anna berasal.


"Aku perhatikan... Jika kamu melepas kaca mata bulat itu. Kamu pasti sangat cantik, Anna... Dan, aku pastikan banyak laki-laki yang mengejar mu."


Anna tersenyum. "Aku tidak mau jika seorang laki-laki menyukai ku karena hanya menilai dari segi penampilan. Aku hanya ingin sosok yang benar-benar tulus mencintai ku." Rea tersenyum dan mengangguk setuju. Apa yang Anna katakan memang benar.


"Apapun yang melekat padamu, itulah pesona yang kamu miliki.. Jangan memaksakan jadi lebih cantik bahkan sempurna agar orang-orang menyukai mu... Cukup lakukan apa yang membuat mu nyaman."


...••••...


Halo para reader yang budiaman... Jangan lupa tekan like dan love...


Terimakasihhhh.