My Nerd Wife

My Nerd Wife
Pengantin dan Mahasiswa Baru.


Waktu berlalu begitu cepat. Seperti kata Papanya waktu itu. Pernikahan Anna dan Ezra dilakukan tepat di hari Minggu. Dalam benaknya Anna ingin sekali untuk kabur. Namun, dia tidak ingin membuat malu keluarga. Walaupun dia kecewa pada sang Papa, namun Anna juga tidak ingin membuat pria paruh baya itu kecewa. Untuk itu, ia hanya bisa berdoa. Semoga kebahagiaan kelak akan menyertainya.


Pesta pernikahan dilakukan secara sederhana. Hanya mengundang pihak keluarga saja sebagai saksi. Pemberkatan yang berlangsung dengan khidmat membuat Anna tidak kuat untuk menahan air matanya. Sekarang dia sudah sah menjadi seorang istri.


Setelah acara selesai. Dan disinilah sekarang Anna. Berada di sebuah kamar milik suaminya dan akan menjadi tempat tidurnya juga. Ditepian kasur Anna tengah terduduk diam. Gaun pengantin telah terganti dengan piyama tidur.


Ezra masuk kamar dengan membawa segelas susu hangat di tangan, dan melihat sang istri tengah duduk termenung di sisi pembaringan. Mendengar suara langkah kaki membuat Anna memalingkan kepala.


"Mengapa kamu mau menikah dengan perempuan seperti ku, Mas?" dengan keberanian Anna melontarkan pertanyaan itu kepada pria tampan yang berdiri di depannya.


Ezra mengangkat sebelah alisnya. "Apa maksudmu?" bukan menjawab Ezra malah balik bertanya, sembari menyodorkan segelas susu hangat.


"Makasih. Aku yakin banyak perempuan cantik yang mengejar mu, bahkan mereka lebih sempurna dari ku. Aku tahu. Kamu itu terpaksa menerima perjodohan ini karena tidak ingin membuat orang tuamu kecewa. Dan, aku pun begitu, Mas." ujar Anna lalu, menunduk.


"Kamu salah besar, Anna... Tidak ada kata keterpaksaan aku menikahi mu." sahut Ezra begitu tegas. Anna terkejut. Suara tinggi Ezra yang terdengar membuatnya sedikit merasa takut. "Minumlah susunya. Setelah itu tidur! Aku tahu kamu pasti lelah."


Tanpa berkata lagi Anna menurut. Ia pun meneguk habis cairan putih itu hingga tandas.


Sambil berkata Anna menyerahkan gelas kosong itu kembali pada Ezra. "Dari mana kamu tahu aku suka minum susu sebelum tidur?"


"Mama." jawab Ezra singkat dan Anna mengangguk.


Ezra melangkah keluar kamar menuju dapur, membawa gelas kotor untuk ia cuci.


Saat melihat punggung lebar itu menghilang dari balik pintu. Anna menarik selimut dan merebahkan tubuhnya.


Rasa gugup menyerangnya kala mendengar suara decitan pintu terbuka. Dengan posisi yang membelakangi pintu, Anna segera memejamkan matanya. Pura-pura tertidur. Anna pun terkejut saat merasakan kasur sedikit bergoyang. Kemudian Anna tersentak saat merasakan tangan kekar melingkar di pinggangnya. Debaran aneh pun kini memenuhi dadanya.


"Aku tahu kamu belum tidur." Desiran aneh tiba-tiba Anna rasakan saat deru napas Ezra begitu terasa di tengkuknya.


"Bisa tidak jangan berbicara di dekat leher ku? Aku merasa geli, Mas..." protes Anna, membuat Ezra menyunggingkan senyuman. "Dan juga, tolong singkirkan tanganmu! Bagiamana aku bisa tidur jika seperti ini."


Ezra tak mempedulikan, laki-laki itu malah semakin mengeratkan pelukannya. Anna sangat jengkel dibuatnya. Sejujurnya, Anna tidak nyaman dengan posisi seperti ini.


Anna menghela napas dan membuangnya kasar. Dengkuran halus terdengar di balik punggungnya. Pertanda Ezra sudah tertidur. Rasa kantuk yang juga menyerang membuat Anna segera memejamkan mata dan dengan mudah ia juga langsung terlelap.


Kini untuk pertama kali bahkan mungkin seterusnya Anna akan tidur dengan posisi tangan Ezra yang memeluknya.


...••••...


"Bagiamana malam pertama? Lancar?" Baru saja Anna memarkirkan motor dan belum membuka helm. Pertanyaan tidak penting itu membuat Anna mendengus kesal.


"Ngaco. Nggak ada, ya, malam pertama-pertama..." memutar bola matanya malas. "Dan, sejak kapan kamu jadi mesum gini?" tanya Anna sembari mencebikkan bibirnya. Bibir Rea pun mengerucut. Niat hati ingin mendengar cerita yang seru malah dapat zonk!


"Iish! Aku kan cuma mau denger cerita pengantin baru. Ck!" ucap Rea bersungut-sungut sembari bersidekap dada.


Anna hendak meninggalkan Rea, namun gadis itu menahannya. "Eh, tunggu! Ada berita bagus."


"Katanya mahasiswa baru masuk kampus hari ini..." kata Rea dengan wajah binar bahagia.


"Nggak penting untuk ku, Rea... Lagian nggak ada hubungannya. Mau dia masuk kampus sekarang, besok, atau Minggu depan. Aku nggak peduli." sahut Anna yang enggan untuk menanggapi topik yang menurutnya tidak penting dan tak perlu juga untuk dia tahu.


"Jelas kamu acuh.. Orang udah ada si cakep Ezra. Tapi... Katanya si Mahasiswa baru nggak kalah tampan juga. Kamu nggak liat di group si Lila kirim foto?" Anna menggeleng pelan sembari meletakkan helmnya di kaca spion.


Anna tak menanggapi lagi. Gadis itu malah meninggalkan Rea yang kemudian melangkah mengejar Anna.


"Arga Laksana. Nama lengkap mahasiswa baru yang jadi trending topik perbincangan para penghuni kampus..." celetuk Rea tiba-tiba.


Deg!


Anna berhenti dan Rea juga ikut berhenti dengan dahi berkerut.


Be-bernakah itu dia? Rasanya Anna ingin menghilang saja dari muka bumi. Mengapa disaat sudah mulai berdamai Arga hadir lagi? Sungguh. Anna merasa saat ini semesta ingin bermain-main dengannya. Apa yang harus Anna lakukan? Oh Tuhan! sesungguhnya Anna tidak ingin lagi di pertemukan dengan Arga.


"Anna, kamu kenapa?" sebuah tepukan mendarat di bahunya. Anna tersentak dan segera menggeleng. Setelah itu, Anna kembali melangkah dan Rea pun mengekor.


...••••...


Gerimis tiba-tiba saja turun. Anna menyesal karena tak membawa jas hujan. Bagiamana dia bisa pulang? Sedangkan Ezra, lelaki itu meminta Anna harus sudah berada di rumah sebelum suaminya itu pulang dari bekerja. Lantas, bagaimana ia bisa sampai rumah dengan tepat waktu? Jika dia nekat untuk menerobos. Anna tidak mau jika nanti dia sakit. Helaan napas kesal pun terlontar dari mulutnya yang mungil.


Dengan terpaksa Anna harus menunggu. Rea pun sudah pulang duluan setelah kelas pertama selesai. Mendadak gadis itu mendapat telepon penting dari ibunya.


Sembari menunggu, Anna memutuskan untuk duduk di kursi panjang yang tersedia di parkiran. Anna merogoh novel di dalam tas dan membacanya agar tak jenuh. Saat akan membalik halaman, sebuah sapaan mengalihkan pandangannya.


"Akhirnya kita bertemu lagi. Setelah sekian lama kamu memutuskan untuk menjauh!" seorang pemuda berdiri disampingnya, dengan kedua tangan berada di dalam saku celananya.


Anna membatu, ia pun tertegun beberapa saat, kemudian menunduk. Dia tidak ingin berlama-lama memandang sosok itu. Dengan cepat pemuda itu duduk di tempat kosong sebelah Anna. Ada raut sendu sekaligus senang terpancar di wajahnya yang tampan.


"Aku tahu. Aku salah karena tidak ada waktu lagi untuk mu. Aku minta maaf karena lebih fokus mengejar cinta sampai melupakan mu." cetus Arga yang baru menyadari di balik keputusan Anna lima tahun silam.


Senyum kecut tersungging di bibir Anna. "Mengapa baru menyadarinya sekarang? Dan, itu sudah tidak penting..." Anna menarik napas dalam dengan tangan terkepal. Lalu kembali berkata ; "Satu hal yang harus kamu tahu! Keinginan ku yang memaksa kita untuk berakhir. Semua hal yang pernah kita lalui akan selalu ku jadikan kenangan indah dalam hidupku. Aku mencintaimu, tetapi kadang lupa untuk tahu diri. Alasanku untuk menjauh... Karena ingin menghapus rasa cinta yang semakin lama kian membesar!" ujar Anna dengan gejolak emosi yang kian meluap dengan cairan bening memenuhi mata Anna.


Kejujuran Anna membuat Arga terkejut setengah mati. Dia tidak tahu, bahwa Anna mencintainya. Arga menyesal. Perasaan yang terpendam untuk Anna tidak pernah ia lontarkan. Malah, Arga memilih mengejar perempuan lain, kendati dirinya tidak ingin perasaannya tumbuh semakin dalam untuk Anna. Dan berakhir kehilangan gadis itu.


Arga menggusar rambutnya frustasi dan mengembuskan napas kasar.


"Ma-maaf, aku sudah lancang mencintaimu. Bahkan, aku tidak menyesali keputusan ku memutuskan persahabatan kita. Karena aku sadar, cinta mu hanya untuk Shana." segera Anna menghapus air matanya yang sudah meleleh. Bangkit dari duduknya, meninggalkan Arga. Hujan mulai berhenti dengan segera Anna memakai helm, menyalakan mesin motor dan meninggalkan parkiran.


Arga hanya bisa menatap getir kepergian Anna yang kian menghilang. Tanpa bisa mencegah agar tidak pergi. Ingin rasanya dia memeluk erat gadis itu lama.


"Arga bodoh! Bodoh! Pengecut!"


...••••...