Kim: He Loves Me, He Loves Me Not

Kim: He Loves Me, He Loves Me Not
FEELS LIKE HOME?


Aku tahu rentetan pertanyaan yang panjangnya mungkin menyamai kereta api sudah berdesakan di dalam kepala Ash dan berebut untuk lebih dulu dilontarkan. Tapi pada kenyataannya, Ash diam dan hanya mengikutiku masuk ke dalam rumah kecil yang sudah kukontrak 3 tahun ini. Aku sungguh menghargai usahanya untuk menahan rasa ingin tahunya. Dan terutama, aku menghargai sekaligus bersyukur untuk kepekaannya terhadap kondisiku yang sudah begitu lelah dan penat. Ash memang teman dan sahabat yang sangat pengertian dan penuh kepedulian sejak dulu, namun baru saat ini sifatnya itu begitu kusyukuri.


“Sudah makan?” tanyanya begitu aku membanting diriku di atas satu-satunya sofa di ruang tamu yang sekaligus menjadi ruang santai dan ruang kerjaku. Di ujung belakang ruang, dengan hanya dipisahkan oleh sebuah rak buku sebagai partisi, ada dapur kecil dan meja makan mungil yang sangat jarang kugunakan.


“Sudah.” Jawabku malas dengan mata yang sudah terpejam dan punggung bersandar lelah. Hari ini sungguh menguras habis energiku lahir dan batin. Entah kutukan apa yang sedang mengikutiku hari ini, yang jelas rasanya sungguh menyebalkan.


Bisa kurasakan busa sofa yang melesak di sebelahku, tanda seseorang sedang menduduki satu-satunya bagian kosong sofa yang tersisa. “Makan apa?” Ash menggali lebih jauh jawaban singkatku tadi.


Masih tanpa ada sedikitpun keinginan untuk membuka mata, aku menjawab pertanyaan Ash. “Kopi.”


Helaan nafas yang kuduga adalah salah satu upaya Ash untuk mempertahankan kesabaran terdengar jelas di telingaku. “Astaga, Neng Geulis! Sejak kapan kopi berubah jadi makanan?” pertanyaan bernada gemas itu Ash lontarkan padaku.


Kekehan kecil mau tak mau terlepas dari bibirku. “Semua yang masuk ke perutku, aku anggap makanan.” Sahutku malas.


“Jangan bilang seharian ini isi perutmu cuma kopi?!” bisa kurasakan Ash setengah sangsi pada tebakannya sendiri, sedangkan setengahnya lagi kurasa ia sudah merasa tak perlu lagi terkejut mendengar jawabanku.


“Nggak kok. Ada croissant sedekah dari Pak Aksa tadi.” sahutku sekenanya.


Tanpa bisa ia cegah, semburan tawa terhambur dari mulut Ash. “Astaga Kim! Kamu kan sudah punya penghasilan lumayan. Jangan sok fakir gitu lah.” selorohnya tanpa menunggu tawanya reda. Lalu beberapa menit kemudian begitu Ash berhasil mengendalikan tawanya, ia menasehatiku dengan lebih serius. “Tapi Kim, kamu memang harus lebih care dengan kesehatanmu sendiri. Kasihan lambung dan pencernaanmu kalau cara makanmu seperti itu.”


“Hmm. Tenang aja, Ash. Perutku sudah biasa. Apapun yang masuk ke perutku semuanya otomatis dikonversi menjadi makanan.” Sahutku asal.


“Kim!” Entah mengapa suara Ash terdengar sedikit kesal kali ini. Berat hati aku sedikit membuka mataku, penasaran apa yang telah membuatnya menjadi kesal secara mendadak hingga bertekad mengguncang bahuku pelan. Bisa kulihat Ash di sampingku dan menatapku dengan jengkel. “Kalau gitu sekarang kamu makan dulu.” perintahnya dengan datar dan tanpa tersenyum.


Kupikir ada hal urgent apa sampai-sampai dia mendadak kesal dan mengganggu istirahatku. Ternyata cuma urusan makan. Gak penting. “Duh Ash, nanti ajalah. Aku sudah nggak sanggup lagi.” jawabku dengan mengerahkan sedikit energiku yang tersisa. “Biarkan aku tidur dulu. Sejam aja.” tambahku.


Aku mendengar Ash menghela nafasnya panjang, seakan dia sedang berusaha bersabar dan memaklumiku. “Seenggaknya, kamu ganti baju dan pindah tidur di kamar sana.” Kali ini dia mengatakannya dengan lebih lembut. Lalu karena aku tak kunjung menganggapi permintaannya, Ash kembali mengguncang bahuku pelan dan menyeruku, “Kim..”


Arrgghhh.. nggak bisakah aku tidur dengan tenang?! Bisa kubayangkan otak, mata, dan seluruh organ tubuhku menjeritkan kalimat itu bersamaan. “Astaga, Ash.. di sini atau di kamar sama aja! Yang penting tidur. Gak penting tempatnya.” Geramku kesal.


“Tapi di sini ada aku, Kim.” Ash masih bersikukuh.


“Terus kenapa? Kamu sudah seperti rumah ini buat aku.” Sahutku sengit karena kehabisan kesabaran. “Lagipula aku juga sudah paham isi kepalamu.” lanjutku sebelum benar-benar melepas kesadaranku menuju alam mimpi.


------‐------------------------------------------------------------------------------------------


Ashra's POV


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Aku hanya bisa memandang sahabat berupa gadis yang sama sekali tidak mempedulikan imagenya ini benar-benar terlelap di hadapanku. Dia sama sekali tak mengindahkan saran dan permintaanku. Astaga, apa aku ini bukan termasuk laki-laki baginya? Bagaimana dia bisa sesantai dan sepercaya itu denganku?


Aku berdiri dan sedikit menjauh dari posisi Kim tertidur. “Paham isi kepalaku heh?” gerutuku pelan mengulang ucapan terakhir Kim sebelum ia tertidur. “Gak ada 50% yang kamu paham dari isi kepalaku, Kim. Kalau kamu tahu semua isi kepalaku, kamu gak bakal bisa sesantai ini di sebelahku.”


Lihatlah gaya tidurnya yang bukan main sembrononya itu. Kaki kanan terjulur bebas ke lantai. Kaki kiri tertekuk di atas kursi dengan celana longgarnya yang dibiarkan tersingkap memamerkan sedikit pahanya. Kepalanya terkulai pada sandaran kursi, sementara kedua tangannya bersedekap defensif. Benar-benar sembrono dan sama sekali tidak anggun. Sama sekali tidak ada sekedar kesadaran untuk menjaga image di hadapanku.


Aku mengulurkan tangan dan menyingkirkan anak-anak rambut yang menutupi mata Kim yang tengah terpejam. Sama sekali tak ada reaksi dari gadis itu. Sepertinya kesadarannya benar-benar terhempas entah kemana. Lebih lanjut, aku membenarkan posisi tidurnya yang tampak sangat tak nyaman itu. Kuluruskan kedua kakinya pada sofa dan menumpuk bantal untuk menyangga kepalanya.


“Feels like home, hmm?” bisikku pelan, meski aku tahu tak akan ada jawaban darinya. “Kalau kamu benar-benar tahu isi kepalaku, kamu akan tahu hal lain, Kim. I want to be more than just a home for you.“


Aku mengacak-acak rambutku seraya menjauh dari Kim yang masih terlelap. Kadang aku merasa frustasi dengan term sahabat ini. Di satu sisi aku bisa menjadi sangat dekat dengannya hingga ia merasa begitu wajar dan nyaman dengan keberadaaanku, namun di sisi lain dia menjadi sangat nyaman dan terbiasa hingga tak lagi menganggapku lawan jenis yang juga harus ia waspadai dan perhitungkan.


Kubuka kulkas kecil satu pintu di dapur mini Kim, dan yang kutemukan justru semakin membuatku gencar mengacak-acak rambutku. Hanya ada kentang goreng siap saji yang tersisa setengah bungkus, apel yang juga tersisa setengah, telur dua butir dan lebih dari selusin kopi kalengan siap minum.


“Aku yang hidup di luar negeri sendirian aja gak sebegininya.” keluhku keras-keras meski aku tahu tak akan ada jawaban.


Tapi dalam benakku, aku bisa membayangkan sahutan sewot Kim terhadap keluhanku tadi. “Ya jangan di samakan dong tuan muda konglomerat dan anak desa yatim piatu!”


Aku tak bisa menahan ringisan pada bibirku yang muncul akibat bayanganku itu. Ringisan yang setengahnya berarti aku merasa konyol dan lucu karena aku bahkan bisa tahu apa yang akan Kim katakan, dan setengahnya lagi terasa miris karena itu menunjukkan betapa aku terlalu mengenal Kim dan apa yang ada dipikirannya.


Aku memutuskan menggoreng seluruh kentang beku yang tersisa dan memesan makanan melalui aplikasi online. Hampir 100% aku yakin Kim pasti akan menolak jika aku memesan makanan dengan banyak menu di jam seperti ini. Jadi tanpa sedikitpun ragu, aku memesan mie goreng seafood untuknya.


Satu jam berlalu begitu aku selesai menghidangkan mie goreng pesananku dan kentang goreng yang sudah kutiriskan tadi. Kurasa ini waktunya Kim bangun. Kutengok Kim yang sudah merubah posisi tidurnya menjadi setengah bergelung. Menggemaskan bagiku. Tapi saat ini lebih penting untuk mengisi perut Kim daripada menikmati pemandangan menggemaskan itu.


“Bangun. Ayo makan dulu.” kataku begitu Kim menegakkan tubuhnya. Tampaknya ia tengah mengumpukan kesadarannya meski matanya masih setengah terpejam.


“Jam berapa ini?” tanyanya dengan suara yang serak.


“Jam setengah sembilan malam.” jawabku, “Ayo makan dulu. Nanti bisa tidur lagi.” tambahku kembali mengajaknya makan malam.


Aku mengamati saja gerakan olengnya ketika Kim sedang berusaha berdiri tegak. Tanpa bisa menahan senyum aku terus mengamati Kim-ku yang sedang berjuang untuk berjalan tegak dan lurus. Entah bagaimana tingkah kesehariannya selalu terasa menggemaskan bagiku.


Namun bukannya mengarah munuju meja makan, Kim justru masuk ke dalam kamar mandi setelah menarik selembar kaos secara asal dari dalam lemari kecilnya. “Kim? Gak makan dulu?” tanyaku memastikan.


“Gak. Aku mandi dulu. Biar melek.” sahutnya bahkan tanpa merasa perlu menoleh sedikitpun.


Aku hanya bisa menggelengkan kepala menyaksikan sendiri kelakuannya yang sangat sembrono dan apa adanya itu. Kim, dia tidak cantik seperti artis-artis papan atas atau setidaknya seperti gadis-gadis yang berusaha keras menarik perhatianku. Tapi Kim memiliki daya tariknya sendiri. Dia gadis mandiri, tegas dan terlihat sangat keren. Ia bisa menjadi sangat mengintimidasi jika ia mau.


Kim bukan pesolek manja yang hanya tahu mencari perhatian. Kim seperti macan tutul betina yang berjuang survive sendirian. Cerdas, tegar, keren, percaya penuh pada dirinya sendiri dan mengintimidasi sekaligus.


Dan aku merasa laki-laki yang tadi mengantarnya juga bisa melihat pesona Kim yang selama ini tak bisa dideteksi orang diluar lingkaran terdekatnya itu.


Mungkin sudah saatnya aku waspada terhadap pesaing.


Jika bisa, ingin rasanya menyalahkan keputusan Kim untuk berdiet. Tapi itu juga sebenarnya atas bantuanku juga. Aku membantu Kim berdiet dengan niat agar ia menjadi lebih sehat. Tapi diluar dugaan, efeknya benar-benar gawat. Bahkan setelah setahun lebih aku tak bertemu secara langsung dengannya, aku nyaris tersedak air liurku sendiri ketika bertemu secara langsung dengannya di malam reuni kemarin.


“Kenapa kamu masih di sini?” pertanyaan heran Kim memecah lamunanku yang hampir menyerempet berbahaya.


Dan sialnya, situasi ternyata menjadi lebih berbahaya begitu aku berbalik dan menemukan kombinasi Kim dalam oversize t-shirt-nya sekaligus penampilannya dengan rambut yang masih setengah basah dan sedikit meneteskan air. Siluetnya memancing imajinasi liar dalam benakku. Astaga.. cobaan apa lagi ini?! “Aku harus memastikan kamu benar-benar makan baru bisa pulang.” jawabku seakan-akan segalanya normal dan terkendali.


“Ck. Memangnya aku nggak bisa makan sendiri apa?” gerutunya yang terdengar begitu lucu di telingaku.


Aku menariknya menuju makanan yang sudah kususun di atas meja makan dan setengah memaksanya untuk duduk. “Bukan nggak bisa makan sendiri. Tapi aku nggak percaya kamu bakal makan dengan ukuran normal.” sanggahku.


Meski dengan sedikit cebikan dan gerutuan kesal, pada akhirnya Kim makan. Dan entah bagaimana aku yang hanya duduk di mengamati hadapannya sambil memakan kentang goreng, merasa senang. “Kim, saus sambalmu habis nih.” celetukku ketika aku tak mampu mengeluarkan sisa saus sambal dari botolnya.


"Belum habis. Masih ada itu.” jawab Kim tanpa merasa perlu melihat botol yang menjadi topik persoalan.


“Ini sudah gak bisa keluar lagi, Kim. Cuma tinggal sisa-sisa aja.” sahutku menyodorkan botol tersebut ke depan wajahnya.


“Kalau dibalik, nanti semua bakal turun. Bisa keluar deh.” tukasnya lagi seolah tak habis pikir dengan pemikiranku.


Helaan nafas kuhembuskan untuk mengurangi rasa gemas pada Kim-ku yang terlalu lempeng ini. “Ya kelamaan, Kim.. bisa sampai besok kalau nunggu turun sendiri.”


Ganti Kim yang kali ini menghela nafas. Seolah kelelahan meladeni ocehan tak pentingku. “Siniin.” Kim mengambil paksa botol masalah itu. “Ambilin tas plastik kecil di situ!” perintahnya kemudian, menunjuk pada salah satu sudut dapur.


Aku mengikuti kemauannya dan mengambil tas plastik yang ia maksud dengan pertanyaan yang semakin berkerumun dalam otakku. Kim memasukkan botol kaca itu kedalam tas plastik tersebut dalam keadaan terbalik begitu aku memberikan yang ia minta. Hal berikutnya yang ia lakukan benar-benar membuatku melongo. Kim memutar cepat tas plastik itu dengan gerakan sentrifugal.


Dan yang membuatku shock adalah beberapa menit kemudian ketika Kim mengambil botol tadi, sisa-sisa saus sambal tadi terkumpul di mulut botol dan siap dikeluarkan. “Pengalamanmu hidup sendiri diperantauan sangaaaaat kurang, Bung. Ini adalah life hack bertahan hidup dan berhemat.” sombongnya bangga.


Tanpa bisa kutahan tawaku tersembur begitu saja. Memang cuma Kim-ku yang bisa membuatku begini.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


End of Ashra’s POV


---‐-------------------------------------------------------------------------------‐------------


...****************...


Kindly give me ur support ❤


Like, Comment, Vote, n Rate 5


Thank you..